Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 19


__ADS_3

"Kurang ajar! Anak itu benar-benar menggali kubur untuk kedua orang tuanya dan dirinya sendiri." Pekik Tuan Bramantyo yang geram, ketika ia mendengar penjelasan singkat Dion tentang diri Kia.


Tuan Bramantyo segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya, ia segera menghubungi seseorang yang entah siapa itu. Ia memberikan perintah untuk menghancurkan Aldo dan keluarganya.


Meski Kia bukanlah putrinya, tapi Tuan Bramantyo sudah menganggap Kia seperti anaknya sendiri. Karena persahabatan antara Nadia bersama dengan Kia, sudah seperti seorang kakak beradik yang tak dapat dipisahkan.


Sebagai seorang ayah, dia tak bisa menerima apa yang telah dilakukan Aldo terhadap diri Kia. Jika saja hal ini sampai terjadi pada Nadia, Tuan Bramantyo tidak dapat membayangkan bagaimana hancur hidup putrinya di tangan pria seperti Aldo.


Usai memberikan perintah pada seseorang di sambungan telepon. Tuan Bramantyo mengajak Kia untuk pulang ke Mansion miliknya.


"Mulai hari ini kau akan tinggal bersama keluarga Om Kia. Tidak baik bagimu, tinggal berdua bersama pria yang tidak memiliki ikatan darah denganmu, apalagi dia bukan juga suamimu." Ucap Tuan Bramantyo yang langsung mendapatkan keberatan dari Dion.


"Tidak Om, dia akan tetap tinggal bersama ku. Karena aku sudah membelinya." Ucap Dion yang berusaha mempertahankan Kia untuk tetap bersamanya.


Kata-kata dibeli, seakan mengingatkan kembali pada Kia, akan kepedihan hatinya saat Aldo yang berstatus suaminya menjual dirinya tanpa belas kasih.


"Jika Kau keberatan karena kau sudah mengeluarkan uangmu. Om akan mengganti uang yang telah kau keluarkan untuk Kia, Dion. Bahkan Om akan memberikan dua puluh persen saham Om padamu, sebagai ganti dan rasa terima kasih sudah menyelamatkan Kia." Balas Tuan Bramantyo tak tanggung-tanggung. Ia memberikan tatapan tegas pada Dion, keponakannya.


Jujur Kia sangat tersentuh dengan kalimat balasan Tuan Bramantyo. Jika saja kedua orang tuanya masih hidup pasti akan melakukan hal yang sama seperti Tuan Bramantyo.


Kini air mata Kia kembali menetes, membanjiri pipi putih mulus bak susu milik Kia. Ia hanya bisa menangis dalam diam, diantara ketegangan Dion dan juga Tuan Bramantyo yang saling memperebutkan dirinya.


"Aku tak ingin uangku diganti Om, dan aku tak berminat dengan nilai saham yang Om tawarkan padaku. Sungguh aku tak berminat menukar Kia dengan apapun. Aku hanya menginginkannya." Ucap Dion tak kalah tegas.

__ADS_1


Tuan Bramantyo tersenyum sinis mendengar ucapan keponakannya itu. Bukan karena tak suka, tapi ia hanya merasa aneh dengan pendirian kuat keponakannya yang sedang mempertahan seorang wanita.


"Dia bukan barang Dion, dan Kia bukanlah wanita yang sama seperti yang sering kau kencani. Dia sudah Om anggap sebagai putri Om sendiri. Jadi Om tak akan mengizinkan mu mempermainkan hidupnya, seperti kau mempermainkan hidup wanita-wanita lain yang datang silih berganti setiap harinya di hidupmu." Tegas Tuan Bramantyo lagi.


"Aku tidak berniat untuk mempermainkan hidupnya Om. Aku ingin serius dengan dia. Karena aku mencintainya." Tukas Dion yang menarik tubuh Kia untuk kembali berada di sisinya.


Namun tak berapa lama Tuan Bramantyo kembali menarik tubuhnya untuk berdiri kembali di sampingnya.


"Kalau kau berniat serius dengannya maka segera nikahi Kia, Dion. Karena kau tahu, ada seorang lelaki yang hampir gila karena kehilangan dirinya, dan kau tahu itu siapa bukan?" Pungkas Tuan Bramantyo yang langsung mendapat jawaban cepat dari Dion.


