![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Dion terlihat sangat khawatir, dia terus mondar-mandir seperti sebuah setrikaan di depan kamar Kia.
"Bagaimana kondisi Kia, Dokter?" Tanya Dion pada sang Dokter yang baru saja keluar dari kamar Kia.
"Kondisi Nona Kia dalam keadaan baik-baik saja, Tuan. Meski dia cukup banyak kehilangan banyak darah. Saat ini Nona Kia hanya butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya." Jawab Dokter pribadi Dion yang bernama Damar.
"Ok, jangan pergi kemana-mana sebelum dia bangun!" Pinta Dion yang segera menerobos masuk ke dalam kamar Kia.
Seorang perawat wanita yang tengah menunggu Kia, segera keluar dari kamar, ketika ia melihat Dion sudah berada di dalam kamar pasien yang tengah ia tunggu sesuai perintah Dokter Damar.
Dion menatap sendu kondisi Kia yang terlihat pucat, dengan satu jarum infus yang mengalirkan setetes demi tetes darah untuk menggantikan darah yang hilang sia-sia karena ulah nekat Kia.
"Maafkan aku, aku tak akan pernah memaksa mu lagi. Tolong jangan lakukan ini lagi! Kamu sangat nekat Kia, aku takut kehilangan mu." Ucap Dion sembari menitipkan air mata.
Dion yang ingin sekali mengecup kening Kia, mendekatkan bibirnya ke wajah Kia. Namun saat bibir itu tinggal satu inci lagi menyentuh kening Kia. Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tubuh Dion dengan kasar.
Brukk! [Suara Dion terjatuh].
Bugh... Bugh... Bugh! [Suara tinjuan tangan kekar yang memberikan bogem mentah pada Dion].
"Stop Om! Hentikan! Ampun!" Pekik Dion memohon ampun pada Tuan Bramantyo yang terus memberikan bogem mentah pada Dion.
"Stop kata mu? Apa yang kau perbuat pada Kia, hingga ia kembali melakukan hal bodoh itu Dion?" Tanya Tuan Bramantyo yang mencengkram kerah kemeja Dion.
"Aku hanya meminta dia untuk tetap berada di sana Om, karena acara pesta dimulai." Jawab Dion jujur.
__ADS_1
"Kau menyakitinya Dion. Seharusnya kau tidak memintanya ke sana. Sekarang Om tidak bisa membawa Kia untuk tinggal kembali bersama Om, karena Arka kembali gencar mencari keberadaan Kia." Ucap Tuan Bramantyo.
Dion tersenyum senang, mengetahui Tuan Bramantyo tidak bisa membawa Kia lagi jauh dari dirinya.
"Jangan senang dulu Dion!" Ucap Tuan Bramantyo yang menatap tajam keponakannya.
"Kenapa aku tidak boleh senang, Om?" Tanya Dion dengan beraninya membalas tatapan tajam Tuan Bramantyo.
"Om sangat tahu isi pikiran mesum mu itu, Mbok Nani akan tinggal di sini menjaga Kia. Jangan kau pikir Om akan biarkan kelakuan liarmu itu, menjadikan Kia sebagai pemuas nafsu di atas ranjang mu. Jika sampai Om tahu kau, melakukannya sebelum kau menikahi Kia. Om pastikan, akan membawa jauh Kia dari hidup mu dan sampai kau mati pun tak akan menemukan dia."
Tuan Bramantyo tak main-main dengan kata-katanya. Ia benar-benar menjaga Kia, meski harus mengancam keponakannya sendiri.
"Hahahaha... Om sedang mengancam ku rupanya. Terserah! Sebenarnya aku masih bisa bersabar. Om tenang saja."
Dion merespon dengan santai. Ancaman dari Tuan Bramantyo. Ia berdiri dan merangkul Tuan Bramantyo untuk turun ke bawah. Namun bfu beberapa langkah Dion dan Tuan Bramantyo melangkah, Nadya tiba-tiba datang dan langsung menampar Dion.
"Stssss sakit Nadya!" Ucap Dion merintih sembari memegangi pipinya yang sakit.
"Itu tak lebih sakit daripada yang dirasakan oleh Kia, Kak Dion." Balas Nadya dengan tatapannya yang tajam, setajam silet.
