![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Beberapa asisten rumah tangga berdiri dengan kaki gemetar saat melihat Dion keluar dari kamar panas yang berisi Tania yang teronggok bersimbah darah.
Suara letupan senjata api Dion, seakan panggil bagi mereka untuk mendekat pada sumber suara. Ini bukan pertama kalinya Dion membunuh wanita yang ia tiduri.
Dion berjalan melewati asisten rumah tangga yang harus membersihkan, apa yang dilakukan Dion tanpa rasa bersalah apalagi berdosa. Ia berjalan ke kamar pribadinya yang ada di lantai atas.
Saat telah selesai menaiki anak tangga terakhir dilantai atas, Dion melirik kamar Kia. Pintunya yang terbuka lebar membuat hatinya kembali menciut.
Kesepian, inilah yang kini Dion rasakan. Niat hatinya ingin langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya, namun apa daya. Kata hatinya memanggil dirinya untuk mendatangi kamar itu.
Dion melangkahkan kakinya dikamar yang gelap tak berpenghuni itu. Menyusuri bagian kamar yang selama ini Kia tempati di Mansionnya.
Berbagai kenangan tentang Kia kini melintas di dalam ingatannya. Dion terus menggelengkan kepalanya mengusir bayang-bayang Kianyangg berterbangam di pikirannya.
"Damn, aku tak bisa jauh darinya. Berpisah dengannya ternyata sangat menyiksa." Umpat Dion yang kini memeluk guling tidur Kia, yang masih tercium Aroma tubuh wanita yang sangat ia cintai.
Dion tak mau bertindak bodoh dengan terus memeluk guling yang biasa Kia peluk. Ia melangkah cepat meninggalkan kamar Kia.
Brakk!
Suara pintu kamar Dion yang ia buka dengan kasar. Dion langsung masuk ke kamar mandi tanpa membuka pakaiannya terlebih dahulu.
Dion mengguyur kepalanya dengan kecuran air shower, guna mengusir ingatannya tentang Kia.
Namun usahanya ini gagal. Dion segera menuntaskan membersihkan dirinya.
Usai aktifitas mandi dan mengenakan pakaian, Dion keluar dari kamarnya dengan wajah segar, namun tidak dengan pikirannya yang dipenuhi dengan Kia.
Ia berjalan dengan cepat keluar dari mansionnya. Dengan mengendarakan sebuah mobil sedan mewah, Dion membelah jalanan kota di tengah malam menuju Mansion Tuan Bramantyo.
"Aku memang kau larang untuk tinggal berdua bersama Kia di mansionku tanpa ikatan pernikahan. Tapi tidak melarang ku untuk tinggal bersama kalian di mansion mu 'kan Om," gumam Dion saat mobilnya tiba di mansion Tuam Bramantyo.
Sepi. Itulah keadaan mansion Tuan Bramantyo disaat malam hari seperti saat ini. Kedatangannya malam ini, benar-benar tak diketahui oleh Tuan Bramantyo dan Nadya.
Kaki Dion tanpa ragu memasuki kamar Nadya, yang ia yakini ada Kia di dalamnya.
__ADS_1
Tepat. Tebakan Dion sangat tepat. Wanita yang ia cintai tengah meringkuk memeluk sebuah guling di ranjang Nadya.
Kini tanpa ragu, Dion naik ke ranjang berukuran king size milik adik sepupunya yang sudah dewasa. Ia membaringkan tubuhnya diantara dua wanita yang penting di hidupnya saat ini.
Nadya, sedikit terusik dengan pergerakan ranjangnya saat Dion menaiki ranjang, sepupunya ini hapir saja terbangun dan akan membuat keributan, jika melihat dia mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya dan ikut berbaring bersama mereka di satu ranjang yang sama.
Ketika Nadya sudah kembali tidur tenang, Dion langsung saja memeluk wanita yang ia cintai dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kia.
"Mmmmm," Kia sedikit melenguh saat ciuman basah ia dapati di curig lehernya.
Dengan cahaya rembulan yang menembus tirai tipis kamar Nadya. Kia yang terbangun karena ulang nakal Dion. Dapat melihat jelas tangan siapa yang melingkar di perutnya, sebuah Tato nama kedua orang tua Dion yang sangat Kia kenali.
