Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 11


__ADS_3

Usai Dion pergi, bukannya fokus mengajari Kia. Tania malah terus bertanya pada Kia mengenai Dion. Hingga waktu makan siang pun tiba. Kia langsung meminta Tania, untuk mengakhiri jam pelajaran bersama Tania yang begitu membosankan.


"Miss Tania, saya sangat lapar dan lelah, boleh sampai di sini dulu pelajaran kita hari ini." Ucap Kia dengan memohon pada guru barunya itu.


"Oh Kia, maaf sekali. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan kamu, karena kakak kamu meminta saya untuk mengajarkan kamu hingga jam tiga sore nanti." Tolak Tania yang memang sesuai dengan permintaan dan pesan Dion padanya.


Kia tertunduk lesu mendengar penolakan Tania atas permintaannya.


"Tapi saya boleh istirahat, sejenak kan Miss?" Tanya Kia lagi dengan wajah di tekuknya.


"Tentu saja. Saya pun akan ikut istirahat makan siang bersama mu." Jawab Tania dengan senyum ramah dan di balas Kia dengan senyuman kakunya.


Keduanya keluar dari ruang belajar menuju meja makan, betapa terkejutnya Kia melihat ada Dion dan juga kedua sahabatnya tengah duduk di ruang makan.


"Lo gak pada sekolah hari ini, Nad, Dir?" Tanya Kia pada Dira dan Nadya yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari keduanya.


"Kenapa?" Tanya Kia yang begitu penasaran.


Ia duduk di kursi yang biasa ia tempati. Tepat di samping Dion yang berada di tengah-tengah antara Nadya dan dirinya.


"Sekolah diliburin, ternyata pemilik sekolah kita itu Pak Arka." Jawab Nadya dengan suara lirihnya.


"Terus kalau sekolah itu punya Pak Arka, apa masalahnya dengan libur hari ini Nad?" Tanya Kia lagi yang masih begitu penasaran dengan ekspresi wajah kedua sahabatnya.


Sedang Dion terus menatap dan memperhatikan raut wajah Kia, yang ia yakini sebentar lagi akan meledakan tangis yang selalu menyayat hatinya. Dion terus mematik-matikkan jemarinya seakan menghitung mundur tangis itu akan pecah.

__ADS_1


"Karena hari ini dia lamaran dan dua minggu lagi setelah ini dia nikah." Jawab Dira yang mengetahui hal ini dari Tomo, kekasihnya yang merupakan saudara sepupu Pak Arka.


Deg! [Detak jantung Kia rasanya ingin berhenti berdetak].


Kia terdiam membisu, tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Buliran bening berhasil menetes deras membanjiri pipinya.


"Bohong kan lo? Bohongkan lo Dir? Kalau iya dia lamaran, kenapa lo di sini? Kenapa lo gak temani Yayang Tomo lo hah?" Sangkal Kia yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Meski ia tahu Pak Arka di jodohkan oleh Tante Widya. Tapi dia masih berharap perjodohan itu tidak sampai ke jenjang pernikahan.


"Lo segalanya Kia. Lo segalanya, gue akan ninggalin lo lagi. Kemarin adalah pertama dan terakhir bagi gue meninggalkan lo, yang buat gue menyesal seumur hidup gue. Gue tahu lo butuh gue sekarang." Ucap Dira yang juga menitikan air mata.


Ingin rasanya memeluk Kia namun tatapan Dion melarangnya untuk memeluk wanita yang menjadi tawanan hatinya.


Dira sebenarnya memang diminta untuk hadir menemani sang kekasih, namun ia memilih untuk tidak hadir dengan alasan sakit. Lebih baik ia menemani sahabatnya yang pastinya hatinya rapuh saat ini.


Ya. Keduanya dalam ancaman Dion. Dion mengancam untuk keduanya agar tak berusaha menenangkan tangis Kia. Ini Dion lakukan agar Kia datang pada dirinya dan menjadikan dirinya sebagai sandaran hidup untuk Kia.


Nadya terus menendang tulang kering Dion tanpa henti, saat tangis Kia makin menjadi-jadi. Mereka seperti orang bodoh yang hanya bisa menyaksikan Kia yang menangis karena larut dalam kesedihan hidupnya yang malang, dan tak bisa berbuat apa-apa karena ancaman Dion, yang tak akan mengizinkan mereka untuk masuk kembali ke dalam Mansion miliknya ini, jika keduanya melanggar apa yang ia tetapkan.


