Pernikahan Kedua Aruna

Pernikahan Kedua Aruna
Episode. 38


__ADS_3

Namun Aruna tidak menjawab sepatah kata pun ia hanya diam dan terus menatap makan sang mama.


"Ini makam mama mu?"Ucap Davin ikut berjongkok di depan makam mama Aruna.


"Iya, apa yang kau lakukan di sini?"Tanya Aruna pelan, dengan mata yang terlihat sedikit sembab.


"Aku mencari mu."Ucap Davin.


"Ada apa?"Tanya Aruna.


"Soal yang kau lihat tadi itu hanya ..."Ucap Davin terhenti ketika melihat Aruna mengangkat tangan nya mengisyaratkan untuk tidak bicara apapun.


"Sudah lah aku tidak ada hubungannya dengan apapun yang kau lakukan."Ucap Aruna lagi.


"Kau istri ku, tentunya ada itu hanya salah paham Aruna dengar kan aku aku tidak melakukan apapun."Ucap Davin mencoba menjelaskan.


"Aku tidak peduli,aku hanya tumbal Davin jadi aku mengerti akan posisi ku."Ucap Aruna tampa menatap wajah Davin.


"Aruna aku mohon percaya lah."Ucap Davin memegang tangan Aruna.


"Sudah lah, jangan berisik di depan makam mama ku sebaiknya kau pergi saja."Ucap Aruna.


"Kau mengusir ku?"Ucap Davin.


"Karena mulut mu tidak bisa diam."Ucap Aruna terlihat kesal.


"Huh,baik lah, aku sudah menjelaskan nya karena aku menghargai posisi mu."Ucap Davin kepada Aruna.


Aruna tidak menanggapi hal itu ia lebih memilih diam.


"Jika aku boleh tau,apa sebab meningal nya mama mu?"Tanya Davin penasaran.


Aruna menatap Davin ia terlihat berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Davin barusan.


Namun ia rasa tidak ada yang perlu di sembunyikan dari Davin biar bagaimanapun ia patut bercerita siapa tau sebelum ia meninggal ia bisa meminta sedikit bantuan kepada Davin untuk merebut kembali saham milik mama nya dari tangan papa dan mama tirinya.


"Bicaralah apa kau bisu?"Ucap Davin kesal menunggu jawaban dari Aruna.


"Di bunuh."Ucap Aruna singkat.


Davin tercengang menatap wajah Aruna yang seperti nya tidak terlihat sedang bercanda.


"Di bunuh oleh siapa?"Tanya Davin pelan.


"Papa dan mama tiri ku."Ucap Aruna lagi.

__ADS_1


"Bisa kau ceritakan sedikit kepadaku?"Ucap Davin sambil mengengam erat tangan Aruna.


Aruna menatap tangan Davin yang menggenggam tangan nya.


"Ibuku meninggal saat usia ku lima tahun, papa bilang ibu meningal karena sakit dan aku percaya karena aku tidak melihat bukti apapun jika mama di bunuh, namun beberapa Minggu lalu saat kau meminta ku untuk meminta surat kontrak saham dengan papa ku aku mendengar percakapan antara papa dan mama Fina, mereka lah yang telah membunuh mama ku dan mengambil alih saham milik mama, dan aku bukan lah anak haram mama ku bukan wanita simpanan mama Fina lah yang merebut papa dari mama."Ucap Aruna dengan air mata yang kian deras menetes.


Davin menghapus air mata Aruna dengan jari nya kemudian menarik Aruna ke dalam pelukannya.


"Mengapa kau tidak pernah menceritakan tentang ini kepada ku?"Tanya Davin sambil memeluk erat tubuh Aruna.


"Aku hanya sadar diri Davin ini hal pribadi bagi ku."Ucap Aruna membiarkan Davin memeluk nya karena memang saat ini ia sangat membutuhkan pelukan.


"Mengapa kau tidak merebut kembali saham itu?"Ucap Davin melepaskan pelukan nya dan memegang kedua pundak Aruna.


"Aku sempat berfikir untuk hal itu, tapi aku tidak bisa melakukan nya,itu membutuhkan uang yang banyak."Jawab Aruna.


