![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Mengapa perkataan ibu barusan begitu menggelikan di telinga ku. Jika Ibu ingin aku menjaga bicara ku, seharusnya ibu lebih dahulu mencontohkannya padaku. Jika seharusnya aku lebih memahami perasaan orang tuaku bukan Arka. Bukankah kalian seharusnya memahami perasaanku ketibang kepentingan perusahaan kalian, aku ini anakmu, Bu. Teganya kalian pada ku, mengorbankan perasaan ku hanya demi kejayaan perusahaan kalian." Sambung Sisil dengan senyum mengejeknya.
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi putih mulus Sisil yang kini memerah karena buah tangan Leoni.
"Beraninya kau menggurui Ibu. Kami melakukan semua ini demi kebaikanmu, demi masa depanmu." Geram Leoni pada putrinya.
"Ck, demi kebaikanku? Hehehe... Apa semua kejadian ini baik untuk ku Bu? Apa pernikahan tanpa cinta menurut Ibu memiliki masa depan?" Tanya Sisil sembari memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas karena huah dari tamparan sang ibu yang dengan tega menyakitinya.
Leony terdiam ia tak sanggup menjawab pertanyaan putrinya yang membuatnya mati kutu.
Sungguh ia tak pernah menyangka dan menduga pernikahan putrinya akan seberantak ini.
Leony segera pergi meninggalkan sang ibu yang hanya terdiam, tanpa memberikan jawaban pada dirinya.
*
*
*
Hari-hari pun berlalu, sudah lima bulan setelah acara pernikahan Arka dan Sisil berantakan. Arka masih menyembunyikan dirinya di dalam apartemen.
Ia sama sekali tak pernah keluar dari unit apartemennya. Meski demikian dari dalam unit apartemennya. Ia terus gencar melakukan pencarian Kia.
Arka kembali menggelontorkan biaya yang tidak sedikit untuk mencari keberadaan Kia. Ia bahkan menyewa beberapa detektif bayaran guna mencari keberadaan Kia.
Sudah lebih dari sepuluh detektif yang Arka gunakan jasanya. Tak satupun detektif itu datang memberikan secuil informasi untuknya. Mereka semua malah menghilang ditelan bumi setelah menjalankan misi pencarian Kia.
Sementara itu di Mansion Dion, Kia yang sudah berangsur-angsur membaik. Kini tak lagi terlihat seperti Kia yang dulu. Kia lebih banyak diam dan menghindari Dion.
__ADS_1
Kia lebih sering menghabiskan waktunya di ruang belajar. Ia menghabiskan waktunya untuk membaca buku, demi mengusir ingatannya tentang bagaimana merdunya suara Arka, mengucapkan ijab kabul untuk wanita lain, yang ia saksikan sendiri secara langsung.
Menyedihkan, menyakitkan. Tentu saja. Siapa yang sanggup untuk melihat dan mendengar pria yang sangat kita cintai, mengucapkan ikrar janji suci untuk wanita lain.
Pastinya dunia Kia kini terasa runtuh, kembali jiwanya remuk dengan kenyataan pahit yang harus ia terima.
Dion yang merasa terus dihindari oleh Kia, terus berusaha tanpa henti meminta maaf pada Kia.
Meski Kia berkata sudah memaafkannya, namun sikap Kia tak kunjung berubah seperti dulu. Hal ini makin membuat Dion frustrasi.
"Cukup Kia! Aku bukanlah Arka. Aku tak sabar menghadapi mu yang seperti ini. Aku muak!" Pekik Dion setelah membuka dengan kasar pintu ruang belajar Kia.
Dengan dada yang membusung dan terlihat turun naik lebih cepat. Dion menghampiri Kia yang masih duduk di meja belajarnya.
Brukkk!
Dion menggebrak meja belajar Kia, dan melempar buku yang sedang Kia baca kesembarang arah.
"Kenapa? Apa yang ingin kau lakukan padaku, Dion? Apa kau ingin membunuh ku seperti kau membunuh detektif bayaran Arka yang sudah mengetahui keberadaan ku?" Tanya Kia dengan manik mata yang berkaca-kaca.
Dion memalingkan pandangannya, ketika ia kembali melihat Kia ingin menangis karena perbuatannya.
