Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 51


__ADS_3

Dengan mengenakan gaun berwarna putih, dengan hiasan batu permata. Nadia tampak cantik dan anggun. Ia menuruni anak tangga didampingi oleh Kia dan juga sang Mommy.


Tepat di dekat kolam renang yang dahulu menjadi tempat sakral pernikahan antara Dion dan Kia. Kini menjadi tempat Chriss dan Nadia bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci.


Chris berhasil mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan nafas panjangnya. Ketika penghulu berkata sah. Chris tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Ia langsung melakukan sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memanjatkan doa kepada Tuhan semoga kedua orang tuanya di alam sana bahagia melihat putranya telah menikah.


Ya. Chriss dan Dion sama-sama tidak memiliki kedua orang tua lagi. Kedua orang tuanya juga meninggal di hari yang sama seperti kedua orang tua Dion. Mereka meninggalkan karena dibunuh.


"Berbahagialah Nak, Daddy sangat mengenal bagaimana Chriss. Dia tak akan pernah menyakiti mu, apalagi memanfaatkan mu. Namun Daddy minta pada mu dengan sangat. Tolong rahasiakan pernikahan mu ini demi kebaikanmu dan juga keluarga kita."


"Termasuk pada Dira?"


"Ya. Karena Dira berhubungan erat dengan Tomo dan juga Arka. Saat ini kita tidak tahu apakah Tomo dan Arka akan tetap menjadi kawan atau lawan kita nantinya, setelah ia tahu Kia selama ini bersama dengan kita." Jawab Tuan Bramantyo yang dapat dipahami oleh Nadia.


Acara pernikahan sederhana itu pun berjalan dengan singkat, setelah sesi foto bersama keluarga berakhir, mereka menikmati makan siang bersama dan para suami kembali bekerja ke perusahaan.


"Udah nih, gini doang nikahnya?" Tanya Nadia saat melihat mobil suami dan kakak sepupunya pergi meninggalkan Mansion.


"Iya begini, emang mau gimana lagi? Gue dulu juga gitu." Sahut Kia yang malah balik bertanya pada Nadia.


"Nasib." Celetuk Nadia.


Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.


"Mom, mau kemana? Kok udah rapih aja?" Tanya Nadia pada sang Mommy yang sudah berganti pakaian kerjanya.


"Kerjalah, memang Mommy mau ngapain? Belajar jadi istri yang benar, jangan kaya Mommy! Camkan itu Nad!" Pesan Lissa sembari menahan tawanya karena melihat ekspresi putrinya yang menggemaskan.


Kerja mulu, duit ditumpuk kaya mau dibawa mati aja. Udah tahu anaknya baru nikah, diapain kek, ini malah ditinggal kerja.

__ADS_1


Lissa kemudian memeluk putri semata wayangnya dan sedikit menitikan air mata. Lissa tahu betul, jika putrinya saat ini sedang mengumpati dirinya.


"Baik-baik di sini ya, Mommy akan sering datang ke sini untuk menengok kalian, anak-anak gadis Mommy." Ucap Lissa yang kemudian menarik Kia untuk ikut masuk dalam pelukannya.


"Iya Mommy." Jawab keduanya kompak.


"Ingat pesan Mommy, kalau mereka berbuat kasar, cepat hubungi Mommy. Mommy akan kirimkan bala bantuan yah. Sekarang Mommy harus pergi dulu yah. Bye..." Ucap Lissa yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Keduanya kini duduk di sebuah sofa panjang yang berada di lorong menuju kolam renang.


"Kenapa lo milih tinggal di sini, gak di mansion lo sih Nad?"


"Kenapa lo keganggu?"


Dih, Sensi banget nih si Nadia habis nikah, ditanya gitu aja ngegas.


"Bukan keganggu, gue cuma nanya doang Markonah. Gue malah senang ada teman ngobrol pas suami gue lagi kerja. Padahal dia janjinya awalnya bakal jarang ngantor ke perusahaan, tapi dua hari ini janji cuma tinggal janji. Semua kata-kata bullshit-lah" Jawab Kia sambil memukul lengan Nadia.


Kia dan Nadia pun akhirnya mengobrol ngalor-ngidul di sana hingga keduanya kelelahan dan tertidur di lorong tersebut, karena sapuan angin yang sepoi-sepoi.


