Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 44


__ADS_3

"Owh, astaga..." Keluh Kia saat Nadia dan suaminya berdebat.


Ia melirik Nadia dan suaminya yang tetap meminta adik sepupunya itu keluar. Melihat Dion mengeraskan rahangnya karena marah pada Nadia.


Kia malah tersenyum dan mengecup rahang yang mengeras itu.


"Kamu bertambah tampan saat marah hubby," puji Kia.


Hati Dion berbunga-bunga seketika itu juga. Diliriknya istrinya yang sedang mengagumi dirinya.


"Terima kasih, panggil yang cukup bagus untuk ku hubby."


"Heem tentu saja, hanya untukmu," ucap Kia dengan senyum menggoda.


Dion membalas senyum menggoda itu dengan senyum yang tertahan.


Kenapa kau sekarang ini selalu membuatku terbang ke angkasa Kia. Semua yang ada di dalam dirimu penuh kejutan, ketika kau sudah menjadi istriku. Aku jadi semakin tambah mencintaimu.


"Aku mau mandi, kau mau ikut hubby?" Ajak Kia yang berbisik di telinga Dion.


"Of course baby girls." Jawab Dion dengan senyum mempesona.


Ia sudah sangat siap untuk penyatuan mereka season keduanya nanti. Sementara itu Nadia yang ada di antara mereka. Hanya seperti orang bodoh tak dianggap lagi oleh keduanya.


"Lala tolong lemparkan handuk untukku ke dalam!" Pekik Kia yang sudah tahu pasti Lala sudah bersiap dengan handuk kimononya di depan pintu.


Pintu sedikit terbuka dan dua buah handuk diletakkan di bawah lantai. Kia melepaskan penyatuan mereka dan beranjak mengambil handuk. Dion langsung menutupi aset miliknya dengan kedua tangannya.


"Berbalik Nadia!" Pekik Dion yang malu sekaligus kesal Nadia masih saja memperhatikan dirinya.


"Jangan lihat punya suamiku! Kau lihat saja punya Chriss!" Bisik Kia pada Nadia yang merangkulnya.


"Hahaha... Nanti saja kalau kami sudah halal hahaha...." Balas Nadia dengan tawanya yang menggelegar.


Kia mengambil handuk kimononya dan memakainya, setelah itu kembali berjalan ke arah suaminya, guna memberikan handuk kimono untuk suaminya ini.


"Aku tunggu di kamar mandi. Jangan lama-lama!" Ucap Kia dengan suara pelannya.


"Hemm." Jawab Dion singkat sembari menggunakan handuk kimono itu dengan dibantu Kia.

__ADS_1


"Aku keluar duluan hubby,"


"Hemm.." sahutnya singkat lagi.


Kia dan Nadia pun keluar dari ruang baca, di dapatinya Chriss yang sedang menundukkan pandangannya. Tak ingin melihat Kia dengan handuk kimono yang tengah di pakainya.


Setelah Kia dan Nadia berlalu, Chriss kembali masuk ke dalam ruang baca. Kembali membahas tentang pekerjaan dan juga mantan suami dari istri bossnya yang tengah membuat perhitungan dengan keluarga Tuan Bramantyo.


Ya. Setelah sang Daddy menghembuskan nafas terakhirnya. Aldo mulai membuat perhitungan dengan keluarga Tuan Bramantyo.


Sejauh ini Aldo hanya bisa mengganggu jalannya bisnis Tuan Bramantyo dengan orang-orang bayarannya.


"Jangan lakukan sapu bersih Chriss! Dia sepertinya sedang memancing kita. Biarkan saja dahulu. Aku ingin tahu sejauh mana usahanya ingin menghancurkan Om Bram." Tolak Dion saat Chriss menyarankan untuk melakukan sapu bersih pada anak buah Aldo dan termasuk Aldo sendiri.


"Tapi Tuan, saya takut dia akan berbuat macam-macam dengan Nadia."


Akhirnya asistennya ini berani mengungkapkan apa yang membuatnya khawatir dan sampai menyarankan menyapu bersih Aldo dan anak buahnya pada Tuan mudanya yang merupakan kakak sepupu dari gadis belia yang mencuri hatinya.


Dion tersenyum, mendengar kekhawatiran Chriss yang sudah ia ketahui jika asistennya itu memiliki hati dengan adik sepupunya dari sang istri yang suka bergosip saat mejelang mereka ingin tidur.


