![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Kendaraan yang dikemudikan Mail menepi di depan pintu Mansion. Dion keluar setelah Chriss membukakan pintu. Terlihat Pak Catur sudah berdiri di muka pintu Mansion
"Pulang dan beristirahatlah, Criss. Terima kasih atas hari ini. Kau bisa memberikan berkas-berkas iru pada Pak Catur." Ucap Dion pada Chriss yang menganggukan kepalanya saat mendengar ucapan terima kasih dari Dion.
Pak Catur segera memajukan langkahnya mendekati Chris dan mengambil setumpuk berkas laporan yang ada di tangan Chris.
"Selamat istirahat Tuan, semoga Anda tidur nyenyak hari ini." Ucap Chris yang masih menundukkan pandangannya, meskipun Dion sudah jauh melangkah di depannya.
Dion hanya menanggapi ucapan Chriss dengan mengangkat tangan kanannya ke udara.
Meskipun Dion sudah melangkah pergi meninggalkannya. Chris tidak langsung pergi meninggalkan mansion. Ia memilih untuk sejenak menunggu Dion dan Pak Catur benar-benar sudah masuk ke dalam Mansion terlebih dahulu.
"Apa Kia terbangun dan mencariku Pak Catur?" Tanya Dion saat ia sudah berada di dalam mansion.
"Sepertinya tidak Tuan, tadi saya sudah meminta Lala mengeceknya, Nyonya muda masih tertidur dengan lelap."
"Ok. Terima kasih, pergilah beristirahat Pak Catur, ini sudah cukup larut malam." Pinta Dion saat Pak Catur ingin mengikuti langkah kakinya menaiki anak tangga.
"Baik Tuan," ucap Pak Catur yang menghentikan langkah kakinya dan menundukkan kepalanya.
Dion meneruskan langkahnya dengan hati-hati, ia takut akan membangunkan istrinya yang tengah tertidur lelap itu.
Perlahan Dion membuka pintu kamarnya, untuk pertama kalinya, ia masuk ke kamarnya sendiri dengan langkah kaki yang mengendap-endap.
Dalan keremangan cahaya rembulan yang masuk melalui celah tirai jendela. Dion melihat Kia terbaring dengan lelap di atas ranjang tidur mereka.
Dion tak langsung mendekati Kia yang berada di atas ranjang tidur mereka. Dion masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya kembali.
Tak berapa lama Dion yang sudah keluar dari kamar mandi segera mendekati sang istri. Ia naik ke atas ranjang tidur secara perlahan, agar tak membangunkan Kia yang terlelap.
Dion menyibakan selimut yang menutupi tubuh sang istri, ya tubuh sang istri yang masih tak mengenakan sehelai benang pun setelah pertempuran panjang mereka hari ini.
"Your body is very beautiful Kia. Make me the final owner of your body. Touch me now." Bisik Dion di telinga Kia hingga Kia menggeliat.
Dion menyentuh bibir hingga ke leher Kia dengan tangannya yang dingin karena habis mandi.
"Dion mmmmpph..." Kia berdecap sembari memaggil nama Dion.
"Aku bukan Dion," sahut Dion menahan gelak tawanya.
"Mmmm, terus siapa? Paijo?" Sahut Kia yang langsung membuka matanya.
Dengan mata yang merah dan masih mengerjap-ngerjap Kia dapati suaminya baru saja selesai mandi.
"Paijo itu siapa sayang?"
__ADS_1
"Tukang Bakso keliling."
"Hah???" Dion langsung saja menyentil pelan kening Kia.
"Nakal!!" Seru Dion yang malah mengusel di curug leher Kia.
"Basah ih jorok! Keringin dulu rambut kamu, Dion. Nanti bisa masuk angin. Jam berapa sekarang pakai acara mandi? Omel Kia saat merasakan rambut Dion masih sangat basah.
"Jam delapan malam." Bohong Dion yang kini kembali bersembunyi di bagian tubuh Kia yang lain yaitu di bagian dada Kia.
"Bohong! Kamu aja tadi pergi jam sembilan," protes Kia yang mau bangun dari ranjang, namun dicegah oleh Dion.
"Mau kemana?" Tana Dion saat menahan tubuh Kia yang ingin bangun.
"Mau lihat jam-lah, emang mau ngapain?"
"Gak usah liat-liat, yang penting aku sudah pulang."
