![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Usai makan bersama, Kia mengajak Sisil untuk ikut bergabung dengan mereka dan Sisil tidak sama sekali menolak tawaran Kia. Hari ini mereka kembali ingin menonton di bioskop. Lumayan dengan hadirnya Sisil dapat menangani kesendirian Dira yang tanpa pasangan itu.
Lagi-lagi pilihan tontonan para wanita ini sama sekali tak membuat Dion bersemangat untuk menontonnya, sedangkan Chriss tipe pria yang bisa menonton film apa saja. Dion akan kembali memilih untuk tidur di kursi paling pojok belakang selama film di putar nanti.
"Kenapa kita selalu dapat sisaan begini sih kursinya?" Gerutu Kia saat baru mendaratkan bokongnya di kursi bioskop.
"Karena kebanyakan dari mereka membeli tiket itu secara online tidak seperti kita tadi,Ki." jawab Nadia.
"Heh, berhenti manggil gue Ki. Gue bukan aki-aki. Markonah!" protes Kia yang mengomel seperti dahulu kala.
Kia memang sudah kembali menjadi Kia yang dulu lagi. Dion mampu mengembalikan kehidupan Kia yang penuh warna dan cinta. Karena Dion tak hanya menjadi sosok suami bagi Kia, tapi juga sebagai sosok ayah dan juga Kakak bagi Kia.
Perbedaan usia yang terpaut jauh, juga sikap Dion yang selalu mengalah dan mau memahami Kia yang membuat Dion berhasil mengembalikan jati diri Kia seperti dahulu kala.
"Udah lo Markonah, mingkem aja. Jangan disenggol tuh Mpok Kia! Ntar digigit baru tahu rasa loh." Sambar Dira yang cekikikan melihat Nadia terdiam karena omelan Kia dan Kia yang kembali memanggil dirinya dengan sebutan Markonah.
"Heleh, diam lo Tukijem!" Balas Nadia dan ketiganya lantas tertawa.
Film pun dimulai, Dion mulai mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata. Sementara Kia asyik mengunyah popcorn sembari menonton film di dalam dekapan Dion.
Tiga puluh menit kemudian setelah film diputar, Kia mendengar suara decapan orang yang sedang bertukar saliva. Sontak ia duduk tegap mencari asal suara itu. Dan ketika dia menoleh ke kiri dimana Nadia berada. Ia membulat matanya melihat asisten suaminya akhirnya memiliki keberanian mencium sahabatnya.
"Wew, akhirnya!" Cicit Kia yang kembali menyandarkan kepalanya di dada Dion yang benar-benar tidur.
Film belum juga usai, Kia merasa bosan dan jenuh apalagi ia terus mendengar decapan bibir Nadia dan Chriss terus menerus, sesekali Nadia juga terdengar melenguh. Entah apa yang dilakukan Chriss pada Nadia, yang pasti Kia jadi berkeinginan yang sama.
"Hubby..." Panggil Kia dengan suara merengek.
"Humm," sahut Dion dengan suara beratnya.
"Nunggu di mobil yuk, bosen." Ajak Kia yang seperti memberikan umpan pada Dion.
"Ok, let's go." Jawab Dion yang langsung bangun.
Melihat Dion bangun Chriss langsung kembali duduk tegap ke arah depan.
"Chriss kita perlu bicara empat mata nanti." Ucap Dion datar dan dingin.
Salah jika Chriss dan Nadia mengartikan Dion tak mengetahui apa yang mereka lakukan, sejak tadi Dion mendengar suara decapan bibir mereka bahkan lenguhan Nadia. Namun membiarkannya karena tak mau membuat keributan.
__ADS_1
"Dia pasti marah dan tahu apa yang aku lakukan pada adik sepupunya. " Gumam Chris yang tak enak hati.
Di dalam mobil, seperti kejadian waktu itu. Kia dan Dion kembali melakukan penyatuan mereka dengan dijaga oleh para bodyguard.
Dion kembali mememinta Kia memimpin permainan. Dion memangku Kia di atas pangkal pahanya.
"Mmmmpph..." Lenguh Kia saat merasakan milik Dion terbenam sepenuhnya di dalam miliknya.
Kia memeluk Dion dan kembali menggigit bahu suaminya.
Dion menggeram dan makin membuat Kia menjadi beringas. Kia menyambar bibir Dion dan perlahan tangan Dion mulai memancing Kia untuk bergerak di atas pangkuannya.
Kia mulai bergerak dengan ritme pelan namun perlahan Kia mempercepat ritmenya saat dion memacu adrenalinnya.