Dion berdecak kesal tak bisa membalas perlakuan kasar Nadya. Jika saja yang melakukannya orang lain. Mungkin dapat dipastikan orang tersebut akan kehilangan tangannya. Karena sudah sangat lancang dan berani menampar Dion.
Sementara itu, Arka sudah kembali ke apartemen mewahnya yang juga berada di pusat kota. Ia meninggalkan istri yang baru ia nikahi begitu saja. Tanpa memperdulikan bagaimana nasib Sisil saat ini yang masih berada di hotel.
Arka yang berada di unit apartemen hanya duduk termenung di ruang kerjanya. Merutuki semua yang terjadi sembari memandangi figura foto dirinya dan Kia yang masih terpajang di dinding ruang kerja dirinya.
__ADS_1
"Firasat ku tidak salah, kau memang ada di sana. Kenapa kamu sembunyi Kia? Ada apa dengan mu? Bukankah aku sudah katakan, aku akan menerima apapun keadaan mu, meskipun keadaanmu dalam keadaan iburuk. Karena aku sangat mencintamu." Ucap Arka yang kembali menahan bulir air mata yang ingin menetes membasahi pipinya, yang sudah sembab karena terus saja menangis sejak tadi.
Sementara itu ponsel Arka terus saja berdering. Mertuanya terus mencoba menghubungi Arka yang menghilang begitu saja, sejak acara pernikahan mereka berantakan.
Sama sekali tidak ada prosesi apapun yang Arka lewati selain melakukan ijab kabul bersama dengan Pak pen Makanan mewah yang tersaji terbuang sia-sia begitu saja, setelah tamu undangan diminta pergi sebelum acara ramah tamah dan makan bersama di mulai.
Tante Widya terlihat stress dan pusing mendapatkan caci maki dari Tuan Kamal, ayah dari Sisil yang merasa direndahkan dan dibuat malu oleh Arka.
Tuan Kamal tak berhenti mengoceh, meski Tante Widya sudah terlihat jengah dan meminta maaf hingga ratusan kali padanya.
"Arghh menantu si4lan!" Umpat Tuan Kamal saat panggilannya terus tak dijawab oleh Arka.
Tentu saja Arka tak akan menjawab panggilan Tuan Kamal. Karena ia tak mau mendengar seseorang yang makin membuatnya bertambah pusing.
Sementara itu sebagai seorang wanita yang kini sudah berstatus Nyonya Arka, Sisil malah terlihat santai diperlakukan seperti ini oleh Arka. Ia malah sibuk bermain game online diponselnya.
Jujur Sisil sangat senang, jika memang wanita yang membuat acara pernikahannya berantakan adalah Kia, wanita yang sangat dicintai oleh suaminya.
Karena dengan begitu, secepatnya Arka akan menceraikan dirinya. Tanpa perlu terlalu lama bersandiwara dengan pernikahan yang ia jalani dengan sebuah perjanjian tertulis di atas kertas saja.
"Sisil, kenapa kamu terlihat sesantai ini, padahal harga dirimu sudah terinjak-injak oleh suamimu? Ayahmu saja tidak terima kamu diperlakukan serendah ini oleh suamimu, seharusnya kau melakukan hal yang sama." Tanya Leoni, ibunya yang terus menatap jengah pada putrinya.
"Untuk apa. Aku mau marah ataupun menangis meraung-raung tak akan mengubah segalanya bu. Hidupnya itu milik wanita lain, sama halnya seperti diriku. Aku mengerti bagaimana perasaannya sekarang. Pasti dia tengah hancur perasaannya. Berpikir dan mencari keberadaan wanita itu, masih hidup atau sudah mati setelah mencoba bunuh diri di hari pernikahan pria yang dia cintai. Andai aku jadi wanita itu, aku pun akan melakukan hal yang sama Bu. Buat apa aku hidup tanpa orang yang aku cintai." Jawab Sisil yang terlihat emosi dengan sang ibu yang menegurnya.
"Jaga bicaramu Sisil! Seharusnya kau lebih memahami perasaan orang tuamu bukan dia." Sahut Leoni dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
"Ck. Bu, maafkan aku, jika kata-kata ku akan menyakiti hati ibu." Ucap Sisil yang sejenak beehenti untuk mengambil nafasnya.
Ia seperti berat untuk mengucapkan sesuatu yang ingin ia sampaikan pada ibunya ini. Sementara Leoni tetap diam menunggu apa yang ingin dikatakan putri sulungnya.