![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Sementara itu di kediaman Dira. Tomo tengah berjuang mempertahankan hubungannya dengan Dira.
Ia menunggu berjam-jam Dira di depan pintu pagar rumahnya. Ia tahu kekasihnya ini tengah pergi bersenang-senang dengan kedua sahabatnya dan juga suami sahabatnya yang merupakan kawan lamanya.
Kini Dira dan Tomo berada di dalam mobil. Mereka terdiam sejak tadi, tanpa ada satupun diantara mereka membuka percakapan.
Suasana canggung tercipta di mobil karena Tomo sulit sekali mengakui kesalahannya pada Dira. Sedangkan Dira malas untuk membahas sesuatu yang menyakiti hatinya.
Dia mau ngapain sih? Diem aja kaya gini. Dah kaya orang benar aja.
Dira mendengus kesal karena jenuh.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang. Aku sudah lelah dan ingin istirahat." Ucap Dira yang hendak keluar dari mobil.
"Jangan pergi dan tinggalkan aku, Dira!" Cegah Tomo yang langsung memeluk tubuh Dira dari belakang.
Dari tadi kek, meluknya. Giliran ditinggal pergi baru meluk-meluk dasar cowok muna.
"Aku lelah, aku ingin istirahat. Lepaskan pelukanmu!" Ucap Dira dingin dan terus mencoba melepaskan tangan Tomo yang memeluk dirinya.
Sombong dikitlah. Sok jual mahal penting, biar tahu sedalam apa cinta dia sama gue.
"Tidak, aku tak ingin melepaskan mu. Tolong maafkan aku, Aku tak bisa hidup tanpamu karena aku sangat mencintaimu Dira, muridku yang paling cantik, cetar dan membahana." Balas Tomo yang kini menitikkan air mata di belakang tubuh Dira.
Cih, kalau udah kaya gini muji-muji. Biasanya juga ngomel mulu. Nasib punya pacar tuwir ya kaya gini.
Sungguh Tomo sangat takut kehilangan matahari di kehidupannya. Ya. Dira adalah matahari bagi kehidupan Tomo.
Dira adalah sosok wanita ceria yang selalu mewarnai hari-harinya yang penuh penat dan kesibukan.
Saat ini Dira ikut menitikan air mata, karena mendengar Tomo menangis sesenggukan karena takut kehilangan Dira. Sungguh Dira juga sangat mencintai Tomo. Tak terpikirkan bagaimana jadinya, jika dirinya tanpa Tomo.
Kok gue jadi ikut mewek, sedih amat sih dia. Ikut melau 'kan gue.
Meskipun kedua orang tua Dira masih ada, namun kedua orang tuanya sangat jarang ada di rumah. Ibunya yang seorang Dokter lebih banyak menghabiskan waktu bersama pasien-pasiennya dari pada dirinya.
Sedangkan Ayahnya yang seorang anggota aparatur negara, tengah menjalani dinasnya di luar pulau. Entah dimana keberadaan Ayahnya kini. Dira tidak pernah tahu, ia hanya tahu, keduanya masih rutin mengirimkan uang jajan yang tak seberapa dibandingkan Kia apalagi Nadia
"Aku kalut, aku kecewa padamu karena kamu tidak mau terbuka padaku. Aku tidak mau hubungan kita terpengaruh karena hubungan mereka yang sudah berakhir." Ucap Tomo lagi yang makin mempererat pelukannya.
Hadeh, Biji mana pikiran mu Yayang? Dia-dia kita-kita. Gak peka juga gue marah itu karena dia ngomel-ngomel nyalahin gue demi belain sepupu gak ada akhlak.
"Lepaskan! Aku sulit bernapas bodoh! Siapa pula yang ingin hubungan kita berakhir. Jangan mikir kejauhan." Balas Dira sembari mencubiti tangan Tomo yang memeluknya.
"Aku memang bodoh terlalu mencintaimu, murid nakal!" Sahut Tomo yang akhirnya melepaskan pelukannya pada Dira.
Keduanya tersenyum saling memandang satu sama lain.
"Kalau kamu bilang aku murid nakal, berarti kamu yang mengajari aku nakal. Soalnya murid itu bagaimana gurunya." Balas Dira yang kini menghapus air mata yang sempat jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ya memang aku yang mengajarimu nakal, memang siapa lagi? Katakan kau habis bersenang-senang kemana bersama mereka?" Tanya Tomo yang kini kembali duduk santai di kursinya.
Yah, mulai kepo nih!
"Ke Mall, belanja, makan dan nonton. Suami Kia mentraktir aku dan Nadia." Jawab Dira sembari menunjuk barisan paper bag yang cukup banyak di pagar rumahnya.
"Banyak juga. Apa Kia, ikut berbelanja seperti mu?" Tanya Tomo yang sedikit mengulik tentang Kia.
Jika Kia ikut bersenang-senang dengan gelimangan harta Dion. Fix, Kia hanya mengicar harta Dion.
Pikir buruk mengenai Kia muncul di otak Tomo.
"Tidak, dia masih seperti dahulu. Tidak suka belanja. Kia yang sekarang suka sekali tidur. Sewaktu kami berbelanja dia malah asyik tidur di mobil. Ia hanya keluar dari mobil untuk makan dan nonton. Belum selesai nonton Kia juga sudah keluar dari bioskop dan aku kembali menemukan dia sudah tidur dipangkuan Dion. Di mansion Dion juga seperti itu. Dia tidur dimana pun, seperti orang yang diberi obat tidur oleh Dion " Jawab Dira apa adanya.
Suka tidur? Apa sebenarnya dia sakit?
Kini Tomo malah berpikir Kia sedang sakit.
"Apa sebelum menikah, Kia seperti itu juga?" Tanya Tomo lagi.
