
"Ah ternyata aku masih ada urusan,kalau begitu aku pergi dulu."Ucap Hana kemudian berjalan meningal kan Felicia.
"Hana mengapa buru-buru."Ucap Felicia.
Namun Hana sama sekali tidak mempedulikan nya ia terus berjalan keluar dari cafe tersebut meningal kan Felicia.
"Baik lah aku juga akan pulang."Ucap Felicia mengambil tas nya kemudian berjalan menuju pintu keluar cafe.
Sementara itu Hana dan Aruna kini menuju kantor Davin.
Tentu saja untuk menyerahkan rekaman percakapan Felicia di cafe tadi.
"Ingat ini hanya balas dendam,bukan berarti aku baik kepadamu."Ucap Hana sepanjang jalan menuju kantor Davin.
"Aku juga tidak berniat naikan dengan mu."Jawab Aruna santai.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di perusahaan Winston, mereka bergegas keluar dari mobil dan menuju ruang kerja Davin.
"Apa Davin ada di dalam?"Tanya Aruna kepada sekertaris Davin.
"Ada nona."Ucap sekertaris tersebut.
"Baik lah apa kami boleh masuk?"Tanya Hana lagi.
"Boleh nona silahkan."Ucap sekertaris tersebut.
"Terima kasih."Ucap Aruna kemudian membuka pintu ruang tersebut dan masuk bersama dengan Hana ke dalam.
Setelah masuk pintu itu pun kembali tertutup.
"Aruna,apa yang kau lakukan di sini?"Tanya Davin kepada Aruna.
"Mengapa? Apa ku sedang sibuk?"Ucap Aruna lagi.
"Tidak katakan ada keperluan apa?"Ucap Davin.
"Hana berikan."Ucap Aruna kepada Hana.
Hana pun menyalakan rekaman tersebut kemudian memberikan kepada Davin.
"Apa ini?"Tanya Davin bingung.
"Sudah lah jangan banyak tanya dengarkan saja."Ucap Aruna kesal.
Davin pun menuruti apa yang di katakan oleh Aruna,ia mendengar kan rekaman tersebut dari awal sampai akhir.
"Kurang hajar, beraninya dia menipu ku."Ucap Davin kemudian mengambil ponsel nya dan menelpon Felicia.
Sementara itu Felicia masih di dalam perjalanan pulang ke mansion.
"Davin? Tumben dia menelpon ku, bukan kah ini masih jam kerja nya?"Ucap Felicia bingung.
Felicia pun mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
Call onn.
"Hallo sayang."Ucap Felicia.
"Segera ke kantor ku sekarang."Ucap Davin kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Call off.
"Astaga? Mengapa nada bicara nya seperti sangat marah?"Ucap Felicia ketakutan.
"Ada apa nona."Ucap pak Andi.
"Ke kantor Davin sekarang pak."Ucap Felicia.
"Baik nona."Jawab pak Andi mengarah kan mobil nya menuju kantor Davin.
Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di perusahaan Winston.
Dengan tergesa-gesa Felicia berjalan menuju ruang kerja Davin.
"Ada ap ..."Ucap Felicia saat masuk ke dalam dan melihat Hana dan Aruna telah duduk di sofa.
"Kemari lah."Ucap Davin.
"Davin mengapa ada mereka di sini?"Ucap Felicia bingung.
"Kemari!"Ucap Davin marah.
"Ah,iya sayang."Ucap Felicia kemudian menghampiri Davin.
"Dengar kan ini."Ucap Davin memberikan ponsel Hana kepada Felicia.
"Apa?Aku tidak mengerti."Ucap Felicia kebingungan.
"Diam dan dengarkan."Ucap Davin menahan emosi nya.
Felicia pun mendengar kan rekaman tersebut dan sangat terkejut karena itu adalah suara nya.
"Davin tidak ini bukan aku itu bukan suara ku mereka-mereka menjebak ku,aku bisa menjelaskan ini, tolong jangan percaya mereka."Ucap Felicia memegang tangan Davin.
"Sudah tidak bada yang perlu di jelas kan."Ucap Davin kemudian berdiri dan menepis tangan Felicia dari tangan nya kemudian keluar dari ruang kerja tersebut.
