Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 34


__ADS_3

"I want you," bisik Dion saat melepaskan tautan bibir mereka.


"No. Aku takut kau tinggalkan!" Tolak Kia yang memang takut ditinggal setelah Dion mendapatkan haknya.


Dion menarik senyum tipis di bibirnya, menatap dalam manik mata Kia. Mencari kebenaran dari apa yang diucapkan Kia padanya.


Awalnya Dion mengira Kia hanya beralasan takut ditinggal olehnya sebagai bentuk penolakannya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Jika kemarin ia katakan belum siap, Dion masih bisa mengerti. Tapi sekarang dengan perubahan sikapnya ia yakin Kia sudah menerima dirinya dan siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.


Namun saat mendapati raut ketakutan di manik mata Kia, Dion baru menyadari dan menyesali kejujurannya tadi, membuat Kia menjadi takut dicampakkan oleh dirinya.


Mana mungkin Dion akan mencampakkan wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang mampu membuatnya berkorban begitu banyak hal demi cintanya pada Kia.


"Kenapa kau samakan dirimu dengan mereka Kia, kau berbeda. Kau istriku. Derajatmu lebih tinggi dibandingkan mereka." Ucap Dion berusaha meyakinkan Kia.


"Akan ku pikirkan nanti. Sekarang ayo kita ke makam kedua orang tuamu Dion." Balas Kia yang masih tak ingin mengabulkan apa yang yang jadi keinginan Dion.


Mobil pun melaju, ke kembali ke mansion. Kia menatap aneh mengapa mereka kembali ke mansion, padahal tujuan mereka saat ini adalah ke makam ke dua orang tua Dion.


"Dion kenapa kita pulang, bukankah kita mau ke makam kedua orang tuamu?" Tanya Kia.


Ia kembali mendongakan kepalanya demi melihat wajah suaminya yang tertekuk seperti dompet tanggung bulan. Karena keinginannya tak terpenuhi.


"Makam mereka ada di bagian belakang Mansion kita. Tepatnya di belakang paviliun para asisten rumah tangga kita." Jawab Dion yang malas melihat wajah Kia yang masih setia di depan dadanya.


Kia terus memeluk tubuh Dion, tapi tak mau memberikan apa yang Dion mau dari dirinya.


Sesampainya di depan pintu mansion. Dion lantas turun tanpa menunggu Kia. Rupanya Dion merajuk. Bukannya membujuk atau pun mengejar suaminya. Kia malah asyik tertawa terbahak-bahak di dalam mobil.


"Dia lucu kalau ngambek!" Ucap Kia di sela tawanya.

__ADS_1


"Bukan lucu tapi menyeramkan," sahut Mail di dalam hatinya.


Kia lantas turun setelah tawanya berhenti, ia langkahkan kakinya menuju ruangan besar yang ternyata adalah tempat makam kedua orang tua Dion, dengan diantarkan seorang pelayan yang ia temui di dalam mansion tadi.


Ia dapati Dion tengah berdiri diantara kedua makam orang tuanya itu. Kia mengucapkan terima kasih dan meminta pelayan nya itu untuk meninggalkan keduanya di ruangan sangat luas tertutup dan ber-AC ini. Sebenarnya sangat tidak cocok untuk dijadikan sebuah tempat pemakaman.


Dengan membawa dua buket bunga. Kia mendekatkan dirinya pada suaminya. Ia peluk tubuh tinggi tegap suaminya itu. Dan ia ciumi punggung suaminya.


"I'm sorry Dion. Jangan marah padaku humm!" Ucap Kia yang memunculkan wajahnya dari sela tangan kanan Dion.


"I want you, Kia." Ucap Dion lagi.


Kia lantas mengalihkan perhatian pada kedua makam orang tua Dion yang ada di hadapannya.


"Ah, ini makam kedua mertua ku rupanya. Hai Mommy, Daddy. Salam kenal aku Kia. Lihatlah putra mu sedang merajuk padaku, seperti anak kecil yang minta lolipop." Ucap Kia yang duduk di lantai marmer diantara kedua makam itu.


