![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Hari-hari berlalu begitu saja, Kia tetap tinggal di Mansion Dion. Dion yang Kia temui pertama kali dengan Dion yang sekarang sungguh sangat berbeda.
Malaikat tanpa sayap bagi Kia ini, rupanya seorang pria yang dingin dan irit bicara. Kia jarang memiliki kesempatan bertemu dengan Dion, sekalipun bertemu di suatu kesempatan keduanya jarang bicara.
Tapi tidak dengan pagi ini. Keduanya bertemu kembali di meja makan. Ya hanya meja maka tempat mereka bertemu.
"Kia. Sudah satu bulan lebih enam hari kamu tinggal di sini bukan?" Tanya Dion yang menjadi awal perbincangan mereka berdua.
Dion bicara sembari menyantap sarapan pagi yang dimasak oleh Kia. Kia selalu memasak sarapan pagi untuk Dion, seperti dia selalu memasakan sarapan pagi untuk Aldo. Kala ia masih menjadi istri dari pria kejam itu.
"Iya. Aku sudah dua minggu tinggal di sini. Apa sekarang sudah waktunya aku harus pergi?" Jawab Kia yang kini mentap Dion yang tersenyum tipis sembari memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dion mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya sembari menatap wajah Kia yang juga menatap dirinya. Ia meletakkan alat makan yang ia gunakan tadi di atas piring makannya yang telah kosong. Kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau ingin keluar dari sini Kia? Silahkan, aku tak melarang mu untuk pergi. Tapi sebelum kau pergi, aku ingin kamu mengembalikan uang satu milyar ku, yang aku gunakan untuk membebaskan mu dari mantan suami mu." Ucap Dion dengan senyum menyeringai.
"Sampai kapan pun aku tak akan bisa menggantinya Dion. Uang itu sangat banyak bagi ku. Nyawaku saja tak senilai dengan uang mu itu." Sahut Kia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan menangis! Aku tak meminta mu untuk menangis, Kia." Bentak Dion yang kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah, sembari melempar sehelai tisue yang digunakan untuk mengusap mulutnya yang sedikit berminyak.
"Bagaimana aku tidak menangis? Kata-kata mu jelas membuat ku ingin menangis. Harus mencari uang kemana aku untuk mengganti uang mu? Tidak mungkin aku meminta bantuan Nadya ataupun Dira. Kami sama-sama belum bekerja, Dion." Sahut Kia yang masih saja menitikan air mata.
"Dengan kekasih mu. Kenapa kau tak coba meminta bantuan dengannya?" Balas Dion.
Deg! [Jantung Kia berdenyut nyeri]
__ADS_1
Kia terdiam dan menunduk kepalanya. Ia memeluk dirinya sendiri dengan tangan yang menyilang di dadanya. Jangan tanya bagaimana air mata Kia kini mengalir begitu deras membasahi pipinya.
Dia menangis, menangisi Pak Arka yang dijodohkan oleh Tante Widya. Bukan tanpa alasan Tante Widya menjodohkan Pak Arka. Sebagai seorang Tante, pengganti orang tua Pak Arka, tentunya ia tak ingin melihat keponakannya terus larut dalam kesedihan.
Pihak berwajib pun sudah menyatakan jika Kia telah tiada, karena Kia tak kunjung di temukan.
Terbebas dirinya dari belenggu Aldo sungguh sangat terlambat. Ingin kembali saat ini di tengah-tengah mereka pun rasanya sungguh tidak mungkin. Rasa sayang Kia pada tante Widya, membuatnya memilih untuk tidak mengecewakan tante Widya yang sudah berbuat baik selama ini dengannya. Lagi pula dengan kondisinya saat ini. Kia pun merasa tidak pantas lagi menjadi pendamping Pak Arka.
Rupanya dari perkataan Dion tadi. Dion sebenarnya sedang mencoba memancing Kia, mengatakan apa yang ia ingin dengar.
Ya. Dion ingin sekali mendengar Kia, memupuskan harapannya untuk kembali pada Arka. Karena Dion telah terlanjur jatuh hati pada Kia yang selalu menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi. Selama ia tinggal di mansion miliknya.
"A-aku tidak mungkin meminta bantuan padanya Dion. Aku tak mungkin kembali padanya dengan keadaan ku yang tak seperti dulu lagi. Aku ini seorang janda sekarang, janda yang terjual oleh mantan suaminya sendiri. Aku tak lagi pantas untuknya." Jawab Kia sembari terisak dengan tangis memilukannya.
Puas dengan jawaban yang ia ingin dengar, Dion segera beranjak dari kursinya. Ia berdiri tepat di samping kursi Kia.
Keesokan harinya, tepat pukul depan pagi, setelah Kia dak Dion menyelesaikan sarapan paginya.
Seorang wanita cantik dengan kemeja putih dan rok mini berwarna hitam datang ke Mansion Dion. Kedatangannya langsung di sambut hangat oleh Dion sang Casanova. Pasalnya wanita cantik ini yang berprofesi sebagai guru home schooling Kia, menunjukkan tanda ketertarikannya pada ketampanan dan pesona karismatik Dion.
"Perkenalkan nama saya Tania, Tuan." Ucap Tania, calon guru home schooling Kia yang menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dion.
Dion dengan senang hati menyambut tangan Tania yang mengajaknya berjabat tangan.
"Dion, cukup panggil saya Dion, tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel Tuan," balas Dion dengan ramah, dan jangan lupakan dengan tatapan genit Dion pada Tania.
__ADS_1
Tania tersenyum senang, dengan respon Dion yang menerimanya dengan ramah. Tania sungguh tak menyangka dapat bekerja di sebuah Mansion yang pemiliknya adalah seorang tuan muda yang sangat tampan dan ramah.
Di balik senyum senang Tania dan senyum ramah Dion, ada senyum kaku yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi keduanya yang saling menatap satu sama lain.
Ekhmmm!
Kia berdeham, membuat keduanya memutuskan tatapan mereka satu sama lain.
"Akhh... Jadi bagaimana Dion, saya harus mengajar siapa di mansion ini?" Tanya Tania ya sama sekali tidaklah canggung memanggil nama Dion tanpa embel-embel Tuan.
"Dia," ucap Dion yang kemudian menarik Kia untuk berdiri di sampingnya.
"Oh, hai. Saya Tania. Siapa nama mu?" Sapa Tania dengan senyum sok ramah pada Kia yang terlihat jengah.
"Kia," jawab Kia singkat dengan wajah di tekuknya.
Kia menekuk wajahnya karena merasa tak nyaman dengan kehadiran Tania. Kenapa harus guru macam seperti ini yang didatangkan Dion untuknya. Ia jadi tak berminat untuk belajar. Bahkan ia sudah tahu akan berujung dimana Tania nanti berada.
Ya. Tak jauh dari ranjang lantai dasar yang sering menjadi saksi bisu keperkasaan Dion.
Bukanlah sesuatu yang aneh bagi Kia, mendengar suara lucnut yang terdengar dari setiap wanita yang di bawa oleh Dion. Kebiasaan buruk Dion yang sudah ia ketahui dari Nadya dan ia saksikan sendiri.
"Kia, nama yang bagus. Apa dia adik mu Dion?" Tanya Tania yang berharap Dion menjawab iya.
"Iya, dia adik ku." Jawab Dion dengan tersenyum kaku dan melirik Kia yang makin menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Adik dia bilang? Adik apaan. Adik ketemu gede." Umpat Kia yang tak ingin di akui sebagai adik oleh Dion.
Lalu jika tak ingin diakui sebagai adik. Ia ingin diakui sebagai apa?