Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode 51


__ADS_3

Karena tidak bisa melawan keinginan Aruna Rumi pun terpaksa mengikuti Aruna untuk masuk ke dalam rumah papa Edwin lagi,ia juga berfikir jika Aruna akan membantu nya mendapatkan hak untuk anak nya yang sudah keguguran itu.


Mereka pun akhirnya turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang rumah papa Edwin.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya mama Fina pun membuka pintu rumah tersebut.


Mama Fina terlihat sangat kaget karena di depan pintu telah berdiri Aruna dan Rumi.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Aruna mengapa kau membawa wanita ****** ini ke rumah ini lagi?"Ucap mama Fina marah.


"Tenang lah mama,kami ke sini hanya mampir dan Rumi juga sangat merindukan papa."Ucap Aruna tersenyum sinis.


Tepat saat itu papa Edwin pulang dari kantor.


"Aruna! apa-apaan ini? Mengapa kau lagi-lagi membawa Rumi ke rumah ini? Apa kau belum begitu puas membuat keluarga ini berantakan?"Ucap papa Edwin menghampiri Aruna dan Rumi yang masih berdiri di depan pintu.


"Tidak sopan sekali, bagaimana jika para tetangga tau kalian memperlakukan tamu dengan tidak hormat? Setidaknya kami di persilahkan masuk."Ucap Aruna.


Dengan kesal papa Edwin dan mama Fina pun masuk ke dalam rumah di ikuti Aruna dan Rumi.


"Katakan,apa yang kau inginkan?"Ucap papa Edwin kepada Aruna.


"Pa,aku sudah bilang kami hanya mampir, Rumi sangat merindukan mu,pa aku ingin mengatakan jika sebenarnya Rumi tidak keguguran dan sekarang dia masih hamil dan anak itu laki-laki pa."Ucap Aruna berbohong.


Rumi terlihat bingung dengan ucapan Aruna namun ia tau ini pasti adalah akal-akalan Aruna untuk membantu nya.


"Apa? Benar kah? Kau mengandung bayi laki-laki?"Ucap papa Edwin mendekati Rumi.


Aruna menatap Rumi seakan memberikan kode agar Rumi menjawab iya.


"Ah,iya aku sedang hamil bayi laki-laki mu."Ucap Rumi.


Aruna tau jika sang papa sudah lama menginginkan bayi laki-laki untuk menjadi penerus keluarga nya.


"Tidak! Apa kalian gila? Kalian telah berzina di belakang ku dan memiliki bayi laki-laki ini tidak mungkin sekarang juga keluar kau dari rumah ini wanita ******!"Teriak mana Fina begitu marah.

__ADS_1


"Cukup Fina, pelan kan suara mu, kau membuat Rumi takut."Ucap papa Edwin kepada mama Fina.


"Apa? Kau membela nya?"Ucap mama Fina dengan tatapan tajam.


Papa Edwin pun menarik tangan mama Fina menuju dapur agar bisa berbicara dengan tenang.


"Tunggu di sini aku akan menguping."Ucap Aruna kepada Rumi.


Di dapur.


"Sayang tenang lah,aku janji setelah dia melahirkan aku tidak akan berhubungan apapun lagi dengan nya, kita hanya butuh bayi laki-laki nya saja,aku sangat mencintaimu sayang."Ucap papa Edwin.


"Benar kah? Tapi aku tidak suka,aku membencinya!"Ucap mama Fina lagi.


"Sabar lah, bukan kah kau tau jika aku sudah lama menginginkan bayi laki-laki? Aku mohon agar kau menuruti keinginan ku kaki ini saja, setelah bayi nya lahir kita akan menyingkirkan perempuan itu sama-sama."Ucap papa Edwin membujuk mana Fina.


Mama Fina pun akhirnya luluh dengan ucapan papa Edwin ia pun akhirnya setuju untuk tidak marah-marah lagi kepada Rumi meskipun ia begitu membenci Rumi tapi ia percaya jika papa Edwin hanya mencintai dirinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"Tanya mama Fina.


