
"Astaga!"Ucap Rumi yang berdiri di belakang lemari,dan melihat papa Edwin yang tertimpa lemari besar tersebut.
"Papa! Mengapa papa melindungi dia!"Ucap Hana menujuk Aruna.
"Ma ... maaf kan papa ... se ... selama hidup ... pap ... pa ... tidak per ... nah, melakukan ke ... kebaikan kepada Aruna, mungkin ini akan men ... menjadi ... suatu ... tan ... tanda permintaan ... maaf papa kepad ... a ... Aruna."Ucap papa Edwin kemudian mengembuskan napas terakhir nya di rumah tersebut.
"Papa!"Ucap Aruna tidak tega melihat papa nya yang kini sudah tidak bernyawa lagi.
Brak ... suara pintu yang di tendang kuat dari luar.
"Aruna! Apa kau baik-baik saja?"Ucap Davin menarik Aruna kedalam pelukannya.
"Aku,aku baik-baik saja."Ucap Aruna yang masih memandangi mayat sang papa.
"Jangan bergerak! Kalian kami tahan!"Ucap beberapa polisi yang sebelumnya telah di ajak Davin ke rumah tersebut.
"Aruna! Kau! Kau licik!"Ucap Hana dan Rumi yang kini sudah berhasil di tahan oleh polisi dengan memasang gari di tangan nya.
"Aku tidak licik, hanya saja,aku sedikit lebih pintar dari kalian."Gumam Aruna sambil tersenyum miring.
"Bagaimana! Bagaimana kau bisa menghubungi Davin!"Ucap Rumi emosi dan mencoba memberontak.
"Aku? Biar aku ceritakan, aku sengaja pergi dengan kendaraan terpisah untuk memancing kalian agar tertipu, lalu apa kau pikir jika aku tidak mengetahui jika foto cincin itu kau ambil dari aplikasi lain? Kau sangat lah bodoh, dan aku akan sedikit berterima kasih kepada papa, karena telah mengorbankan diri untuk ku, setidaknya dendam mama ku terbalaskan."Ucap Aruna dengan sorot mata yang kini perlahan mulai tenang karena dendam nya yang sudah terbalas.
"Kau benar-benar wanita keji Aruna!"Ucap Hana.
"Diam,pak cepat bawa meraka pergi dari sini."Ucap Aruna kepada polisi tersebut.
"Baik nona."Ucap polisi tersebut kemudian membawa Hana dan Rumi masuk ke dalam mobil polisi.
"Sayang,aku harap kau sudah puas, semua nya sudah terbalas, sekarang kau bisa fokus dengan kehidupan baru mu."Ucap Davin kepada Aruna.
"Hmmm."Ucap Aruna kemudian memeluk Davin dengan manja.
Satu Minggu kemudian.
Setelah pemakaman papa Edwin tujuh hari kalau Aruna menutup rumah itu dan tidak akan menepati nya lagi.
Kini ia dan Davin sedang mengunjungi makam mama nya.
"Ma,tugas ku sudah selesai, mereka yang dulunya menyiksa mama kini balik di siksa."Ucap Aruna sambil menabur bunga di makam sang mama.
"Sayang,mama sudah tenang di sana."Ucap Davin mengelus pundak Aruna.
"Hm, iya."Ucap Aruna.
"Mengapa wajah mu terlihat pucat?"Ucap Davin memegang dagu Aruna.
"Aku tidak tau,tapi kepala ku sudah pusing dari tadi pagi."Ucap Aruna memegang kepala nya.
"Sebaiknya kita pulang ke mansion sekarang."Ucap Davin kepada Aruna.
"Yasudah ayo."Ucap Aruna berdiri namun terhuyung."Dengan cepat Davin memegang tubuh Aruna yang hampir jatuh.
"Aruna apa yang kau rasakan?"Ucap Davin memegang pundak istrinya.
__ADS_1
Namun belum sempat menjawab Aruna mulai memegang perutnya dan merasa mual.
"Hueeek."Mual Aruna sambil menutup mulut nya.
"Aruna ada apa?"Ucap Davin yang tak mengerti dan menjadi sangat panik.
"Aku,aku ingin kerumah sakit."Ucap Aruna sudah tidak tahan.
Melihat keadaan sang istri yang sudah sangat lemah Davin pun dengan sigap mengendong Aruna kemudian membawa nya masuk ke dalam mobil.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit.
Davin kembali mengedong Aruna masuk ke dalam ruang UGD dengan bantuan beberapa suster karena tubuh nya sudah sangat lemah.
Beberapa puluh menit kemudian akhirnya Aruna selesai di periksa.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apa yang dia rasakan dok?"Tanya Davin khawatir.
"Selamat tuan istri anda saat ini sedang hamil,usia kandungan nya baru menginjak dua Minggu dan sebaiknya di jaga dengan baik ya."Ucap dokter tersebut wanti-wanti.
"Apa? Istri saya hamil?"Ucap Davin kaget.
