
"Benar kah?"Tanya Rumi gemetar.
"Iya mama tiri ku sangat jahat dia bahkan mengatakan akan membunuh siapa saja yang akan merebut papa dari nya karena dia ingin menjadi nyonya di keluarga itu satu-satunya."Ucap Aruna sambil berpura-pura menangis.
"Gawat jika mama tirinya Aruna tau tentang hubungan ku dengan Edwin aku juga pasti akan di bunuh oleh nya, jika aku lambat mendapatkan pekerjaan aku akan miskin selama nya."Batin Rumi ketakutan.
"Mengapa kau diam?"Tanya Aruna lagi.
"Baik lah aku akan bekerja di perusahaan milik papa mu."Ucap Rumi.
"Benar kah?"Ucap Aruna.
"Iya."Jawab Rumi tersenyum.
"Aku tidak boleh menjadi orang miskin terlalu lama jika aku bekerja sekarang nanti aku bisa meningal kan si tua Bangka itu dan hidup bahagia dengan kekayaan."Batin Rumi.
"Mama, papa, sekarang ganjaran yang telah membunuh ibu ku akan segera datang."Batin Aruna.
Sementara itu Tony sudah menunggu Rumi untuk membawa Aruna ke hotel yang telah mereka sewa.
"Rumi kalau begitu aku pulang dulu,aku rasa badan ku semakin tidak enak."Ucap Aruna kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Rumi sendiri di restoran tersebut.
"Astaga apa yang harus aku katakan kepada Tony?"Ucap Rumi mengeluh.
Rumi pun akhirnya memilih untuk menemui Tony di hotel sendiri dan menjelaskan apa yang terjadi.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Rumi pun tiba di hotel tersebut dan menuju kamar yang telah di katakan oleh Tony.
"Mengapa kau tidak membawa Aruna bersama mu?"Tanya Tony terlihat kesal.
"Maaf,aku belum bisa membawa Aruna sekarang, kondisi nya sedang tidak baik bahkan jika aku membawanya sekarang kau juga tidak akan bisa bercinta dengan nya."Ucap Rumi menjelaskan.
"Apakah kau tidak takut jika aku mengatakan kepada semua orang jika kau adalah simpanan papa mertua ku?"Ucap Tony marah.
"Jika kau mengatakan itu aku pastikan kau tidak akan pernah bisa dekat dengan Aruna kembali, jika kau masih ingin bekerja sama dengan ku maka menurut lah."Ucap Rumi kemudian berlalu pergi.
"Sial."Ucap Tony kesal, ia pun ikut keluar dari hotel tersebut.
Keesokan harinya.
"Felicia sebagai calon menantu sah keluar Winston seharusnya kau bersiap untuk pergi ke dokter dan merawat kesuburan tubuh mu."Ucap mama Jihan kepada Felicia.
"Maksudnya ma?"Tanya Felicia lagi.
"Mama ingin setelah kalian menikah nanti kalian memiliki seorang anak."Ucap mama Jihan.
__ADS_1
"Ah iya ma aku mengerti,aku akan pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatan ku."Ucap Felicia tersenyum bahagia meskipun ia belum menjadi istri Davin.
"Tapi maaf mama tidak bisa menemani mu karena masih banyak urusan yang harus mama kerjakan."Ucap mama Jihan yang selalu membela Felicia.
"Baik lah ma."Ucap Felicia.
Karena itu permintaan dari mama Jihan akhirnya Felicia pun pergi ke rumah sakit.
"Nona Felicia saya minta maaf dengan berat saya mengatakan jika nona Felicia tidak akan bisa hamil."Ucap dokter tersebut.
"Apa!? Apa maksud mu? Apa aku ini mandul?"Ucap Felicia terkejut.
"Iya nona Felicia benar."Jawab sang dokter.
"Tidak dokter ini tidak mungkin! Apa kau tidak salah?"Ucap Felicia gemetar.
"Maaf nona tidak ada yang salah aku telah melakukan nya dengan teliti."Ucap sang dokter.
"Bagaimana mungkin hikss,aku akan menjadi nona muda keluarga Winston bagaimana ini jika aku tidak bisa melahirkan seorang anak maka mama Jihan tidak akan menyetujui aku."Tangis Felicia ketakutan.
