Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 9


__ADS_3

Deg!


Jantung Kia sedikit terpompa, saat Dion memeluk tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Maaf," cicit Kia.


Sejenak ia menatap mata hazel milik Dion yang begitu memikat. Lalu menurunkan pandangannya dan menunduk.


"It's ok." Balas Dion yang juga merasakan jantungnya berdebar saat berada didekat Kia tanpa jarak seperti ini.


"Kia... Hiksss... Gue kangen sama lo. Akhirnya gue ketemu lo, sebelum gue mati dan gila karena lo menghilang seperti ditelan bumi." Cerocos Nadya yang memeluk tubuh Kia begitu erat, hingga merasa sesak nafas.


Melihat Kia kesulitan bernafas, Dion segera menarik tubuh adik sepupunya itu, agar melepaskan tubuh Kia.


"Ihhh... Kak Dion!!" Protes Nadya pada kakak sepupunya, saat tubuhnya di tarik paksa menjauh dari Kia, sembari memukul lengan Dion yang melingkar di pinggangnya.


Plak!!


Plak!!


Plak!!


"Nadya!" Pekik Dion saat lengannya terus dipukuli oleh adik sepupunya yang super manja itu.


Dion melepaskan Nadya dan berkacak pinggang menatap adik sepupunya ini.


"Apa, Kak? Kakak mau marah pada ku?" Tanya Nadya dengan wajah sok sedihnya.


Nadya sangat pandai memainkan emosi Dion. Tentu saja melihat wajah sedih adiknya Dion yang tadinya ingin marah, akhirnya ia urungkan karena rasa tak teganya pada Nadya.


"Tidak apa-apa, malam ini kamu cantik." Kilah Dion.


Yang akhirnya memilih meninggalkan kedua gadis itu di depan pintu masuk Mansionnya yang super megah, yang hanya ia tempati seorang diri. Tentunya dengan para pekerja dan pengawal pribadinya yang berjumlah hampir puluhan orang.


"Kia, malam ini gue mau tidur sama lo. Gue kangen sama lo. Besok gue akan bawa Dira ke sini pasti dia seneng banget lo udah ditemukan dan Pak Arka juga pasti seneng banget Ki....a~" Nadya menghentikan ucapannya ketika ia melihat ekspresi wajah Kia berubah muram dan sedih.


"Kia, lo kenapa?" Tanya Nadya saat Kia malah menitikan air mata dalam diamnya.


Jujur saja Dion memang belum menceritakan apapun pada Nadya, mengenai apa yang menimpa Kia sebenarnya. Dion bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan pribadi orang lain. Jadi pantas saja jika Nadya terlihat bingung melihat Kia yang tiba-tiba menangis saat Nadya menyebut nama Pak Arka.


"Kia, lo kenapa? Gue salah ngomong ya? Maafin gue Kia. Please, jangan nangis kaya gini! Gue jadi ikut sedih." Ucap Nadya yang jadi merasa bersalah.

__ADS_1


Nadya pun ikut menangis bersama Kia. Nadya terus memeluk tubuh Kia yang terus terguncang karena tangisnya yang begitu memilukan hati.


Di dalam mansion, tepatnya di dalam kamar. Dion tengah mengganti pakaiannya. Tiba-tiba saja ponselnya yang ada di atas ranjang tidurnya berdering. Manik mata hazelnya menatap layar ponselnya, yang menampilkan nama salah satu pengawalnya sedang menghubunginya.


Usai mengenakan pakaian, Dion mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Ya ada apa?" Tanya Dion langsung pada intinya


"Nona Nadya dan Nona yang Tuan muda bawa sedang menangis di depan pintu masuk, Tuan." Jawab Toni, pengawal yang berjaga di depan pintu masuk Mansion Dion.


"Hemmm, saya akan segera turun!" Ucap Dion yang langsung mematikan sambungan panggilan teleponnya.


Ia segera melangkahkan kakinya keluar kamar dan berlari kecil menghampiri kedua wanita yang tengah menangis itu.


Saat sampai di dekat keduanya, Dion menghentikan langkahnya tak jauh dari mereka. Dion menggelengkan kepalanya, melihat kedua wanita itu tengah menangis tersedu-sedu.


"Nadya, Kia. Bisa menangisnya dilanjutkan lagi di dalam. Apa kalian tidak lihat malam semakin larut? Bukankah tidak baik wanita terlalu lama di luar rumah seperti ini?" Tegur Dion yang menyadarkan keduanya.


Nadya melepaskan pelukannya pada Kia, ia menuntun sahabatnya itu untuk masuk di kediaman kakak sepupunya itu.


"Kak, Kia akan tidur dimana?" Tanya Nadya pada Dion yang berjalan menu dapur.


"Di atas, dekat kamar mendiang kedua orang tua ku." Jawab Dion tanpa membalikkan tubuhnya, ia terus berjalan ke arah dapur.


