
Namun saat ingin berbalik untuk turun dari kasur Davin kembali menarik Aruna ke dalam pelukannya.
"Lebih sering menanam benih maka akan lebih cepat kau bisa memberikan aku keturunan."Ucap Davin yang kembali memulai aksinya.
"Hentikan! Ini sudah pagi apa yang ada di pikiran mu itu?Aku bahkan masih lelah akibat ulah mu tadi malam,kita di sini berlibur atau kau sengaja ingin membuat aku cepat hamil?"Ucap Aruna dengan raut wajah kesal.
"Dua duanya."Ucap Davin menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua.
Ya nasi sudah menjadi bubur Aruna mana bisa menolak keinginan suaminya itu ia hanya bisa pasrah memiliki suami yang tidak bisa mengontrol nafsu nya.
Pukul 09:20.
Akhirnya aktifitas pagi mereka pun selesai, Aruna terlihat sangat lelah, di sekujur tubuh nya terlihat bekas ****** dari Davin yabg begitu ganas dalam bermain.
"Sayang ayo ke pantai."Ucap Davin memegang kedua pipi Aruna.
Mereka baru saja selesai mandi dan rambut Aruna pun masih terlihat basah.
"Tidak mau."Jawab Aruna dengan wajah manyun.
Namun bukan nya kesal Davin malah terlihat sangat gemas melihat wajah istri nya itu, reflek saja ia langsung mencubit pipi Aruna dengan brutal.
"Aaaaa lepas kan pipi kuuuu!"Ucap Aruna menjerit kesal.
"Aku akan melepaskan nya saat kau sudah tersenyum."Ucap Davin kepada Aruna.
"Hmm,baik lah."Ucap Aruna tersenyum paksa.
Di sisi lain.
"Bibi, perempuan mana yang bibi bawa ke mansion ini?"Ucap Jesi menatap mama Jihan dengan tatapan tajam.
"Dia adalah penganti mu! Kau tidak pantas untuk menjadi istri anak ku! Kau itu perempuan jahat."Ucap mama Jihan menujuk wajah Jesi.
Dengan marah Jesi pun mendorong mama Jihan hingga jatuh dan kepala nya mengenai sudut meja.
"Rasakan itu! Ingat tidak akan ada yang bisa mengganti kan aku!"Ucap Jesi kemudian berlari masuk kembali ke dalam kamar nya.
"Astaga nyonya!"Teriak salah satu maid yang melihat mama Jihan telah pingsan di bawah meja dekat ruang tamu.
Karin yang mendengar jeritan maid tersebut pun bergegas turun dari lantai atas dan mengahpiri mama Jihan.
"Astaga,ada apa ini bi?"Tanya Karin melihat mama Jihan yang sudah tak sadar kan diri.
__ADS_1
"Saya juga tidak tau non,tadi saat saya ingin mengantarkan teh untuk nyonya beliau sudah tergeletak di sini."Ucap maid itu.
"Baik lah segera telpon ambulance dan bawa bibi Jihan kerumah sakit."Ucap Karin kepada maid itu.
"Baik non,ini nomer telepon tuan muda Davin segera hubungi tuan muda agar cepat pulang."Ucap maid itu.
"Baik."Ucap Karin kemudian berlari ke kamar nya dan mengambil ponsel nya untuk menelpon Davin.
Sementara itu maid dan pak Andi menemani mama Jihan ke rumah sakit.
"Tunggu,bukan kah di sini ada cctv?"Ucap Karin.
Karin pun mengurung kan niat nya untuk menelpon Davin saat ini karena ia akan terlebih dahulu mengecek cctv untuk mengetahui siapa yang telah melakukan itu kepada mama Jihan.
"Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Karin saat ia tiba di ruang cctv dan melihat Jesi yang berada di dalam sana.
"Apa? Kau ingin melihat siapa pelakunya? Oh tapi sayang kau tidak akan menemukan bukti apapun karena aku telah merusak cctv itu."Ucap Jesi tersenyum licik.
