Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 18


__ADS_3

Sebuah mobil sedan mewah membawa Kia dan Pak Catur ke sebuah gedung tinggi pencakar langit yang merupakan perusahaan besar Dion berada. Bisnis legal yang Dion jalani saat sang fajar menerangi bumi ini.


Mobil sedan mewah yang dikemudikan salah satu sopir yang ada di Mansion berhenti tepat di depan lobby perusahaan. Baca terus segera turun dan membukakan pintu untuk Kia. Kali ini dia diperlakukan seperti seorang ratu oleh para pekerja Dion.


Kia berjalan dengan dipandu oleh Pak Catur menuju ruangan kerja Dion. Seluruh mata memandang Kia penuh tanya dan juga memandang kagum pada janda Malang tersebut.


Langkah Pak Catur terhenti di sebuah pintu ruangan yang tertutup rapat. Pak Catur menunjukkan pada Kia jika pintu itulah yang menjadi pintu ruangan kerja Dion. Pria yang ingin ia temui, untuk meluapkan rasa kesal dan amarahnya, atas pernyataan Tania terhadap dirinya di ruang belajar tadi.


"Tolong bukakan pintu itu untukku Pak Catur," pinta Kia dengan senyum tipis di wajah cantiknya.


"Baik Nona." Jawab Pak Catur yang kemudian membukakan pintu ruangan kerja Dion.


Ceklek [suara dari handle pintu yang terbuka]


Sosok Kia muncul dari balik pintu dan membuat Dion yang tengah duduk di sofa, bersama beberapa manager perusahaannya terkejut dengan kehadirannya.


Dion terperangah dengan kedatangan Kia yang sama sekali tak ia duga sebelumnya.


"No. am i dreaming? She came to my company." Gumam Dion tak percaya saat Kia terus melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.


"She's so pretty today," Puji Dion di dalamnya saat manik matanya menelisik penampilan Kia dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kia tanpa ragu tetap berjalan meski Dion tak sedang sendiri di ruang kerjanya itu.


"Seperti kamu sedang meeting honey." Ucap Kia sembari meraba sedikit sofa yang Dion tempati.


Dion mengangkat sebalah alisnya saat ia mendengar Kia memanggilnya dengan sebutan Honey.


Usai menghampiri Dion, Kia berjalan menuju kursi kebesaran Dion. Dengan beraninya Kia menduduki kursi seorang Dion yang menakutkan.

__ADS_1


Dion yang tahu Kia menduduki kursi kebesarannya dari suara kursi dan tatapan aneh para manager yang duduk dihadapan. Segera meminta para petinggi perusahaannya itu untuk keluar dari ruang kerjanya.


Dion mengendurkan dasi yang ia kenakan, karena tiba-tiba nafasnya terasa tercekat melihat keberanian Kia datang dan menduduki kursi kebesarannya.


Dion beranjak dari sofa, ia melanjutkan kakinya mendekati Kia yang duduk sembari memainkan bolpoin yang ada di atas meja kerja Dion.


"Kamu sibuk?" Tanya Kia dengan santainya sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesaran Dion.


"Ya sedikit." Jawab Dion yang menyadarkan bokongnya di meja kerjanya sembari menatap Kia dengan tatapan penuh damba.


"Owh... Sepertinya kedatangan ku ini mengganggu waktumu yang sibuk." Ucap Kia yang berdiri mengikis jarak antara dirinya dan Dion.


Kia memainkan dasi yang Dion longgarkan tadi. Ia mengencang ikatan simpul dari itu dan menariknya.


"Bagaimana bisa bibir mu ini, mengungkapkan cinta pada dua wanita sekaligus, Dion? Apa kau sengaja melakukannya demi mempermainkan perasaanku? Kau sengaja menyakiti ku, karena aku sampai saat ini belum mengembalikan uangmu." Ucap Kia sembari menyentuh bibir Dion dengan jemari lentiknya, sedangkan satu tangannya yag lain masih menarik dasi Dion agar mendekat padanya.


Dion langsung saja menangkup wajah Kia dan menyambar bibir yang sedang menuduhnya itu.