"Kia berhentilah menangis!" Ucap Dion yang malah makin membuat Kia makin menangis sejadi-jadinya.


Mendengarkan suara pria kaku yang sangat suka main bersama wanita ini, membuat hati Kia bertambah hancur, apalagi melihat Tania yang terus menatapnya.


"Aaaaarghhhh.... " Pekik Kia yang menangis. Ia berdiri dan beranjak pergi dari meja makan.

__ADS_1


Namun baru berapa langkah kakinya melangkah. Dion sudah memanggilnya untuk kembali duduk di tempatnya.


"Kiandra Putri Andra, kembali! Duduklah di tempat mu, sekarang!" Pekik Dion tanpa menatap Kia yang menghentikan langkah kakinya sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya pergi menuju pintu keluar.


Dion yang tak suka kata-katanya di bangkang, langsung berdiri ingin mengejar langkah kaki Kia.


Baru beberapa langkah kakinya melangkah. Dion tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya. Dion tersenyum kaku pada Tania. Kemudian meminta Tania untuk segera pulang dan kembali lagi esok pagi.


"Tania, terima kasih untuk hari ini. Kembalilah esok pagi. Maaf jika kamu harus melihat kekacau di hari pertama mu bekerja." Ucap Dion yang masih bersikap ramah oada Tania. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka dan mengejar langkah kaki Kia yang sudah pergi jauh.


Tania yang terlihat bingung dengan apa yang ia lihat, hanya berusaha menuruti setiap perkataan Dion, untuk pergi dan menyimpan segala pertanyaan di dalam hatinya seorang diri.


Sementara itu di depan gerbang Mansion, Kia dan Dion kini berada.


"Kamu mau pergi? Silahkan! Pergilah!" Pekik Dion dengan nafas yang terengah-engah karena mengejar langkah kaki Kia.


Kia terus berdiri di depan pagar yang menjulang tinggi yang kini masih tertutup rapat. Tak ada satupun penjaga yang bersenjata itu berani membuka pintu tanpa seizin Dion untuk Kia.


"Kenapa kamu kejar aku Dion? Kalau memang kamu memang mengizinkan aku untuk pergi?" Tanya Kia yang masih setia berdiri di belakang pagar lapis pertama Mansion Dion.


"Heh, tentu aku mengejar mu Kia. Aku hanya ingin memastikan suami bastard mu itu. Mendapatkan diri mu kembali. Kau akan kembali di jual ke club malam, saat dia mendapatkan mu. Lihat saja! Dia masih sering datang ke sini hanya untuk memastikan dirimu terbuang atau tidak dari sisi ku. Jika kau pergi selangkah saja dari Mansion ini tanpa orang-orang ku, aku tak tahu nasib mu selanjutnya. Aku tak akan mau menebus mu lagi. Karena kamu sudah membangkang perintah ku." Jawab Dion yang seketika menggoyahkan kaki Kia. Ia hampir terjatuh karena tubuhnya terhuyung mendengar Dion menyebut mantan suaminya akan kembali menjualnya di klub malam.


Kia terdiam dan terduduk lemas di depan pintu pagar. Tak ada satu pun penjaga yang berani menyentuh Kia, walaupun hanya sekedar ingin menolong membangunkannya. Karena mereka tahu. Kia adalah wanita spesial di hati Tuan mudanya. Yang kemungkinan besar akan menjadi Nyonya muda di mansion ini.


"Kenapa diam dan duduk di situ hum? Bukankah kamu mau pergi, menggagalkan acara lamaran mereka? Bukan begitu? Kamu itu lucu Kia. Bukankah tadi pagi, kamu sendiri yang mengatakan pada ku, jika dirimu hanya seorang janda yang terjual oleh mantan suami bastard mu itu, dan kau merasa tak pantas untuknya. Tapi kenapa kau berniat pergi untuk menggagalkan dia untuk menggapai pintu kebahagiaannya?" Tanya Dion yang hanya menambah Kia semakin sedih dan terisak.

__ADS_1


Tania yang menaiki sebuah mobil club car dari pintu mansion hanya memandangi Kia dan Dion penuh tanda tanya dalam dirinya. Saat ia ingin menghampiri Dion, sebuah pengawal melarangnya untuk mendekati pria bertubuh atletis itu.


__ADS_2