![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Menyingkirlah Tania! Aku harus pergi bekerja. Lihatlah! Adikku sedang memperhatikan kita," Ucap Dion sembari mendorong tubuh Tania dari atas pangkuannya.
Tania yang mendengar Dion menyebutkan kata adik, langsung saja beranjak dari pangkuan Dion, ia menyingkir dari tubuh Dion dengan rasa tak enak hati. Kini Tania terlihat gugup, ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan dan mengancingkan kemeja bajunya yang tak sengaja terlepas. Bagaimana tidak terlepas, kemeja yang dikenakan Tania sangat ketat, bahkan kancing kemeja yang ia gunakan sangat sulit untuk dikaitkan.
Tak jauh berbeda dengan Dion, saat tubuh Tania menyingkir dari dirinya, Dion segera berdiri, kemudian merapikan jasnya yang sedikit berantakan, setelah sebelumnya ia mengancing kembali kancing kemeja baju yang dilepaskan secara paksa oleh Tania barusan.
Usai merapikan baju dan penampilannya. Dion bergegas pergi dan berjalan melewati Kia, ia berjalan tanpa menganggap keberadaan Kia yang ada di beberapa anak tangga terakhir. Sikapnya begitu dingin, lebih dingin dari sebelumnya.
Hari demi hari pun berlalu, semenjak kejadian itu Dion tak menganggap keberadaan Kia di mansionnya sendiri, bahkan Dion seakan menghindari Kia.
Jika Kia sudah berada terlebih dahulu di ruang makan, Dion akan langsung berangkat kerja tanpa sarapan bersama Kia seperti biasanya.
Namun jika Kia terlambat datang di ruang makan, Dion akan sarapan terlebih dahulu sebelum ia berangkat bekerja, namun ia akan menghentikan menyantap sarapannya jika menyadari kedatangan Kia di ruang makan itu.
Tak hanya menghindari Kia, Dion juga sudah tak ingin lagi menyantap masakan Kia, bahkan ia dengan terang-terangan melarang asisten rumah tangganya, untuk mengizinkan Kia menyentuh alat dapur, jika Kia berniat memasak sesuatu untuk dirinya.
Malam ini seperti malam-malam biasanya. Suara deritan ranjang, lenguhan dan erangan terdengar memecahkan keheningan malam di mansion Dion.
Di Mansion Dion bukannya tidak mempunyai alat peredam suara di setiap kamarnya. Yang dapat menghilangkan suara menjijikan yang tak ingin Kia dengar, suara-suara yang menyiksa malam-malam Kia selama tinggal di Mansion milik Dion ini.
Dion memang sengaja tidak menyalakan alat peredam suara dan bahkan membiarkan pintu kamar yang ia huni bersama wanita yang menghabiskan malam bersamanya terbuka dengan lebar.
Entah apa maksudnya? Kia pun tidak tahu. Yang pasti Kia sangat terganggu dengan aktivitas Dion di setiap malam hari.
__ADS_1
Kia yang merasa sangat haus malam ini, turun ke lantai bawah untuk mengambil minum. Ia berjalan mengendap-endap dalam kegelapan menuju dapur, karena melewati kamar dimana Dion selalu menggagahi wanita-wanita yang ia bawa setiap malamnya.
Langkahnya terhenti sesaat. Memperhatikan apa yang dilakukan Dion bersama wanita itu. Karena pintu kamar itu terbuka begitu lebar dan Kia dapati dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.
Ya. Dia melihat milik Dion sedang dimanjakan oleh bibir mungil wanita yang entah siapa itu. Ekspresi Dion begitu menikmati permainan wanita yang memasukkan sepenuhnya milik Dion ke dalam mulut wanita yang sudah tak mengenakan sehelai benang pun.
Ada sebuah rasa nyeri di dada Kia, ketika ia melihat Dion, pria yang mengatakan cinta padanya tapi bercinta dengan wanita lain.
"Menjijikan!" Umpat Kia sembari meremas kedua telapak tangannya. Saat ia melihat dengan jelas Dion mendapatkan puncak kepuasannya dari mulut wanita itu.