"Itu hak mu,saham itu milik mu, apakah kau akan membiarkan kerja keras mama mu sia-sia dan sekarang mereka hidup dengan kemewahan dengan mengunakan harta mama mu yang seharusnya menjadi milik mu?"Ucap Davin menguncang tubuh Aruna.


"Jika aku bisa melakukan ny aku akan melakukan nya bahkan aku juga menginginkan kematian mereka! Tapi aku tidak punya banyak waktu jika aku mati nanti siapa yang akan mengurus semua itu!?"Ucap Aruna menatap Davin.


"Kau terlalu memikirkan kematian,apa kau tidak ingin mati dengan keadaan puas dan tenang saat mereka menderita merasakan penderitaan yang dirasakan oleh mama mu dan dirimu? Bahkan jika kau mati setelah mendapat saham itu kau bisa menyerahkan nya kepada panti asuhan!"Ucap Davin marah.


Aruna terdiam ia merasa yabg di katakan oleh Davin itu benar dan seharusnya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Kalau begitu bantu aku."Ucap Aruna menatap Davin.


"Dia membalas semua ini hanya lah semata-mata untuk berterima kasih karena aku sudah bersedia menjadi tumbal."Batin Aruna merasa sangat sakit.


"Bagaimana caranya kau akan membantu ku?"Tanya Aruna lagi.


"Itu gampang, sekarang ikut aku makan siang masalah itu nanti kita bahas lagi, kau butuh ketenangan dan lakukan ini dengan perlahan."Ucap Davin kemudian membantu Aruna berdiri.


"Baik lah."Ucap Aruna menurut.


Aruna pun masuk ke dalam mobil Davin sementara itu pak Andi di suruh pulang oleh Davin.


Mereka pun pergi ke sebuah restoran mewah untuk makan siang.


Hari demi hari berlalu Davin dan Aruna semakin dekat bahkan Aruna kini merasakan bagaimana menjadi seorang istri yang sesungguhnya Davin selalu memperlakukan nya dengan baik.


Davin pun semakin sering membantu Aruna untuk mencari data perusahaan mana Aruna yang di sembunyikan oleh papa Edwin.


Seminggu kemudian.


"Davin bagaimana?"Tanya Aruna kepada Davin.

__ADS_1


"Apanya?"Ucap Davin lagi.


"Tidak usah berpura-pura lupa."Ucap Aruna kesal.


"Maaf-maaf, aku belum menemukan bukati apapun."Ucap Davin santai.


"Astaga, sia-sia saja."Ucap Aruna terlihat sedih.


"Sabar, tunggu beberapa hari lagi."Ucap Davin.


"Baik lah apa kau sudah makan siang?"Tanya Aruna kepada Davin.


"Aku? Belum."Jawab Davin masih asik dengan laptop di depan nya.


"Ayo makan bersama ku."Ucap Aruna.


"Ayo."Jawab Davin kemudian menutup laptopnya nya dan berdiri dari duduknya.


Baru saja ingin melangkah kan kaki telpon Davin pun berdering.


Dengan cepat Davin merogoh saku celana nya dan mengambil ponsel tersebut.


"Mama? Ada apa mama menelpon ku?"Ucap Davin melihat layar ponsel nya yang menyala.


"Angkat saja."Ucap Aruna.


Davin pun kemudian mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


Call on.


"Hallo ma."Ucap Davin.


"Davin cepat kerumah sakit sekarang Felicia masuk rumah sakit."Ucap mama Davin terlihat panik.


"Baik aku segera ke sana."Ucap Davin kemudian mematikan telepon secara sepihak.


Call of.


"Ada apa?"Tanya Aruna bingung.


"Felicia dia masuk rumah sakit mama meminta ku untuk ke sana."Jawab Davin.


"Pergi lah."Ucap Aruna tersenyum paksa.


"Kau ikut dengan ku."Ucap Davin kemudian menarik tangan Aruna untuk ikut dengan nya.

__ADS_1


Mereka pun menaiki mobil kemudian menuju rumah sakit.


Bersambung ....


__ADS_2