
"Tyan muda Davin Winston."Gumam para karyawan kaget.
"Ah Davin ada apa kau ke mari?"Ucap papa Edwin mulai tidak enak hati.
"Aku ke sini tentu saja untuk membantu istri ku mendapatkan hak nya."Ucap Davin memegang pundak Aruna.
"Tidak! Kau tidak boleh ikut campur ini urusan keluarga kami dan apa yang akan kau lakukan untuk nya? Ingat di adalah tumbal keluarga mu saja."Ucap mama Fina marah.
"Bicara lah dengan pelan,atau kau akan sakit jantung."Ucap Davin lagi.
"Apa maksud mu?"Ucap Hana marah.
"Dengar baik-baik, tuan Edwin, seluruh saham keluarga mu itu ada di tangan ku, dan baru-baru ini aku mengetahui sesuatu yang telah kau lakukan,kau mencoba memalsukan kontrak kerja sama dan mengelap kan uang kerjasama sama dengan perusahaan Winston, untuk ini aku nyatakan seluruh saham itu menjadi milik istri ku karena aku sudah membeli nya."Ucap Davin dengan suara lantang.
"Apa? Tidak mungkin! Aku tidak setuju!"Jerit mama Fina.
Mama Fina pun pingsan tak sadar kan diri harapan nya kini musnah.
Dua hari kemudian.
Perusahaan itu pun kini telah resmi menjadi milik Aruna.
Sementara itu karena depresi yang tinggi mama Fina telah di antar oleh papa Edwin ke rumah sakit jiwa.
"Mas lepas kan aku! Lepas kan aku! Aku tidak ingin masuk ke rumah sakit jiwa!"Ucap mama Fina kepada papa Edwin sambil meronta-ronta.
"Pa aku mohon jangan masukan mama ke rumah sakit jiwa!"Jerit Hana menahan tangan papa nya.
"Diam kalian! Aku sudah muak mengurus orang gila seperti kalian kau jangan melawan jika tidak kau juga akan pergi menemani mama mu ke dalam rumah sakit jiwa itu!"Ucap papa Edwin mendorong mama Fina masuk ke dalam mobil.
"Haaa,lepas kan aku,aku ingin kembali ke perusahaan, tolong,saham ku saham ku!"Ucap mana Fina yang memang sudah gila.
Hana hanya bisa pasrah dan melihat mama nya yang di bawa oleh papa nya menuju rumah sakit jiwa.
"Lihat saja Aruna,aku akan membalas semua perilaku kejam mu itu!"Batin Hana sambil menahan air matanya.
Sementara itu dari kejauhan terlihat Rumi yang sedang mengamati pemandangan itu.
__ADS_1
"Akhirnya wanita itu pergi juga,aku jadi tidak perlu mengotori tangan ku untuk membunuh nya,dan sekarang tinggal merayu laki-laki tua itu untuk menyerahkan saham kepada ku."Ucap Rumi yang sama sekali tidak tau jika saham keluarga Edwin telah berhasil di rebut kembali oleh Aruna.
Sementara itu di sisi lain.
"Karin sudah lama kita tidak bertemu akhirnya bibi bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan mu."Ucap mama Jihan kepada Karin.
Hari ini mama Jihan sengaja mengajak karin untuk makan siang bersama di restoran, dengan tujuan supaya bisa dekat dengan Karin yang ia pikir akan mau bekerjasama dengan nya untuk menyikirkan Aruna dan Jesi.
"Iya bibi aku juga sudah sangat ingin bertemu bibi karena bibi begitu mengingatkan aku dengan mama ku,oh iya di mana anak bibi ?"Ucap Karin sambil meminum jus jeruk nya.
"Maksud ku Davin? Ya dia sedang berlibur bersama perempuan ****** itu."Ucap mama Jihan terlihat kesal.
"Perempuan ******? Maksud bibi adalah istri nya?"Ucap Karin lagi.
"Iya Karin benar."Ucap mama Jihan terlihat risih.
