![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Apa sudah bisa kita mulai?" Tanya Pak penghulu pada Arka dan Sisil yang masih mencari sosok Kia.
Keduanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Pak penghulu, bukan karena mereka ingin mengabaikan pertanyaan dari Pak Penghulu, tapi karena memang mereka tak mendengarnya, saking fokusnya mencari sosok Kia.
Melihat keduanya masih sibuk dengan sesuatu yang sedang mereka cari yang entah apa itu, menurut Kamal, ayah dari Sisil yang tak tahu jika putrinya hanya akan menikah di atas kertas dengan Arka. Langsung saja menegur calon menantunya dan juga putrinya.
"Arka! Silsil!" Pekik Kamal.
Keduanya seketika menoleh ke arah Kamal, yang sudah membulatkan kedua matanya. Bagaimana tida membulatkan kedua matanya, hampir seluruh tamu undangan mulai berbisik dan berkasak-kusuk secara terang-terangan, melihat keanehan calon pengantin di depan mereka.
"Ada apa?" Tanya Arka dengan polosnya.
Kamal tertunduk lemas dengan pertanyaannya Arka.
"Pak Arka, mohon maaf. Apa sudah bisa kita mulai ijab kabulnya sekarang?" Tanya Pak Penghulu.
Arka terdiam sejenak. Kembali hati Arka mencelos, sesak sekali dadanya. Harus mengucapkan ijab kabul bukan untuk wanita yang ia cintai.
"Arka!" Panggil Tante Widya dengan suara oelan namun masih dapat didengar Arka.
Arka menoleh dan mendapati tatapan sendu dari Tante Widya. Semvari menatap manik mata Tante Widya yang terlihat sedih. Arka terpaksa mengiyakan pertanyaan Pak penghulu padanya.
Hari ini Arka mengumandangkan ijab kabul dengan nama Sisil yang terdengar sangat merdu ketika diucapkan olehnya.
"Seharusnya bukan dia yang duduk di samping Mas Arka, tapi aku. Seharusnya bukan dia yang didandani secantik itu hingga membuat semua tamu undangan memandang takjub, setiap kali bertatap muka dengannya, tapi aku. Mas Arka seharusnya akulah yang menjadi istrimu, pendamping hidupmu. Kenapa takdir begitu kejam memisahkan kita. Sudah terbayang olehku bagaimana hidupku nanti tanpa dirimu," ucap Kia di dalam hatinya, sembari mereemas lengan Dion yang ia peluk dengan sangat erat.
Tak hanya memeluk, tapi Kia menangis di lengan kekar milik Dion.
"Menangislah sepuasnya Baby, tumpahkan seluruh kesedihanmu, akan aku ganti tangismu ini jadi tawa kebahagiaan." Ucap Dion sembari melirik Kia.
"Kamu jahat Dion, kamu sengaja membuatku sesakit ini. Aku tak sanggup Dion. Bawa aku pergi. Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak mau melihatnya." Pinta Kia, menatap Dion dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Tunggu Kia, pesta belum di mulai." Tolak Dion seakan meledek Kia dengan senyum tipisnya.
"Dion, jangan main-main dengan perasaannku. Aku tak berani melawan Aldo karena Aldo selalu mengancam ku, akan membunuh kedua pembantuku. Dan kau... Aku hanya berhutang uang pada mu."
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan Baby Girls?" Tanya Dion.
Dion melepaskan pelukan erat Kia pada lengannya. Dion membalikkan sedikit tubuhnya agar dapat memandang wajah Kia lebih dekat. Ia tatap mata Kia yang tergambar jelas kemarahan pada dirinya.
Dengan gerakkan cepat Kia mengambil pisau belati yang biasa Dion bawa di bagian belakang pinggangnya.
Srekk!
Lagi-lagi Kia mengulang apa yang pernah ia lakukan saat ia dipaksa menikah dengan Aldo.
"Apa yang kau lakukan Kia?" Pekik Dion yang seketika menjadi pusat perhatian semua orang termasuk Arka.
Arka langsung berdiri dan terus berusaha melihat, apa yang terjadi dibalik kerumunan para undangan yang menutupi dirinya untuk melihat keberadaan Kia dan Dion.
