
Malam ini Aruna tidak pulang karena ia sedang lembur dengan beberapa karyawan lain di kantor papa nya.
Sementara itu Davin baru saja pulang dari kantor dan ia tidak melihat Aruna di mansion.
"Davin kau sudah pulang kemarikan tas mu."Ucap Felicia mengambil tas yang berada di tangan Davin.
"Di mana Aruna?"Tanya Davin.
"Aku tidak melihat nya, mungkin dia lembur di kantor."Ucap Felicia lagi.
"Mengapa kau tidak ikut membantu nya?"Ucap Davin lagi.
"Davin aku sedang tidak enak badan,jadi aku libur untuk beberapa hari."Ucap Felicia menaruh tas Davin di atas sofa.
"Begitu."Ucap Davin singkat.
"Davin duduk lah terlebih dahulu,aku sudah menyiapkan teh hangat untuk mu,kau pasti sangat lelah."Ucap Felicia.
"Tumben sekali,tapi aku tidak ingin minum teh."Jawab Davin malas.
Davin bahkan berharap yang melayani nya adalah Aruna bukan Felicia.
"Kenapa? Aku sudah bersusah-payah melakukan ini, apa kau masih sangat membenci aku?"Ucap Felicia pura-pura sedih.
"Huh,baik lah."Ucap Davin duduk di sofa kemudian meminum beberapa teguk teh tersebut.
"Ini sudah hampir dingin."Ucap Davin.
"Itu karena aku sudah mempersiapkan nya sedari tadi."Ucap Felicia tersenyum licik.
Davin pun meneguk habis teh tersebut karena dirinya memang sangat haus saat itu.
Tidak lama kemudian ia merasa kepalanya sedikit pusing dan mengantuk.
"Huaaam, mengapa aku tiba-tiba mengantuk."Ucap Davin mulai memejamkan matanya.
"Kau mungkin sangat lelah, sini aku pijit."Ucap Felicia kemudian duduk di samping Davin dan mulai memijit Davin.
Tidak lama kemudian Davin pun tertidur pulas di atas sofa.
"Akhirnya dia tidur juga."Ucap Felicia.
Ia pun bersandiwara kepada beberapa maid untuk membantu nya membopong tubuh Davin menuju kamar.
Maid pun tidak menaruh sedikit pun kecurigaan terhadap Felicia ia hanya bilang jika Davin kecapean dan tidur.
"Sayang, sudah saatnya."Ucap Felicia mengunci pintu kamar.
Felicia membuka baju Davin sehingga tidak sehelai benang pun yang tersisa.
Ia melempar baju Davin kesembarang tempat kemudian ia juga melepaskan semua pakaiannya nya naik ke ranjang.
Mereka tidak melakukan apa-apa, mereka hanya tidur bersama saja dan ini sebuah trik yang di lakukan Felicia untuk menjebak Davin.
Keesokan harinya.
__ADS_1
"Aaaaaaa!"Teriak Felicia menggema di kamar Alfian.
"Astaga!"Ucap Aruna yang sedari tadi menyisir rambut nya.
Aruna pulang ke mansion sekitar jam dua malam jadi dia tidak tau apakah Davin ada di kamar atau tidak ada, tadi malam setelah pulang ia langsung masuk ke kamar nya untuk beristirahat.
Mendengar jeritan tersebut Aruna pun begeges menuju kamar Davin.
Sementara itu Davin terbangun dan mengucek-mengucek mata nya.
Davin pun menoleh ke sebelah kiri nya dan melihat Felicia yang sedang menutupi tubuh nya dengan selimut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Davin bingung.
"Aku? Aku bahkan ingin bertanya mengapa aku berada di kamar mu dan mengapa aku tidak memakai sehelai benang pun?"Ucap Felicia berakting.
Davin pun melihat ke dalam selimut dan kaget karena ia juga tidak mengunakan apapun sekarang,dan ia sama sekali tidak mengingat apapun.
"Ada ap ... " Ucap Aruna membuka pintu kamar tersebut.
