![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Dua hari sudah Dion tidak ke kantor. Ponselnya terus dikuasai oleh Kia. Hari ini Kia ada janji ketemu dengan Nadya, disebuah Mall besar di pusat kota.
Ia datangi Dion di ruang kerja suaminya ini. Demi mendapatkan izin untuk keluar dari mansion megah milik suaminya.
"Aku mau pergi ke Mall sama Nadya dan Dira."
"Hemmm..." Sahut Dion yang mengizinkan istrinya pergi hanya dengan berdeham.
Rupanya perang dingin keduanya masih berlangsung hingga kini. Dion yang kaku tak tahu harus berbuat apa pada Kia yang merajuk dalam waktu yang cukup lama seperti ini.
"Dion, aku mau pergi." Ucap Kia lagi berharap respon lebih dari Dion.
"Ya pergilah." Sahut Dion singkat dengan wajah datarnya.
"Ishhh... Aku mau pergi Dion!" Ucap Kia yang kesal sendiri karena maksud dari ucapannya tidak di mengerti oleh Dion.
"Ya sudah pergilah, aku sudah izinkan kamu pergi Kia. Apalagi?" Balas Dion yang kini nampak bingung dengan maksud Kia.
Kia malah duduk uring-uringan di atas sofa sembari menatap kesal suaminya.
Dion menghampiri Kia yang duduk uring-uringan di atas sofa panjang.
"Memangnya aku harus bagaimana Kia? Aku sudah mengizinkan mu pergi, tapi kamu malah uring-uringan seperti ini. Sejak kemarin kau terus menguji kesabaranku." Ucap Dion yang ikut duduk bersama dengan Kia.
"Aku mau pergi ke Mall sama Nadya dan Dira, Dion."
"Ya aku tahu dan aku sudah mengizinkannya. Lantas apalagi?" Tanya Dion sembari merapikan anak rambut Kia.
"Anterin, aku maunya diizinin dan perginya sama kamu." Pinta Kia dengan manja.
"Ok, baiklah. Ayo!" Sahut Dion dan mengajak Kia segera pergi menuju Mall tempat dimana Kia janji bertemu dengan Nadya dan Dira.
Entah Kia terlalu cepat atau Nadya dan Dira yang terlambat. Hingga mereka dibuat menunggu cukup lama di coffee shop.
"Dion kita lihat-lihat baju kerja buat kamu yuk, sambil nungguin meraka." Ajak Kia demi mengusir rasa jenuhnya.
"Ok." Jawab Dion yang selalu mengiyakan apa yang Kia mau.
Keduanya pergi meninggalkan coffee shop dan berjalan menuju sebuah toko yang menjual baju kerja bermerek ternama kelas dunia.
__ADS_1
Tak di sangka Kia bertemu dengan Sisil. Sisil yang mengenal betul wajah Kia namun tidak mengenal Dion, begitu sangat terkejut.
Ia sampai tak mengedipkan matanya saat melihat sosok Kia yang berada di dekatnya.
Kia terus sibuk memilihkan setelan baju kerja untuk suaminya dan mengabaikan bagaimana Sisil begitu terperanggah melihatnya.
"Kamu kalau di kantor itu jangan ganjen, ngerti gak! Kamu tuh dah punya istri! Punya aku! Suaminya aku! Kalau kamu belum pecat sekertaris kamu itu, jangan harap kamu boleh pergi ke kantor." Omel Kia yang hanya diangguki oleh Dion.
Sangat posesif dan dominan. Kini Dion merasakan perubahan sikap Kia setelah Kia menjadi istrinya. Hidup Dion benar-benar diobrak-abrik oleh Kia sekarang.
Sisil makin dibuat terkejut mendengar Kia mengakui pria yang bersamanya adalah suaminya.
"Dia sudah menikah? Dan pria yang bersamanya ini suaminya. Jika Kia sudah menikah, Itu artinya aku tak akan bisa bercerai dengan Arka. Tidak bagaimana ini?" Gumam Sisil yang merasa gusar.
Saat Kia melihat kemeja berwarna biru langit yang berada di dekat Sisil. Sisil dapat melihat jelas luka di tempat urat nadi Kia.
"Kau benar-benar Kianya Arka. Kau sudah berbahagia dengan hidupmu yang baru. Sedang aku dan Arka masih terjebak dalam pernikahan tanpa cinta ini." Gumam Sisil yang terus memperhatikan gurat luka di tangan Kia.
Usai mengambil kemeja biru yang ia mau sesuai dengan ukuran Dion. Kia meminta Dion untuk kembali membayar belanjaannya.
Dion membiarkan belanjaan istri tetap di toko itu dan mengatakan orang suruhannya akan mengambilnya dalam beberapa menit ke depan. Pegawai toko pun mengiyakan apa yang dikatakan Dion.
Keduanya kembali pergi ke toko-toko lain, sampai akhirnya Kia bertemu dengan Nadya dan Dira. Sisil kembali dibuat terperangah.