"Aku akan menikahinya saat masa iddahnya selesai. Siapapun lelaki yang tengah menunggu dirinya, tak akan bisa menikahi dia saat ini, karena dia dalam masa iddah." Balas Dion dengan tegas.


"Ok. Om tunggu kau datang menjemput Kia untuk menikahinya bukan untuk mengencani, meniduri dan kau tinggalkan seperti sampah. Sekarang kau harus bersabar dan terima jika Om membawanya pulang ke Mansion Om, Dion." Ucap Tuan Bramantyo yang tak terbantahkan.


Berpisah. Ya. Mereka kini berpisah ditangan Tuan Bramantyo. Tuan Bramantyo berhasil memisahkan Kia dan Dion yang selama ini memenjarakan Kia di dalam mansionnya.


Usai kepergian Kia, Dion dengan segera meminta anak buahnya untuk mengawal dan menjaga Mansion milik Omnya itu. Ia tak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Kia. Karena Dion paham betul. Aldo masih mengintai pergerakan Kia. Seakan menjual Kia bukanlah sebuah akhir bagi Aldo untuk menghancurkan hidup Kia.


Sementara itu Nadia yang sudah mengetahui jika sang Daddy sudah pulang dari Singapura. Ia tak lagi kembali ke Mansion kakak sepupunya itu.


Saat ia masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya Nadia ketika mendapati Kia tengah tertidur meringkuk diatas ranjang tidurnya seperti seekor udang.


"Kia. Lo di sini? Hah, gue gak nyangka. Kia! Ini lo kan? Pasti Daddy yang bawa lo ke sini!!" Petik Nadia begitu bahagia sahabatnya ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Nadya terus menggoncangkan tubuh Kia yang sedang tertidur pulas, setelah satu jam kelelahan terus menangis sedih, karena berjauhan dengan Dion.


Sejak sampai di Mansioan Tuan Bramantyo. Pikiran Kia terus berandai-andai. Kia takut Dion akan kembali meniduri Tania, jika ia tak tinggal lagi di sana. Kia terus membayangkan mereka akan menghabiskan malam panjang berdua tanpa Kia, yang pernah menjadi penghalang mereka untuk melakukan penyatuan.


"Nad, gue mau pulang. Gue takut Nad!" Pinta Kia yang baru saja membuka matanya yang terihat sembab dan juga memerah.


"Hah? Pulang kemana? Kerumah lo? Udah gak ada siapa-siapa Kia. Rumah lonudah gak kerawat, udah ditumbuhi semak belukar halamannya." Jawab Nadya yang malah menceritakan kondisi kediaman Kia yang merupakan peninggalan kedua orang tuanya.


Kia terdiam dan mengingat kembali kenangan tentang rumahnya itu. Tiba-tiba ingatannya tentang Arka muncul kembali. Kecemasan tentang Dion dan Tania sirna begitu saja.


Rupanya rasa cinta Kia pada Dion yang bekum Kia sadari, tak lebih besar dari rasa cinta Kia kepada Arka.


Di dua gedung pencakar langit di pusat kota Jakarta yang saling berhadapan, ada dua pria tampan, mapan dan gagah sama-sama tengah merasakan kehilangan sosok wanita yang sama.


Di salah satu gedung pencakar langit, seorang pria yang sama-sama tidak memiliki kedua orang tua, merasakan kehilangan sosok Kia. Namun rasa kehilangannya, tak sepedih pria yang ada di depan gedung perusahaannya.


Meski pernikahannya hanya tinggal menunggu hari, Arka tetap menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kegiatan. Berat rasanya menerima perjodohan ini. Namun dia harus melakukannya demi Tante Widya yang sudah seperti ibunya sendiri.


Ya, tak hanya Kia yang mengalah tak kembali pada Arka karena demi tante Widya, Arka pun demikian.


"Aku yakin kamu masih hidup sayang, dan sedang berada di suatu tempat yang entah ada di mana. Maafkan aku jika aku meninggalkanmu dengan menikahi wanita lain. Ini aku lakukan demi tante Widya. Aku tidak bisa melihat tante Widya terus mengkhawatirkan diriku, yang terlalu larut dalam kesedihan kehilangan dirimu." Ucap Arka saat ia menatap sebuah gedung pencakar langit yang berada di depan gedung perusahaannya.


Suatu kebetulan ruangan kerja Arka berseberangan dengan ruang kerja Dion. Tatapan kedua pria ini, kini sedang bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain dan saling bicara dengan hati mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2