
"Apa yang kau inginkan dari ku?"Tanya Aruna lagi.
"Aruna, Hana sekarang sedang hamil."Ucap Tony kepada Aruna.
"Bayiku mati, Dan sekarang mereka malah akan memiliki bayi."Batin Aruna.
"Bagaimana jika kau menemaniku sepanjang malam,maka aku akan mencabut tuntutan itu dan membebaskan ayah Rumi."Ucap Tony memegang rambut Aruna.
"Apa maksud mu apa kau gila, hanya karena Hana hamil dan kau datang pada ku dengan cara menjebak ayah Rumi untuk memuaskan nafsu mu kepadaku?"Ucap Aruna dengan lantang.
"Ternyata kau juga bisa berfikir dengan cerdas."Ucap Tony tersenyum licik.
Plak ... sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Tony.
Ya entah berapa kali hari ini Aruna menampar wajah orang.
"Peria busuk seperti ku seharusnya mati saja."Ucap Aruna ingin berjalan pergi dari sana.
"Apa kau benar-benar menolak ku? Apa kau tidak akan membantu ayah dari sahabat mu?"Ucap Tony sambil memegang pipinya yang terasa memanas akibat tamparan keras dari Aruna.
Aruna memberhentikan langkah nya.
"Rumi adalah sahabat ku, dia bahkan satu-satunya orang yang paling mengerti dengan keadaan ku,apa yang harus aku lakukan?"Batin Aruna.
Aruna pun berbalik dan kembali menghampiri Tony.
"Bagaimana?Apa kau menyetujui nya?"Ucap Tony memegang dagu Aruna.
"Lepas kan aku."Ucap Aruna menepis tangan Tony.
"Aku rasa Davin sudah memberikan mu begitu banyak uang, sehingga kulit mu sehalus sutra sekarang."Ucap Tony tersenyum sambil menggoda Aruna.
"Jaga sikap mu Tony aku bukan lagi istri mu!"Ucap Aruna marah.
"Seharusnya kau lah Yeng bersikap baik kepadaku karena kau menginginkan kebebasan untuk ayah Rumi bukan?"Ucap Tony memegang tangan Aruna.
"Bebas kan ayah Rumi sekarang!"Ucap Aruna menepis tangan Tony.
"Tidak akan sebelum kau mau menemani ku malam ini,aku masih ingat bagaimana menggoda nya dirimu saat di atas ranjang."Ucap Tony tersenyum jahat.
"Baru saja kau bilang kepada ku jika Hana sedang hamil."Ucap Aruna sambil menjentikkan kuku nya.
"Apa? Apa yang akan kau lakukan dengan nya?"Ucap Tony.
"Ternyata tau bisa berfikir dengan cepat ya."Ucap Aruna lagi.
__ADS_1
"Jangan macam-macam kau Aruna!"Ucap Tony mulai khawatir.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, mengapa anaku mati,dan mengapa kalian harus memiliki anak?"Ucap Aruna.
"Aruna kau benar-benar gila!"Ucap Tony marah.
"Itu semua karena kalian,jika kau tidak melepaskan ayah Rumi besok siap-siap saja."Ucap Aruna balik mengancam.
"Jangan coba-coba untuk menyentuh Hana dan calon anaku atau kau akan terima akibat nya."Ucap Tony memegang tangan Aruna kuat.
"Apa kau pikir aku takut? Aku akan mati sebentar lagi,dan aku tidak takut dengan apapun yang akan kau katakan,dan satu lagi jika kalian bisa melenyapkan anaku maka aku juga bisa melenyapkan anak kalian aku tidak akan membiarkan nya melihat dunia ini seperti anakku yang juga tidak bisa melihat dunia ini kau mengerti?"Ucap Aruna kemudian menarik tangan Rumi pergi dari sana.
"Aruna,aku pikir dia masih seperti dulu, ternyata dia sekarang sudah berubah,aku pikir aku jatuh cinta lagi kepada nya."Batin Tony yang masih berdiri di dalam kantor polisi tersebut.
"Aruna bagaimana dengan ayah ku?"Tanya Rumi khawatir.
