Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 33


__ADS_3

Dion keluar terlebih dahulu dari mobil, ia membenarkan jasnya yang terlihat sedikit berantakan dan lecek karena ulah Kia. Setelah itu menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari mobil.


"Dion beli bunga dulu ya?" Ucap Kia yang sudah berdiri di depan suaminya.


"Hem. Dompetku masih ada pada mu."


"Udah aku kembalikan, Dion." Sanggah Kia yang merasa sudah mengembalikannya.


Tanpa banyak tanya Dion kembali membuka pintu mobil dan mencari dompetnya dan benar saja dompetnya itu terjatuh di bawah kursi.


Dion mengambilnya dengan posisi tubuhnya yang nungging, melihat bokong Dion dalam posisi itu. Kia sangat ingin memukul bokong suaminya itu. Tanpa berpikir lagi Kia langsung memukul bokong Dion sekuat tenaga.


Plak!!


"Kia!!" Pekik Dion saat menerima pukulan tangan Kia pada bokongnya.


Dion kembali menatap tajam Kia yang terlihat senang setelah menyakitinya.


"Bokong kamu seksi Dion hehehe..." Ucap Kia saat ia bergelayut manja di lengan kekar suaminya yang hendak memasukkan dompet ke dalam saku jasnya.


"Tentu saja. Semua bagian tubuhku ini seksi Kia dan kau sudah melewatkannya untuk selama-lamanya karena takut aku campakan." Balas Dion yang membanggakan dirinya. Ia tersenyum tipis sembari melirik Kia yang sedang merengut.


"Ayo beli bunganya!" Ajak Dion yang mulai melangkahkan kakinya ke toko bunga yang ada di pemakaman elit ini.


Saat mereka berada di toko bunga. Beberapa penjaga bunga nelihat terkejut dengan kedatangan Kia bersama dengan Dion, terlebih Dion terus menggandeng tangan Kia dengan mesra.


"Apa mereka sudah putus? Kenapa Nona ini bersama pria lain?" Tanya pegawai penjual bunga itu penasaran.


Ia terus mengamati penampilan Kia dan Dion dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Manik mata pegawai penjual bunga itu terhenti di tangan kanan Kia yang sudah melingkar sebuah cincin pernikahan. Bentuk cincin yang serupa yang digunakan Dion.


"Berapa Mbak?" Tanya Dion ketika Kia menggoncangkan tangannya, meminta untuk dirinya segera membayar bunga pilihannya.


"Tiga ratus lima puluh ribu Tuan." Jawab pegawai bunga lain yang juga memperhatikan Kia dan Dion namun tak sedetail temannya.

__ADS_1


Usai membayar, Kia dan Dion segera keluar dari toko itu. Dion tetap menggandeng mesra istrinya ini.


"Mereka sudah putus ya? Pantas sedih banget tampang cowoknya kalau ke sini. Ternyata dia sudah nikah sama cowok lain yang gak kalah tampan dari cowoknya."


Pegawai bunga itu mulai bergosip dengan temannya.


"Iya cuy, kayanya begitu ya. Tapi seriusan tampang suaminya yang ini rada sangar dan nyeremin. Takut gue sih." Sahut temannya.


"Iya gak lembut kaya cowoknya yang kemarin ya." Ucap temannya menambahkan.


Sementara itu Kia berjalan riang gembira ke tempat pusara kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum Papi Mami, Kia datang." Ucap Kia ringang saat berada di depan pusara kedua orang tuanya.


Nampak jelas di matanya, jika ada taburan bunga segar di makam kedua orang tuanya. Ia menebak jika Arka-lah yang menaburkan bunga tersebut ke makam kedua orang tuanya.


"Sepertinya dia habis dari sini. Terima kasih masih mengingat kedua orang tuaku, Mas. Sekarang kita punya kehidupan berbeda. Semoga kamu bahagia hidup bersama istrimu dan doakan aku juga agar bisa hidup bahagia bersama dengan suamiku, Dion. " Gumam Kia di dalam hatinya.


Kia meleoaskan genggaman tangannya pada Dion. Ia duduk di rerumputan hijau di sebalah makam kedua orang tuanya.


