Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 57


__ADS_3

Ada kalanya kenyataan di depan mata terasa tidak nyata. Seperti sebuah bayangan yang tak dapat tersentuh. Seperti cinta yang hadir di hidupku saat ini. Aku bersamanya, namun bayangan mu masih tersisa. Aku merasa hidupku telah kembali saat bersamanya, menjadi orang teristimewa di dunia ini.


Hati. Meski hatiku tak bergetar seperti bersama mu, namun rasa nyaman dan terlindungi melebihi dari rasa getaran itu.


Cinta. Apa artinya cinta dan bagaimana cinta itu? Aku tak mengerti. Yang jelas hatiku memilih dirinya dari pada dirimu.


Jangan katakan diriku kejam pada mu, tanpa melihat bagaimana dirimu saat ini, yang terbaring dalam ranjang kesakitan.


Setidaknya aku pernah mencoba mempertahankan hubungan ini dengan caraku yang sangat ekstrim dan terlihat bodoh. Aku tahu kau mengetahuinya.


Bahkan saat aku melakukan hal bodoh itu untuk pertama kalinya, kamu dengan setia mencoba membangunkan ku dari tidur dalamku.


Tolong jangan salahkan dia atas perubahan haluan hatiku ini! Ya. Dia yang hatiku pilih sebagai teman hidupku sekarang dan mungkin sampai tubuh ini tak lagi bernafas nanti.


Dia sosok pria yang penuh dengan misteri. Banyak hal dalam dirinya yang ingin ku ketahui, dan banyak hal dalam dirinya yang ingin ku miliki. Bahkan luka hatinya yang pernah kau torehkan, ingin sekali aku obati.


Aku tak bisa tanpanya, tapi bisa tanpamu. Betapa bergantungnya diriku padanya. Aku meletakkan hidupku di atas genggaman tangannya.


Tolong, jangan biaran ia melepaskan genggaman tangannya, hanya karena kondisimu seperti ini.


Dengan berderai air mata, Kia berbicara pada Arka yang tengah memejamkan matanya di atas ranjang kesakitannya di sebuah ruangan rawat ICU sebuah rumah sakit mewah di pusat kota.


Ya, Dion membawa Kia atas permintaan tante Widya. Tante Widya mendatangi kediaman Dion demi mempertemukan Kia dan Arka yang mungkin untuk terakhir kalinya. Karena kondisi Arka sungguh sangat memprihatinkan.


Arka sudah dalam kondisi tidur terlalu dalam. Dokter mengatakan Arka sudah tidak memiliki semangat untuk hidup. Kemungkinan kecil untuk Arka, sadar dari tidur dalamnya.


Dion yang sangat menghargai tante Widya, akhirnya memohon pada istrinya untuk sudi bertemu kembali dengan sang mantan kekasih yang merupakan kawan lamanya.


Tentu saja pada awalnya Kia menolak, namun saat Dion menjelaskan kondisi Arka dan meminta Kia melakukannya demi dirinya. Barulah Kia mau bertemu dengan Arka.


Dan saat ini di ruangan ICU hanya ada dirinya dan Arka, Namun demikian apapun yang dikatakan oleh Kia dapat didengar dengan jelas oleh Dion. Karena seperti biasanya Dion memasangkan microchip, agar ia dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan istrinya terhadap kawan lamanya tersebut.


"Aku mencintaimu, Kia." Gumam Dion saat ia mendengar bagaimana isi hati istrinya yang terdengar sangat tulus padanya.


Banyak hal yang selalu membuatku membandingkan dirimu dengan dia. Ini terdengar tidak baik, tapi demi menentukan pilihan hatiku, aku harus melakukannya.


Ada kalanya aku merasa dia seperti Papi, ada kalanya aku merasa dia seperti sosok seorang kakak dan ada kalanya aku merasa dia seperti seorang teman hidupku. Ada kalanya dia seperti guru bagiku, ada kalanya dia seperti seorang Bodyguard bagiku.


Dan semua yang ada pada dirinya tidak pernah aku temui pada dirimu, kamu selalu menjadi dirimu yang menganggap aku sebagai anak kecil. Semua jalanku telah kamu tentukan, bahkan aku tidak bisa menolak ataupun berkata tidak. Padahal aku sangat ingin pendapat ku didengar oleh dirimu.


Aku tak hanya butuh cinta, cinta saja tidak cukup bagiku. Aku memang terdengar egois, tapi inilah aku. Kau tidak bisa memahami apa yang aku butuhkan. Dan dia selalu bisa memahami tanpa aku menjelaskan apa mauku.