"Mati, menyusul kedua orang tuaku. Aku sudah tidak sanggup Dion, dunia ini terlalu kejam untuk aku yang terlalu kerdil di mata kalian." Jawab Kia dengan bibir gemetar.
"I'm sorry, don't leave me, Baby!"
Dion segera menggendong Kia dan membawanya keluar dari ballroom hotel berbintang ini. Saat Dion mengangkat tubuh Kia ke dalam gendongan Dion, masker Kia terlepas dari wajahnya.
Wajah yang Kia tutupi kini terbuka sudah, tak hanya orang lain yang dapat mekihat sosok Kia yang telah kembali, tapi juga Arka yang dapat melihat jelas wajah Kia. Manik mata keduanya saling bertemu. Sebelum pada akhirnya Kia menutup matanya.
"KIA!!!" Pekik Arka.
Tamu undangan dibuat terkejut dengan teriakan Arka yang memanggil nama wanita lain di depan Sisil yang baru saja ia nikahi.
Tanpa berpikir panjang Arka langsung berlari mengejar pria yang membawa Kia pergi. Ia meninggalkan Sisil begitu saja.
__ADS_1
Arka berusaha membelah kerumunan yang menghalangi jalannya mengejar langkah Dion yang membawa Kia dengan berlari cepat, demi menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Langkah kaki Arka terhenti saat ia menginjak genangan darah Kia yang belum meresap sempurna ke dalam karpet permadani ballroom.
"TIDAKKKKK!!!" Pekik Arka kembali. Ketika ia menyadari jika genangan cairan yag ia injak adalah darah.
Arka merasa kakinya tak lagi bertulang. Ia tak mampu mengejar langkah Dion. Ia malah jatuh terduduk di atas genangan darah Kia.
"Aaaaa..... Tidak Kia!" Pekik Arka lagi yang malah menyentuh genangan darah Kia dengan kedua tangannya, dan melumuri wajahnya dengan darah Kia.
"Maafkan aku!" Pekik Arka lagi.
Acara pernikahan Arka dan Sisil menjadi kacau balau. Saat ini tamu undangan diminta untuk meninggalkan ballroom, meski rangkaian pesta pernikahan mereka, belum saja dimulai.
Arka tak berhenti menangis pilu masih di tempat yang sama, dimana genangan darah Kia sudah menyerap sempurna di karpet permadani ballroom hotel.
Tak hanya Arka yang menangis pilu, begitu pula dengan Tante Widya. Segela rasa berkecamuk di dalam hatinya melihat kejadian ini dan juga melihat keponakannya sesedih ini.
"Maafkan Tante Arka," ucap Tante Widya yang memeluk tubuh Arka yang terus terguncang karena tangisnya yang tak kunjung reda.
"Aku sudah katakan pada Tante, dia masih hidup. Kenapa Tante tidak percaya dan terus memaksa aku menikah dengan Sisil? Apa menghilangnya Kia, ada kaitannya dengan tante?" Balas Arka dengan segala tuduhannya pada Tante Widya.
Tante Widya terus menggelengkan kepalanya. "Tidak Arka, Tante tidak sejahat itu. Tante hanya ingin kamu bahagia dengan membuka hatimu untuk wanita lain."
"Itu tak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun. Aku tak akan membuka hatiku untuk orang lain." Balas Arka.
Arka berusaha mengumpulkan tenaganya untuk kembali bangkit berdiri. Dengan wajah berlumuran darah. Arka meminta seorang karyawan hotel untuk membawanya keruang CCTV.
"Si4l, siapa dibalik semua ini." Umpat Arka saat dirinya tak mendapati rekaman CCTV disaat kejadian di ruang pesta pernikahannya.
Wajah Dion dan Kia sudah terhapus dengan sempurna dari rekaman CCTV. Jangan tanya bagaimana Dion melakukannya. Itu adalah hal mudah bagi Dion.
__ADS_1
Sementara itu, Kia yang sudah tak sadarkan diri, tidak dibawa oleh Dion ke rumah sakit. Melainkan kembali ke mansionnya.
Kedatangannya sudah ditunggu oleh seorang dokter dan beberapa tim medis yang akan membantunya menyelamatkan nyawa Kia.