Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 20


__ADS_3

"Tak akan aku biarkan dirimu mengambil wanita yang aku cintai, Arka. Kini Kia milikku, hanya milikku. Aku tak pernah merebutnya dari mu, dan aku tak pernah tahu jika wanita yang selama ini kau cintai adalah Kia." Gumam Dion saat menatap Arka yang juga berdiri di dinding kaca ruang kerjanya.


Entah mengapa melihat Dion, hati Arka tiba-tiba merasa tertusuk sembilu. Begitu sakit hingga ia merasa sesak di dada. Arka menghela nafas panjang demi menghilangkan kesedihan mendalam yang datang secara tiba-tiba. Ia juga menggerakkan tangan kanannya mengusap bagian dadanya berulang-ulang.


"Jika di masa kecil aku selalu mengalah padamu, tapi tidak dengan sekarang Arka. Aku tidak akan mengalah walaupun bisnis dan pertemanan kita jadi taruhannya." Gumam Dion lagi yang kemudian meninggalkan dinding kaca jendela besar itu.


Ya. Dion dan Arka dulunya adalah teman di masa kecil. Mendiang kedua orang tua mereka saling bersahabat baik. Hingga akhirnya mendirikan gedung perusahaan yang saling berdekatan.


Meski mendingan kedua orang tua mereka saling bersahabat baik, tapi tidak dengan Arka dan Dion. Keduanya tidak memiliki kecocokan. Arka yang terlalu menggunakan perasaannya dimasa kecil mereka, membuat Dion selalu dituntut untuk mengalah oleh kedua mendiang orang tuanya demi menjaga tali persahabatan mendiang kedua orang tua mereka.


Dion menarik diri dari Arka dan juga Tomo yang merupakan sepupu Arka. Pergaulan Dion sangat berbeda dengan pergaulan Arka dan juga Tomo.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena persaingan bisnis. Dion hidup di dua dunia, salah satu dunia yang membuat Dion menjadi pria yang sangat tangguh dan tak terkalahkan adalah dunianya yang penuh dengan kegelapan dan kegemerlapan dunia malam.


Setelah kedua orang tuanya meninggal, Dion mencari kekuatannya sendiri untuk membalas orang-orang yang telah membuat nyawa kedua orang tuanya melayang.


Hari ini Dion melewati harinya dengan tak bersemangat. Dion harus menahan rasa kesal dan marahnya terhadap Tuan Bramantyo yang sudah mengambil wanita yang dicintainya, dengan alasan demi kebaikan Kia.


Tepat pukul 05.00 sore, Dion sudah kembali ke mansionnya. Ia berjalan begitu gontai memasuki mantion-nya. Langkah kaki Dion tiba-tiba terhenti. Ketika ia melihat Tania masih ada di mansionnya.


"Dion. Kau baru pulang? Di mana Kia? Mengapa ia tidak ikut pulang bersamamu? Maafkan aku. Aku sudah berusaha membujuknya untuk tetap mengikuti pelajaran bersamaku. Namun Ia tetap menolak. Bahkan Pak Catur membelanya dan mengusirku untuk pulang," ucap Tania yang langsung mengadu pada Dion yang baru saja pulang, tanpa mengetahui suasana hati Dion yang sedang tidak baik-baik saja karena dipisahkan oleh Tuan Bramantyo dari Kia.


Dion mengepalkan kedua buku tangannya, mengeraskan rahangnya dan menatap tajam Tania yang berdiri di depannya.


"Kau. Ya kaulah Tania... Yang membuatku kehilangan Kia hari ini. Apa yang kau bicarakan pada Kia? Hingga ia mendatangiku ke perusahaan dan berujung aku kehilangannya. Karena kau dia tak lagi tinggal bersamaku. Kau! Ya kaulah penyebab Aku kehilangan Kia." Ucap Dion dengan jemari telunjuknya terus menunjuk-nunjuk wajah Tania. Jangan lupakan ekspresi marah Dion yang sangat menakutkan saat ini.

__ADS_1


Tania seketika merasa takut dengan sosok Dion, yang berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Tania bringsut, ia terus memundurkan langkah kakinya, hingga tubuhnya terbentur oleh dinding ruangan tamu di mana ia menunggu kehadiran Dion selama berjam-jam hari ini.


Maksud hati ingin mencari simpati, empati dan perhatian dari Dion. Namun ia kini malah mendapat amukan dan amarah dari Dion.


Dion menarik tubuh Tania masuk ke dalam kamar yang biasa ia gunakan untuk bersenang-senang bersama wanita yang selalu ia bawa di malam hari.


Dion mengikat kedua tangan Tania dengan ikat pinggang miliknya. Yang ia lepas dari celana yang ia kenakan.