"Davin! Davin!"Teriak Felicia mengejar Davin.
Namun dengan cepat Hana menarik dan mengunci pintu ruangan tersebut.
"Mau kemana kau?"Tanya Hana.
"Hana,apa yang kau lakukan bukan kah kita teman mengapa kau membantu Aruna dan menjebak ku!"Ucap Felicia menatap tajam mata Hana.
"Teman? Teman yang iri dan mencelakai aku sehingga anaku meningal dan membuat aku tidak bisa hamil lagi seperti kau?"Ucap Hana mulai melepas emosi nya.
"Apa yang kau katakan?Dia! Dia lah yang menyebabkan semua itu bukan aku."Ucap Felicia menujuk Aruna.
__ADS_1
"Jangan lagi membela dirimu, kau sengaja bukan mencelakai aku? Karena kau iri aku bisa hamil dan kau tidak!"Ucap Hana menampar wajah Felicia.
"Tidak kau sudah termakan hasutan nya aku tidak sejahat itu dengan teman ku!"Ucap Felicia membela diri.
"Teman makan teman bukan kah sangat mengerikan?"Ucap Aruna dari belakang.
"Diam kau! Kau wanita jahat kau yang membuat hidup ku menjadi hancur seperti ini Hana percaya lah kepada ku!"Ucap Felicia menangis.
"Tidak akan lagi."Ucap Hana kemudian mendorong Felicia dan kembali membuka pintu tersebut lalu berjalan keluar dari ruang kerja Davin.
"Selamat menikmati penderitaan."Ucap Aruna ikut keluar dari sana.
"Kalian semua manusia kurang hajar!"Jerit Felicia menangis.
Namun tidak ada yang mempedulikan nya.
"Mama,anaku,dendam kalian sudah terbalas."Ucap Aruna berjalan keluar dari kantor tersebut.
Namun siapa sangka Aruna akan bertemu dengan Tony di depan pintu kantor Davin.
"Aruna apa yang kau lakukan di sini?"Tanya Tony.
"Peduli apa kau ini kaki ku kemanapun aku pergi tentu saja tidak bada urusan nya dengan mu!"Ucap Aruna lagi.
"Kau benar-benar membuat ku semakin tertarik sekarang, bagaimana jika aku mengajak mu kembali kepada ku?"Ucap Tony menggoda.
"Maaf aku tidak Sudi memungut sampah yang telah aku buang."Ucap Aruna lagi.
"Apa kata ku kau!"Ucap Tony ingin menampar Aruna.
Hana telah pulang duluan sementara Tony ke kantor Davin hanya di suruh oleh papa Edwin mengantarkan beberapa berkas penting.
"Apa yang kau lakukan?"Ucap Davin menahan tangan Tony yang ingin menampar Aruna, ia baru saja tiba di depan pintu keluar perusahaan Winston.
"Mengapa? Dia istri ku."Ucap Tony lagi.
"Siapa yang kau bilang istri mu?"Tanya Davin lagi.
"Tentu saja Aruna."Ucap Tony lagi.
"Sejak kapan istri ku menjadi istri mu?"Ucap Davin mulai panas.
"Sejak,lama, tuan muda Davin dengar dia hanya lah bekas ku yang kau nikahi kami bahkan sempat memiliki anak walau itu sudah mati!"Ucap Tony tersenyum licik.
Emosi Davin sudah tidak bisa di tahan dengan brutal ia memukul Tony.
"Hentikan! Hentikan bagaimana jika dia mati kau akan masuk penjara!"Ucap Aruna memeluk Davin untuk menahan nya agar tidak terus memukul Tony.
"Apa yang dia katakan? Kalian memiliki anak?"Ucap Davin menatap Aruna sambil menahan emosi nya.
"Itu benar tuan muda, namun lupakan saja anak itu sudah mati."Ucap Tony memanasi Aruna.
"Bajingan kalau begitu kau mati saja!"Ucap Aruna kemajuan mengambil melepas sepatu Haq tinggi nya dan memukul kepala Tony.
__ADS_1
Jika hal lain Aruna masih bisa menahan nya namun tidak dengan soal kematian sang anak.
Bersambung ....