Jelas sudah hatiku ini adalah miliknya, dan percayalah. Aku yakini hatimu juga milik istrimu. Bukalah hatimu untuknya! Meski aku tahu pernikahan kalian hanya sebuah pernikahan di atas kertas. Tapi tetap saja pernikahan kalian tetap sah di mata Tuhan.

__ADS_1


Aku pernah merasakan menjadi seorang istri yang tak diinginkan, tak dihargai, di siksa fisik dan batin. Itu sangat menyakitkan.


Mungkin ini adalah hal yang biasa bagimu menyakiti hati wanita, seperti halnya dirimu telah menyakiti seorang hati wanita yang kini telah tiada.


Tolong jangan bergantung padaku! Aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini. Bangunlah jika kamu ingin memperbaiki kesalahan dan hidupmu! Dan pergilah dengan tenang, jika kau menginginkannya.


Kia bangkit dari kursi duduknya, ia menghapus air mata yang berderai saat ia mengatakan semua kata-katanya yang hanya menyakiti hati Arka lebih dalam lagi.


Ya. Hati Arka sakit mendengar semua penuturan Kia. Arka sungguh tak menyangka saat ia sadar dari tidur dalamnya, setelah ia melewati rangkaian operasi. Ia dapati sang pujaan hati tengah menggenggam tangannya dengan lembut namun bibirnya terus berkata menyakitkan.


Arka yang telah sadar membiarkan Kia terus mengutarakan isi hatinya, mengenai perasaannya terhadap Arka dan juga Dion. Ia tetap berpura-pura belum sadar dari tidur dalamnya.


Sayup-sayup aku mendengar suaramu dalam tidur dalamku. Ku rasakan tangan hangat mu menyentuh punggung tanganku. Tak ku sangka sayup-sayup suaramu adalah kata-kata yang kembali menusuk relung hatiku, Kia.


Sungguh rasanya tidak ada lagi yang dapat aku perjuangkan dari dirimu yang telah berpaling. Aku rasa kini telah tiba saatnya untukku membiarkanmu pergi berlalu. Jika Dion adalah pilihan terbaik bagimu bertahanlah dengan hatimu bersamanya.


Berbahagialah Kia, menualah bersamanya. Aku akan mencoba untuk rela melepaskan mu. Meski aku yakin hatiku belum sanggup untuk itu.


Perlahan Arka membuka matanya, melihat Kia yang melangkah keluar meninggalkan dirinya. Arka membiarkan Kia pergi, meski ia sebenarnya masih ingin lebih lama lagi bersama dengan Kia, yang mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya bersama sang pujaan hati.


Kia keluar dari ruang ICU di sambut pelukan dari Dion. Dion membiarkan Kia menangis di dalam dada bidangnya.


Lagi-lagi Dion berusaha memahami bagaimana kondisi hati Kia saat ini, dengan membiarkan istrinya menangisi pria lain di dalam pelukannya.


"Menangislah sampai hatimu puas Baby girls! Aku tahu tahu ini tidak mudah bagimu. Jangan memaksakan dirimu untuk kuat! Aku sangat tahu hatimu tengah rapuh saat ini." Ucap Dion yang berbisik di telinga Kia.


Dion menuruti permintaan Kia untuk membawanya pergi dari rumah sakit ini. Dengan merangkul Kia, Dion membawa Kia berpamitan pada Tante Widya yang tengah menangis di dalam pelukan Tomo.


Ya. Tante Widya menangis. Menyesali keputusan yang ia ambil hingga membuat Arka kembali menderita.


"Tante, aku izin pamit. Istriku butuh istirahat," ucap Dion sembari melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan oukul dua dini hari.


Dion tetap membiarkan Kia menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya. Ia tahu jika istrinya tak ingin bersi tatap dengan Tante Widya yang mungkin saja akan kembali memohon pada istrinya ini. Dan benar saja, saat menyadari Kia berada di dekatnya. Tante Widya kembali memohon maaf atas kesalahannya pada Kia.


Namun Kia yang masih terlalu muda dalam menghadapi kenyataan ini, belum bisa bersikap dewasa. Ia tetap menyembunyikan wajahnya di dalam dada hidang Dion.


Dion segera menyingkirkan tangan tante Widya yang terus menarik tubuh istrinya menjauh dari dirinya.


