![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Hubby!" Panggil Kia yang berdiri diambang pintu ruang kerja Dion bersama dengan Nadia.
Dion menoleh kearah pintu ruang kerjanya yang terbuka, dimana ada sang istri dan adiknya tengah berdiri di sana.
Manik mata Dion menelisik penampilan Kia dengan handuk yang masih bertengger di atas kepalanya.
"Keringkan rambut mu dulu Baby!" Perintah Dion dan Kia menggelengkan kepalanya.
Kia melangkah maju menghampiri suaminya, sementara Nadia, manik matanya terus mengedar mencari keberadaan Chriss yang tak ada di ruang kerja kakak sepupunya.
"Kak Dion, dimana suamiku?" Tanya Nadia, yang memecahkan perhatian Dion yang terus menatap Kia yang berjalan perlahan menghampiri dirinya.
"Hah, apa Nad? Kau bicara apa barusan?" Tanya Dion yang tak fokus dengan pertanyaan Nadia.
Nadia memutar bola matanya malas, karena harus mengulang pertanyaannya kembali.
"Dimana suamiku, Kak?" Tanya Nadia dengan wajah malasnya dan nada bicara yang sinis.
"Oh, kau tanya dimana suamimu, dia ada di pos depan sedang memberikan arahan pada para penjaga." Jawab Dion yang kini sudah memangku tubuh Kia yang segar dan wangi.
Setelah mengetahui dimana keberadaan suaminya, Nadia langsung meninggalkan ruang kerja Dion dan melangkahkan kaki di mana suaminya berada.
Sedangkan Kia, terus mengusap wajah tegang Dion dengan jemari lentiknya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tegang sekali? Apa ada suatu masalah yang membuat mu berpikir keras?" Tanya Kia yang mengkhawatirkan suaminya.
Jujur Dion memang tengah berpikir, bagaimana respon Kia jika mengetahui musibah yang terjadi pada Arka saat ini. Ia khawatir dengan respon Kia yang mungkin akan berlari darinya, demi melihat dan mengetahui bagaimana kabar Arka saat ini.
__ADS_1
Atau bahkan menangis histeris karena sedih dan menyesal karena beberapa jam yang lalu sebelum musibah ini terjadi, Kia telah bersikap dingin dan terkesan kejam pada Arka.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut mendapatkan kabar buruk mengenai Arka." Jawab Dion yang sengaja menggantungkan jawabannya, demi melihat respon Kia.
Dion menatap mata Kia yang terlihat biasa saja, tak ada respon dari istrinya ini, dia hanya diam saja dan malah mengusap bibir Dion berkali-kali.
Melihat Kia diam saja dan terlihat tak ada minat untuk bertanya pada dirinya tentang Arka. Dion tersenyum tipis dan menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau diam saja Baby? Apa kau tidak ingin tahu kabar buruk apa yang aku dapatkan tentang Arka? Dan bagaimana kabarnya saat ini setelah sebuah musibah menimpanya?" Cecar Dion yang malah memancing Kia menarik senyum tipis di bibirnya.
"Kenapa aku harus bertanya tentang dirinya padamu, Hubby? Jujur aku sudah tidak ingin tahu apapun tentang dirinya. Bukan karena aku kejam. Dia adalah masa laluku dan kamu adalah masa depanku. Tak ingin sedikitpun aku melukai hatimu hanya karena aku terjebak dengan masa laluku. Sekalian aku tahu dia sedang terkena musibah dan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, aku hanya cukup berdoa pada Tuhan, agar Tuhan memberikannya bantuan dan keadaannya segera membaik." Jawab Kia yang menentramkan hati Dion.
"I love you..." Ucap Dion yang kemudian mendaratkan sekilas ciuman manis di bibir istrinya.
"I love you to.." balas Kia yang kemudian memeluk Dion.
Maafkan aku, Mas Arka. Bukan aku tak perduli pada mu. Ada hati yang harus ku jaga. Tak ingin aku melukai dan mengecewakan hati suamiku, hanya karena dirimu yang merupakan bagian dari masa lalu yang sebenarnya berat untuk aku tinggalkan.