Dua jam setelah meeting bersama Arka selesai. Dion segera meninggalkan ruang meeting.


Bukan tanpa alasan, tapi karena ia melihat dari rekaman CCTV jika istrinya seperti sedang berkelahi dengan adik sepupunya.


"Kau terlihat buru-buru sekali Dion. Jangan terlalu mengkhawatirkan Kia, dia itu gadis mandiri yang tidak manja." Tegur Arka yang seakan mengenal bagaimana Kia.


Dion tersenyum tipis menanggapi ucapan Arka.


Sok tahu sekali kau Arka. Ternyata kau tak mengenal bagaimana sikap asli Kia sebenarnya. Kau memang selalu tak bisa memahami hati wanita mu, Arka. Termasuk hati Rika.

__ADS_1


Meski wanita terlihat mandiri, ia pun tetap ingin diperhatikan, dipedulikan dan dipahami oleh pasangannya, Arka. Bukan dibiarkan mandiri terus-menerus hingga ia merasa terbiasa sendiri dan tak butuh lagi bahu mu untuk sandaran hidupnya.


"Ya, dia memang istri yang sangat mandiri, sampai-sampai makan pun harus ada aku di sampingnya. Dia memang tak manja, hingga apapun selalu minta aku layani. Kau sangat mengenal bagaimana istriku rupanya. Aku salut pada mu, Arka." Sahut Dion dengan jawaban yang berhasil membuat Arka malu.


Arka terdiam dan berpikir, apakah benar yang diucapkan oleh Dion tentang Kia.


Kia yang diceritakan Dion sungguh berbeda dengan Kia yang ia kenal dahulu. Namun selintas ia mengingat bagaimana cerita Sisil tentang Kia yang harus disuapini Dion agar mau makan.


Kia? Apa aku dulu salah memperlakukan mu? Kenapa kau tak semanja itu padaku dulu? Apa bedanya aku dan Dion?


Arka segera memepercepat langkahnya, ia ingin menemui Dira yang lebih mengenal Kia daripada Dion dan juga dirinya.


Dengan kecepatan tinggi, Arka membelah jalanan kota, Arka mendatangi kediaman Dira, karena yakin Dira pasti sudah kembali ke rumah saat ini. Karena menurut orang di sekolah Nadia tidak masuk sekolah karena ada urusan keluarga.


Arka sampai berbarengan dengan Dira yang juga baru sampai rumah dengan skuter matic nya.


Mau ngapain nih Pak Arka, datang ke rumah gue? Nyari Kia di sini mana ada? Nyari makan? Di sini gak ada spaghetti yang ada mie instan. Apa mau curi hati gue? Aduh... Jangan curi hati gue! Karena hati gue cuma buat yayang Tomo. Ya salam. Hahaha PD gila gue.


Dira tetap dengan aktivitasnya, membuka gembok pintu pagarnya dengan mata terus menatap Arka yang terus melangkah mendekati dirinya.


"Dir boleh saya bicara?" Tanya Arka pada Dira.


"Ini Bapak lagi bicara sama saya. Pake nanya boleh apa enggakm" Sahut Dira yang memang begini adanya. Sedikit judes jika diajak bicara tanpa pawangnya.


Arka mendengus. Ia harus berusaha sabar menghadapi Dira yang memang selalu menguji kesabaran jika diajak bicara.


"Maksud saya, bicara empat mata sama kamu di tempat lain bisa? Saya ada yang mau ditanyakan penting sama kamu." Terang Arka yang berharap Dira tak menyahut yang aneh-aneh lagi.


"Ini kita lagi bicara empat mata Pak, mata Bapak dua, mata saya dua. Dua tambah dua sama dengan empatkan Pak? Semoga hitungan saya tidak salah."

__ADS_1


Arka mengepalkan kedua tangannya. Dira memang susah diajak bicara. Dira tidak bodoh tapi memang kritis saat bicara. Tidak bisa salah bicara sedikit, jika berbicara dengan wanita yang satu ini.


Arka jadi berpikir. Kuat sekali Tomo berhubungan dengan Dira yang modelan seperti ini.


__ADS_2