
"Jangan tersenyum seperti itu atau aku akan memakan mu, cepat jelas kan sebelum aku berubah pikiran dan memukuli mu karena berani selingkuh di belakang ku."Ucap Davin menakut-nakuti istri nya.
"Baik-baik, aku akan menjelaskan nya. Dia datang untuk berpamitan ke luar
negri dan meminta maaf, lalu sebagi tanda perpisahan dia ingin memeluk ku,itu saja tidak lebih."Ucap Aruna menatap wajah sang suami dengan penuh iba.
"Benar begitu?"Ucap Davin menatap Aruna dalam.
"Jika kau tidak percaya aku bisa memberikan bukti cctv kantor kepada mu."Ucap Aruna dengan pintar nya.
"Tidak perlu, cukup berikan aku satu kecupan saja, maka aku akan mempercayai mu."Ucap Davin mengedipkan sebelah matanya menatap wajah Aruna.
Aruna tertawa geli melihat tingkah sang suami yang menurut nya sudah seperti anak kecil saja.
"Aishh,baik lah."Ucap Aruna kemudian mencium sekilas pipi Davin.
Davin pun memeluk Aruna dan berkata.
"Aku akan selalu mempercayai mu."Gumam Davin sambil mengelus rambut Aruna.
"Terima kasih,tapi mengapa perempuan itu tidak ada kapoknya?"Ucap Aruna kepada Davin.
Davin pun melepaskan pelukan nya dan berkata.
"Seperti nya dia belum bisa menerima kenyataan hidup nya yang sekarang,dan dia berusaha menjebak mu dan membuat keluarga kita berantakan."Ucap Davin mengambil kesimpulan.
"Aku rasa itu benar,tapi apa yang harus aku lakukan?Aku bahkan sudah berbaik hati untuk membiarkan mereka tetap tinggal di rumah ku."Gumam Aruna terlihat kesal.
"Mereka harus di beri pelajaran yang nanti nya akan membuat mereka kapok, dengar kan aku, jangan bertindak gegabah,aku takut mereka akan mengatur siasat untuk mencelakai mu."Ucap Davin memegang pundak Aruna.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"Ucap Aruna bingung.
"Yang kau lakukan adalah, tetap bicara dan katakan kepada ku jika ada slaah satu dari mereka yang menghubungi mu."Ucap Davin.
"Baik lah aku mengerti."Ucap Aruna lagi.
Mereka pun kemudian masuk ke kamar untuk beristirahat karena sudah lelah akibat seharian bekerja.
Sementara itu di sisi lain.
"Hahaha, sebentar lagi mereka akan berpisah dan aku akan merebut saham itu dari Aruna hahaha."Ucap Hana masuk ke rumah nya.
"Hana dari mana saja kau."Ucap papa Edwin kepada Aruna.
__ADS_1
"Itu bukan urusan papa, sebaiknya papa urusi saja wanita ****** itu!"Ucap Hana menujuk Rumi yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Diam kau! Jangan bicara sembarangan lagi! Sekarang kita sudah tiada memiliki apapun kecuali rumah ini!"Ucap papa Edwin kepada Hana.
"Tenang saja, sebentar lagi itu semua akan kembali, namun jika kalian ingin menikmati juga kalian harus membantu ku."Ucap Hana yang mulai menjalankan rencana jahat nya.
"Apa?"Ucap Rumi yang mulai tergiur.
"Kau juga menginginkan aset itu bukan? Aku bisa membagi nya 6% kepada mu jika kau ingin membantu ku."Gumam Hana menatap Rumi.
Rumi terdiam,ia mulai berfikir dalam, jika melakukan sendiri itu akan lebih terasa sulit, namun jika bersama dapat 6% saja sudah sangat lumayan untuk kehidupan nya.
"Aku setuju,aku setuju apa yang bisa aku lakukan?"Ucap Rumi kepada Hana.
"Bagus,lalu papa bagaimana?"Tanya Hana.
"Apa yang akan kau lakukan Hana? Papa tidak mau masuk penjara gara-gara ulah kalian."Ucap papa Edwin lagi.
