![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Dira, main yuk?" Pekik Nadia dan Kia di depan pintu pagar rumah Dira.
"Gunakan bell, ini bukan hutan." Oceh Dion yang bersandar di cap mobil mewahnya.
Ia terus menggelengkan kepala melihat kelakuan adik sepupu dan juga istrinya yang sama sekali tak menggubris kata-katanya.
Dira yang tertidur setelah pulang sekolah tadi, langsung saja terbangun dari tidurnya. Mendengar suara berisik dari teriakan Kia dan juga Nadia.
"Dira main yuk!" Pekik Kia dan Nadia tanpa henti.
"Baby, gunakan bell. Bisa kan?" Saran Dion lagi.
Namun lagi-lagi saran Dion sama sekali tidak didengarkan oleh Kia yang lebih tahu kondisi rumah Dira. Kesal terus saja tidak didengarkan sarannya. Dion akhirnya menghampiri pagar rumah Dira. Ia menekan tombol bell yang seketika membuat ia sedikit terkejut dan refleks melepas bell tersebut, sebelum aliran listrik membuat rambutnya jigrak.
"Enak gak kak? Efek kejut berrrr..." Ledek Nadia pada Dion yang diam memucat.
"Hubby, hei. Kok diem aja?" Kia terlihat khawatir melihat Dion diam tak bergeming.
Kia menggoncangkan tubuh suaminya dan menepuk-nepuk pipi suaminya agar mengatakan sesuatu. Ia juga mendekatkan telinganya ke dada suaminya, guna memastikan jantung suami itu memang masih tetap berdetak.
"Chriss!" Pekik Dion yang memanggil kaki tangannya itu.
"Ya Tuan, belikan bell rumah model baru untuk rumah Dira ini! Aku tidak mau mendengar istriku teriak-teriak seperti di hutan dan aku kesetrum karena menekan tombol bell si4lan ini." Perintah Dion yang mengomel demi menahan rasa malunya.
Baik Kia dan Nadia sama-sama diam sembari menahan tawanya, melihat ekspresi Dion yang baru pertama kali di dalam hidupnya merasakan kesetrum.
Tak lama dari Dion mengomel Dira pun keluar dari dalam rumahnya dengan wajah bantalnya.
"Mau ngapain ke sini? Gue lagi gak pengen nerima tamu." Jawab Dira ketus.
Rupanya Dira benar-benar sedang galau dan ingin menyendiri. Sampai-sampai kedatangan kedua sahabatnya pun ia tak terima.
"Dir, gue gak mau bertamu ke rumah lo. Gue cuma mau ngajakin lo ngerampok uang suami gue. Mau ikut gak?" Balas Kia dengan kalimat ajakannya yang berhasil membuat mata Dion membulat sempurna.
Apa istriku bilang? Dia berniat merampok uangku? Hahaha... Silahkan saja. Rampok lah sepuas mu, Bab. Karena aku akan meminta pertanggung jawaban mu nanti malam.
Dion tersenyum menyeringai. Begitu pula dengan Chriss yang tahu isi di kepala Dion saat ini seperti apa.
Sementara Dira nampak diam dan berpikir sejenak lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun dan menutup pintu rumahnya.
Kia dan Nadia yang tahu apa yang dilakukan Dira saat ini, langsung saja mengajak Dion dan juga Chriss masuk ke dalam mobil VW Caravelle yang dikemudikan Mail hari ini.
__ADS_1
"Loh, Diranya mana? Kenapa kita masuk ke mobil?" Tanya Dion pada Kia dan juga Nadia.
"Ganti baju." Jawab Kia.
"Lebih tepatnya menghapus pulau iler dengan dempulan bedak dan blash on," tambah Nadia yang seperti menceritakan dirinya sendiri.
Ia tertawa sambil menutupi mulutnya.
"Cih, jorok sekali." Umpat Dion yang terlihat jijik.
"Dulu aku gitu juga loh Hubby." Aku Kia yang hidupnya jauh lebih baik setelah bertemu dengan Dion yang super bersih dan apik.
"Oh, ya?"
"Huum, bahkan aku hanya mandi satu kali sehari dan itu sore hari saja. Berangkat sekolah aku jarang mandi."
"Apa?" Dion terlihat sangat shock mendengar pengakuan istrinya. Ia terus menggelengkan kepalanya, tak percaya istrinya yang cantik ternyata sangat jorok.
"Tapi aku cantik dan wangi 'kan hubby?"
"Huum, sekarang iya, kalau dulu mana aku tahu." Jawab Dion yang terus menggelengkan kepalanya.
Tak habis pikir dengan tingkah jorok ketiga gadis cantik yang salah satunya adalah istrinya sendiri.
