Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 42


__ADS_3

Tidak ada siapapun yang sanggup kehilangan seseorang yang paling diinginkan di dalam hidup.


Kini kedua insan yang telah berjanji untuk saling menjaga cinta mereka dan hidup bersama hingga tutup usia, harus terpisahkan oleh takdir cinta yang tak menyatukan mereka.


Kedua insan yang selalu berdoa kepada Sang Maha Pencipta untuk kembali dipersatukan. Setelah sekian lama terpisahkan. Salah satunya malah memilih meninggalkan.


Harapan memang hanya tinggal harapan, tak akan pernah jadi kenyataan. Sebab sebaik apapun rencana makhluk bumi tak akan pernah lebih baik dari apa yang telah direncanakan oleh Sang Pencipta.


Pahit. Ya Meski pahit dan sakit. Baik Kia dan Arka harus menjalaninya.


Maafkan aku, Mas. Aku memilih melukaimu. Aku memilih pamit dari hidupmu. Meski aku masih sangat mencintai mu.


Aku tak sampai hati untuk mematahkan hati malaikat tak bersayap ku. Kau pernah melukai hatinya, bahkan membuat hidupnya kelam dan hitam pekat karena keegoisan mu.


Mulai hari ini anggaplah aku tak pernah ada di hidup mu, kan aku akan selalu berdoa agar Tuhan tak memberikan kesempatan untuk kita bertemu kembali.


Kia masuk ke dalam mobil yang dikendari oleh Mail yang dengan setia menunggunya.


"Jalan Pak Mail, bawa aku pulang ke Mansion!" Pinta Kia pada Mail.


Mobil pun melaju meninggalkan area pemakaman. Arka tersenyum getir melihat Kia benar-benar pergi tanpa sedikitpun menoleh kebelakang untuk melihatnya.


Bila akhirnya takdir tidak mempersatukan kita. Aku tidak akan pernah menyesal mencintaimu sedalam ini Kia. Meskipun kau telah mematahkan hatiku.


Kau kan tetap bertahta di hati ini, entah sampai kapan. Karena sampai kapan pun aku tak akan pernah melupakan tentang dirimu, tentang cinta kita.


Aku hanya menunggu tangan Tuhan menyadarkan aku dengan caranya untuk mengikhlaskanmu meskipun itu akan berat aku lakukan.


"Semoga kau bisa menghargai keputusannya, Arka." Ucap Dion yang tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Arka.


Arka membalikkan tubuhnya mendapati


Dion berdiri tegap dengan kedua tangannya yang berada di bawah saku celananya, juga sebuah kaca mata hitam yang menutupi manik matanya dari paparan sinar matahari yang menyengat hari ini.


"Apa kau memaksanya meninggalkan ku?" Tanya Arka dengan tuduhannya.


Dion tersenyum tipis dan menatap sinis Arka di balik kacamata hitamnya.


"Kau berfikir aku memaksanya untuk meninggalkanmu? Tidak, Arka. Aku tidak pernah memaksanya untuk meninggalkanmu. Aku sudah memberikan dua kali kesempatan padanya bertemu denganmu."


"Seharusnya kau bukan memberikan kesempatan untuk bertemu denganku, tapi kau seharusnya memberikan kesempatan dia untuk kembali padaku,"


"Aku sudah pernah memintanya untuk kembali padamu. Tapi dia menolak. Dia selalu merasa tak pantas lagi untukmu."

__ADS_1


"Bohong!" Geram Arka yang menganggap semua ucapan Dion adalah sebuah kebohongan.


"Kapan aku pernah berbohong padamu Arka? Kapan? Jika aku ingin berbohong mungkin semalam aku takkan berkata jujur siapa istriku padamu."


"Kau pasti melakukan semua ini karena kau mencoba balas dendam atas kematian Rika."


Dion tersenyum tipis, ia sama sekali tak menyangka picik sekali pemikiran Arka padanya.


Dion menghela nafasnya, tak mudah bicara dengan seseorang yang telah memandang buruk dirinya. Berkata jujur apa adanya pun percuma. Apalagi berbuat baik semua akan tetap dipandang buruk.


"Aku tak sepedendam itu, Arka. Rika memang lebih mencintaimu dan aku sudah mengikhlaskan dirinya menjadi milikmu. Jika takdirnya memang harus berakhir dengan bunuh diri karena dirimu yang meninggalkannya, itu sudah menjadi suratan takdirnya dan aku tidak harus membalas dendam atas kematiannya padamu." Jelas Dion.


Arka terdiam mendengar penjelasan Dion. Ia berusaha membaca ekspresi Dion meski manik mata lawan bicaranya itu masih tertutup dengan kacamata hitamnya.


Melihat Arka terus terdiam Dion pun akhirnya memilih meninggalkan Arka yang masih enggan beranjak dari posisinya.


Di Mansion, Kia yang baru saja tiba langsung saja masuk ke dalam mansion. Ia mendaratkan bokongnya di sofa ruang keluarga, dimana ruangan tersebut terhubung dengan ruang makan dan juga dapur.


"Bi Nana, boleh minta segelas air sejuk. Kia haus sekali." Pintanya pada Bi Nana sembari menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Tunggu sebentar ya Kia, Bi Nana akan ambilkan." Bi Nana yang sedang menata makan siang untuk kedua majikannya di atas meja makan segera meninggalkan kegiatannya.