"Oh, jadi kau yang sudah membuat bibi menjadi seperti itu?"Ucap Karin tersenyum miring.
"Iya, siapa suruh dia ingin membatalkan aku untuk menjadi istri Davin."Ucap Jesi.
"Dasar perempuan tidak tau malu, dengar aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada perempuan tua itu, tapi aku juga harus sedikit bersandiwara untuk mendapatkan keadilan sepupu ku yang telah kalian bunuh!"Ucap Karin menujuk Jesi.
"Kau? Kau sepupu Felicia? Karin?"Ucap Jesi gemetar.
"Cepat juga otak mu mencerna, begini, awal nya aku pikir aku akan menghukum wanita tua itu dengan tangan ku sendiri,tapi sepertinya aku salah kau duluan yang melakukan nya."Ucap Karin sambil tertawa renyah.
"Jadi, jadi apa yang kau inginkan!?"Ucap Jesi perlahan mendekati pintu keluar ruang cctv tersebut.
"Tentu saja memberikan mu pelajaran yang setimpal."Ucap Jesi tersenyum miring.
"Tidak,aku hanya di suruh, jangan macam-macam aku melakukan semua itu karena permintaan bibi Jihan!"Ucap Jesi kemudian berlari keluar dari ruang tersebut.
Karena ketakutan Jesi berlari cepat menuruni tangga dan ingin kabur akan tetapi saat ia melangkah tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh bergulir dari tangga lantai atas dan jatuh ke bawah.
Darah segar pun mengalir dari kepala Jesi karena beberapa kali membentur anak tangga.
Karin pun turun dari tangga tersebut sambil tersenyum.
"Sudah ku bilang, pelan-pelan saja."Ucap Karin sambil membungkuk menatap wajah Jesi yang bersimbah darah.
Jesi pun tewas di tempat karena banyak tulang nya yang remuk dan patah-patah akibat jatuh.
__ADS_1
"Akhirnya kau merasakan apa yang di rasakan oleh sepupuku."Ucap Karin kemudian kembali ke kamar nya.
Karena merasa misinya telah selesai Karin pun mengambil koper nya dan pergi meninggalkan mansion Winston.
"Masalah perempuan tua itu,biar kan Aruna yang menyelesaikan nya."Ucap Karin kemudian melangkah mayat Jesi dan keluar dari Mansion.
Sementara itu di sisi lain.
"Apa ada keluarga dari pasien?"Tanya dokter kepada pak Andi yang menunggu di depan ruang rawat mama Jihan.
"Sebentar dokter."Ucap pak Andi kemudian mengambil ponsel nya untuk menelpon Davin.
Sementara itu di sisi lain.
"Davin ponsel mu sudah beberapa kali berbunyi."Ucap Aruna kepada Davin.
Aruna dan Davin baru saja pulang dari pantai siang ini.
"Anggat saja."Ucap Davin dari kamar mandi.
Aruna pun mengangkat telpon tersebut.
Call on.
"Hallo."Ucap Aruna sambil menempelkan ponsel tersebut ke kuping nya.
"Iya, nona muda sudah sampai di mana?"Ucap pak Andi dengan suara yang begitu panik.
"Ada apa pak Andi? Kami masih di hotel." Tanya Aruna santai.
"Astaga apa nona Karin tidak mengatakan apapun?"Ucap pak Andi lagi.
"Karin? Siapa Karin dan mengatakan apa?"Ucap Aruna bingung.
"Ya Tuhan,nona segera ajak tuan muda Davin untuk pulang karena nyonya Jihan sekarang sedang berada di rumah sakit."Ucap pak Andi lagi.
"Astaga! Ada apa? Apa yang terjadi?"Tanya Aruna bingung.
"Kami juga tidak tau pasti nona, yang jelas segera lah pulang."Ucap pan Andi.
"Ah, iya-iya baik lah kami akan segera pulang."Ucap Aruna kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Call off.
__ADS_1
Bersambung ....