![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Tolong jangan buat sahabatku bunuh diri untuk ketiga kalinya karena dirimu Pak Arka, cukup sudah dia menyakiti dirinya hanya untuk mempertahankan cintanya padamu. Sedangkan dirimu belum satu tahun Kia menghilang, anda sudah menikah dengan wanita pilihan salah satu anggota keluargamu. Kadang aku berfikir apakah hilangnya Kia bersangkut paut dengan rencana pernikahan dadakan ini?" Ucap Nadia yang seakan menuduh tante Widya Mommy dari Tomo.
"Mamiku tidak seperti itu Nadia,jaga bicaramu!" Pekik Tomo tak terima Mommy-nya dituduh oleh Nadia.
"Aku tidak menuduh tapi aku hanya berpikir, karena begitu cepat tante Widya merencanakan pernikahan diadakan Pak Arka, yang menyebabkan sahabatku kembali melakukan hal bodoh mengakhiri hidupnya karena melihat kekasih hatinya menikah dengan wanita lain. Perempuan mana yang sanggup melihat kekasihnya menikah dengan wanita lain." Sanggah Nadia yang makin membuat Arka makin merasa bersalah.
"Sudah Tom, di sini aku memang yang salah, tak seharusnya aku terlalu menggebu-gebu untuk menerima perjodohan ini." Ucapkan dengan suara lirih dan bergetar.
Kedua gadis yang belum menapaki usia 20 tahun ini, dengan beraninya terus menerus menohok dan memojokkan hati pria berusia 30 tahun dihadapannya.
"Dira sebaiknya kau berhati-hati untuk menjalin hubungan dengan Pak Tomo, bisa jadi kau akan bernasib sama seperti Kia. Jika kau menghilang sejenak Pak Tomo pasti sudah dijodohkan dengan wanita lain." Ucap Nadia lagi yang langsung diangguki oleh Dira.
"Gue akan pikirkan ucapan lo, mama Nadia," sahut Dira dengan senyum tipisnya.
"Sebaiknya lu masuk Dir, besok kita masih sekolah." Saran Nadia yang langsung dituruti oleh Dira.
Tanpa berpamitan tidak langsung saja masuk ke dalam rumah, begitu pula dengan Nadia yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Tomo hanya bisa menatap punggung sang kekasih yang masuk ke dalam rumah tanpa menganggap dirinya. Ia sudah paham, jika kekasihnya ini tersinggung dan sedang merajuk padanya.
Sedangkan Sisil tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya tinggal menunggu kebaikan hati Arka yang akan membatalkan surat perjanjian yang mereka sepakati dan menceraikannya.
Cukup lama Arka tetap berdiri di posisinya saat ini, ia beranjak pergi ketika melihat dari kejauhan mobil yang ia kenali adalah mobil dari kedua orang tua Dira datang.
"Tom, antar aku ke Club terlebih dahulu, baru antar Sisil pulang." Pinta Arkanyang duduk di samping Tomo.
"Lo mau ngapain? Lo jangan mabuk-mabukan Ka!" Tanya Tomo khawatir.
Namun pertanyaan dan kekhawatiran sepupunya ini sama sekali tak dihiraukan oleh Arka.
Arka tetap diam dan lebih banyak melamun sembari memandangi pemandangan diluar kaca jendela mobil.
Tak ada yang bisa Sisil lakukan di kursi belakang, hanya pasrah pada kenyataan hidup yang menriknya kepusara cinta Kia dan Arka yang kelam.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar pribadi. Dion dan Kia sedang bermandikan peluh keringat.
__ADS_1
Mereka bermain tanpa henti, seakan tak ada puasnya bagi mereka untuk melakukan penyatuan. Mereka sempat berhenti sekali waktu saat Kia merasa lapar ataupun kelelahan dan tertidur. Namun setelah bangun, mereka kembali melakukan penyatuan.
"Aku ingin segera mendapatkan Dion junjir atau Kia junior di sini." Ucap Dion sembari mengusap perut rata Kia.
"Dion, aku takut mengecewakan mu, waktu aku menikah dengan Aldo, Aldo menjualku karena aku tak bisa memberikan keturunan padanya. Apa kau akan mencampakkan ku jika aku tak bisa memberikan keturunan pada mu?" Balas Kia terdengar lirih.
Mendengar ucapan Kia, Dion malah tertawa terbahak-bahak dan verhasil membuat Kia merasa heran.
"Kok ketawa sih? Akunya sedih kamu malah ketawa. Bagiamana ini pasti aku akan ditinggal nih?" Tanya Kia yang malah mulai menangis dan memukuli dada bidang Dion.
"Hey my baby girls, jangan menangis ok! Dia memang tak akan bisa punya keturunan sampai kapan pun. Dia itu mandul Kia." Jawab Dion yang membuat Kia terkejut.
"Mandul? Bagaimana bisa? Kok kamu tahu?" Tanya Kia yang kini penasaran tentang mantan suaminya itu.
"Penasaran sekali, apa kamu punya perasaan juga dengannya hum?" Tanya Duon dengan tuduhannya.
"Haistss mana ada, aku hanya penasaran kenapa dia bisa mandul? Dan kenapa suamiku ini serba tahu seperti seorang cenayang?" Jawab Kia.
