![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Salon Moamar, tempat yang tengah nge-hits dikalangan para gadis muda saat ini. Setelah menjemput Nadia dan Dira. Kia dan kedua sahabatnya ini pergi ke salon Moamar.
Ketiganya kini kompak melakukan perawatan pada rambut panjang mereka. Saat ini mereka tengah duduk berjejer di depan cermin, dimana Kia duduk diantara kedua sahabatnya ini.
Saat mereka tengah menikmati pelayanan salon. Tiba-tiba saja sosok Sisil datang dengan mengenakan kaca mata hitam dan sebuah maskeran. Sisil duduk tepat di samping Dira.
Entah ini sebuah kebetulan atau sesuatu yang memang direncanakan, yang pasti Kia dan Sisil kembali bertemu.
"Hai," sapa Sisil saat ia duduk diantara mereka.
Ketiganya menoleh saat mendengar suara yang mereka sangat kenali sebagai suara Sisil yang menyapa mereka.
Kia hanya tersenyum dan mengangguk, meski manik matanya merasa aneh dengan penampilan Sisil kali ini.
Sementara Nadia hanya diam saja dan melihat sekilas siapa yang menyapa mereka, ia sama sekali tak perduli dengan bagaimana penampilan Sisil saat ini.
Sedangkan Dira, ia melihat terkejut dengan kedatangan Sisil yang kini duduk tepat di samping, tanpa berniat membuka kaca mata hitam dan masker yang ia kenakan.
"Hai, Sil. Lo mau creambath juga?" Tanya Dira dengan mata yang terus memperhatikan penampilan Sisil yang sangat tak biasa baginya.
Bagaimana tidak, ia mengenakan pakaian serba tertutup dan sama sekali tak mau melepaskan penutup wajahnya. Baik masker ataupun kacamata hitamnya.
"Iya." Jawab Sisil singkat.
Seorang pelayan salon, segera menghampiri Sisil dan mengajaknya untuk membersihkan rambutnya terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama ia kembali duduk di samping Dira.
"Penampilan lo kenapa dah? Pandemi sudah berakhir Sil, lo meriang? " Tanya Dira yang langsung bertanya dengan to the poin.
Sisil tersenyum tipis mendengar pertanyaan Dira, yang ternyata tak mengetahui bagaimana kondisi rumah tangganya saat ini bersama dengan Arka.
Tanpa menjawab sepatah kata apapun. Sisil membuka sejenak kaca mata hitam yang menutupi luka lebam di sudut matanya, kemudian membuka sejenak masker yang menutup sebagian wajahnya.
__ADS_1
"Oh ya Tuhan," decit Kia sembari menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.
Apa yang dilakukan oleh Kia sama halnya dengan Dira, namun tidak dengan Nadia yang hanya menggelengkan kepalanya kemudian kembali menatap dirinya di pantulan cermin.
"Ini perbuatan suami lo, Sil?" Tanya Dira yang hanya dijawab anggukan kepala dari Sisil. "Kabur aja sih, ngapain lo bertahan?" Saran Dira pda Sisil yang hanya membuat Sisil terdiam.
Kabur? Tentu saja rasanya aku ingin kabur. Namun apa kabarnya kedua orang tuaku, jika aku meninggalkannya. Arka tak akan segan-segan menghancurkan keluargaku.
Pertemuan Kia dan Sisil hanya sebatas pertemuan tak sengaja, yang tidak berlanjut. Baik Kia dak Dira tak lagi bertanya pada Sisil yang memilih berdiam diri setelah pertanyaan dan saran Dira sama sekali tak dijawab oleh Sisil.
Di kediaman Arka. Arka yang tentu saja sudah pulih, kini menjadi sosok pria yang tempramen dan ringan tangan pada Sisil. Hari ini Kia yang pulang kerja lebih awal dari biasanya. Tak mendapati keberadaan Sisil terlihat begitu marah.
"Kemana dia? Kenapa jam segini belum pulang?" Tanya Arka pada salah seorang pelayan di rumahnya dengan nada membentak.
"Kata Pak Nandar, Nyonya mau ke salon dulu Tuan. Rambutnya banyak yang rontok dan rusak." Jawab pelayan yang bernama Ani dengan suara yang bergetar.
Ia takut dengan sosok Arka yang tak seperti Arka yang dahulu ia kenal. Ramah dan selalu bersikap lembut.