"Issshh... No-no Dion, kamu tadi izin sama aku cuma sebentar." Tolak Kia yang tetap berusaha bangun dan menyingkirkan kepala Dion yang terus menempel di bagian dadanya. Hanya menempel tanpa melakukan apapun ya.
Kia menyalakan lampu yang ada di samping ranjang tidurnya dan manik matanya kini menatap lurus ke jam dinding yang letaknya tak jauh dari figura foto pernikahannya yang terpauanh di dinding kamar mereka.
"Jam sebelas, oh gak lama. Kamu tepat janji. Bagus-bagus." Ucap Kia yang kembali mematikan lampu kamar, namun malah turun dari ranjang tanpa menutupi bagian tubuhnya.
Kia berjalan berlenggak-lenggok mencari handuk yang selalu dilempar sembarangan oleh Dion yang suka bersikap seenaknya. Manik mata Dion terus mengikuti kemana arah Kia berjalan.
"Handuk,"
"Di sini handuknya, aku bekum melepaskannya." Jawab Dion yang menunjukkan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
"Hah, kok ga bilang sih?" Tanya Kia yang langsung berlari dan kembali naik ke atas ranjang.
"Kau gak nanya sayang. Lagian kamu aneh nyari handuk kok lampunya di matiin."
"Sengaja biar kamu gak lihat jelas tubuh aku."
"Cih, jangan bilag kamu malu. Aku sudah kihat semuanya sayang, bahkan menikmati semuanya."
"Tutup mulutmu Dion, kamu mesum."
"Ya aku sangat mesum, dan selalu menginginkan mu." Ucap Dion yang menarik tubuh mungil Kia dengan satu tangannya ke atas pangkuannya.
Dengan gerakan cepat Dion juga menarik handuk yang melilit di pinggangnya.
Srekkk!
__ADS_1
Handuk terlepas. Sesuatu yang menengang di bawah sana kini terbebaskan.
Hap!
Handuk yang ingin terlempar jauh berhasil di tangkap oleh Kia.
Kia langsung mengeringkan rambut Dion yang sangat basah dengan handuk yang ia tangkap.
Dalam sekali hentakan Dion menekan pinggul Kia untuk duduk di atas miliknya.
Slepp!!
Milik Dion masuk sempurna ke dalam lubang surgawi Kia.
"Mmmphhhh...." Lenguh panjang Kia.
Terasa sesak dan penuh di bawah sana. Milik Dion lebih besar dan panjang dari milik Aldo. Jadi wajar saja Kia merasakan kesakitan. Seperti terkoyak-koyak di bawah sana.
"Satu ronde dulu sebelum kita tidur. Aku ingin kamu yang memimpin permainan kita kali ini, baby girl."
"Aku gak bisa, Dion." Tolak Kia yang tak biasa dan tidak terbiasa dengan posisi ini. Selama bersama Aldo, Kia melakukan dengan terpaksa dan tidak pernah banyak gaya.
Dion mengambil ponselnya dan memutar sebuah lagu yang sangat cocok untuk menemani penyatuan mereka.
"Aku akan membantumu,menarilah di atas pangkuanku. Ikutilah irama lagu ini. Aku yakin kau akan menikmatinya sayang." Ucap Dion.
Ia menarik tengkuk Kia dan mendaratkan ciuman di bibir ranum milik sang istri. Kecupan yang awalnya lembut kini berubah menjadi brutal.
"Go, baby gils!"
Dion membantu Kia bergerak di atas pangkuannya. Kia mulai bisa mengikuti dan mengimbangi.
"I'm flying, Dion mmmmpph...." Ucap Kia yang merasakan sensasi berbeda.
"Let' go Baby, lebih cepat!" Pinta Dion yang makin membuat Kia bersemangat menari-nari di atas pangkuannya.
Nafas Kia makin memburu dan semakin memburu ketika ia merasakan ada sesuatu yang ingin meledak di bawah sana.
"Dion....!"
"Wait, baby! Faster... Faster....!"
Kia makin menggila di atas pangkuan Dion. Hingga akhirnya ia ambruk memeluk tubuh suaminya dan mengigit gemas bahu Dion. Dion mengerang menahan sakit gigitan Kia. Ya. Kia selalu menggigit Dion dikala mereka selesai melakukan penyatuan.
"You like it?"
__ADS_1
"Hemmm."