![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Kia sadar jika dirinya saat ini sedang disindir oleh Dion. Kia menundukkan pandangannya, ketika tatapan Dion kini malah terasa menghujam hatinya.
"Kak. Kakak sakit apa?" Tanya Nadia yang begitu mengkhawatirkan Dion.
"Aku.... Aku sakit hati, karena tidak dimengerti." Ucap Dion yang masih menatap Kia yang tertunduk sedih.
"Maafkan aku." Cicit Kia dengan suara yang bergetar.
Kia menggigit sudut bibirnya, menahan sesak di dada. Rasanya begitu sakit ketika Dion secara tidak langsung mengatakan, jika dirinya sakit hati karena tidak dimengerti oleh Kia.
"Aku tak butuh permintaan maaf mu." Ucap Dion yang malah beranjak dari duduknya.
Ia ingin meninggalkan mereka yang masih terduduk dan memusatkan pandangan mata mereka pada dirinya.
"Kak, apa kalian berdua sedang ada masalah?" Tanya Nadya yang berusaha menahan langkah kaki Dion yang ingin meninggalkan mereka dengan mencekal pergelangan tangan kakak sepupunya itu.
"Tidak ada, lanjutkan obrolan kalian. Aku harus pergi keluar kota sekarang, ada pekerjaan yang harus aku urus." Jawab Dion sembari mengusap lembut rambut Nadia dengan penuh kasih sayang.
"Huum... Benarkah? Kau tidak sedang menutupi sesuatu dariku bukan?" Tanya Nadia yang masih tak mengizinkan Dion pergi meninggalkan mereka.
"Tidak. Kamu jangan terlalu memikirkan ku, Nad. Belajarlah dengan benar, kau harus cepat lulus dan bantu aku mengelola bisnis keluarga kita." Jawab Dion yang berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya dan Kia.
"Oh ok. Baiklah kalau begitu. Kak, apa boleh Kia pergi bersama kami ke acara pernikahan Pak Arka?" Tanya Nadya yang berhasil membuat Dion membulatkan matanya dengan sempurna.
Dion kembali melirik Kia yang masih saja menundukkan pandangannya.
"Lihat aku Kia!" Perintah Dion pada Kia.
Kia yang tidak mau mencari masalah dengan Dion di hadapan kedua sahabatnya, langsung saja menuruti apa perintah Dion. Ia melihat Dion yang berdiri tak jauh dari dirinya. Tatapan Kia dan Dion bertemu.
__ADS_1
Dion dapat melihat mata Kia yang berkaca-kaca, ia tahu betul jika wanita yang ia cintai telah menitikan air matanya saat dia tertunduk tadi.
"Katakan pada ku dengan jujur, apa kau ingin datang ke sana?" Tanya Dion tanpa melepaskan pandangannya pada Kia.
"Jawabanmu akan menentukan sikapku padamu ke depannya." Gumam Dion saat menamti Kia menjawab pertanyaannya.
"A-aku, akan pergi jika kamu mengizinkannya." Jawab Kia.
Ekspresi wajah Dion berubah. Ia telah kecewa dengan jawaban yang ia dengar dari wanita yang ia cintai.
Kini ia harus bersiap-siap, jika Kia menghadiri pernikahan Arka, tidak menutup kemungkinan Kia akan kembali ke pelukan Arka, dan itu artinya Dion akan kehilangan Kia.
"Bullshit, kata-katamu semua omong kosong Kia. Kau bilang kau akan menyerahkan dirimu padaku dengan sukarela. Tapi apa? Kau malah mau menghadiri pernikahan pria yang sangat kau cintai. Kau pasti ingin kembali dengannya dan menggagalkan pernikahan pria itu." Gumam Dion di dalam hatinya.
"Pergilah sesuka hati mu!" Balas Dion dengan ekpresi marah dan kecewanya.
Dion lantas pergi meninggalkan mereka yang masih terduduk di sofa ruang keluarga. Nadya dan Dira menatap punggung Dion yang pergi dengan penuh tanya, pasalnya mereka dapat melihat dengan jelas wajah kecewa dan marah Dion pada Kia.