Namun sebuah kebetulan, ketika Unang tengah mengintai kediaman Dira, Ayah Dira yang setelah sekian lama tidak pulang karena sedang dinas di luar pulau tiba-tiba pulang ke rumah.
Ayah Dira yang diantar oleh mobil dinas bersama teman-temannya yang ikut turun untuk minum kopi bersama di dalam. Berhasil mengejutkan Unang. Karena tubuh kekar berotot dan tampang sangar dari ayah Dira dan teman-temannya itu sungguh menyeramkan.
"Ini siapanya target kita ya?" Tanya Unang pada kedua anak buahnya yang bersama dengan dirinya saat ini.
"Tidak tahu Boss. Seharusnya kita selidiki atau tanya latar belakang target dulu sama Boss Aldo. Supaya kita bisa berhati-hati dalam bertindak Boss." Jawab Ipan, salah satu anak buah Unang.
"Mungkin kita salah rumah Boss. Ini bukan rumah target kita. Atau target kita sebenarnya sudah pindah." Tambah Iwan yang terdengar takut.
__ADS_1
Sebenarnya Unang juga takut seperti kedua anak buahnya. Namun sebagai Boss, ia harus menjaga gengsinya dan tak mau terlihat lemah di mata kedua anak buahnya.
Namun untuk memastikan apa yang dikatakan Iwan, Unang segera menghubungi Aldo untuk memastikan alamat yang diberikan oleh Aldo pada mereka.
Unang yang juga menerima pendapat Ipan langsung saja menanyakan tentang latar belakang Dira. Namun sayangnya Aldo tidak mengetahui latar belakang Dira, yang kedua orang tuanya tak pernah terlihat.
"Kenapa kau tanyakan latar belakang Dira padaku bodoh? Jika kau tidak tahu seharusnya kau cari tahu sendiri bukan bertanya padaku." Cerca Aldo pada Unang disambungkan teleponnya.
Aldo terdengar sangat emosi dengan pertanyaan yang dilontarkan Unang padanya. Hingga ia menjawab dengan marah-marah.
"Maaf Boss, jika pertanyaan saya salah." Ucap Unang yang terdengar takut dengan cercaan Aldo yang terdengar emosi.
Alih-alih menjawab, Aldo malash langsung saja memutus sambungan panggilan telepon dirinya dengan Unang.
Cih, sombong sekali dia. Main asal tutup panggilan teleponku. Jika saja dia tidak menjanjikan aku uang seratus juta. Mana mungkin aku masih mau bekerja dengannya yang hampir tak memiliki apapun sekarang.
Akhirnya Unang, mulai mencari tahu tentang Dira dari orang-orang sekitar kediaman Dira. Banyak orang-orang di sana yang awalnya ramah dengan Unang, namun tiba-tiba berubah menjadi diam seribu bahasa dan menghindari Unang ketika ia bertanya mengenai Dira dan keluarganya.
Timbul pertanyaan di dalam diri Unang. Ada apa dengan mereka kenapa bisa berubah sekejab saja, hanya karena ia bertanya tentang Dira.
Setelah dua puluh sembilan orang ia tanyakan tentang Dira, dan tak satu pun diantara mereka yang menjawab pertanyaan Unang. Akhirnya Unang mendapatkan jawaban dari orang ketiga puluh enam.
Seorang ibu-ibu yang tengah menyapu jalanan di depan rumah yang tak jauh dari kediaman Dira, memberikan jawaban dari pertanyaannya yang sudah bosan ia ucapkan. Meski harus berkelok-kelok alur pembicaraannya, yang penting Unang mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Oh Masnya nanyain Dira. Hahahaha... Pantas saja semua orang tidak mau menjawab Mas." Jawab Ibu rumah tangga itu sembari tertawa lebar.
"Memangnya kenapa Bu?" Tanya Unang menatap aneh ibu-ibu dihadapannya.
__ADS_1
"Mereka takut sama Ayahnya dan Ibunya Mas." Jawab ibu ini yang kemudian terdiam dan menatap serius dan menelisik wajah Unang.
"Takut? Memangnya Ayah dan Ibunya Dira itu siapa Bu, sampai di takuti seperti itu?" Tanya Unang lagi yang memang jadi lebih penasaran setelah mengetahui banyak orang yang takut dengan sosok Ayah Dira.