Membuat Dion menarik sebelah alisnya saat mendengar aduan istrinya itu. Kia merapikan bunga-bunga yang sudah di tabur oleh Arka membentuk simbol hati seperti biasanya.


"Perkenalkan Pih Mih, ini suami Kia yang baru. Namanya Dion. Orangnya baik tapi lumayan nyebelin."


"Ekhmm.." Dion berdehem mendengar Kia mulai ingin menjelekkannya.


"Kemakam itu berdoa bukan curhat." Tegur Dion yang kini ikut duduk di belakang tubuh Kia.


Matahari mulai berada di puncak peraduannya, Dion mulai kepanasan. Ia membuka jasnya dan menutupkan kepalanya dengan jas miliknya. Ia menyembunyikan wajahnya dari sengatan sinar matahari yang akan membakar kulit putihnya.


"Eh iya ya, belum berdoa lupa," ucap Kia yang kemudian hening saat membacakan doa untuk kedua orang tuanya.


Saat Kia ingin memeluk makam kedua orang tuanya, tiba-tiba saja ia tak sengaja memegang sesuatu benda yang terjatuh di disisi kiri makam kedua orangtuanya.

__ADS_1


Ponsel. Ya itu ponsel Arka yang tak sengaja terjatuh.


"Dion, aku lapar." Ucap Kia beralasan.


Sungguh sebenarnya ia ingin berlama-lama di makam kedua orang tuanya, namu ia takut bertemu kembali dengan oria yang mapu membuat jantungnya berdebar kencang untuk pertama kalinya kala itu.


"Hemm.. ayo makan setelah kamu selesaikan merangkai semua bunga ini." Sahut Dion.


Kia dengan cepat menyelesaikan merangkai bunga tersebut dan segera berdiri menarik tangan Duon agar segera oergi dari makam ke dua orang tuanya.


Cara jalan Kia pun tak sesantai saat dia menghampiri makam kedua orang tuanya. Hal ini membuat Dion heran.


Sesampainya di mobil Kia kembali duduk dengan memeluk tubuh Dion.


"Jangan tinggalkan aku Dion! Aku tak mau hidup tanpa mu." Ucap Kia saat memeluk tubuh Dion.


"Ada apa denganmu Kia?" Tanya Dion sembari mengusap lembut rambut istrinya yang membuat Kia semakin nyaman di pelukan Dion.


"Apa kita sudah keluar dari area pemakaman?" Kia malah balik bertanya.


"Sudah, kenapa kamu berubah seperti ini Kia?"


"Aku melihat ponsel Arka terjatuh di makam kedua orang tua ku, Dion. Dia pasti akan kembali untuk mengambil ponselnya. Aku takut kamu akan meninggalkan aku, jika kita berpapasan bertemu dengannya, karena pastinya kamu akan berprasangka buruk pada perasaanku terhadap dirinya." Jawab Kia yang membuat Dion tersenyum.


"Aku tak akan meninggalkan mu. Aku yang malah takut kau tinggalkan karena kau bertemu dengan pemilik hatimu, Kia," balas Dion sembari mengusap lembut wajah Kia yang tengah mendongak dengan jemarinya.


"Aku akan berusaha untuk tidak meninggalkan mu, Dion karena aku sudah nyaman bersama mu. Didekat mu, aku seperti berada di dekat Papi ku."


"Tapi aku bukan Papi mu, Kia. Aku ini Dion suami mu, yang bisa melummat bibir manis mu ini." Ucap Dion yang menarik dagu Kia dan mendaratkan kecupan di bibir Kia.


Keduanya saling bertukar saliva, Kia membalas setiap sesapan yang diberikan Dion padanya.


Dan kembali mobil Dion dan Arka berpapasan dengan arah berlainan. Arka sama sekali tak menyadari jika dirinya kembali berpapasan dengan mobil Dion, namun hatinya malah kembali terasa teriris pedih, kala mobil mereka saling berpapasan.

__ADS_1


Arka kembali ke pemakaman setelah menyadari ponselnya sepertinya terjatuh dan tertinggal.


"


__ADS_2