"Bibi ada apa sebenarnya, mengapa bibi terlihat sangat tidak suka dengan istri dari anak bibi itu?"Tanya Karin kepada mama Jihan.
Mama Jihan pun menceritakan semua nya dari awal hingga akhir.
"Astaga begitu ya?"Ucap Karin.
"Bibi tenang lah,sejak pertama aku melihat Davin aku sudah jatuh cinta padanya dan aku bersedia membantu bibi."Ucap Karin dengan bahagia nya.
"Benar kah? Kalau begitu kau harus tinggal di mansion, agar kau bisa lebih dekat dengan Davin."Ucap mana Jihan antusias.
"Baik bibi,aku akan melakukan apapun yang bibi minta."Ucap Karin tersenyum miring.
Mama Jihan pun dengan bodoh nya membawa Karin tingal di dalam Mansion tampa meminta persetujuan Davin dan saat itu Davin dan Aruna sedang tidak berada di mansion mereka pergi untuk berlibur beberapa hari.
"Karin ini kamar mu,kau bisa melakukan aktivitas apa saja di mansion ini jangan sungkan-sungkan ya."Ucap mama Jihan kepada Karin.
"Baik lah bibi, ngomong-ngomong kapan Davin akan pulang?"Tanya Karin lagi.
"Sabar sayang mungkin beberapa hari lagi dia akan pulang."Ucap mama Jihan.
"Ah baik lah bibi."Ucap Karin lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu bibi tingal dulu ya."Ucap mana Jihan kepada Karin.
Dengan bodoh nya mama Jihan mempercayai Karin yang baru ia kenal untuk tingal di mansion dengan tujuan mengacaukan rumah tangga Aruna dan Davin dan menyingkirkan Jesi.
"Permainan akan segera di mulai,dan aku tidak akan mengusik orang yang tidak bersalah di dalam rumah ini, mereka yang telah membunuh sepupu ku maka mereka lah yang akan bertanggung jawab."Batin Karin kemudian menarik kopernya masuk ke dalam kamar itu.
Apa yang di maksud oleh Karin? Sepupunya? Apakah kalian penasaran mari simak terus kelanjutan nya.
Keesokan harinya
"Aruna bangun lah kita akan pulang hari ini."Ucap Davin sambil membangun kan istri nya yang tengah pulas tertidur.
"Emhhh,ada apa?"Ucap Aruna mengalungkan tangannya ke leher Davin.
"Tapi bohong."Ucap Davin mencubit pipi Aruna.
"Aihh,kau ini menyebalkan sekali,aku membenci mu!"Ucap Aruna memanyunkan bibirnya.
"Yakin akan membenci Ku?"Ucap Davin memegang perut Aruna.
"Maksud mu?"Ucap Aruna binggung saat Davin melirik perut nya dengan lucu.
"Bagaimana jika di dalam nya akan ada bayi ku?"Ucap Davin menggoda Aruna.
"Hah? Tidak! Itu tidak ada, jangan berharap."Ucap Aruna memalingkan wajahnya dari Davin.
"Bagaimana mungkin tidak ada? Aku sudah berkali-kali, menumpahkan benih itu."Ucap Davin pelan di kuping Aruna.
Wajah Aruna kini mulai memerah ia benar-benar kesal akan tingkah Davin yang pagi-pagi sudah sangat manja kepada nya.
"Lihat lah pipi mu itu, sudah seperti udang yang di rebus saja."Ucap Davin terkekeh geli.
"Sudah lah lupakan,aku ingin ke pantai sebelum kita pulang besok ayo cepat mandi."Ucap Aruna ingin beranjak dari kasur nya.
"Kenapa buru-buru? Apa tidak ingin memberiku morning kiss atau mengulang yang tadi malam satu ronde lagi sayang."Ucap Davin memegang tangan Aruna.
Aruna berbalik kemudian mengecup sekilas pipi Davin, dengan wajah yang masih memerah.
__ADS_1
Bersambung ....