"Tidak. Tidak mungkin. Apa dia sedang bercinta bersama dengan guru gatel itu? Jika iya, ini sungguh menjijikan. Aku muak! Aku bosan mendengar suara lenguhan mereka." Ucap Kia yang merasa tak terima jika Dion bercinta dengan Tania.
Dadanya naik turun mengatur emosinya yang sedang memuncak hingga ke atas ubun-ubun, dengan segala keberanian yang tersisa Kia keluar dari kamarnya, ia berjalan dengan emosi menuju kamar yang ada di lantai dasar.
Dia menatap tajam pintu yang sengaja terbuka lebar, dimana ia dapati Tania sedang menikmati permainan lidah Dion di bagian inti miliknya.
Bibir Kia bergetar hebat melihat itu semua dan tangannya semakin terkepal kuat.
"Dion hentikan!" Pekik Kia dengan suara yang begitu keras, penuh penekanan dan sorot mata yang memerah. Hingga membuat kedua manusia yang tengah mencari kenikmatan surga dunia itu terkejut.
Dion segera menghentikan aksinya. Ia menatap Kia yang berdiri diambang pintu. Ia tersenyum tipis mengetahui Kia tengah menatapnya dengan tatapan marah.
__ADS_1
Sedangkan Tania segera menutup tubuhnya, karena merasa malu dipergoki oleh Kia, muridnya sendiri.
"Kia maaf, kami saling mencintai jadi---" ucapan Tania terhenti karena Kia memotongnya. Ia tak memberikan kesempatan pada Tania untuk meneruskan kalimatnya.
"Cinta? Kalian saling mencintai? Benarkah?" Sambung Kia tak percaya.
Kia tersenyum sinis dan menghela nafas kasarnya. Ia menatap kecewa pada Dion yang masih setia menatap dirinya. Ya Dion terus menatap Kia. Menunggu apa yang akan dilakukan Kia selanjutnya.
Dari amarah yang kini terpancar dari diri Kia saat ini, Dion sudah dapat menduga. Jika ada setitik perasaan dihati Kia untuk dirinya.
"Miss Tania, seharusnya Anda tidak melakukan hal ini pada-----," kali ini ucapan Kia terhenti dan menggantung.
Kia bingung harus menyebut Dion sebagai apa dalam hidupnya. Dion bukanlah kakaknya, juga bukan kekasihnya. Lalu ia harus menyebut apa?
Dion menarik sebelah alisnya menunggu Kia akan menyebut dirinya sebagai apa dalam hidup wanita yang sangat ia cintai itu.
Ya. Kia sudah membuat seorang casanova seperti Dion jatuh cinta dan ingin memiliki Kia seutuhnya dan selama-lamanya.
"Lupakan! Lanjutkanlah! Maaf sudah mengganggu waktu bercinta kalian." Ucap Kia yang langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan keduanya.
Namun baru beberapa langkah Kia pergi. Kia mendengar Dion meminta Tania untuk pergi.
"Pergilah Tania! Malam ini cukup sampai di sini. Aku akan menghubungi mu kembali, jika aku membutuhkan mu." Ucap Dion sembari melemparkan beberapa lembar uang yang cukup banyak ke atas ranjang dimana Tania berada.
Dion kemudian mengambil sebuah handuk yang ada di meja rias kamar itu. Ia melilitkan sebuah handuk yang memang selalu disediakan para asisten rumah tangganya di kamar yang memang di peruntukkan Dion sebagai tempat dirinya mendapatkan kenikmatan dunia.
Tak berniat menunggu respon ataupun jawaban Tania. Dion segera meninggalkan kamar itu. Saat ia keluar dari kamar, dari kegelapan muncul dua pengawal yang segera menghampiri Dion.
"Bawa dia segera keluar dari mansionku!" Perintah Dion pada kedua pengawal yang datang menghampirinya.
__ADS_1
Usai memberikan perintah, Dion segera berlari mengejar langkah kaki Kia yang meninggalkan dirinya.
"Ikut aku!" Ucap Dion saat ia menarik tangan Kia yang hendak membuka pintu kamarnya sendiri.