"Mmmmpph.... Hubby, stop it!" Kia mulai ingin berhenti karena dia sudah dua kali mendapatkan titik kepuasannya sedang Dion belum sama sekali.
"No. Wait Baby! Once more." Tahan Dion yang kini memimpin permainan.
"You like it, Baby?"
"Yes Hubbbbyyyyy... Mmmmmphhhh."
"I love you, Baby." Bisik Dion yang terus mengecup pipi Kia dengan nafas yang masih terengah-engah. Setelah berhasil kembali menumpahkan kehidupan baru di rahim Kia.
"Hubby, kau tak boleh lagi melakukan sekeras tadi."
Plak... plak... Kia memukul lengan suaminya berkali-kali.
"Why?"
"Aku bisa keguguran nanti."
"Hahahaha.... " Tawa Dion pecah saat mengetahui alasannya.
"Tapi kamu belum hamil Baby. Kamu tenang saja, saat kamu hamil nanti, aku akan lebih berhati-hati. Ayo pakai pakaianmu, sekarang!" Perintah Dion pada akhirnya.
Setelah mengenakan pakaian dan tengah menunggu yang lainnya sebelum mata Kia terpejam, Kia menyempatkan diri untuk sedikit mengemukakan pendapatnya agar Dion tidak memarahi Nadia dan juga Chriss.
"Hubby," panggil Kia yang saat ini menjadikan bagian paha Dion tumpuan kepalanya.
__ADS_1
"Hummm," sahut Dion yang kembali bekerja mengecek laporan di iPadnya.
"Tolong jangan marahi Nadia dan Chriss, mereka itu saling mencintai!"
"Aku tahu, aku tidak akan marah pada mereka berdua."
"Tapi kenapa kamu jutek sekali tadi Hubby?"
"Oh,ya masa sih? Seperti nya tidak. Aku hanya ingin bicara berdua dengan Chriss dan ingin membantu Chriss untuk melamar adik sepupuku. Dia sudah menyentuh Nadia dan itu harus di pertanggung jawabkan." Jawab Dion.
"Owh, ku kira." tambah Kia dengan kata-kata mengambangnya.
Ia lalu kembali menguap dan terlelap karena lelah. Ya, Kia mudah terlelap karena sering dibuat lelah oleh Dion.
Waktu pun berputar terus berputar. Hingga Sisil sudah tiba di kediaman suaminya yang sama sekali tak menganggapnya sebagai seorang istri.
Pukul delapan malam Sisil baru saja tiba di rumah. Malam hari ini ia merasa sangat curiga, kenapa lampu di dalam rumah suaminya ini hampir semua padam dan tak ada satupun asisten rumah tangga yang menyambut kedatangannya, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
"Apa seperti ini kebiasaan mu selama ini?" Tiba-tiba suara berat dengan nada bicaranya yang meninggi menyambut kedatangannya.
"Arka!" Cicit Sisil saat mengetahui suara siapa itu.
Seperti bertemu dengan seorang hantu, merasa takut, hampir semua tubuhnya bergetar ketika derap langkah Arka menghampiri dirinya yang tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Jawab pertanyaanku apa seperti ini kelakuanmu setiap harinya?" Ucap Arka yang kini sudah mencengkram wajah Sisil dengan tangannya.
"Tidak, semalam ini Arka. Hari ini aku tak sengaja bertemu dengan Dira yang ternyata bersama dengan Kia. Kia mengajakku menonton di bioskop, hingga akhirnya aku pulang larut malam." Jawab Sisil dengen ketakutan.
Malam ini sesuai perjanjian yang di tulis oleh mereka berdua, jika Kia tak mungkin kembali pada Arka dan Arka sudah mendatangi rumah utamanya ini. Sisil harus menenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Mendengar jawaban Sisil, Arka sejenak terdiam. Di dalam gelapnya ruangan rumahnya, Arka tersenyum tipis saat kembali mendengar tentang Kia yag hari ini sudah resmi memutuskan hubungan dengannya.
"Kau bertemu dengan dia? Bersama siapa dia pergi, apa Dion bersamanya?" Tanya Arka begitu bersemangat.
"Iya, dia datang bersama dengen Dion. Kia terus menempel pada suaminya. Bahkan saat aku ingin mengajak Dion berjabat tangan, Kia sama sekali tak mengizinkannya. Dia begitu over protektif." Jawab Sisil.
Arka tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sisil.
"Dia takut kau merebutnya seperi kau merebut diriku. Hahahahaha." Ucap Arka tertawa sembari menitikan air mata.
__ADS_1