"Kau tak perlu khawatir, kita akan menjaganya dan memperketat ruang gerak Aldo dan anak buahnya agar tak menyentuh adikku, Chriss." Jawab Dion yang tak ingin membahas masalah pribadi asisten dengan sang adik.


Sementara itu di lantai dua tepatnya di ruang bersantai. Kia dan Nadia tengah asyik bergosip tentang kisah cinta Dira dan Tomo yang kian runyam. Setelah kedatangan Arka, Tomo dan juga Sisil ke kediamannya.


"I-iya tadi di sekolah galau banget dia. Ngelamun terus." Jawab Nadia Dengan wajahmu.


Sejenak keduanya terdiam hanyut dalam lamunannya memikirkan sahabatnya Dira yang tengah galau karena kisah cintanya yang tengah tak baik-baik saja.


"Kia!!!" Pekik Dion yang teryata sedang mencari sosok istrinya.


"Ya, aku di sini hubby." Jawab Kia dengan suara tak kalah memekik.


Dion yang mengetahui arah sumber suara segera menghampiri Kia.


"Hemmm, ini bukan kamar mandi Baby?" Ucap Dion sambil bertolak pinggang memandangi wajah murung kedua wanita terpenting di hidupnya.


"Hei, kalian kenapa?" Tanya Dion pada keduanya.


Dion menghampiri keduanya yang duduk di sebuah sofa panjang saling menatap namun dengan wajah sedih dan muram. Dion mendaratkan bokongnya diantara istri dan adik sepupunya.

__ADS_1


"Katakan padaku, ada apa dengan kalian berdua hum?" Tanya Dion yang kini merangkul keduanya.


"Dira. Kami sedang memikirkan Dira yang sedang galau." Jawab Nadia lebih dahulu dari Kia.


"Ya, dia galau karena terseret masalah pribadi ku." Tambah Kia yang terlihat sedih.


Dion melirik istrinya dan menatap dalam wajah sedih sang istri yang merasa bersalah atas kegalauan Dira.


"Ayo Baby. Kita segera bergegas mandi dan Kau ganti pakaian mu! Kita akan jemput Dira dan hibur dia. Bukankah wanita kalau sedang galau paling suka jika ditraktir belanja?" Keduanya mengangguk menjawab pertanyaan Dion.


"Ok. Aku akan mentraktir kalian hari ini. Cepat-cepat bangun!"


Dion beranjak dan sofa dan menarik keduanya.


Dion mendorong Nadia untuk berganti pakaian di kamar Kia yang lama, setelah itu dia menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.


"Hubby!!" Panggil Kia saat Dion mengangkat tubuhnya.


Kia sudah takut Dion akan menagih janjinya di kamar mandi nanti. Karena jujur saja ya sudah kehilangan moodnya saat mengetahui kegalauan Dira.


"Jangan khawatir Baby. Kita harus menunda season kedua kita, demi mengembalikan keceriaan sahabatmu yang sedikit menyebalkan itu. Aku sangat mengerti perasaan mu sekarang ini." Ucap Dion pada Kia.


Keduanya benar-benar hanya sekedar membersihkan diri, dan segera bergegas ke kediaman Dira.


Sementara itu, Arka yang diantarkan Tomo. Untuk pertama kalinya pulang ke kediaman orang tuanya yang kini ditinggali oleh Sisil, istrinya.


"Kau yakin dengan keputusan mu ini Ar? Kau jangan terbawa emosi seperti ini!" Ucap Tomo yang berusaha menahan Arka untuk turun dari mobilnya.


Arka mrnghempas kasar tangan Tomo.


"Jangan campuri urusan pribadiku mulai saat ini Tom!" Geram Arka dengan sorot mata tajamnya.


Arka lantas turun dari mobil Tomo. Berjalan dengan cepat memasuki kediamannya.


"Dimana istriku?" Tanya Arka pada salah satu asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuknya.


"Kuliah Tuan," jawab asisten rumah tangga tersebut.


"Jam berapa biasa dia kembali?" Tanya Arka lagi.

__ADS_1


"Mendekati jam 07.00 malam Tuan," jawab asisten rumah tangga tersebut dengan menunjukkan pandangannya.


"Ok. Sekarang tolong siapkan makan siang untuk ku!" Perintah Arka yang kemudian meninggalkan asisten rumah tangga yang tetap berdiri posisinya, tanpa menunggu asisten rumah tangga tersebut menjawab perintah dari Arka.


__ADS_2