"Maaf Tante, tolong jangan paksa istriku." Ucap Dion dengan tegas, saat menghempas paksa tangan Tante Widya.


"Dion," cicit Tante Widya.


"Maaf, kami harus pergi. Istriku butuh istirahat." Ucap Dion lagi yang kemudian melangkahkan kakinya bersama Kia meninggalkan Tante Widya dan juga Tomo.

__ADS_1


Inilah sikap Dion yang selalu bisa mengerti dan dapat melindungi Kia. Sangatlah wajar jika hati Kia kini berjalan mengarah pada Dion yang sangat tulus padanya.


Di luar dugaan, saat ini Aldo tengah berhadapan dengan Ayah Dira dan juga Dira. Dira mengadukan semuanya dari sambungan teleponnya bersama dengan sang Ayah.


"Siapa kau ini hah, anak sultan-kah kau ini? Berani-beraninya bertindak kriminal tanpa takut dengan hukum." Geram Ayah Dira hingga menggebrak meja dihadapannya.


Aldo hanya tersenyum remeh mendengar amarah Ayah Dira sejak tadi.


"Hai bung! Senyum mu itu sungguh menjengkelkan." Ucap Ayah Dira lagi.


Aldo tetap diam dan terus tersenyum remeh dengan lawannya saat ini. Ia benar-benar menyepelekan siapa Ayah Dira sebenarnya. Kini Aldo malah bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Saya paling tidak suka, urusan pribadi saya dicampuri oleh orang macam Anda, Pak." Ucap Aldo dengan entengnya yang kembali memancing emosi Ayah Dira.


Anak muda ini benar-benar menantang ku, dia baru anak besar kemarin sore sudah berani bertingkah menjengkelkan, sesekali manusia seperti ini harus diberi pelajaran.


Ayah diri memalingkan wajahnya sejenak lalu kembali menggebrak meja dan kemudian menarik kepala Aldo dan membenturkannya ke atas meja.


Brukkk!!!


Darah segar mengalir dari kening Aldo. Aldo mengusapnya dengan jemarinya. Kembali ia tersenyum, meski ia merasakan betapa peningnya kepalanya saat ini. Bahkan pandangan matanya terasa buram.


Ah... sakit sekali. Cepat sekali gerakan tangannya menghantam kepalaku dengan meja marmer ini.


"Semoga dengan dibenturkan kepala mu ini, kau sadar. Tidak ada seorang Ayah di dunia ini yang akan tinggal diam, jika putrinya akan di culik, walaupun hanya dijadikan sebuah umpan. Ingat dan dengar baik-baik. Kau sentuh putri saya ini. Saya tak akan segan-segan menghabisi mu. Tak perduli dengan karir dan jabatan saya. Melindungi keluarga saya adalah harga mati untuk saya." Ucap Ayah Dira yang kemudian menarik tangan putrinya untuk pergi.


Brughh!!


Aldo terjatuh pingsan ditempat, saking tak kuatnya menahan rasa pening di kepalanya. Jhon yang berdiri di luar. Tersenyum tipis melihat keadaan sahabatnya yang telah menyepelekan siapa Omnya.


"Ayo kita pulang Jhon! Kata Dira kau punya bathtub yang harganya hampir ratusan juta." Ajak Ayah Dira pada keponakannya.


"Itu hadiah Om, aku mana bisa membelinya." Jawab Jhon merendah.


"Mau hadiah atau beli, yang penting kau punya. Om mau mencobanya bolehkan?" Ucap Ayah Dira yang kemudian masuk ke dalam mobil mewah keponakannya.


Di dalam perjalanan, Dira menceritakan tentang kisah hidup Kia pada Ayahnya yang mendengarnya sembari memejamkan mata. Bukan karena bosan, tapi ia berusaha memahami cerita putri satu-satunya ini.


"Dimana Kia sekarang?" Tanya Ayah Dira ketika Dira selesai bercerita.


"Dia menikah dengan bos ku, Om." Jawab Jhon yang menyela Dira yanh ingin menjawabnya.


"Dion?" Tanya Ayah Dira yang mengenal baik siapa Dion.

__ADS_1


"Iya, Om." Jawab Jhon sedikit melihat ekspresi bahagia yang di tampilkan Ayah Dira.


Anak itu, akhirnya melabuhkan hatinya juga. Semoga dia tak lagi kesepian dalam menjalani hari-harinya. Dion anak baik begitu pula dengan Kia. Semoga Tuhan memberikan kebahagiaan setelah luka yang kalian alami selama ini.


__ADS_2