Dion membuang pandangannya saat mendengar ucapan Kia yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Kia tersenyum melihat Dion yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. Nampaknya Dion masih marah atas penolakan Kia.


"Dion," panggil Dion yang sama sekali tak disahuti oleh Dion.


Dan tak lama kemudian ponsel Dion berdering. Rupanya sekretarisnya di kantor yang bernama Clarissa menghubungi dirinya. Dion segera mengangkat panggilan telepon tersebut, ia khawatir panggilan itu penting.


"Ya Rissa, ada apa?" Tanya Dion dengan nada bicaranya yang lembut.


Kia menyernyitkan kedua alisnya. Ia seger berdiri dan menghampiri Dion. Ia berjinjit dan menguping pembicaraan Dion dengan Clarissa.


Sontak nada bicara Clarrisa yang juga lembut dan juga sedikit mendayu-dayu membuat hati Kia panas. Ia marah dan terbakar api cemburu. Kata-kata Dion yang pernah tidur bersama sekertarisnya tiba-tiba kembali terngiang di pikirannya saat ini.


Posesif. Ya Kia memang sebenarnya adalah wanita yang posesif. Dia tak akan rela pasangannya didekati atau pun bicara dengan seorang wanita yang gaya bicaranya sangat jelas dibuat-buat demi mencari perhatian suaminya.

__ADS_1


Dengan gerakkan tangannya yang cepat. Kia merebut ponsel Dion.


"Bisa gak lo bicaranya biasa aja sama suami gue, Hah!" Ucap Kia pada Clarissa.


Sejenak Dion terperangah dengan apa yang dilakukan Kia pada panggilan sekertarisnya, lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya.


"Kia hahahahaha...."


"Terusin ya Dion, kamu main belakang. Aku aduin kamu sama Om Bram." Geram Kia yang langsung mematikan panggilan ponsel Dion. Tak perduli meski di sebrang sana Clarissa terus memanggil nama Dion.


Kia pergi meninggalkan Dion begitu saja. Kia berlari menuju kamar mereka sembari membawa ponsel milik Dion. Dion yang di tinggalkan akhirnya ikut mengejar langkah kaki Kia yang berlari.


Brukk!!!


Kia membanting pintu kamar mereka dengan kerasnya.


"Oh, astaga bisa runtuh bangunan mansion ini jika setiap marah Nyonya rumahnya membanting pintu sekuat samson." Gumam Dion saat menaiki anak tangga.


Beberapa asisten rumah tangga yang sedang membersihkan mansion sama-sama mengelus dada mereka masing-masing, saking terkejutnya dengan apa yang dilakukan Kia.


Dion masuk ke dalam kamar dan mendapati Kia berada di atas ranjang sembari sibuk memainkan ponsel milik dirinya. Ia membiarkan hal itu tanpa bertanya ataupun menyapa istrinya yang tengah marah padanya.


Saat ini Kia tengah mengetik pesan pada Nadya. Sahabatnya yang kini menjadi saudara iparnya setelah ia menikah dengan Dion. Ia mengadukan semua kelakuan Dion pada dirinya.


Melihat Kia berada di atas ranjang dan tak berubah posisi setelah istrinya itu menyadari kehadirannya, Dion segera menutup pintu dan menyimpan kunci pintu kamarnya ke dalam laci nakas.


Lantas ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang merasa gerah dan lengket. Cukup lama Dion membersihkan diri di dalam bathtub. Karena ia sembari menghubungi asistennya melalui sambungan telepon mansionnya yang juga terpasang di kamar mandi.


"Katakan pada Clarissa, jangan hubungi aku jika tak terlalu penting. Aku tak akan kembali ke kantor dalam dua hari ini." Ucap Dion diakhir sambungan teleponnya dengan sang asisten.


Setelah selesai membersihkan diri, Dion keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Kia tengah tertidur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Dengan ponselnya yang terus menyala. Ia kembali menonton drama korea yang ia tonton di jalan tadi.

__ADS_1


Dion mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Bukannya memakai pakaiannya terlebih dahulu. Dion malah mengambil baju ganti untuk Kia. Ia lebih dahulu menggantikan pakaian kotor istrinya.


__ADS_2