Dira mengetuk kaca pintu mobil mereka. Mail membukakan pintu untuk Dira masuk ke dalam mobil.
Dion mengendus-endus mencium aroma parfum lavender yang Dira gunakan.
"Hei, Dira berapa botol parfum yang kau gunakan saat ini? Wangi mu semerbak sekali." Tanya Dion dengan kejulidannya.
"Satu botol," jawab Dira singkat dengan nada bicaranya yang ketus.
Mereka pun akhirnya berangkat untuk bersenang-senang hari ini. Dira dan Nadia terus berdiskusi dan berbisik di kursi paling belakang mobil, mereka membicarakan mau membeli apa saja di mall nanti.
Sementara itu Kia yang terlihat lelah dari makam dan juga habis bermain dengan Dion terlihat asyik bermimpi indah di kursi duduknya.
Dug! [Suara kepala Kia terbentur kaca jendela mobil]
Dion segera melihat ke arah istrinya, ia baru menyadari jika istrinya tengah tertidur dengan pulas seorang diri tanpa pelukannya.
Pulas sekali tidur mu, seperti kamu sangat lelah sekali Bab. Seharusnya tidak perlu memaksakan untuk pergi jika tubuhmulelah seperti ini.
__ADS_1
Posisi kursi yang terpisah seperti ini, membuat Dion tak bisa menarik tubuh Kia ke dalam pelukannya.
Melihat Dion bingung, Nadia menyodorkan diri untuk menukar posisi. Tanpa berpikir panjang. Dion yang tadinya ingin menemani belanja sembari bekerja pun, lagi-lagi harus mengalah dan menyingkirkan pekerjaannya demi sang istri.
"Mail hentikan mobilnya! Aku ingin pindah posisi." Perintah Dion pada Mail.
Bukannya menjawab,"Baik Tuan." Seperti biasanya. Mail malah menolak berhenti dan berkata, " Maaf Tuan, kita sudah berada di halaman Mall dan sedang mencari parkir. "
Mereka pun mengurungkan niat untuk berpindah posisi.
"Gimana Kak, Kia tidur?" Tanya Nadia pada Dion.
"Kalian pergi duluan, nanti kami menyusul. Aku akan menunggu Kia sampai bangun dulu." Jawab Dion sebari memberikan kartu sakiti pada Nadia.
"Ok beres. Makasih Kak," Nadia tersenyum senang mendapatkan kartu hitam milik Dion yang akan digunakan oleh dirinya dalam setiap transaksi belanjanya nanti.
Dengan di kawal oleh beberapa Bodyguard dari radius dua meter, Nadia dan Dira masuk terlebih dahulu. Sedangkan Mail dan Chris tetap di dalam mobil yang tetap menyala demi menjaga suhu dingin di dalam mobil.
Tiga puluh menit berlalu, Kia tak kunjung bangun. Ia bertambah pulas dalam tidurnya setelah Dion menyuruh Chriss membelikan istrinya ini bantal lucu berbentuk kodok untuk menyanggah kepala istrinya agar tidak terbentur. Sementara dia tertidur, Dion malah asyik dan larut dalam pekerjaannya.
Di dalam mall lagi-lagi Sisil melihat Dira dan Nadia. Sisil mencari sosok wanita yang sangat dicintai oleh suaminya itu. Namun ia harus menelan kekecewa, karena tak menemukan sosok yang dirinya cari.
Lapar, satu alasan yang membuat Kia terbangun dari tidurnya.
"Laper," cicit Kia saat ia terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati Dion tengah memangku ipad dan terus men scroll laporan keuangan yang dikirim melalui email.
"Heem, jadi kamu bangun karena lapar?" Tanya Dion yang masih menatap layar Ipadnya.
Kia mengangguk dan melepaskan sabuk pengaman yang ia gunakan.
Ia menyingkirkan ipad yang ada di pangkuan suaminya dan kembali melakukan kebiasaannya yaitu naik ke atas pangkuan suaminya.
Dion tersenyum senang dengan kebiasaan istrinya yang satu ini.
"Aku lapar hubby," rengek Kia yang mengalungkan kedua lengannya di leher Dion.
"Kau ingin memakan ku atau ingin makan di restoran humm?" Tanya Dion yang seketika membuat Mail dan Chris kesulitan menelan salivanya.
"Aku ingin sekali memakan mu tapi aku tak memiliki tenaga, beri aku asupan tenaga dulu hubby." Jawab Kia yang malah membuat Dion tertawa.
__ADS_1
"Bangunlah ayo kita susul Nadia dan Dira! Mereka sudah menguras uangku terlebih dahulu, seperti perintah mu pada mereka untuk merampok uang ku."
Kia terdiam, ia seperti melupakan jika ia sedang pergi bersama kedua sahabatnya.