Aruna tercengang melihat pemandangan di depan matanya, ia benar-benar tidak menyangka Davin dan Felicia melakukan hal itu di saat dirinya masih menjadi istri sah Davin.
"Ma-maaf,aku menganggu."Ucap Aruna kemudian kembali menutup pintu kamar tersebut dan berjalan pergi dari sana.
"Aruna! Aruna!"Teriak Davin ingin mengejar Aruna.
"Davin aku bagaimana?"Ucap Felicia memegang tangan Davin.
"Keluar dari kamar ku!"Ucap Davin kepada Felicia.
"Keluar!"Ucap Davin membentak Felicia.
Felicia yang takut pun keluar dari kamar Davin setelah mengunakan piama nya.
"Astaga apa yang terjadi, mengapa aku tidak bisa mengingat kejadian tadi malam?"Ucap Davin sambil memegang kepala nya.
Sementara itu Aruna berjalan cepat menuruni tangga menuju pintu keluar mansion.
"Kemana nona?"Tanya pak Andi kepada Aruna.
"Kantor pak."Ucap Aruna lagi.
"Lah, bukan kah ini minggu nona?"Ucap pak Andi.
"Oh iya saya lupa, jalan saja dulu pak."Ucap Aruna kemudian masuk ke dalam mobil.
"Baik nona."Ucap pak Andi kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil kemudian melaju keluar dari aula mansion.
Sementara itu Felicia berdiri mengamati Aruna dari balkon atas kamar nya.
"Aruna,kau pikir aku akan diam saja dan melepaskan Davin untuk mu?" Itu tidak akan terjadi."Ucap Felicia tersenyum licik.
Siapa sangka jika Felicia akan hamil setelah tidur satu malam dengan Tony dan tidak ada yang tau itu adalah anak dari Tony.
"Mengapa hatiku terasa sakit?"Batin Aruna sambil menatap arah jalan raya.
__ADS_1
Pak Andi tidak tau apa yang terjadi dengan Aruna yang jelas ia merasa sedikit kasihan karena Aruna tidak terlihat bahagia sedikit pun semenjak tingal di mansion itu.
"Berhenti pak."Ucap Aruna saat tiba di depan sebuah toko bungga.
"Baik nona."Ucap pak Andi kemudian memberhentikan mobil itu di pinggir jalan.
Aruna pun turun dari mobil nya kemudian berjalan menuju toko bungga tersebut.
Ia membeli sebuah buket bungga mawar putih kemudian kembali masuk ke dalam mobil.
"Jalan pak."Ucap Aruna sambil memegang bungga tersebut.
"Kita akan kemana lagi nona?"Tanya pak Andi.
"Ke TPU ****."Ya pak."Ucap Aruna.
"Baik nona muda."Jawab pak Andi.
Mereka pun akhirnya tiba di TPU yang di katakan Aruna.
Ia kembali turun dari mobil nya dan membawa bunga mawar putih tersebut ke sebuah makam.
"Mama,aku datang lagi,dan kali ini aku membawa bungga mawar putih untuk mama."Ucap Aruna menaruh bungga mawar putih tersebut ke atas makam sang mama.
Sementara itu pak Andi hanya diam di mobil dan mengamati dari jauh.
"Kasian sekali nona Aruna."Ucap pak Andi.
Namun tiba-tiba ponsel pak Andi berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.
Pak Andi pun mengambil ponsel tersebut dan melihat.
"Tuan muda?"Ucap pak Andi kemudian mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
Call on.
"Hallo tuan muda."Ucap pak Andi.
"Di mana Aruna?"Tanya Davin.
"Nona muda sedang berada di TPU tuan **** muda."Ucap pak Andi lagi.
"Baik lah aku akan ke sana."Ucap Davin kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Call off.
"Ada apa dengan tuan muda?"Batin pak Andi lagi.
Beberapa puluh menit kemudian.
"Apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Davin memegang pundak Aruna.
Aruna mendongak ke atas melihat Davin yang berdiri di belakang nya.
Bersambung ....
__ADS_1