Sementara itu Aruna bersembunyi di balik pintu yang gelap.


"Huh, segini saja kekacauan nya? Biar aku tambah kan sedikit bumbu."Ucap Aruna kemudian berjalan menuju dapur.


"Aruna,apa yang kau lakukan di sini?"Ucap mama Fina kepada Aruna.


"Ma, seperti nya karma terlah berlaku."Ucap Aruna memanas-manasi mama Fina.


"Apa maksud mu?"Ucap mama Fina tidak mengerti.


"Tidak perlu berpura-pura, bagaimana? Sudah merasakan apa yang di rasakan mama ku? Ini sakit bukan?"Ucap Aruna.


"Jadi kau dengan sengaja membawa wanita ****** itu ke mari untuk balas dendam?"Ucap mana Fina mulai mengerti maksud dan tujuan Aruna.


"Cukup tepat, dan bukan hanya itu selama mama hidup mungkin karma ini akan terus berlaku."Ucap Aruna lagi.

__ADS_1


"Dasar anak haram! Beraninya kau menakuti aku!"Ucap mama Fina marah.


"Kau telah membunuh mama, mengambil saham mama ku,menajdikan itu milik mu,kau bahkan menyiksa aku,apa mama ku selalu datang di mimpi mu untuk balas dendam? Itu sudah pasti bukan."Ucap Aruna menakut-nakuti mama Fina.


"Apa? Kau! Mengapa kau tau semuanya? Dari mana kau tau tentang semua info itu?"Ucap mama Fina kaget.


"Mengapa? Apa kau takut? Ini lah awal dari kehancuran hidup mu!"Ucap Aruna.


"Kau lebih baik kau mati!"Ucap mama Fina ingin mengambil pisau.


Sedari tadi Aruna berbicara pelan sehingga papa Edwin dan Rumi tidak mendengar apapun di ruang tengah sampai saat mama Fina menjerit karena marah, papa Edwin dan Rumi pun bergegas pergi menuju dapur.


"Apa yang terjadi? Fina apa yang kau lakukan?"Ucap papa Edwin menatap mama Fina yang memegang pisau dapur.


"Dia! Dia tau semuanya,dia harus mati!"Ucap mana Fina menunjuk Aruna.


"Aruna apa yang kau tau?"Ucap papa Edwin melirik Aruna.


"Hiksss,papa iya aku tau pa,mama Fina bilang dia lah yang mencuri aset dan saham mama dan papa yang membunuh mama hiksss dia marah dengan ku karena aku membawa Rumi ke sini dan dia mengatakan semuanya pa!"Ucap Aruna memutar balik kan ucapan.


"Apa! Tidak! Aku tidak mengatakan itu sama sekali!"Ucap mama Fina panik.


"Wanita ******!"Teriak papa Edwin kemudian menampar pipi mana Fina dengan kuat.


"Ah, mengapa kau menampar ku?Aku tidak mengatakan apapun!"Ucap mama Fina sambil memegang pipinya yang terasa sangat sakit akibat tamparan itu.


"Kau bodoh,kau pantas mendapatkan itu!"Ucap papa Edwin.


Mama Fina pun berlari masuk ke dalam kamar nya ia sudah cukup menderita hari ini dan tidak ada bahan untuk melawan.


"Anak baik,papa minta maaf atas apa yang telah papa lakukan di masa lalu,papa mohon jangan bawa hal ini ke kantor polisi."Ucap papa Edwin membujuk Aruna.


"Hikss,tapi aku tidak bisa menyimpan rahasia pa, jika semua orang tau papa membunuh mama makan papa akan mendapatkan hukuman yang setimpal."Ucap Aruna sambil berpura-pura menangis.


"Lalu kau akan mengatakan kepada semua orang? Dan membiarkan papa kandung mu masuk penjara nak?"Ucap papa Edwin.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2