Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 27


__ADS_3

Malam ini suasana tak biasa terlihat di mansion Dion. Berbagai hiasan bunga-bunga nampak memenuhi bagian halaman taman samping kanan Mansion Dion, dimana di sana terdapat juga kolam renang yang dihiasi lilin-lilin yang menyala, membentuk nama Dion dan juga Kia.


Kia nampak pasrah dan menerima ajakan Dion untuk menikah malam ini. Menolak dan menunda pun percuma. Kini ia hanya bisa menggantungkan hidupnya yang sebatang kara pada Dion.


Tidaklah mungkin dia terus bergantung hidup dan menyusahkan Nadia ataupun kedua orang tua Nadia yang sangat baik padanya. Hanya Dionlah satu-satunya tempat ia untuk menggantungkan hidupnya kini.


Dalam usianya yang belum menapaki kepala dua, sebagian wanita yang usianya masih terlalu muda, Kia sudah merasakan dua kali menikah dalam kurun waktu satu tahun ini.


Pernikahan yang selalu ia tapaki dengan tanpa cinta dan penuh keterpaksaan. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Kia menjalani hidupnya layaknya seperti mimpi buruk yang mau tak mau harus ia jalani.


Malam ini, Dion mengumandangkan ijab Kabul dengan suara yang tak kalah merdu seperti Arka saat itu.


Kia sedikit meremas kain kebaya yang membalut tubuhnya dengan indah. Ketika bayangan saat Arka mengucapkan ijab kabul pada Silvi kembali terngiang-ngiang dalam kepalanya.


Tangannya nampak berkeringat, jantungnya luar biasa berpacu, sesak di dada tentu saja ia rasakan. Kia berusaha menahan tangisnya. Menguatkan dirinya agar tak kalah pada keadaan.


Kia melihat ke arah Nadia, gimana Nadia terus memandangi wajah sahabatnya dengan tatapan sendu sekaligus terluka. Ya sahabat baiknya itu sangat memahami dengan detail perasaan yang Kia rasakan saat ini.


"Lo terlalu memaksakan diri lo, Kia. Gue tahu lo sangat tidak menginginkan pernikahan ini. Lo kembali menghancurkan diri lo sendiri. Maafkan gue yang tak bisa menolong lo dalam hal ini. Karena walau bagaimanapun Kak Dion adalah kakak sepupu gue. Dia satu-satunya saudara yang gue miliki. Gue yakin dia tidak akan pernah menyakiti lo, tolong belajarlah mencintai dia." Batin Nadia, saat ia terus memandangi wajah Kia yang terlihat bahagia, namun isi hatinya sebaliknya.


Setelah semua acara sudah selesai, Pak penghulu pun sudah pergi meninggalkan Mansion, begitu pula dengan keluarga Tuan Bramantyo. Tinggallah Kia dan juga Dion di tepi kolam.


Keduanya berdiri memandangi lilin-lilin yang membentuk nama mereka, yang berada di dalam kolam.

__ADS_1


"Sekarang kita sudah menikah. Mulai hari ini kau adalah tanggung jawabku, Kia. Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang malam ini. Aku takkan pernah meminta hak ku padamu, jika kau belum siap. Sekarang pergilah tidur! Hari semakin larut dan udara semakin dingin. aku tidak mau kamu sakit." Ucap Dion sembari memandangi wajah Kia yang kini sudah menjadi istrinya.


"Iya, aku akan pergi tidur. Tapi aku tidur di mana malam ini?" Tanya Kia pada Dion yang menarik senyum tipis di bibirnya.


"Kok bebas mau tidur di mana, di kamarku atau di kamarmu. Aku tak ingin menjadi suami pemaksa, Kia. Cepat pergilah tidur! Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan." Jawab Dion yang terus meminta Kia agar cepat istirahat.


Mendengar jawaban Dion, Kia segera pergi meninggalkan Dion yang masih berdiri di tepi kolam renang.


Kia melangkahkan kakinya dengan ragu menaiki anak tangga menuju lantai dua, di mana kamar dirinya dan juga Dion berada.