"Di-Dion kenapa kamu mengikatku seperti ini?" Tanya Tania ketakutan.


Bukannya mendapatkan jawaban, Tania malah mendapatkan tatapan menyeringai dari Dion.


"Kau ingin aku menyentuhmu? Kau ingin aku memuaskanmu bukan? Kau akan mendapatkannya sekarang Tania. Tanpa harus memohonnya lagi pada ku." Ucap Dion saat ia melepaskan baju yang dikenakan Tania satu persatu, hingga tersisa pakaian dalamnya saja.


Tenia tersenyum mendengar ucapan Dion. Ia merasa akhirnya usahanya ini berhasil, untuk memikat Dion yang merupakan pria muda, tampan, mapan dan cukup berpengaruh di negara ini. Sosok Dion adalah sosok yang selalu menjadi impian hampir seluruh wanita di muka bumi ini.


"Let's play Tania! Ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi mu, dan tak dapat kau lupakan seumur hidup mu." Ucap Dion sambil tersenyum menakutkan.


"Ternyata tubuhmu ini cukup indah Tania. Kenapa kau tidak menjajakan dirimu di klub malam saja. Aku yakin kau akan mendapatkan banyak pria seperti diriku di sana." Puji Dion yang kemudian menjatuhkan harga diri Tania sebagai seorang wanita.


Dion mulai meraba seluruh lekuk tubuh Tania dari ujung kaki hingga ujung kepala, tanpa perduli dengan perasaan Tania saat ini. Tangan kekar Dion berhenti mengeksplor saat berada di bagian bukit kembar yang menyembul milik Tania.


Tania menggelinjang merasakan geli yang teramat sangat ketika mendapatkan sentuhan lembut dari jemari Dion dibagian pucuk bukit kembarnya yang membuatnya tak hanya berdesir namun juga bergairah.


Nafas Tania turun naik, ekspresi wajahnya menginginkan sentuhan lebih dari Dion. Bahkan ia berharap Dion menyesap miliknya, seperti pria-pria lain yang pernah menidurinya.

__ADS_1


"Aku yakin ini bukan kali pertama Kau bermain dengan seorang pria bukan? Entah sudah berapa puluh laki-laki yang sudah menyentuhmu, Tania. Kau ini terlalu percaya diri sekali, Apa menurut mu aku akan memuaskanmu?" Ucap Dion sembari melirik Tania dengan penuh kebencian.


Tania sedikit membelalakkan matanya, ketika ia mendapatkan tatapan penuh kebencian dari Dion. Bukan tatapan penuh gairah yang ia dambakan dari wajah Dion.


"Dion, ada apa denganmu kenapa kau berubah? Kata-katamu sejak tadi sangat menyakitkan hatiku dan tatapanmu sangat menakutkan ku." Gumam Tania di dalam hatinya.


Tak ada kecupan dari bibir Dion yang Tania dapatkan, hanya sebuah gerakan liar tangan Dion yang Tania dapatkan. Meski hanya sebuah gerakan tangan tapi sudah mampu membuat Tania mengelijang dan hampir membuat Tania berkali-kali mendapatkan pelepasannya. Namun saat ia sudah berada di penghujung. Dion menghentikan gerakan tangannya.


Tania terus menatap Dion dengan tatapan memohon dan menjerit terpendam memanggil nama Dion. Ya, Tania terus seperti ini, memohon agar Dion menyelesaikan permainannya. Tania sangat ingin mencapai puncak pelepasannya walau hanya dengan gerakkan tangan liar Dion.


Namun sayang bukannya mendapatkan puncak pelepasannya. Tania malah ditodongkan sebuah pistol oleh Dion.


"Aku tidak suka orang yang berbohong membawa namaku, kapan aku pernah mengatakan aku mencintaimu Tania hum? KAPAN??"


Tania membulatkan matanya, terkejut dan ketakutan. Saat pria yang sangat ia cintai menodongkan pistol padanya. Sungguh nyawa Tania saat ini sedang diujung tanduk.


"Kia bukan adik kandungku, tapi dia calon istriku. Dan karena kau, aku harus berpisah dengannya. Kau sudah menjadi duri dalam hubungan ku dengan Kia, Tania. KAU DURIIIII TANIAAAA!!!


Deg!


Tania terkejut dengan apa yang ia dengar. Tak berapa lama dari rasa terkejut yang ia rasakan. Tania mendengar suara letupan senjata Dion yang memuntahkan pelurunya.


Blep...Blep...Blep


Tania merasakan panas dan sakit dibagian bawah perut dan kedua dadanya, sebelum ia benar-benar kehilangan nyawanya.

__ADS_1


"Bereskan dia Pak Catur!" Perintah Dion saat sudah menghabisi Tania.


__ADS_2