Kia mendorong tubuh Dion untuk berbaring dan Kia langsung menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya yang selalu menjadi tempat ternyaman dirinya untuk saat ini.
Dion yang baik hati hanya pada Kia, menuruti semua apa yang istrinya itu mau. Apalagi dia sudah mendapatkan haknya sebagai seorang suami. Bertambah nurutlah Dion kini pada Kia.
"Jadi aku sebenarnya tahu banyak hal tentang Aldo, karena beberapa kali perusahaannya meminta perusahaan ku untuk melakukan investasi di anak perusahaannya, yang ia kelola sendiri tanpa naungan orang tuanya." Dion mulai bercerita tentang Aldo.
"Terus!" Kia minta Dion kembali melanjutkan ceritanya.
"Ya, aku tipe orang yang menyelidiki terlebih dahulu profile orang-orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku. Pengalaman mengajarkan aku untuk berhati-hati. Cukup kedua orang tuaku jadi korban." Dion kembali berhenti cerita saat mengingat penyebab kedua orang tuanya tiada.
Kia mendongakan pandangannya saat Dion terdiam terlalu lama. Ia dapati suaminya tengah bersedih, dan menitikan air mata.
"Dion, jangan sedih dong!" Ucap Kia sembari mengusap kedua pipi suaminya yang berlinang air mata.
Sosok Dion yang menyeramkan, dengan wajah datar dan terlihat tegas kali ini menapakan sisi rapuhnya yang selama ini ia sembunyikan.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi Kia, hanya Keluarga Om Bram dan dirimu yang aku punya. Aku sama sekali tak ingin mengurung mu di sini. Tapi aku sangat khawatir dengan dunia luar yang bisa saja membuatmu celaka, apalagi Aldo menyimpan dendam pada mu, sayang. Aku tak mau kehilanganmu." Ucap Aldo begitu lirih.
__ADS_1
Selama ini ia selalu berusaha menjaga Kia dari siapapun sekuat tenaganya, tak membiarkan Kia tersentuh ataupun terluka sedikitpun.
Dion tak pernah sedikitpun menceritakan bagaimana usaha kerasnya selama ini menjaga wanita yang ia cintai pada siapapun termasuk pada Kia.
Terkadang segala usahanya terlihat sia-sia karena selalu mendapat sikap seenaknya Kia pada dirinya, tanpa memperdulikan perasaan hatinya. Mencintai Kia sangat membutuhkan perjuangan yang tak main-main bagi Dion. Tak hanya harta yang ia korbankan tapi hati dan jiwa raganya.
"Aku tidak akan kemana-mana Dion, aku hanya akan ada di sampingmu, seperti kamu yang tak akan kemana-mana mulai hari ini. Kamu harus selalu bersama ku." Sahut Kia yang membuat suasana haru ini berubah seketika.
"Gimana-gimana? Maksud kamu gimana Kia? Coba jelaskan sama aku!" Tanya Dion dengan mengedipkan matanya berkali-kali saking bingungnya.
"I-iya itu, aku tidak akan kemana-mana seperti kamu yang gak akan kemana-mana kaya aku. Berkantorlah di sini Dion! Aku tidak mau kamu kemana-mana dan main gila sama wanita lain." Jawab Kia yang membuat Dion bangun dari posisi tidurnya.
"Kenapa kamu jadi posesif seperti ini?"
"Karena aku takut kamu main gila, kamu itu suami aku."
"Iya aku suami kamu, aku tahu itu, tapi mana bisa aku gak keluar Kia. Bagaimana dengan pekerjaan aku?" Protes Dion yang berhasil membuat wajah Kia mendung.
"Kan kamu bosnya, pergi dikala penting-penting saja." Jawab Kia dengan tatapan sedihnya.
Dion menghela nafas, dan berusaha memahami, Kia masih terlalu muda dan belum dewasa dalam menghadapi masalah. Dan lagi-lagi Dion harus mengalah demi cintanya pada Kia.
"Begini sayang, aku akan ikut maunya kamu, gak kemana-mana dan pergi kalau penting-penting saja. Begitu ya? Tapi sebelum itu aku mau cerita sama kamu ya, bukan cerita tentang orang lain tapi tentang hibungan kita. Kamu dan aku. Kamu mau dengar?"
Dion menanyakan kesediaan Kia untuk ia berikan nasehat. Kia menjawab dengan menganggukan kepalanya.
Dion kembali membaringkan tubuh dan menarik Kia ke dalam pelukannya.
"Jadi begini sayang, dulu kedua orang tuaku, mungkin juga kedua orang tua kamu, saling mencintai dan saling percaya satu sama lain, hingga maut memisahkan mereka. Dan aku berharap kita seperti itu."
"Tapi Papi dan Daddy gak seperti kamu mesum, dan suka gonta ganti cewek. Jadi Mommy dan Mami gak terlalu khawatir kaya aku."
"Hustt! Gak boleh banding-bandingin keburukan suami." Tegur Dion.
Dion mencoba menghentikan ocehan. Sang istri yang mulai membandingkan dirinya denan kelakuannya yang memang sangat buruk pada mertua dan orang tuanya yang telah tiada.
__ADS_1
"