"Tidak, sebelum menikah aku sering melihat Kia berdebat. Kia selalu disuruh belajar dan belajar di ruang belajar. Aku dan Nadia sering diusir oleh Dion, karena tidak boleh menganggu Kia belajar." Jawab Dira membuat Tomo berpikir keras kenapa Kia berubah menjadi putri tidur sekarang.
Perhatian sekali ternyata Dion, jauh berbeda dengan Arka yang malah sering mengganggu waktu belajarnya, saat Kia masih tinggal di rumahku.
Saat Tomo berpikir keras tentang Kia. Dira malah marauk wajah Tomo.
"Kenapa pula kamu memikirkan istri orang, bukannya mikirin aku?" tanya Dira cemburu.
"Oh, iya-ya. Maaf. Aku cuma membandingkan sikap Dion dan Arka pada Kia." Jawab Tomo yang baru menyadarinya.
"Mereka berbeda memperlakukan Kia. Aku lebih melihat Kia lebih hidup bersama Dion daripada Pak Arka." tambah Dira.
Benarkah? Pantaslah jika Kia memilih Dion. Semoga hubungan mereka tetap harmonis.
Kini keduanya saling memandangi satu sama lain. Tomo mulai menggenggam kedua tangan Dira dan menciumi punggung tangan kekasihnya ini.
"Tolong jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu Dira," ungkap Tomo kembali memohon agar Dira tak meninggalkannya seperti Kia telah meninggal Arka.
"Hemm, aku tak akan meninggalkan mu jika kamu setia padaku dan ibumu tidak menjodohkan mu seperti Pak Arka dan Sisil." Sahut Dira yang dengar ketusm
"Tidak akan. Mommy tak akan melakukan itu padaku. Sebenarnya maksud Mommy ku baik. Hanya saja salah karena terlalu terburu-buru." Balas Tomo sedikit membela Ibunya.
Bela saja Mommy itu Malih. Mau salah mau benar. Mommy mu itu akan menjadi maha paling benar. Awas saja kalau sampai nasibku sama seperti Kia. Akan ku bedil kau dengan sejata Ayahku.
"Iya-ya. Aku paham. Sekarang aku mau istirahat. Besok aku masih harus sekolah." Jawab Dira yang ingin segera istirahat.
Di tempat yang berbeda, di Mansion Dion.
Setelah Dion memindahkan tubuh istrinya yang tertidur dari mobil ke kamar. Kini ia berada di ruang kerjanya bersama dengan Nadia dan juga Chriss.
__ADS_1
"Kau mencintai adikku Chriss?" Tanya Dion yang menatap serius wajah Chriss yang nampak takut dengan pertanyaannya yang harus ia jawab kini.
"I-iya." Jawab Chris sedikit terbata.
"Dan kau anak kecil, apa kau mencintai asisten ku ini?" Tanya Dion dengan tatapan yang sama.
"Iya kak." Jawab Nadia yang langsung menundukkan kepalanya.
"Jadi kalian rupanya saling mencintai ya?" Ucap Dion sembari mengirim rekaman pengakuan cinta dari keduanya pada Tuan Bramantyo.
"Iya Tuan." Jawab Chriss.
"Sepertinya kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan di bioskop tadi dengan adikku, Chriss. Jangan kau pikir aku tidak tahu!" Dion berdiri dan berjalan menghampiri Chriss.
"Tuan maaf, tadi kami terbawa suasana. Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi hingga kami sah nanti." Jawab Chriss yang masih berusaha menahan rasa takutnya akan apa yang dilakukan Dion dalam waktu beberapa menit ke depan.
"Terlambat Chriss. Kata maaf mu tak akan membuatmu mengembalikan ciuman pertama yang kau renggut dari Adik yang selalu aku jaga." Ucap Dion yang terlihat begitu mengerikan.
Kia, bangunlah! Bawa suami mesum ini pergi. Jangan sampai dia mencincang ataupun merobek-robek bibir Arjuna ku.
Nadia terus berdoa di dalam hati, mengharapkan Kia datang sebagai dewi penyelamatnya.
"Kak Dion, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Nadia yang sudah sangat takut ketika tangan Dion masuk kedalam saku celananya dan satu tangannya lagi sudah mencengkram kerah baju Chriss.
Brakk! Pintu ruang kerja Dion terbuka.
Nampak Kia, dengan mata merahnya muncul dari balik pintu.
"Hubby!" Pekik Kia memanggil suaminya.
Selamat-selamat, terimakasih Tuhan, sudah mendatangkan dewi penyelamat untuk ku dan Chris.
Nadia bernafas lega saat melihat sosok Kia yang berdiri di muka pintu.
Dion sama sekali tak menjawab panggilan Kia, ia masih saja mencengkram kerah baju Dion.
Kia yang mendapati tatapan minta tolong dari Nadia langsung saja mendekati Dion. Kia langsung saja menarik tangan Dion dari kerah kemeja yang dikenakan Chriss.
"Kenapa kau meninggalkanku tidur sendiri dikamar Hubby?" Tanya Kia sembari mengalungkan kedua lengannya di leher Dion.
Ia terus menendang Chriss, menyuruhnya untuk pergi namun Chriss tidak peka dengan kode yang diberikan oleh Kia.
Ia malah menerima dengan senang hati tendangan maut dari istri Tuannya ini.
"Ke kamar yuk!" Ajak Kia namun di tolak oleh Dion.
"Aku masih ada urusan sebentar, kamu kembalilah ke kamar terlebih dahulu!" Tolak Dion yang mencoba melepas pelukan Kia namun tidak berhasil karena Kia makin erat memeluk Dion.
"Urusan apa? Aku akan tetap di sini bersama mu, Hubby."
__ADS_1