"Papa cukup membantu dalam beberapa hal saja,sisa nya biar aku dan Rumi."Jelas Hana.
"Sudah lah katakan saja apa yang bisa aku lakukan?"Tanya Rumi tidak sabar.
Mereka pun mulai menyusun rencana.
Davin dan Aruna kembali bersiap-siap untuk pergi ke kantor masing-masing, Aruna dan Davin kini tidak memakai mobil yang sama karena terlalu buru-buru.
"Hahaha, seperti nya rencana ku berjalan lancar,dia seperti nya sedang tidak baik dengan Davin."Batin Hana yang berpakaian serba hitam dan dari tadi sudah mengamati mansion Winston dari jauh.
Hana pun mulai memainkan ponselnya dan mengirim kan sebuah pesan ke Aruna.
Isi pesan.
"Hay Aruna, sebenarnya aku memegang sebuah cincin peninggalan mama mu,apa kau tidak mau mengambil nya di rumah?"Pesan dari Hana.
Mendengar ada pesan masuk Aruna mengambil ponsel nya lalu membuka isi pesan tersebut.
"Hana? Apa lagi yang dia rencana kan? Setau ku mama tidak pernah memiliki cincin apapun."Batin Aruna sambil mengengam erat ponsel nya.
Namun beberapa menu kemudian Hana pun kembali mengirim sebuah foto cincin berlian yang cantik juga berinisial nama Aruna di samping nya.
Hal itu membuat Aruna percaya dan berniat mengambil cincin tersebut dari tangan Hana.
"Aku segera ke sana."Balas Aruna.
__ADS_1
"Ingat, jangan bersama siapapun,kau harus sendirian,jika tidak aku akan membuang cincin ini."Balas Hana kemudian mematikan ponsel nya.
Aruna pun hanya membaca pesan tersebut dan tidak lagi membalas nya.
Ia pun mulai memutar balik arah mobil nya menuju rumah nya.
Aruna sama sekali tidak tau jika saat ini dirinya sedang di jebak oleh Hana.
Sementara itu Hana lebih dulu sampai kerumah nya dan bersiap-siap.
Tidak butuh waktu lama Aruna pun tiba di rumah papa Edwin,ia memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah.
Aruna turun dari mobil nya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Tidak seperti biasa suasana rumah lebih sunyi dari sebelumnya.
"Aruna, akhirnya kau datang juga."Ucap Hana yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Hana!Di mana cincin itu!"Ucap Aruna kepada Hana.
"Kau ini, terlalu terburu-buru sekali."Ucap Hana tersenyum miring.
"Katakan,aku tidak punya banyak waktu."Ucap Aruna menahan emosi nya.
"Baik-baik, cincin itu ada di atas lemari itu."Ucap Hana menujuk sebuah lemari tinggi dan sangat besar yang berada di depan mereka.
"Mengapa kau menaruh nya di sana?"Ucap Aruna mulai merasa curiga.
"Kau ini bodoh ya, bagai mana mungkin aku akan semudah itu memberikan nya kepada mu,kau harus berusaha mengambil nya, ayo cepat ambil sebelum cincin itu berbaur dengan sampah yang ada di atas lemari itu."Ucap Hana dengan senyum jahat nya.
Aruna pun mulai berjalan pelan mendekati lemari tersebut, ia tidak tau apa yang akan di lakukan Hana kepada nya namun ia masih berusaha untuk berfikir positif saja.
Kini Aruna pun tiba tepat di depan lemari tersebut,ia berusaha menjangkau bagian paling atas lemari dan meraba nya, lemari tua itu benar-benar berat dan besar Aruna menjadi takut karena kaki bawah lemari ada yang sudah rapuh.
Namun tiba-tiba saja ...
"Aruna Awas!"Ucap papa Edwin berlari mendekati Aruna kemudian mendorong Aruna menjauh dari lemari tersebut.
Brak ... suara lemari tua itu ambruk ke lantai.
"Papa! ... "Ucap Hana dan Aruna bersamaan.
Bersambung ....
__ADS_1