Muak dengan apa yang ia lihat, Kia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air dingin yang ada di dalam kulkas.
Bayang-bayang ekspresi wajah Dion saat mendapatkan pelepasannya terus terbayang di kepala Kia. Hingga Kia tak sadar terus menggelengkan kepalanya demi mengusir bayang-bayang ekspresi wajah Dion yang begitu menjijikan.
Kia membalikan badan, betapa terkejutnya Kia mendapati Dion tanpa busana tengah berdiri belakangnya.
Kia membelalakan matanya, melihat tubuh tegap, kekar, sixpack milik Dion yang begitu indah untuk dipandang mata. Sejenak Kia terpesona dengan keindahan itu. Dan ketika ia sadar, ia langsung menundukkan pandangannya dan buru-buru beranjak pergi dari hadapan Dion.
Keesokan harinya Nadia dan Dira datang ke Mansion Dion. Mereka mengajak Kia untuk hadir di pernikahan Arka dan juga Sisil.
Bukannya tidak mengerti akan perasaan sahabatnya,Kia. Tapi kedua sahabatnya itu seakan memberi jalan pada cinta mereka berdua. Jika memang harus bersatu kembali, Kia harus memberanikan diri untuk muncul di hadapan Arka, agar Arka dapat membatalkan pernikahan atas dasar perjodohan ini.
"Gimana Ki lo mau datang nggak? Kalau lo nggak mau ketemu sama dia. Kita bisa lihat mereka dari jauh. Tapi jika lo berubah pikiran dan ingin kembali sama Pak Arka. Kita akan siap nemenin lo untuk nemuin dia." Ucap Dira ya masih berharap Arka dan Kia kembali bersatu.
__ADS_1
Berbeda dengan Nadia yang berharap Kia tak lagi bersatu dengan Arka. Bukan karena ia berharap Kia bersatu bersama dengan sepupunya. Namun karena ia takut dan khawatir jika gurunya itu akan mengungkit masa lalu kelam yang dialami Kia. Karena bagaimana pun kondisi Kia bukanlah gadis lagi. Ia sudah menjadi seorang janda malang yang di jual mantan suami yang dijodohkan mendiang kedua orang tuanya.
"Gue nggak yakin dapat izin keluar dari mantion ini." Jawab Kia sembari melirik Dion yang tengah memainkan ponselnya.
Iya Dion berada bersama mereka, duduk tepat di samping Nadya. Dion mau berada bersama dengan Kia, karena ada Nadya diantara mereka.
Dion yang menyadari dirinya mendapatkan tatapan dari kedua gadis itu oun menarik sebelah alisnya.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Dion pada ketiganya sembari melirik ketiganya secara bergantian.
Rupanya Dio terlalu fokus memainkan ponselnya, hingga ia tidak sadar dengan apa yang sedang mereka bahas saat ini.
"Kak, Jangan katakan jika kakak tidak menyimak apa yang sedang kami bicarakan." Ucap Nadia pada Dion yang duduk di sampingnya.
"Aku memang tidak menyimak pembicaraan tidak mutu dari kalian bertiga. Memangnya kenapa jika aku tidak menyimak pembicaraan kalian? Apa menjadi suatu masalah besar bagi kalian?" Ucap Dion dengan tampang tak perdulinya.
"Sombong!" Umpat Dira dengan suara yang sangat pelan namun masih dapat di dengar oleh seorang Dion yang memiliki indra pendengaran yang tajam.
"Ya. Aku memang sombong. Jika kalian tidak suka dengan ku, silahkan keluar dari mansion ku. Pintu akan selalu terbuka untuk kalian meninggalkan mansion ku ini." Sahut Dion yang yerlihat tersinggung dengan umpatan Dira.
"Kak Dion. Jangan sekasar itu dengan sahabatku! Apa Kakak sedang sakit? Kakak tidak biasanya bicara sekasar ini di depan ku." Tegur Nadia sembari menggenggam satu tangan Dion.
"Ya. Aku sedang sakit dan kau tak perduli dengan rasa sakit ku." Sahut Dion sembari melirik Kia yang duduk tak jauh dari dirinya.
__ADS_1