Ia mengambilkan segelas air sejuk untuk Kia dan segera memberikan air tersebut pada Kia. Kia yang sangat kehausan menengguk segelas air sejuk itu hingga habis.


"Serius haus Bi, nungguin orang di tengah makam, ga bawa minum, mau beli minum gak punya duit. Punya suami kaya tapi pelit. Nyuruh-nyuruh aja tapi gak ngasih duit." Ungkap Kia.


Ia mengadu pada Bi Nana seperti sedang mengadu pada Bi Ratmi.


"Masa sih Non? mungkin Tuan lupa."


Bi Nana tak berani komentar macam-macam tentang Tuan mudanya yang kejam ini.


"Mana mungkin lupa, dia memang pelit, seharusnya dia sudah sadar kalau istrinya itu tak punya uang sepeserpun." Tambah Kia yang terus mengoceh dan menjelek-jelekkan suaminya.


Tanpa Kia sadari, Dion sudah berdiri di belakang sofa duduknya.


"Siapa yang pelit?" Tanya Dion dari belakang sofa.


"Suami aku. Siapa lagi." Jawab Kia keceplosan. Ia sungguh tak menyadari siapa yang mengajukan pertanyaan padanya.


Beraninya dia mengatakan aku pelit di belakangku. Awas saja, malam nanti aku akan memberikan mulutmu ini pelajaran agar tak lagi menjelek-jelekkan suamimu ini Kia.


"Oh jadi suami mu itu pelit ya?" Tanya Dion lagi.

__ADS_1


Kia menganggukan kepalanya, ia masih tak sadar dengan suara siapa yang tengah bertanya padanya. Ia malah sibuk menyalakan televisi dan mencari drama korea yang tak kunjung selesai ia tonton sejak kemarin. Karena selalu saja ada gangguan untuk menontonnya.


"Coba lihat saja, sejak kemarin aku tak kunjung selesai nonton drakor ini, karena tidak punya ponsel. Pinjam ponsel dia, harus tunggu dia pulang kerja dulu. Nonton di televisi terlalu ribet untukku." Oceh Kia.


"Kenapa kamu tidak meminta saja dibelikan ponsel pada suami mu?" Tanya Dion lagi tetap di posisi yang sama.


"Heh, pantang bagiku meminta-minta harusnya dia itu peka dong. Punya suami Sultan tapi hidup seperti diperadapan kuno tanpa ponsel." Jawab Kia lagi.


Dion menggelengkan kepalanya mendengar ocehan istrinya. Bukan dia tak mau membelikan Kia ponsel, ia sebenarnya sudah membelikannya namun lupa memberikannya pada Kia.


Dion memberikan kode pada Pak Catur untuk mengambilkan ponsel baru untuk Kia yang telah ia beli dan sudah disetting sedemikian rupa.


"Hemmm," Dion memberikan ponsel tipe terbaru dari merek ternama dunia untuk Kia dari belakang sofa.


Kia segera menoleh ke arah tangan Dion yang menjulur di samping kepalanya itu. Terkejut dengan kehadiran Dion? Tentu saja, tapi Kia tetap santai dengan wajah datarnya.


Kini Kia bukannya mengambil ponsel yang diberikan Dion. Kia malah menggapai tangan Dion dan menggigitnya. Lagi-lagi Dion menggeram ke sakitan dan hal itu membuat hati Kia senang.


"Sakit, sayang." Ucap Dion saat menatap manik mata istrinya.


"Biarin, habis kamu jahat! Aku kehausan dan kepanasan tadi, gak ada minum setetes pun di mobil, mau jajan es kobok aja gak mampu beli aku. Naik mobil sih boleh keren, tapi punya uang juga enggak." Keluh Kia pada Dion dengan manjanya.


"Maafkan aku sayang, aku lupa memberikan mu uang." Sahut Dion yang kemudian mencium kening Kia.


"Hemm... Dimaafin. Tapi jangan di ulangin lagi ya." Balas Kia.


"Siap Boss," balas Dion yang kemudian berpindah posisi.


Kini ia duduk di samping Kia yang langsung memeluknya.


"Sudah ketemu sama sang mantannya?" Tanya Dion pada Kia yang memeluknya.


"Sudah," jawab Kia singkat.


"Terus?" Tanya Dion yang berharap Kia terbuka padanya, meskipun ia sudah tahu semua yang dibicarakan oleh Arka dan Kia.


"Terus aku langsung pulang setelah ketemu sama dia," jawab Kia yang membuat Dion sedikit kecewa.


Dion mengurai pelukan Kia dan menatap dalam manik mata istrinya.


"Gak usah ngeliatin aku kaya gitu, ah. Aku milik kamu, kamu milik aku. Kita ini satu. Aku tidak mau mempermainkan pernikahan kita ini Dion. Jadi jangan berpikir apapun lagi tebtang dia. Karena aku sudah mengakhiri hubungan ku dengannya. Sekarang hanya ada kita. Kamu dan aku." Ucap Kia yang begitu manis terdengar di telinga Dion.


"Memangnya kamu tidak berniat untuk menceritakan lebih dalam apa yang kalian bicarakan tadi di sana?" tanya Dion yang menatap serius manik mata Kia.

__ADS_1


__ADS_2