"Tenang lah,jika besok ayah mu belum bebas juga kau boleh menghubungi aku lagi,dan sekarang pulang dan istirahat lah."Ucap Aruna kepada Rumi.
"Baik lah,kau juga Istirahat."Ucap Rumi dengan raut wajah yang masih terlihat sangat sedih.
"Jangan khawatir aku akan selalu membantu mu."Ucap Aruna tersenyum kecil.
"Terima kasih."Ucap Rumi memeluk Aruna.
"Iya."Jawab Aruna.
Tidak butuh waktu lama Aruna pun tiba di mansion.
Perlahan Aruna membuka pintu mansion dan berjalan melewati ruang tengah dan menaiki tangga menuju kamar nya.
"Dari mana saja kau?"Tanya Davin yang duduk di sofa ruang tamu.
"Kantor polisi."Jawab Aruna memberhentikan langkah nya.
"Siapa yang kau temui di sana?"Tanya Davin sambil berjalan menghampiri Aruna.
"Tony."Jawab Aruna singkat.
"Karena kau sekarang istri ku sebaiknya kau tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain."Ucap Davin memegang tangan Aruna.
"Aku tidak akan membuat masalah untuk mu tenang saja."Ucap Aruna.
"Selama aku masih suami mu,maka sebaiknya keluar rumah atau memiliki masalah beri tahu kepada ku terlebih dahulu jangan bertindak sendiri seperti itu."Ucap Davin.
"Tolong jangan terlalu baik kepadaku atau aku tidak akan rela untuk mati."Ucap Aruna tersenyum paksa.
__ADS_1
"Papa mu meminta kita untuk pulang besok pagi, karena aku sedang sibuk maka, kau pergi lah terlebih dahulu."Ucap Davin kepada Aruna.
"Hmm,baik lah, aku akan pergi duluan."Ucap Aruna dengan wajah malas nya.
"Pergi beli sebuah kado untuk nya."Ucap Davin memberikan sebuah black card nya kepada Aruna.
"Tidak usah,aku punya cukup uang untuk membeli sesuatu untuk papa."Ucap Aruna menolak nya.
"Karena kau sekarang istri ku,turuti saja apa yang ku katakan jangan biar kan orang lain merendahkan martabat mu."Ucap Davin lagi.
"Baik lah terima kasih."Ucap Aruna kemudian mengambil black card tersebut kemudian menyimpannya.
Davin pun berlalu menuju kamar nya.
Begitu juga dengan Aruna,ia juga menuju kamar untuk istirahat.
(Mereka masih pisah kamar.)
Keesokan harinya.
Aruna berangkat kerumah papa nya dengan di antar oleh sopir keluarga Winston.
Namun siapa sangka di saat ia hampir sampai di rumah ayah nya ia melihat sang ayah sedang berdiri di tepi jalan dekat danau bersama seorang wanita.
"Berhenti."Ucap Aruna kepada sopir itu.
Sopir itu pun memberhentikan mobilnya.
"Papa."Ucap Aruna setelah turun dari mobil nya.
Seketika raut wajah sang papa mulai berubah.
"Cepat masuk mobil."Ucap papa Aruna kepada wanita yang berada di sebelah nya.
"Bibi Elin?"Ucap Aruna kepada wanita tersebut.
"Ah, Aruna ini tidak seperti yang kau lihat bibi dah papa mu tidak ada apa-apa."Ucap wanita yang di pangil Aruna dengan sebutan bibi tersebut.
"Benar anaku sebaiknya kita pulang sekarang."Ucap papa Edwin terlihat takut.
"Papa dan bibi Elin kalian?..."Ucap Aruna menaikan satu alisnya.
"Ah, Aruna bibi pamit pulang dulu ya."Ucap wanita itu masuk ke dalam mobil nya dan melaju meninggalkan Aruna dan papa nya.
"Aruna papa minta maaf atas apa yang telah papa lakukan kepada mu di masa lalu, tolong jangan katakan apapun pada mama mu."Ucap papa Edwin terlihat sangat cemas.
__ADS_1
Aruna berfikir sejenak ia kini merasa memiliki sedikit ide.
Bersambung ....