![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Pecat dia sekarang atau aku loncat keluar!" Pinta Kia dengan mengancam Dion.
"Hah, kamu jangan aneh-aneh Kia, wanita yang sudah pernah tidur dengan ku pasti langsung aku pecat. Aku tak ingin melihatnya lagi karena aku langsung jiji dan geli melihatnya."
"Apa? Jadi nanti kalau kamu udah tidur sama aku, aku akan kamu buang karena jiji dan geli gitu? Ya sudah kalau begitu kamu puasa saja selamanya Dion. Aku gak mau ditinggalin dan dibuang sama kamu."
Respon Kia membuat Dion senang juga sedih, bagaimana bisa ia diminta oleh istrinya sendiri untuk puasa selama-lamanya, bisa-bisa karatan adik kecilnya ini.
"Ya bedalah, kamu kok aneh sekali hari ini Arumi. Aku seperti tidak mengenali mu."
"Apa yang beda, kami sama-sama wanita, bentuk dan rasa kami sama, apalagi aku ini janda Dion."
"Ya bedalah, kamu istri aku. Aku cinta sama kamu. Masa bodo dengan status mu." Jawab Dion dengan suara yang meninggi.
Ia sampai melipat tangannya di depan dada dan membuang pandangannya ke luar jendela. Ia baru menyadari jika mobil yang dikendarai Mail sudah berhenti tepat di dekat pedagang yang Kia sebutkan tadi.
"Minta duit, mau jajan." Ucap Kia tanpa rasa malu, padahal mereka sedang berdebat da berselisih.
Dion yang marah langsung menyerahkan dompetnya pada Kia. Kia tanpa rasa gensi ataupun malu langsung menerima dompet itu.
"Pak Mail, tolong majuin mobilnya ke abang telur gulung di depan sana." Pinta Kia.
Berhubung tukang telur gulung itu berada di sisi kiri dimana Dion duduk. Lagi-lagi tanpa ragu-ragu Kia menduduki paha Dion dan membuka jendela pintu mobil.
Dion terkesiap dengan apa yang dilakukan Kia saat ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Hari ini seperti kau sedang menguji kesabaran dan perasaan ku padamu Kia." Batin Dion.
"Bang Oeng, beli telur gulungnya tiga puluh ribu ya. Saos aja ya, jangan di kasih bon cabe." Pesan Kia pada langganan telur gulungnya.
"Siap Neng," jawab Bang Oeng. Yang langsung beraksi membuat telur gulung untuk Kia.
"Kamu mau gak?" Tawar Kia pada Dion.
Dion membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Pak Mail mau gak?" Tawar Kia kali ini pada Mail supir Dion.
"Mau aja Nyonya, tapi jangan banyak-banyak." Jawab Mail yang tak menolak rezeki.
Kia pun memesankan setengah dari pesanannya pada Bang Oeng. Saat Kia memasan jajanannya, para pedagang masih sepi karena jam pulang sekolah masih dua jam lagi, sebagian dari mereka pun juga baru datang dan menggelar lapaknya.
Usai selesai memesan telur gulung, Kia meminta Mail untuk memajukan kembali mobilnya agar dirinya bisa membeli cilor.
__ADS_1
Saat menunggu pesanan cilor untuknya dan Mail. Kia menyantap telir gulung yang ia pesan tadi.
"Mau gak? Nyesel, enak loh." Tawar Kia yang masih tak ingin turun dari pangkuan Dion, meski ia sudah merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana.
Dion kembali menolak dan mengusap kasar wajahnya. Andai saja ia tak ingat akan janjinya pada Kia mungkin sudah ia lakukan saat ini juga, karena ia sudah tak tahan.
"Kia bergeserlah, duduklah di tempat mu." Pinta Dion yang menyandarkan kepalanya di punggung Kia.
"Gak mau aku lagi jajan." Tolak Kia cuek.
Dion mendengus kesal mendengar penolakan Kia.
"Untung cinta kalau tidak sudah ku buang kau keluar Kia!" Gerutu Dion di dalam hatinya.
Kembali setelah cilor selesai dan tekur gulung telah tandas, Kia kembali memesan tahu gejrot.
Kali ini ia memesan tahu gejrot dengan porsi yang sangat banyak, dan hampir memborong semua dagangan yang abangnya bawa. Karena saat Kia sedang main dengan para asisten rumah tangga Dion, ia bercerita tentang tahu gejrot dan para asisten rumah tangga Dion terlihat tertarik ingin mencoba rasa tahu gejrot yang biasa ia beli.