"Tenang kan dirimu nona Felicia."Ucap dokter tersebut.
"Bagaimana aku bisa tenang? Dokter aku mohon agar kau tetap merahasiakan hal ini jangan sampai ada yang tau."Ucap Felicia menangis.
"Tenang saja nona Felicia aku tidak akan menyatakan apapun."Ucap dokter tersebut.
"Kamu ingin aku melakukan apa?"Ucap dokter tersebut tergiur.
"Bantu aku bersandiwara."Ucap Felicia licik.
"Baik lah nona aku setuju."Ucap dokter tersebut.
Entah apa rencana yang akan di lakukan oleh Felicia yang jelas ia pasti akan menjebak Aruna.
Felicia pun pulang ke mansion.
"Kebetulan sekali dia baru turun."Batin Felicia kemudian bergegas menghampiri Aruna yang baru menuruni tangga.
"Aku dengar kau telah membuat Davin marah kemarin."Ucap Felicia.
"Apa dia sudah tidak peduli kepada mu? Sehingga kau datang padaku untuk mencari masalah?"Ucap Aruna kesal.
"Minggir."Ucap Aruna lagi.
"Bagaimana jika aku tidak mau?"Tanya Felicia.
__ADS_1
"Wanita payah menyingkir lah aku ingin ke kantor."Ucap Aruna malas.
"Apa maksud mu?"Ucap Felicia.
"Aku hanya mengatakan kau adalah wanita yang payah."Ucap Aruna mengejek.
"Kau hanya tumbal kau tidak berhak mengatakan hal itu kepada ku! Aku akan membunuh mu kalau bukan karena kau Davin tidak akan mengabaikan aku!"Ucap Felicia ingin mendorong Aruna.
Namun Aruna kembali mengelak dan akhirnya dirinya lah yang jatuh berguling di tangga kemudian pingsan.
"Astaga gawat! Felicia! Felicia bangun!"Ucap Aruna menggoyang kan tubuh Felicia.
"Felicia apa yang terjadi?"Teriak Davin menghampiri Felicia.
"Aku!Aku tidak sengaja."Ucap Aruna.
"Jadi ini perbuatan mu? Lihat saja aku tidak akan memaafkan mu jika terjadi sesuatu dengan Felicia."Ucap Davin kemudian mengedong Felicia untuk membawanya kerumah sakit.
Karena merasa bersalah Aruna pun ikut menyusul kerumah sakit.
"Keluar pasien mari ikut saya."Ucap dokter yang tadi di ajak Felicia bekerja sama.
"Baik dokter."Ucap Davin masuk ke dalam ruang rawat Felicia.
"Tolong jangan emosi."Ucap dokter tersebut kepada Davin.
"Ada apa dokter apa yang terjadi dengan nya?"Ucap Davin terlihat sangat khawatir.
"Dengan berat saya mengatakan jika nona Felicia tidak akan bisa hamil karena ia jatuh begitu keras dan merusak beberapa tulang pinggul nya dan itu sangat sulit untuk dia melahirkan seorang anak."Ucap dokter tersebut.
"Aruna semua ini gara-gara Aruna!"Ucap Davin kemudian keluar dari ruang rawat tersebut dan menghampiri Aruna.
"Bagaimana keadaan nya?"Tanya Aruna lagi.
"Kau masih punya nyali untuk datang dan menanyakan kabar nya! Dengar karena kau dia sekarang tidak bisa memiliki anak!"Ucap Davin emosi.
"Apa? Tidak mungkin."Ucap Aruna kaget.
"Tidak mungkin katamu? Seperti nya ini adalah kesalahan ku,salah jika aku telah melepaskan mu dari rumah sakit jiwa itu!"Ucap Davin membentak Aruna.
"Apa kau menyesal?"Tanya Aruna menahan air matanya.
"Tentu saja aku sangat menyesal!"Ucap Davin kemudian kembali masuk ke dalam kamar rawat Felicia.
Terlihat Felicia yang mengamuk dan di pegangi oleh dua orang suster ia ingin terjun dari jendela rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung ....