
"Aruna ternyata kau di sini, aku mencari mu."Ucap Kenzo yang tiba-tiba muncul di hadapan Davin dan Aruna yang berdiri di lantai atas mengamati suasana pesta.
"Kenzo kau juga di sini?"Ucap Aruna melirik Kenzo.
"Kenzo,ada urusan apa kau mencari istri orang lain? Apa kau tidak laku?"Ucap Davin mulai cemburu.
"Siapa suruh istri mu begitu cantik? Sehingga membuat aku tergila-gila kepada nya."Ucap Kenzo lagi.
"Oh begitu?"Ucap Davin kemudian menarik tengkuk Aruna dan mengecup sekilas bibir Aruna.
"Davin apa yang kau lakukan?"Ucap Aruna dengan pipi memerah karena malu.
"Aku hanya bangga karena begitu banyak orang yang memuji kecantikan istri ku."Ucap Davin menampilkan senyum manisnya kepada Aruna.
"Kurang hajar,bukan kah kau tidak menyukai nya? Mengapa kau malah mencium nya?"Ucap Kenzo emosi menarik baju Davin.
"Lepas kan tangan kotor mu dari baju ku, kau bilang aku tidak menyukai nya? Seharusnya kau sadar dia istri ku."Ucap Davin memegang tangan Aruna.
"Aku tidak peduli aku akan merebut nya dari mu."Ucap Kenzo dengan tatapan yang cemburu.
"Sayang ayo pergi, acara nya akan di mulai sebentar lagi."Ucap Davin memegang tangan Aruna dan melangkah pergi dari sana.
Namun baru beberapa langkah saja mereka sudah di hadang kembali oleh Tony yang juga hadir di pesta tersebut.
"Aruna akhirnya aku menemukan mu."Ucap Tony kepada Aruna.
"Datang lagi laki-laki menyebalkan ini." Gerutu Davin kesal.
"Tuan muda mengapa anda terlihat sangat kesal?"Ucap Tony menatap Davin.
"Karena kau menghalangi jalan ku!"Ucap Davin kemudian melayangkan satu pukulan ke wajah Tony sehingga membuat Tony terpojok.
Davin sudah tidak bisa menahan emosi nya karena ia juga cemburu terhadap dua laki-laki yang selalu saja mencoba mendekati Aruna.
"Sekuriti bawa sampah ini keluar dari sini, dan kau Kenzo jika masih mendekati istri ku jangan salah kan aku jika aku menyuruh seseorang untuk membunuh mu."Ucap Davin menarik tangan Aruna meningal kan Kenzo dan Tony yang berada di lantai atas hotel.
__ADS_1
"Mengapa kau sangat emosi dan mengerikan seperti itu?"Ucap Aruna menatap suaminya.
"Apa kau masih bertanya-tanya tentang itu? Apa kau tidak tau atau berpura-pura tidak tau?"Ucap Davin dengan wajah tampa senyum tetapi masih terlihat sangat tampan.
Aruna tersenyum kecil,ia tau jika saat ini suaminya itu benar-benar cemburu itu terlihat dari kemarahan dan wajah nya yang kini tak mau menampilkan senyum sedikit pun.
"Yasudah di sana begitu banyak tamu sebaiknya kau pergi untuk menyapa mereka aku akan menikmati beberapa kue di bangku ujung sana."Ucap Aruna kepada Davin.
"Baik lah,kau ingat jangan mendekati laki-laki manapun."Ucap Davin kemudian berjalan meningal kan Aruna untuk menyapa beberapa tamu lain.
Aruna pun mengangguk kemudian berjalan menuju sebuah bangku yang kosong di pojok kanan ruangan dan mengambil semangkok kue strawberry dari meja makanan.
Setelah beberapa menit menikmati kue nya tiba-tiba Jesi datang dan duduk di hadapan Aruna.
"Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Jesi basa-basi.
"Seperti yang kau lihat aku sedang menikmati kue."Jawab Aruna cuek.
"Aku lihat beberapa laki-laki sedang memperebutkan mu tadi ya? Itu sungguh memalukan sekali."Ucap Jesi tersenyum miring.