"Masuk Kia!" Perintah Nadya pada Kia yang hanya berdiri mematung di ambang pintu.


"Nad, apa gue harus tinggal di sini?" Tanya Kia yang masih enggan untuk masuk ke kamar yang sudah di siapkan oleh Dion sore tadi.


"Iya. Lo harus tinggal di sini. Karena nggak menutup kemungkinan Aldo akan cari lo lagi dan sekap lo lagi, kalau lo tinggal di luar sana." Jawab Nadya.


Kia akhirnya masuk saat tangan Nadya mengulur dan menarik tangan Kia, agar kakinya melangkah masuk ke kamar yang akan ia tempati, selama ia tinggal di mansion megah ini.


"Nadya, apa lo tahu kalau Dion udah beli gue dari Aldo?" Tanya Kia dengan mata berkaca-kaca.


"Apa? Apa lo bilang Kia? Kak Dion beli lo? Lo dijual sama si Aldo? Dia udah gila apa? Jual lo?" Tanya Nadya dengan mata yang membulat sempurna. Ia tak menyangka jika sahabat baiknya telah di jual oleh pria bastard itu.


Kia mengangguk dan menitikan air matanya kembali.


"Sabar Kia, sekarang lo udah di sini. Ini tempat yang teraman buat lo saat ini Kia." Ucap Nadya yang kembali memeluk sahabatnya.


"Lo jangan sedih dan ngerasa sendiri, Kia. Lo ada gue ada Dira, yang akan setia selalu ada q lo." Ucap Nadya lagi, sembari mengusap punggung Kia yang kembali tergoncang karena tangisnya.

__ADS_1


"Lo ganti baju dulu ya, siap-siap untuk tidur! Gue mau ke Kak Dion dulu." Ucap Nadya saat ia mengurai pelukannya.


Kia mengangguk patuh dan mengusap pipinya yang basah karena air mata.


"Gue gak bawa baju atau apapun Nad," ucap Kia yang terlihat bingung.


Nadya tersenyum dan menarik Kia ke ruang ganti yang ada di kamar itu. Kia begitu terkejut dengan banyaknya pakaian dan barang-barang pribadinya yang bisa tiba-tiba ada di kamar itu.


"Nad, bagaimana bisa~~~~?" Tanya Kia yang terpotong karena Nadya langsung menjawab tanpa menunggu pertanyaan Kia selesai.


"Tentu saja bisa jika ada di tangan Kak Dion. Sudah jangan terlalu banyak berpikir, sekarang ganti pakaian lo, bersiaplah untuk tidur. Saat gue balik lagi pokoknya lo udah ganti pakaian ya." Jawab Nadya.


Kia hanya mengangguk, dan Nadya pun melangkah pergi meninggalkan Kia. Ia keluar kamar mencari keberadaan Dion, kakak sepupunya yang masih berada di dapur.


"Kak Dion!" Pekik Nadya.


Saat ia mendapati salah satu assisten rumah tangga sedang menyesap milik Dion dibawah kursi meja makan.


Dion menoleh sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


"Arghhh.... pengacau!!" Umpat Dion.


Saat Nadya memelototi asisten rumah tangganya yang tengah berjongkok, memanjakan miliknya yang belum menyembur hari ini.


Sontak saja mendapati tatapan tajam dari Nadya. Asisten rumah tangga yang masih muda dan berparas cantik itu langsung melepaskan milik Dion, dan pergi berlari menjauh dari keduanya.


Dion lantas membetulkan kembali celananya dan menatap kesal adik sepupunya itu.


"Nikah kak! Jangan begitu terus!" Ucap Nadya yang tak kalah kesal seperti Dion.


"Hemm, nanti aku pikirkan. Ada apa mencari ku?" Sahut Dion yang masih memalingkan wajahnya pada adik sepupunya itu.


"Kau membeli sahabatku dari Aldo? Berapa? Aku akan ganti uang mu." Jawab Nadya.


Dion kini menatap wajah Nadya yang terlihat begitu tulus pada Kia.


"Kau mau menggantinya? Apa kau sudah bekerja? Jangan bilang kau akan menggantinya dengan Om Bram! Kau tak akan punya uang sebanyak itu Nad. Jangan sok-sok-an mau menggantinya." Jawab Dion yang tersenyum remeh.


Dion mengusap pucuk kepala Nadya dan mengacak-acak rambut adik sepupu yang sangat ia sayangi itu.


"Memangnya berapa uang yang Kakak keluarkan sampai kakak bilang begitu?" Tanya Nadya sangat penasaran, berapa harga Aldo menjual sahabatnya.

__ADS_1


"Satu Milyar. Dia menjual sahabat mu senilai satu milyar. Seorang istri yang dijual suaminya seharga satu milyar, dan diceraikan saat istri sudah sold out." Jawab Dion yang berhasil membuat Nadya terkejut dan akhirnya jatuh pingsan.


__ADS_2