![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Tak sabar dan akhirnya menghubungi Tomo untuk membawa Dira ke suatu tempat. Itulah yang akhirnya Arka lakukan saat ini. Sikap Arka ini berbeda jauh dengan Dion yang selalu bisa menskakmat kata-kata Dira yang memang suka sangat menyebalkan.
Cih, pantas saja Kia memilih Dion. Menghadapi ku saja, Bank sabar mu kurang banyak. Apalagi menghadapi tingkah Kia yang benar-benar bikin jengkel dan geleng kepala. Bisa-bisa Kia langsung kau buang karena merepotkan hidup mu, Pak Arka.
Kini Dira, Tomo dan Arka tengah duduk disebuah restoran yang menjadi tempat favorit Dira dan kedua sahabatnya menghabiskan waktu kala Kia masih bersekolah bersamanya.
"Cepat mau nanya apa! Banyak PR nih, guru olahraga gak punya akhlak, ngasih PR gak tanggung-tanggung."
Dira membuka percakapan sembari mengerjakan tugasnya di depan guru olahraganya dan juga pemilik sekolahnya.
"Nanti aku bantuin, jangan marah-marah kamu jadi tambah cantik kalau marah." Bisik Tomo di telinga muridnya.
"Jangan macam-macam Yank! Aku masih pakai seragam sekolah, dan kamu masih pakai baju dinas. Nanti mereka pikir kamu pedofil. Eh emang iya pedofil ya hahaha...."
"Sembarang, kamu sudah tujuh belas tahun Dira." Sahut Tomo yang langsung menyentil kening Dira.
Ia tak terima dikatakan pedofil oleh kekasihnya sendiri.
"Ekhmmmm..." Arka berdeham menegur dua sejoli dimabuk cinta ini.
"Eh ada orang ya? Orang ketiga hahaha...." Celetuk Dira.
Arka membulatkan matanya ketika mendengar ia dituding sebagai orang ketiga.
"Jaga mulut mu Dira! Saya ini bukan orang ketiga!" Sahut Arka kesal.
"Coba hitung Pak. Satu dua tiga 'kan?" Balas Dira menghitung dengan menunjukkan dirinya, Tomo dan barulah Arka.
"Ya terserah kamulah. Saya ngajak kamu ke sini cuma mau tahu tentang Kia dimasa lalu." Sahut Arka yang kemudian menanyakan apa yang ingin Ia tanyakan pada Dira.
Mau ngapain lagi sih si Pak Arka nanyain tentang Kia. Jangan bilang kalau dia mau jadi pebinor, aduh gak mutu banget nih laki.
"Mau ngapain nanya Kia lagi, Pak? Dia tuh udah jadi istri orang Pak? Please deh jangan ganggu dia, ganggu saya aja mumpung janur belum melengkung, masi bisa buat ditikung hahaha...."balas Dira yang selalu bercanda tidak ada seriusnya, kalau bukan Tomo yang mengajak bicara.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang menjurus kecandaan Dira, kedua pria dewasa ini terus saja menggelengkan kepalanya.
Dasar Bocah!
Keduanya mengumpati di dalam hati mereka masing-masing.
Arka lantas bermain mata pada Tomo, agar membantunya mengulik masa lalu Kia. Tomo yang mengerti dan paham langsung membantu Arka.
"Sayang begini, maksud Arka tuh dia cuma mau tau aja. Karena dia ngerasa kenapa Kia yang sekarang beda sama Kia yang dulu, Arka kenal. Makanya dia mau tanya sama kamu, tentang masa lalu Kia dan dia sama sekali gak ada niat jadi pebinor apalagi mau nikung-nikung."
"Ohh, begitu." Sahut Dira yang menarik nafasnya dan menggeser buku LKSnya ke hadapan Tomo.
"Tolong kerjain Yank! Soalnya aku akan jelasin panjang kali lebar kali tinggi tentang Kia pada pemilik sekolah kita ini." Perintah Dira pada Tomo dan Tomo mengangguk patuh pada kekasih kecilnya ini.
Dira melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap serius wajah Arka. Hingga Arka kesulitan menelan salivanya. Saking seriusnya Dira menatap dirinya.
"Jadi begini Pak Arka. Kia yang sekarang adalah cerminan Kia yang dahulu. Dahulu banget ya sebelum kenal Pak Arka dan bonyok-nya belum meninggal."
"Bonyok-nya meninggal?" Tanya Arka tak mengerti dengan istilah gaul Dira.
"Bonyok itu singkatan Pak, singkatan dari bokap nyokap. Bokap itu Papi, Ayah, Daddy, Abi dan lain sebagainya. Nah kalau nyokap itu pasangannya Papi dan ya gitu deh ya. Udah ngerti dan pahamkan yah sejauh ini."
Arka manggut-manggut mengerti apa yang dijelaskan Dira yang berlagak seperti guru yang malas menerangkan seperti Bu Nani di sekolahnya.
"Lanjut!" Pinta Arka pada Dira.