Sungguh Dion trauma dan takut ketika ia melihat Kia menangis. Ia takut Kia kembali berbuat nekat mengakhiri hidupnya dihadapannya.
"Aku takkan pernah membunuh wanita yang sangat aku cintai. Kamu adalah wanita yang sangat aku cintai Kia. Aku sangat taku kehilangan mu." Jawab Dion yang kini sudah berdiri di samping kursi yang Kia duduki.
Untuk pertama kalinya, seorang Dion yang terkenal dingin dan kejam, berbicara dengan suara yang bergetar.
Bagaimana suaranya tak bergetar, sudah lima bulan lamanya, ia terus bersabar menghadapi perubahan sikap Kia yang dingin dan acuh padanya. Sungguh Dion sangat merindukan sosok Kia yang dulu.
Mendengar Dion kembali menyatakan cintanya. Kia menghela nafas panjangnya, lalu ia berdiri berhadapan dengan Dion.
__ADS_1
Kia menatap dalam manik mata pria yang terus menatap lekang wajahnya, menunggu sebuah balasan dari ungkapan isi hatinya yang terus ia ucapkan berkali-kali sejak lima bulan yang lalu.
Alih-alih langsung menjawab. Kia hanya menunduk pandangannya dan menyentuh dada hidang Dion yang masih terbalut dengan jas kerjanya.
Kia dapat merasakan degup jantung Dion yang masih tak beraturan karena menahan emosinya.
"Aku minta maaf, selalu membuat mu marah dan menjadi seorang pembunuh karena diriku." Ucap Kia tanpa berani memandang wajah Dion.
"Aku tak butuh kata maaf darimu Kia. Aku hanya butuh kau mencintaiku. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku? Melebihi rasa cintamu pada Arka. Tak bisakah kau melupakannya dan memulai hidupmu yang baru denganku? Apa yang harus ku lakukan untukmu agar kau memperdulikan diriku, setelah semua yang aku lakukan untukmu?" Tanya Dion yang menarik dagu Kia agar menatapnya.
Meski pandangan sudah mendongak, namun Kia masih enggan untuk menatap Dion. Ia tetap memejamkan manik matanya.
"Tatap aku Kia! Jawablah salah satu pertanyaan ku! Jangan buat aku seperti orang bodoh dan menyedihkan seperti ini." Paksa Dion yang kini ikut menitikkan air matanya.
Saat ini Dion tengah merendahkan dirinya sedemikian rendah, hanya untuk menjadi seperti seorang pengemis cinta.
Saat air mata Dion menetes di pipinya, Kia baru mau membuka matanya. Kini kedua manik mata Kia dan Dion bertemu. Mereka saling menatap dalam manik mata mereka satu sama lain.
Kia menghapus air mata Dion yang membasahi rahang tegasnya.
"Maafkan aku Dion. Sikapku ini telah melukai mu. Kau tak perlu melakukan apapun untuk membuatku mencintai mu. Karena aku sendiri yang akan menyerahkan hidupku padamu Dion."
"Kau sudah lama membuat ku menunggu Kia. Aku sudah tak tahan lagi. Jika kau tak bisa mencintaiku. Pergilah! Aku akan merelakan mu." Balas Dion yang secara halus telah mengusir Kia dari mansion dan hidupnya.
Dion menyingkirkan tangan Kia yang masih menyentuh dada bidangnya. Ia memundurkan langkah kakinya, berniat untuk meninggalkan Kia.
Dion membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu keluar ruang belajarnya. Kia mendapati bercak darah yang mengering di telapak tangan Dion. Kia sudah dapat pastikan. Dion baru saja menghabisi detektif bayaran Arka.
Belum sempat langkah kaki Dion sampai di Abang pintu ruang belajar Kia. Kia segera berlari memeluk tubuh Dion rengan erat dari belakang.
"Jangan pergi Dion! Jangan meminta diriku untuk pergi darimu! Hanya dirimu yang aku miliki di dunia ini. Hanya dirimu yang perduli pada hidupku yang penuh kemalangan ini."
__ADS_1
"Jika kau tak ingin pergi dariku, menikahlah denganku." Balas Dion yag berhasil membuat Kia terdiam sejenak.