
"Seumur hidup ku aku bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan."Batin Aruna menggebu-gebu.
Aruna masuk kembali ke dalam kamarnya kemudian mengemasi barang-barang nya ia ingin pergi dari mansion tersebut.
Namun di saat ia sedang sibuk mengemasi barang-barang itu Davin pun masuk ke dalam kamar nya.
"Mau kemana kau?"Tanya Davin kepada Aruna.
"Pergi dari sini."Ucap Aruna terus membereskan barang-barang nya.
"Jika kau pergi dari sini lalu kemana kau akan tingal?"Tanya Davin lagi.
"Kau tidak perlu khawatir aku punya banyak teman dan aku tidak akan menceraikan mu aku tumbal dan aku bisa menjalankan tugas ini dengan baik."Jawab Aruna tampa melirik Davin.
"Tatap aku! Dengar kan aku, aku sangat membenci mu membenci tatapan mu yang penuh keputus asaan itu membenci diri mu yang seperti hantu di dalam fikiran ku!"Ucap Davin mencengkram dagu Aruna.
"Lalu apa lagi yang harus aku harapkan? Aku juga akan mati dalam beberapa hari lagi bukan? Lalu aku ingin bertanya pada mu bagaimana aku harus bahagia jika aku akan mati? Dan apakah kutukan ini tidak bisa di hilang kan?"Ucap Aruna panjang lebar.
"Tidak bisa."Ucap Davin melepaskan cengkraman tangan nya dari dagu Aruna.
"Sekalipun tidak bisa? Apakah semua Istri pertama tuan muda keluarga Winston akan meningal?"Tanya Aruna lagi.
"Iya."Jawab Davin.
"Jadi aku akan benar-benar mati?"Tanya Aruna lagi.
"Iya,aku tau ini tidak adil bagi mu, namun biar kan aku menebusnya,hari ini papa mu ingin bertemu dengan mu maka ikut lah bersama ku."Ucap Davin.
"Papa? Apa lagi yang ia inginkan? Bukan kah ia yang membuat ku menjadi seperti ini? Aku sudah terlalu menderita, bahkan aku belum sempat untuk bahagia, Aku akan segera mati, namun aku harus membalas semua orang yang telah menyakiti ku."Batin Aruna.
"Baik lah, kapan akan pergi ke rumah papa?"Tanya Aruna kepada Davin.
"Setelah acara ini selesai."Ucap Davin kepada Aruna.
Malam pun tiba, kini acara penyambutan itu sudah selesai Davin terlihat bersiap-siap untuk pergi kerumah tuan Edwin papa dari Aruna.
"Aruna apa kau sudah siap?"Tanya Davin berdiri di depan pintu kamar Aruna.
"Iya."Ucap Aruna kemudian berjalan membukanya pintu kamar nya.
Terlihat Aruna yang sudah siap berdandan,ia memakai dress selutut berwarna putih dengan rambut di gerai rapi dan sangat terlihat cantik.
"Ayo!"Ajak Aruna kepada Davin.
"Davin pun mengangguk kemudian berjalan mendahului Aruna.
Mereka keluar dari Mansion kemudian masuk ke dalam mobil Davin.
__ADS_1
Davin menyalakan mesin mobil nya kemudian melaju menuju rumah papa Aruna.
Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di rumah Edwin papa dari Aruna.
"Anakku kau sudah datang,papa sangat merindukan mu."Ucap Edwin mendekati Aruna.
"Apa aku tidak salah dengar? Papa merindukan ku? Bagaimana di saat aku berada di rumah sakit jiwa? Apakah papa merindukan ku?"Tanya Aruna dengan nada halus.
"Anakku saat itu papa juga tidak tenang dan merasa sedih karena itu lah papa mencari cara untuk mengeluarkan mu dari sana."Ucap Edwin berakting di depan Davin.
"Benar kah? Mengapa aku merasa itu hanya omong kosong?"Tanya Aruna lagi.
"Tidak anakku kau salah paham."Ucap Edwin kepada Aruna.