"Time is money, tidak ada di dunia ini yang gratis ya Pak Arka, kalau lanjut semua ada tarifnya." Sahut Dira yang sontak membuat Tomo melirik kearahnya.
Dasar calon istri matre, tapi baguslah kamu matre pada orang yang tepat.
"Aku pastikan sekolah mu gratis sampai lulus, itu sesuai tarif dari semua pertanyaan saya hari ini padamu. Lanjut!" Jawab Arka menyanggupinya.
"Okeh deal." Balas Dira yang kemudian bersalaman dengan Arka.
__ADS_1
"Ingat Pak laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya, jika sampai ada tagihan sekolah sampai ke kediamanku. Bapak benar-benar laki-laki bermulut pendusta."
Sialan benar anak ini! Apa dia kata aku ini laki-laki bermulut pendusta. Lidahnya ini, ingin sekali aku potong.
"Ya, aku jamin tidak akan ada tagihan dari bagian administrasi sekolah yang menagih uang iuran SPP mu dan juga biaya jalan-jalan perpisahan dan lain sebagainya." Ucap Arka sekali lagi untuk meyakinkan Dira, yang seperti meragukan semua kata-katanya.
"Ok deh, lanjut nih ya?" Arka kembali mengangguk.
"Iya Pak, jadi tuh Kia yang sekarang ya emang Kia. Dia udah balik lagi kayak dulu, dulu banget. Dengan tingkahnya yang manja, mau dingertiin, semua apa maunya dia, dikit-dikit mau ditemenin dan satu lagi posesif." Ucap Dira yang sesuai dengan apa yang dimaksud dengan Dion dan juga Sisil.
"Lalu kenapa saat bersama saya, Kia seperti wanita yang mandiri dan tangguh?"
"Sebenarnya waktu kedua orang tuanya meninggal, Kia itu masih manja dan dimanjain banget sama Bi Ratmi dan Pak Ujang. Dia selalu sarapan di suapin sama Pak Ujang. Dia itu sebenarnya gak bisa makan sembarangan kaya kita Pak. Dia itu pemilih menu. Dia berubah sok kuat saat kedua orang tuanya meninggal dan di hari itu dia juga tahu kalau sebenarnya dia itu dijodohin sama Aldo." Dira menghentikan sejenak ucapannya dan menyeruput es jeruk peras di hadapannya.
"Terus!"
"Ntar dulu haus, sabar Pak buru-buru banget. Nah ini yang paling Kia gak suka di buru-buru." Ucap Dira yang kali ini mengingatkan Arka jika Kia sering berubah wajahnya, ketika is memintanya melakukan sesuatu dengan cepat.
Saat Arka sudah melihat segelas es jeruk Dira hais. Ia kembali memesan segelas es jeruk peras untuk kekasih sepupunya ini. Kemudian kembali mengajukan pertanyaan lagi.
"Dira apa Dion, selama ini tak pernah membuat Kia terburu-buru seperti saya?"
"Gak pernah, Dion always sabar dalam menghadapi apapun, di cuekin sehari, dua hari bahkan sampai berminggu-minggu dia tetap sabar. Dia ngomel kalau Kia udah kelewatan, misalnya belajar terus. Baca buku terus. Ngunci diri dalam kamar, itu dia baru marah. Kia mau kabur dari mansion juga dibiarin, tapi ya gitu Dion cuma ngeliatin aja, dan akhirnya Kia balik lagi dan meluk Dion. Sesabar itu si singa garang itu memperlakukan Kia."
Arka terdiam mendengar betapa Dion lebih baik memperlakukan Kia dari pada dirinya.
"Lanjut!" Kali ini Arka terdengar lemas tak bergairah untuk meminta Dira melanjutkan perkataannya.
"Waktu Bapak baru datang kesekolah kita, eh salah sekolah milik Bapak itu, posisinya dia itu lagi berusaha menguatkan dirinya untuk menghadapi hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya. Jadi ya kelihatan tegar dipaksain gitu. Tapi bukannya Bapak udah tahu ya, kalau Kia itu suka jejeritan di belakang gedung sekolah?"
Aku ternyata salah menilai mu. Kau tak setegar karang. Hatimu, dirimu, dan jiwamu terlalu rapuh seperti selembar tisue yang mudah koyak. Dia memang lebih pantas menjadi pendamping mu, Kia.
Arka tiba-tiba menyadari kesalahannya selama ini yang hanya perduli pada perasaannya sendiri tanpa perduli dengan perasaan Kia. Hanya bisa mengatakan cinta namun tak bisa memahami Kia.
__ADS_1
Arka beranjak dari kursi duduknya, ia lantas meninggalkan Dira dan Tomo begitu saja.
Cih, orang aneh. Belum selesai ngobrol dia sudah kabur. Untung ke sininya sama Ayang cova kalau cuma berdua, alamat ngenes gue ditinggalin kaya dicampakkan. Kaya Rita yang akhir bundir dicampakin sama dia.