"Dion?" Panggil Kia dengan suara berbisik.
"Mmmm." Sahut Dion, ia tersenyum dibelakang tubuh Kia.
Kia membalikan tubuhnya dan menatap dalam mata hazel Dion.
"Kamu datang?"
"Hemm...aku tak bisa tanpa mu." Jawab Dion.
"Dia tak pernah melarang ku ke sini. Aku keponakannya Baby. Jangan khawatirkan itu." Balas Dion yang langsung saja melahap bibir Kia.
Keduanya saling bertukar saliva. Ya. Mereka hanya bertukar saliva malam ini. Karena mereka sadar ada orang ketiga yang akan membuat keributan, jika sampai mereka berdua membuatnya terbangun.
Kia tertidur dengan tenang di dalam pelukan Dion, begitu pula dengan Dion yang akhirnya dapat memejamkan mata dan mengusir kerinduannya pada Kia malam ini.
Pagi hari, dan kebetulan hari ini adlah hari minggu. Nadya bangun tanpa nyala alarm yang selama ini membangunkannya.
Tuan Bramantyo membebaskan putrinya dihari libur untuk me time. Tanpa harus ikut sarapan bersama dengannya.
Dengan mata yang mengerjap-ngerjap karena cahaya sang fazar sudah sangat menyilaukan matanya. Nadya terbangun dan menyadari jika guling yang ia peluk bernafas.
"Hah, Kak Dion!" Pekik Nadya dengan suara yang mungkin dapat membangun orang mati hidup lagi.
__ADS_1
"Berisik!! Suara mu bisa dikecilkan sedikit tidak Nad?" Ucap Dion dengan suara paraunya.
Karena suara melengking Nadya. Kia jadi terbangun dari tidurnya.
"Tidurlah lagi Baby," ucap Dion saat Kia beranjak sari tubuhnya.
"Wahyu??? Eh salah Whatsss? Tadi... Itu tadi apa Kak Dion panggil Kia dengan sebutan apa? Baby?" Nadya bertanya dengan mata yang berkedip-kedip berkali-kali seperti orang cacingan.
"Kenapa ada yang salah? Kia sebentar lagi akan jadi kakak ipar mu. Apa kau senang? Atau sebaliknya?" Jawab Dion yang menarik kedua wanita itu ke dalam pelukannya kembali.
Keduanya kembali berbaring di dalam pelukan Dion.
"Kia, lo mau sama kakak sepupu gue. Dia itu player?" Tanya Nadya.
Nadya sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan Dion, sebelum mendengar jawaban Kia.
"Gue mau, asal dia mau menerima kondisi gue yang cuma seorang janda malang yang tak bernilai." Jawab Kia sembari menatap mata hazel Dion.
Dion yang juga menatap Kia, mendaratkan kecupan selamat pagi di pucuk kepala Kia. Sontak Kia memejamkan mata dan tersenyum bahagia.
"Hahahaha...." Nadya tertawa.
"Jodoh yang aneh. Jangan sakiti sahabat aku Kak! Hidup dia sudah menderita! Jangan kau tambah-tambahkan dengan kebiasaan buruk mu itu." Ucap Nadya setelah tawanya terhenti.
"Siap Boss." Jawab Dion yang juga mengecup pucuk kepala adik sepupunya.
"Bersiaplah! Kita akan menghadiri pernikahan Arka bukan?" Ucap Dion yang membulatkan kedua bola mata Kia.
Kia menggelengkan kepalanya tak ingin hadir.
"Lo harus hadir Kia!"
"Gue gak mau muncul lagi di hidup Pak Arka. Gue takut kehadiran gue akan menggagalkan pernikahan dia." Tolak Kia.
"Hadirlah, lihatlah dia untuk terakhir kalinya untuk membunuh sisa cinta untuknya di hatimu. Lakukan ini untuk ku." Pinta Dion dengan tatapannya yang serius.
__ADS_1
"Kau memaksa ku?"
"Ya. Lakukan untuk ku! Bunuh perasaan mu itu untuk ku. Berhentilah mencintainya saat dia sudah mengucapkan ikrar janji sucinya untuk wanita lain Kia." Jawab Dion.