"Dira teganya kamu, membohongi kami!" Gumam Sisil yang menggigit bibirnya merasa kesal dan kecewa pada Dira.
"Egois sekali kalian, berbahagia di atas penderitaan kami." Ucap Sisil lagi. Ia ingin menghampiri Kia dan Dira namun langkahnya tercekal oleh para pengawal Dion yang sudah memperhatikan gerak-gerik Sisil sejak tadi.
"Jauhkan diri Anda dari Nyonya muda kami. Sebelum kami berbuat kasar pada Anda." Ucap salah satu pengawal Dion pada Sisil.
Sisil pun akhirnya tidak bis berbuat apa-apa, selain melihat kebahagiaan mereka dari jauh.
Sementara mereka berempat sepakat untuk menonton film yang sedang happening di bioskop saat ini.
Mereka yang datang terlambat, akhirnya mendapatkan tiket di paling pojok belakang bioskop. Dion-ah yang di minta untuk duduk di paling pojok oleh Nadya.
Nadya si tukang mengatur itu selalu dituruti perintahnya oleh ketiganya yang tak bisa dan tak mampu berkata tidak padanya.
Dion yang bosan menonton drama cinta romantis yang baru di putar itu pun memilih untuk memejamkan matanya. Dua jam ke depan ia akan melewati waktu dengan penuh kejenuhan.
__ADS_1
"Dion, kamu lagi ngapain kok ga ada suaranya?" Tanya Kia dengan suara berbisik yang tak mendapatkan sahutan dari Dion yang tertidur dengan cepatnya.
Kia menoleh ke arah Dion yang tak menyahutinya, di dapatinya Dion tengah memejamkan matanya dengan nyenyak.
"Nad, kakak lo tidur. Bisa ya dia tidur ditempat yang berisik seperti ini." Bisik Kia sembari cekikikan.
"Dia jenuh nonton film alay kaya gini, Kia. Dia hobby-nya nonton film action. Lo jangan lama-lama gak ngasih haknya dia. Bisa-bisa dia gak tahan mulai lagi hinggap sana sini. Lo mau, dia direbut orang? Sekarang dia suami lo Kia. Bukan suami pajangan lo. Kakak gue tampan berduit pula, banyak yang mau sama dia dan yang mau sama dia lebih cantik dari lo. Siap-siap aja lo dimadu, sama sekertarisnya yang bodynya kaya gitar Spanyol." Balas Nadya, yang malah menakut-nakuti Kia.
Kia menggelengkan kepalanya lalu melihat kembali wajah damai Dion yang tengah tertidur.
"Dion," panggil Kia lirih yang kini merasa bersalah terus menolak keinginan suaminya sejak kemarin, bahkan malah mendiaminya selama dua hari ini.
Dion kembali tak menjawab panggilan Kia. Kia kini tak lagi konsentrasi menonton film yang sedang di putar itu. Ia malah memiringkan tubuhnya menatap wajah damai suaminya yang tengah tertidur.
"Tampan, tak kalah tampan dari Arka." puji Kia pada ketampanan suaminya.
Kini tanpa ragu Kia memajukan wajahnya mendekati wajah suaminya. Kia mendaratkan kecupannya di bibir Dion. Tak hanya mendaratkan namun ia menyesapnya.
Dion terperanjat dan terbangun dari tidurnya, saat ia mendapati sesapan Kia pada bibirnya. Dion membalas kecupan panas Kia, hingga nafas Kia terdengar memburu.
"Dion, I want you."
"Me too." Balas Dion yang langsung bangun dan menarik tangan Kia untuk keluar dari bioskop.
Mereka pergi ke tempat parkiran mobil mereka yang berada di basement mall tersebut, diikuti oleh para pengawal yang menjaga ketat keberadaan mereka. Saat mereka di dalam lift, mereka kembali menyatukan bibir mereka. Dengan di tutupi badan tegap para anak buah Dion.
Dion menarik tubuh Kia menuju mobil mereka. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa, demi menuntaskan hasrat mereka yang begitu membara.
Dion membawa masuk Kia, ke dalam mobil. Seluruh anak buah Dion menutupi mobil yang senantiasa bergerak, mengikuti gerakan tubuh Nyonya dan Tuan mereka.
"Dion, mmmmpph..."
"I'm coming," Dion mempercepat ritme gerakannya saat ia hampir sampai di puncak kenikmatannya.
"I love you. I love you Kia," saat Dion selesai menyemburkan kehidupan baru di dinding rahim Kia.
"Kenapa tuh pasangan pengantin baru?" Tanya Dira dengan tawa tak jelasnya.
"Gak tahan, ngadon! Hahaha..." Jawab Nadya.
__ADS_1
"Kena juga si Kia lo takut-takutin. Jadilah kita ke Paris?"
"Jadilah pasti. Liburan nanti kita cusss."