"Stop it!" Pekik Kia saat ia berhasil melepaskan diri dari serangan bibir Dion.


"Why? Bukankah kau datang ke sini untuk menyerahkan dirimu padaku?" Tanya Dion yang tak bisa melepaskan pandangannya pada bibir Kia yang menjadi candu baginya.


"Aku ke sini bukan untuk menyerahkan diriku, tapi untuk mendengar langsung pengakuan mu atas perasaan mu pada Miss Tania." Ucap Kia yang kini terus mendorong tubuh Dion yang terus menginginkan dirinya.


"Aku hanya mencintaimu, dan kau cukup percaya akan ucapanku bukan ucapan orang lain yang mengatas namakan diriku." Ucap Dion yang kembali menarik tengkuk Kia dan juga pinggul Kia.


Saat Dion kembali menyesap bibir Kia tiba-tiba sebuah tepukan tangan mengejutkan keduanya.


Prok...prok...prok...

__ADS_1


"Jadi begini keseharian mu di kantor wahai Tuan Muda Dion," sapa seorang pria dewasa yang sangat Kia kenali suaranya.


Pria itu terus berjalan maju mendekati meja kerja Dion, dimana terdapat Dion dan Kia yang tengah bersembunyi di dada bidang Dion.


Ya. Kia terperangah dan bersembunyi dalam dada bidang Dion, karena ia tak menyangka akan bertemu dengan pemilik suara yang ia kenali itu.


Suara derap langkah kaki pria itu makin mendekat pada mereka. Kia langsung memalingkan wajah kearah berlawanan dari arah datangnya pria tersebut, sembari meremas jas kerja yang Dion kenakan.


Pria yang kini berdiri diantara mereka langsung saja menarik tubuh Kia menjauh dari tubuh Dion.


"Kia??" Pekik pria itu tak percaya dengan sosok yang ia lihat bersama dengan keponakannya yang terkenal suka bermain-main dengan banyak gadis.


"Om Bram," cicit Kia yang langsung menundukkan pandangannya.


Ya. Sosok pria yang datang adalah tuan Bramantyo, orang tua dari Nadia, yang kembali lebih cepat karena harus menghadiri rapat penting bersama Dion, keponakannya dan para investor asing, yang tak bisa diwakilkan.


"Dion bisa kau jelaskan ini semua! Bagaimana bisa Kia bersama mu? Sedangkan semua orang telah mati-matian mencarinya." Ucap Tuan Bramantyo pada Dion dengan wajah tak percayanya.


Dion melepaskan jas kerja berwarna hitam yang ia kenakan, hingga menyisakan sebuah kemeja hitam yang menutupi tubuh kekar berototnya. Dion mengenakan Jasnya itu pada tubuh Kia, ia menutupi bagian punggung dan dada Kia yang terlihat terbuka dan terlalu terekspos.


Apa yang Dion lakukan kini, seakan tak rela jika bagian tubuh Kia yang indah ini dilihat oleh pria lain, termasuk omnya sendiri.


Manik mata Tuan Bramantyo terus mengamati apa yang dilakukan keponakannya terhadap Kia di hadapannya.


"Kamu mencintainya Dion. Om tak pernah melihatmu memperlakukan wanita sebaik ini. Om akan membantumu mendapatkan Kia, jika Kia dapat merubah gaya hidup mu yang benar-benar membuat Om selalu geleng kepala." Gumam Tuan Bramantyo yang mengetahui keponakan itu memiliki rasa cinta pada Kia.


"Panjang jika harus aku ceritakan dari awal, yang pasti Kia sudah tinggal bersamaku hampir dua bulan, setelah aku menemukan dan membelinya dari mantan suaminya yang menjualnya di club malam." Jawab Dion dengan tak melepaskan tatapannya pada Kia yang berdiri menunduk di samping Tuan Bramantyo.


"Apa kau bilang tadi suami? Siapa suaminya, yang tega menjualnya serendah itu ke club malam?" Tanya Tuan Bramantyo tak percaya jika Kia telah menikah dan menjadi seorang janda diusia yang sangat muda. Bahkan menginjak angka kepala dua pun belum ia jajaki.

__ADS_1


__ADS_2