"Kau! Lihat saja aku akan membalas mu!"Ucap Jesi merasa malu kemudian pergi meninggalkan Aruna.
"Dasar bodoh."Ucap Aruna kemudian berjalan mengambil segelas anggur dan berbincang dengan beberapa tamu.
"Nona muda keluarga Winston ternyata benar-benar cantik, pantas saja tuan muda Davin sangat mencintai mu."Ucap salah satu tamu yang baik.
"Tidak begitu juga."Jawab Aruna singkat.
Sementara itu Jesi menguping dari belakang tamu-tamu lain.
"Apa yang istimewa dari perempuan ****** itu? Lihat saja aku akan membuat nya meningal kan pesta ini."Batin Jesi kemudian mengambil segelas anggur kemudian berjalan ke arah Aruna yabg sedang asik berbicara.
Tiba-tiba Jesi berpura-pura terjatuh dan anggur yang ia bawa menyumpahi gaun Aruna.
"Trik lama yang di lakukan oleh Felicia, aku pikir trik ini sudah tidak ada tapi ternyata masih di lestarikan namun aku rasa Felicia bahkan lebih mahir berakting dari pada wanita satu ini."Batin Aruna melihat Jesi.
__ADS_1
"Astaga maaf-maaf, aku tidak sengaja tolong maaf kan aku."Ucap Jesi sambil memasang wajah sedih.
"Apa kau pikir kata maaf sudah cukup?"Ucap Aruna pelan.
"Aku ingin lihat apa kau akan marah kepada ku atau tidak,di sini begitu banyak tamu jika kau marah maka kau akan mempermalukan dirimu sendiri karena menjadi orang kejam di sini."Batin Jesi.
"Aku kira setelah mati nya Felicia akan ada lawan yang lebih hebat dari nya tetapi ini bahkan sangat terlihat seperti kacang busuk."Batin Aruna lagi.
Aruna pun berjalan menuju meja dan mengambil sebotol anggur merah kemudian kembali menghampiri Jesi yabg masih bersimpuh di lantai.
Aruna pun membuka tutup botol anggur merah tersebut kemudian dengan enteng menyirami ke kepala Jesi hingga habis.
"Kau! Apa yang kau lakukan? Bukan kah aku sudah meminta maaf?"Ucap Jesi berdiri dengan keadaan basah kuyup.
"Kau pikir dengan minta maaf itu sudah cukup? Kau salah, membalas dua kali lipat itu baru bisa di katakan cukup."Ucap Aruna.
"Wahh dia bandar-bandar keren."Gumam tamu yang membela Aruna.
"Tapi apa tidak terlalu kejam? Bukan kah dia tidak sengaja?"Ucap tamu lain.
"Sudah-sudah diam, dia adalah istri tuan muda,jadi pantas saja jika dia berkuasa."Jawab tamu yang juga membela Aruna.
Jesi pun berlari masuk ke dalam kamar hotel untuk menemui mama Jihan yang sedang beristirahat.
Sementara itu Aruna tetap diam dan menikmati suasana pesta dan berbincang dengan para tamu.
"Jesi mengapa kau jadi seperti ini? Kau bau Anggur!"Ucap mama Jihan kepada Jesi.
"Bibi,ini sudah keterlaluan!Aku tidak bisa terus seperti ini, bagaimana pun juga bibi harus cepat membunuh Aruna aku tidak mau tau! Jika tidak aku akan katakan kepada semua orang jika bibi lah yang sudah menyuruh ku untuk membunuh Felicia."Ucap Jesi dengan nada suara yang kuat.
"Kurang hajar, beraninya kau berkata seperti itu!"Ucap mama Jihan marah.
"Kenapa? Apa anda takut? Sekali lagi aku peringatkan jika aku tidak bisa menikah dengan Davin maka aku akan pasti kan bibi akan berurusan dengan polisi secepatnya!"Ucap Jesi kemudian keluar dari kamar tersebut.
Mama Jihan kaget ia pikir Jesi adalah wanita lemah lembut yang pintar dan sopan ternyata ia salah Jesi begitu jahat dan licik.
__ADS_1
Bersambung ....