Beberapa asisten rumah tangga sudah berdiri di dekat anak tangga terakhir. Mereka sedang menunggu kehadiran Kia sejak tadi.


Kia sadari mereka terlihat menahan kantuk, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.55 menit. Seharusnya para asisten rumah tangga ini sudah istirahat dan masuk ke dalam alam mimpi mereka.


"Lala kau bicara apa, Jangan panggil aku dengan sebutan nyonya! Itu sangat menggelikan. Panggil aku Kia seperti biasanya." Protes Kia pada Lala.


"Jangan mempersulit kami Nyonya! Anda yang dahulu berbeda dengan Anda yang sekarang. Saat ini Anda sudah menjadi Nyonya di Mansion ini. Sudah sepantasnya kami memanggil Anda dengan sebutan Nyonya." Balas Lala sembari menundukkan kepala.


"Hahahaha... Kau masih saja takut padanya, dia dan kita sama saja Lala, sama-sama manusia. Kalau kau terus mau memanggilku dengan sebutan nyonya, Aku tidak akan keberatan. Kau boleh panggil aku dengan sebutan nyonya jika ada orang lain di antara kita, tapi jika keadaannya seperti ini, kalian cukup memanggilku Kia tanpa embel-embel Nyonya."


"Baik jika itu mau mu, Kia. Sekarang cepat kau mau istirahat dimana, sungguh kami sudah sangat mengantuk." Balas Lala yang kini menekan Kia untuk segera menjawab mau beristirahat dimana.


"Aku akan beristirahat di kamar Tuan Muda kalian. Tolong bantu aku membawakan pakaian ganti untukku." Jawab Kia yang membuat para pelayan tersenyum.

__ADS_1


Mereka tersenyum karena dia menjawab sesuai keinginan mereka, yaitu beristirahat di kamar pribadi tuan muda mereka.


Selain mereka akan mendapatkan bonus dari Dion, mereka tak akan repot untuk membantu Kia merapikan diri. Karena di sana sudah ada Pak Catur dan dua pelayan pilihan yang akan membantunya merapikan dirinya.


Lala dan kawan-kawannya pun mengantarkan Kia menuju kamar Dion. Kembali kehadiran Kia sudah di tunggu-tunggu oleh para pekerja di mansion ini.


"Selamat malam Nyonya Kia," sapa Pak Catur yang berdiri tak jauh dari dekat pintu.


"Malam Pal Catur." Balas Kia.


Setelah Kia masuk ke dalam kamar Dion, Pak Catur langsung saja menunjukkan bagian kamar Dion, dan barang-barang baru juga pakaian baru yang sudah disiapkan oleh Dion untuk Kia.


Kia sempat bertanya bagaimana dengan barang-barangnya yang lama, Pak Catur haya tersenyum penuh arti dan tak berniat sedikit pun untuk menjawabnya.


Usai memperkenalkan bagian kamar Dion dan juga menunjukkan barang-barang milik Kia di kamar Dion. Pak Catur segera meninggalkan kamar tersebut dan kedua pelayan pilihan yang sudah cukup berumur itu segera membantu Kia merapikan dan membersihkan diri.


Tempat pukul satu dini hari, Kia baru selesai merapikan dan membersihkan diri. Rasa kantuk menyerangnya kini. Ia pun langsung menaiki ranjang tidur dan membaringkan tubuhnya yang lelah di sana.


Dalam hitungan detik Kia langsung masuk ke dalam alam mimpinya. Sementara itu Dion yang masih berada di tepi kolam, sembari menyesap rokok dan juga menikmati sekaleng miras di tangannya. Dihampiri oleh Pak Catur yang memberitahukan padanya. Jika Kia memilih beristirahat di kamar pribadinya.


Dion mengulas senyum mengetahui Kia memilih beristirahat di kamar pribadinya. Sebuah angin segar Dion dapatkan dari pilihan Kia tersebut.


Dion berharap Kia akan cepat mencintainya dan mau melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


__ADS_2