Usai Arka membersihkan diri. Ia keluar dari kamarnya, bertepatan dengan Sisil yang baru saja kembali dan ingin masuk ke dalam kamarnya. Arka yang kini memilih untuk menetap di kediamannya, akhir mengusir Sisil yang selama ini menempati kamarnya.
"Darimana kamu? Jam berapa ini? Sudah ku katakan pulang kuliah langsung pulang! Kamu itu seperti perempuan liar yang tidak bisa diatur!" Pekik Arka yang masih berdiri di muka pintu kamarnya.
Sedikit tersenyum mendengar Arka kembali menghinanya, kemarin wanita j4l4ng, murahan, lo.nte, sekarang liar. Entah besok apa lagi.
"Maaf sudah membuat mu marah, tadi aku pulang ke salon dahulu, rambutku sudah rontok parah." Jawab Sisil tanpa menatap wajah Arka yang terlihat begitu marah padanya.
Ya, Arka marah bukan karena mengkhawatirkan Sisil yang pulang terlambat. Pertanyaan Arka pada Sisil bukanlah bentuk perhatiannya terhadap sang istri malangnya, namun pertanyaan itu hanya karena ia sangat membutuhkan istrinya. Ia sengaja pulang karena ingin melampiaskan rasa amarah dan cemburunya pada Dion kepada istri malangnya ini. Hanya ini alasan mengapa Arka mencari istrinya, sebagai bahan pelampiasan dari segala apa yang ia rasakan.
Tak kembali mendengar Arka bicara, Sisil akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun Arka ternyata tak menyukai dengan permintaan maaf Sisil yang begitu singkat.
Arka menangkap pergelangan tangan Sisil yang berusaha menutup pintu kamarnya. Ia mendorong pintu kamar Sisil dengan satu kakinya, hingga pintu itu tertutup.
__ADS_1
Arka menjatuhkan Sisil ke ranjang tidur Sisil yang tertata rapih.
"Lepaskan aku! Maafkan aku yang pulang terlambat Arka."
"Aku tak akan memaafkan mu, sebelum kau memuaskan ku."
"Berengs.ek kau Arka. Lepaskan aku! Aku tak mau memuaskan suami macam seperti mu. Aku lebih baik mati."
"Kau ingin mati, baik. Matilah dengan perlahan Sisil, jika kau mati dengan cepat, aku pastikan kedua orang tua mu akan menderita di sisa umurnya."
"Kau suami yang kejam berengs.ek Mmmmphh..."
Kata-kata Sisil berhenti saat Arka membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman kasar. Sisil berusaha makin keras untuk melawan Arka namun upayanya selalu sia-sia.
Tenaga Sisil tidak sebanding dengan Arka. Suaminya ini berhasil membuatnya tidak berdaya. Arka mengunci kedua tangan Sisil tinggi di atas kepalanya, begitu pula dengan kedua kaki Sisil yang ia tindih agar tak menendang dirinya.
Lagi-lagi Arka merampas semua kebebasan Sisil sehingga tak ada lagi yang bisa Sisil lakukan kecuali menangis.
Arka sama sekali tidak peduli dengan isak tangis Sisil yang memilukan. Arka terus saja mencium Sisil dengan brutal. Kini satu tangannya tak berhenti menggerayangi tubuh istrinya.
Sisil mengerang saat tangan Arka memaksa masuk ke dalam bajunya. Suaminya ini mengincar dua gundukan kenyal yang selalu dimainkan Arka dengan menekan dan memelintirnya bukan gemas tapi dengan rasa benci, seakan ingin merusak dan mengoyaknya.
"Arghh.... Sakit Arka hentikan!" Sisil terus mengerang kesakitan dengan apa yang di perbuat Arka.
Luka lebam yang kemarin belum juga hilang, kini ia kembali mendapati kekerasan fisik, saat suaminya ingin meluapkan segala rasa yang suaminya rasakan dengan penyatuan brutalnya.
"Arghhh....." Sisil benar-benar merasakan ngilu di sekujur tubuhnya saat ini. Wajahnya terus meringis sembari menitikan air mata.
"Sakit, hah? Inilah yang aku rasakan setiap harinya, karena dirimu hadir di dalam hidupku." Ucap Arka yang terlihat puas saat melihat ekspresi kesakitan Sisil.
Kehilangan Kia membuat seorang Arka berubah menjadi pria yang sangat kejam.
__ADS_1