"Benar tuan silahkan masuk dan temuin istri anda."Ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
Tampa basa-basi Davin pun menerobos masuk ke dalam ruang rawat Aruna.
Terlihat Aruna yang kini terbaring lemah di atas ranjang.
"Sayang."Ucap Davin duduk di sebelah Aruna.
"Hmmm, terima kasih."Ucap Davin memegang perut Aruna.
"Terima kasih untuk apa?"Tanya Aruna bingung.
"Terima kasih kau sudah bersedia mengandung bayi kecil ku."Ucap Davin dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Aku? Maksud ku aku? Aku hamil?"Ucap Aruna dengan girang nya.
"Iya sayang, dokter bilang jika usia kandungan mu baru menginjak dua Minggu dan kita harus menjaga nya dengan baik."Ucap Davin yang kini sangat bahagia.
Aruna yang mendengar pernyataan Davin pun kemudian berusaha bangun dan memeluk erat Davin, bukan hanya Davin ia juga sangat bahagia karena kini ia akan merasakan kembali rasanya memiliki anak.
Sementara itu di sisi lain.
"Tolong jangan siksa aku."Ucap mama Fina di dalam rumah sakit jiwa.
Mama Fina kini merasakan apa yang di rasakan oleh Aruna dulu ia di siksa habis-habisan oleh sama-sama pesakit jiwa dan dokter yang kejam.
Sementara itu Hana dan Rumi kini seperti bangkai bernyawa yang tidak ada harapan hidup mereka menyesali semua perbuatan mereka karena telah melakukan begitu banyak kejahatan.
Namun nasi sudah menjadi bubur, mereka hanya bisa menyesali semua itu.
Lima bulan kemudian.
"Sayang,apa kau yakin ingin pergi menjenguk mama ke kantor polisi bersama ku?"Tanya Davin memegang tangan Aruna.
__ADS_1
"Iya yakin sekali, memang nya kenapa?"Tanya Aruna bingung.
"Lihat lah perut mu yang besar itu,apa kau akan kuat berjalan aku tidak ingin jika kau merasakan lelah nantinya."Jelas Davin sambil memegang perut Aruna yang kini semakin membesar.
"Jangan meremehkan aku ya."Ucap Aruna begitu sensitif sekarang.
Ya maklum namanya juga ibu hamil.
"Baik kah baik."Ucap Davin kemudian dengan hati-hati memegang tangan Aruna menuntun nya masuk ke dalam mobil.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di kantor polisi.
"Bu Jihan,ada yang ingin menjenguk."Ucap polisi kemudian mengeluarkan mana Jihan dari tahanan.
Mama Jihan pun keluar dari tahanan tersebut dan mengikuti polisi itu.
"Davin."Ucap mama Jihan saat melihat Davin yang duduk di bangku.
"Ma,apa kabar?"Ucap Davin lagi.
"Aku...aku baik, Aruna."Ucap mama Jihan sambil melihat Aruna yang duduk di sebelah Davin.
"Ma."Ucap Aruna.
Biar bagaimanapun Aruna tetap menghormati mama Jihan karena ia adalah mama Davin untuk kesalahan masa lalu Aruna perlahan sudah bisa memaafkan mama Jihan.
"Aruna kau sedang hamil?"Tanya mama Jihan dengan sorot mata yang terlihat sedih dan terharu.
"Iya ma, dan usia kandungan ku sudah menginjak lima bulan."Jawab Aruna.
"Sayang, maaf kan mama atas kejadian masa lalu."Ucap mama Jihan kepada Aruna.
"Sudah lah ma, lupakan hal lama, kami akan menunggu mama untuk berkumpul kembali bersama kami di mansion."Ucap Aruna dengan sopan.
"Ah,iya terima kasih,jaga baik-baik Aruna dan cucu ku Davin jangan sampai terjadi apa-apa."Ucap mama Jihan kemudian menghapus air matanya.
"Itu sudah pasti ma."Jawab Davin sambil tersenyum manis.
"Bagus lah mama percaya pada mu."Ucap mama Jihan.
Setelah mengobrol beberapa saat akhirnya waktu besuk mama Jihan pun habis, mama Jihan kembali masuk ke dalam tahanan setelah berpamitan kepada Aruna dan Davin.
Sementara itu Davin dan Aruna juga kembali pulang ke mansion.
Malam harinya.
"Sayang,kapan jagoan kecil ini akan keluar ?"Ucap Davin tidak sabar.
"Diam lah aku lelah, jangan bicara yang aneh-aneh itu masih lama, sebaiknya kau tidur dan jangan ganggu dia, dia juga ingin beristirahat sayang."omel Aruna karena Davin terus memegang perutnya.
"Huh, dasar pelit,baik lah aku akan tidur dan akan memeluk mu."Ucap Davin seperti anak kecil.
Aruna hanya tersenyum geli melihat tingkah Davin yang mengemaskan.
Mereka pun akhirnya memejamkan mata dan tertidur lelap dan mulai berada di alam mimpi i dah nya masing-masing
__ADS_1
TAMAT.