"Kau merindukanku atau kau hanya memanfaatkan aku untuk bertemu dengan tuan muda Davin?"Tanya Aruna lagi.
"Oh anakku yang baik aku tentu saja ingin bertemu dengan mu."Ucap Edwin lagi.
Namun tepat di saat itu Tony dan Hana tiba di rumah.
"Papa aku pulang."Ucap Hana membuka pintu rumah.
"Hana kau sudah pulang lihat lah siapa yang datang."Ucap Edwin kepada Hana.
"Kau! Mengapa kau kemari? Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Hana dengan tatapan marah.
"Tuan muda Davin apa anda tau siapa wanita ini?"Ucap Tony mendekati Davin.
"Dia istri ku."Jawab Davin santai.
"Iya aku tau, tetapi apakah kau tidak mau tau tentang masa lalu nya?"Tanya Tony lagi.
Plak.
Sebuah tamparan keras dari Aruna berhasil mengenai pipi Tony.
"Kau! Beraninya kau! Dasar wanita ****** pelacur! "Ucap Davin ingin menampar Aruna.
Buhk.
Sekali lagi sebuah pukulan dari Davin menghantam pipi Tony dan itu membuat nya jatuh tersungkur di lantai.
"Kau lah penyebab dari semua penderitaan yang aku rasakan,aku rasa aku tidak akan bisa mati dengan tenang jika kau masih hidup!"Ucap Aruna mengambil vas bunga yang berada di meja samping nya kemudian hendak memukul kepala Tony.
"Jangan!"Ucap Hana berlari memeluk Tony.
Hal asil Hana lah yang di pukul oleh Aruna.
__ADS_1
Hana menjerit kesakitan kemudian jatuh pingsan di lantai dengan kepala yang penuh darah.
"Anakku!"Ucap Edwin mengangkat tubuh Hana.
"Ini pertama kalinya aku memukul mu! Sekarang aku sudah tidak bisa di tindas, ternyata balas dendam itu sangat menyenangkan."Ucap Aruna tersenyum miring.
"Kau anak haram, dasar pembawa sial pergi kau dari sini kau telah melukai anakku!"Ucap Edwin sambil memeluk erat tubuh Hana.
"Apa aku peduli? Aku juga tidak sudi melihat wajah ku terlalu lama."Ucap Aruna kemudian berjalan keluar dari rumah tersebut.
Aruna tunggu!"Ucap Davin menahan tangan Aruna.
"Apa lagi."Ucap Aruna kepada Davin.
Posisi mereka saat ini masih di halaman rumah Edwin.
"Apa maksud perkataan laki-laki tadi?"Ucap Davin kepada Aruna.
"Apa ini penting bagi mu?"Ucap Aruna tak peduli.
"Huh,kau benar, dirimu memang tidak penting bagi ku,kau hanya tumbal."Ucap Davin kemudian berjalan menuju mobil nya.
"Malam ini aku akan pergi."Ucap Aruna kepada Davin.
"Lakukan apa yang kau inginkan."Ucap Davin tidak peduli dan terus berjalan menuju mobil nya.
"Mengapa tiba-tiba dia menjadi sangat marah?"Batin Aruna kebingungan.
Aruna pun mengejar Davin kemudian menahan tangan nya.
"Sebenarnya aku dan Tony."Ucap Aruna mengentikan Kalimat nya.
"Apa? Apa kau ada hubungan dengan nya? "Tanya Davin terlihat penasaran.
"Hubungan? Bahkan aku hampir memiliki anak dengan nya."Batin Aruna.
"Mengapa kau diam? Jika tidak berniat mengatakan nya maka tidak usah di katakan."Ucap Davin lagi.
"Sebenarnya aku dan Tony..."Ucap Aruna terhenti karena tiba-tiba Davin menarik tengkuk nya dan mencium bibir nya.
"Eh,emph."Leguh Aruna saat Davin mencium bibir nya.
"Sial mengapa tiba-tiba aku sangat ingin mencium nya."Ucap Davin kemudian melepaskan tautan itu.
Mereka pun saling diam untuk beberapa saat.
Bersambung ....
__ADS_1