Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 58


__ADS_3

Selepas kepergian Kia. Arka menangis pilu seorang diri. Tangisnya yang awalnya terdengar pelan, perlahan pecah dengan teriakannya.


Beberapa perawat segera datang menghampiri. Menanyakan apa yang dirasakan oleh Arka, hingga ia menangis sekencang ini.


"Tuan, apa ada yang sakit? Tolong jelaskan bagian mana yang sakit, agar kami dapat melakukan penanganan dengan rasa sakit yang Anda derita." Tanya salah seorang perawat wanita yang terlihat sudah senior.


Arka tak menjawab dan ia terus saja menangis. Tidaklah mungkin ia menjawab dengan sejujurnya, jika rasa sakit yang tengah ia rasakan ada di dalam lubuk hatinya yang terdalam karena ditinggalkan oleh Kia.


Tidak mungkin pula ia menjawab jujur, jika hatinya terlalu sakit mendengar perkataan Kia yang menjadi sebuah kata sambutan terbaik disaat ia baru membuka matanya, setelah melalui masa kritisnya. Andaikan saja ia boleh memilih, ia lebih baik mati daripada selamat namun hidupnya terasa gelap tanpa kehidupan.


Aku lemah tak berdaya tanpa mu, Kia. Lihatlah betapa rapuhnya aku. Bagaimana aku bisa menemukan kesanggupan ku untuk melalui hariku tanpa mu? Haruskah hidupku kembali sepi? Apakah ini karma yang harus aku jalani?


Arka baru bisa tenang, ketika seorag Dokter menyuntik sesuatu pada cairan infusnya. Ia kembali tenang dan kemudian tertidur.


Sementara itu di Mansion Dion. Kia terlihat seperti tak terjadi sesuatu. Ia berbaring bersama Dion di ranjang tidur mereka. Ia terlelap dengan damai di dalam pelukan Dion.


Hingga sang fajar menyapa, Kia masih tertidur dengan pulas nya. Ia sampai-sampai tak menyadari, jika Dion sudah meninggalkannya untuk mandi, sarapan dan bahkan bekerja di ruang kerjanya.

__ADS_1


Dengan mata yang terus mengerjap-ngerjap dan tangan yang mulai meraba-raba ranjang tidurnya, demi mencari keberadaan suaminya yang sudah bangun lebih dahulu. Kia mulai ketakutan dan di landa kecemasan ditinggalkan Dion, saat ia tak mendapati suaminya.


Ia terlonjak bangun dari tidurnya, seratus persen kesadarannya terkumpul. Ia tak lagi bermalas-malasan di atas ranjang. Kia turun dari ranjang tidurnya, menyibak tirai jendela dan mendapati sapaan sang fajar yang menyilaukan mata.


"Akhhh.... Sudah siang rupanya." Ucap Kia yang segera menyingkir dari tirai jendela.


Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, karena rasa takutnya kehilangan Dion melebihi segalanya. Kia lantas keluar tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Setelah memastikan Dion tak ada di dalam kamarnya.


Ia berlari menuruni anak tangga dengan begitu bersemangat. Ia tahu kemana harus mencari suaminya, antara di ruang baca dan juga di ruang kerja suaminya.


Pintu ruang baca Kia buka. Tak ia dapati sosok suaminya.


Kemana kamu, Hubby? Tolong, jagan tinggalkan aku, aku tak mau sendiri lagi. Sudah cukup aku merasakan kehilangan, tidak lagi, aku mohon Tuhan.


Kia merasa lututnya sudah tak lagi bertulang, namun ia harus kembali melangkahkan kakinya menuju satu ruangan lagi, yang berada di sudut ruang bagian depan mansion, yang merupakan ruang kerja Dion bersama dengan Chriss.


"Hubby!" Pekik Kia yang tiba-tiba merasa tak kuat lagi berjalan.

__ADS_1


Tubuh Kia merosot ke lantai, tepat di depan pintu ruang kerja Dion.


"Kaya suara Kia," ucap Nadia yang juga berada di ruang kerja Dion bersama denan suaminya.


"Hubby!" Pekik Kia lagi, kini suaranya sudah bercampur dengan isak tangisnya.


"Kak, seriusan. Istri kakak tuh manggil," ucap Nadia yang pendengarannya cukup tajam. Meskipun ruangan kerja Dion ini kedap suara. Tidak dapat mendengar suara dari luar, begitu pula dengan bagian luar yang tak dapat mendengar suara dari bagian dalam ruangan kerja Dion.


"Masa sih?" Tanya Dion. Yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kerjanya.


Dion membuka pintu ruangannya dan terkejut mendapati istrinya masih mengenakan pakaian tidurnya yang cukup menerawang terduduk di atas lantai.


"Hubby... Hiks...kamu ninggalin aku." Ucap Kia yang langsung digendong Dion kembali ke kamar.


Dion memilih tak menanggapi terlebih dahulu apa yang dikatakan istrinya, membawa istrinya kembali ke kamar adalah pilihan yang tepat baginya, karena ia merasa tak rela, jika aset milik istrinya akan dilihat oleh banyak pasang mata, jika ia biarkan istri berlama-lama di sana.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, Kia. Berusahalah untuk melawan rasa takutmu yang selalu menguasai dirimu." Jawab Dion dengan tersenyum simpul. Ia merasa senang karena Kia sangat membutuhkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2