"Kamu borong?" Tanya Dion yang akhirnya memeluk pinggang ramping istrinya.
"Heem, buat asisten rumah tangga kita, bolehkan?"
"Boleh," jawab Dion dari balik punggung Kia.
"Dion berat, ambilin!" Pinta Kia pada Dion.
Dion terpaksa menerima dengn tangan Kirinya karena Kia sama sekali tak mau pindah dari pangkuannya.
"Mail, letakkan ini di depan! Perintah Mail yang segera mengambil tahu gejrot dalam jumlah sangat banyak itu.
"Sudah Nyonya gak ada yang mau dibeli lagi?" Tanya Mail sebelum melakukan mobil yang ia kendarai.
"Gak ada Pak Mail, udah semua." Jawab Kia yang masih tidak turun dari pangkuan Dion.
Kia tidak mau turun dari pangkuan Duon bukan karena ia sedang ingin menggoda Dion, tapi ia merasa seperti sedang dipangku oleh sang Papi.
Nyaman. Itulah salah satu rasa yang menjadi alasan mengapa ia tak ingin turun dari pangkuan Dion.
Perut yang kenyang, akhirnya membuat Kia merasa ngantuk, ia langsung saja meyadarkan tubuhnya pada dada bidang Dion dan menenggelamkan kepalanya di curug leher Dion.
Dalam hitungan detik Kia langsung saja tertidur dengan pulasnya.
Sesampainya mereka di pemakaman. Mobil Dion dan Arka berpapasan. Namun sayangnya baik Kia dan Arka sama-sama tidak dapat melihat satu sama lain. Kia yang tertidur dan Arka yang terlalu fokus pada jalan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai Kia, ayo bangun!" Ucap Dion yang berusaha membangunkan Kia.
"Papi, memangnya jam berapa sekarang? Kia masih ngantuk." Tanya Kia yang memanggil Dion dengan sebutan Papi.
"Lagi-lagi kamu memanggilku Papi, sepertinya kamu sangat merindukan Papi mu." Gumam Dion di dalam hatinya.
"Hampir tengah hari Kia, jam sebelas siang saat ini, Kia. Ayo! Kita bisa hitam nanti tersengat matahari!" Ajak Dion yang mulai jahil menggerayangi bagian tubuh istrinya agar Kia mau bangun.
Mail yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kaca spion tengah mobil hanya tersenyum-senyum tak jelas. Melihat sikap Dion yang sabar menghadapi perubahan sikap Kia.
"Arghhh... Diem gak tangannya!" Ucap Kia menyingkirkan tangan nakal Dion.
"Bangun cepat!"
"Gak mau." Jawab Kia ngeyel dan malah membernarkan lagi posisi tidurnya di atas pangkuan Dion.
Jawaban ngeyel Kia makin membuat tangan nakal Dion beraksi lebih nakal dari sebelumnya. Dion memasukkan kedua tangannya ke dalam pakaian istrinya setelah sebelumnya menyuruh Mail untuk keluar dari mobilnya.
"Emmmmmphhh..." Kia melenguh dan akhirnya membuka matanya dan dilihatnya Dion sedang senyum-senyum seorang diri.
Tanpa aba-aba Kia langsung menggigit daun telinga Dion.
"Aaaaa... Kia lepaskan sakit!" Ucap Dion yang langsung melepaskan benda kenyal milik Kia yang ia mainkan hingga Kia melenguh.
"Sakit ya hehe...?" Tanya Kia dengan tampang tak berdosa.
Dion melirik tajam istrinya dengan wajah cengengesan istrinya yang sudah dua kali melakukan KDRT hari ini padanya.
"Nggak sakit. Kata siapa sakit?" Sahut Dion dengan wajah meringisnya.
"Sini tambahin lagi kalau gak sakit!"
"Ehh... Gak mau! Jangan macam-macam Kia!"
"Emang kenapa kalau aku macam-macam Dion?" Tanya Kia menantang.
"Kalau kamu macam-macam pada ku, aku akan memaksa mu melakukannya walaupun kamu belum siap." bisik Dion di telinga Kia.
"Ishhh... Dasar mesum!!!" Umpat Kia yang langsung turun dari pangkuan Dion.
Dion kembali tertawa kali ini tawanya lebih kencang dan terbahak-bahak. Hingga Kia menutup mulut Dion dengan telapak tangannya.
"Kamu tahu ini kuburan. Kamu mau membangunan mereka dengan tawamu ini dan mereka akhirnya akan ikut kita pulang?" Ucap Kia dengan perasaan takutnya.
__ADS_1