![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Dion menyingkirkan dengan kasar kedua tangan Kia yang menghadang usaha Dion untuk mendekati tubuh mungil gadis yang sudah memikat hatinya.
Saat jarak di antara mereka terkikis. Dengan sekali tarikan, tubuh Kia kini berada di bawah kungkungan Dion. Kia terus menatap Dion dan memohon untuk Dion tak melecehkan dirinya dengan air mata yang terun dengan deras mengalir dari kelopak mata indahnya.
"Jika kamu mencintaiku, kamu tak akan melakukan ini Dion, please! Jangan paksa aku! Jangan lakukan ini sebelum aku menyerahkan diriku sendiri padamu. Please Dion!" Ucap Kia yang terus memohon pada Dion.
"Ck. Kamu akan menyerahkan dirimu pada ku? Apa kau tak salah bicara Kia? Jujur aku tidak percaya dengan kata-kata mu itu Kia. Untuk membalas kebaikan ku selama ini padamu saja, kamu tak pernah memikirkannya." Dion tertawa mengejek, merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Kia.
Bukan tak pernah ingin membalas semua kebaikan Dion. Tapi Kia bingung, harus melakukan apa lagi untuk membalas kebaikan Dion padanya. Selama ini Kia hanya bisa membalas kebaikan Dion dengan menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Dan untuk hal yang lainnya dia sampai saat ini belum terpikirkan. Karena untuk mengembalikan uang Dion sebesar 1 miliar saja, sampai saat ini Kia masih harus terus berpikir keras. Mencari jawaban dari bagaimana cara dirinya bisa mendapatkan uang dan mengumpulkan uang itu.
"Aku serius Dion, percayalah pada ku. Aku akan menyerahkan diriku dengan sukarela padamu Dion, percayalah. Aku tak akan membohongi mu. Tolong beri aku waktu untuk mengobati hati dan jiwa ku yang masih terluka ini Dion." Pinta Kia berusaha meyakinkan Dion.
Mendengar permintaan Kia, Dion tak langsung menjawabnya, ia malah menatap dalam manik mata Kia, begitu pun dengan Kia yang juga menatap dalam manik mata Dion. Keduanya sama-sama mencari kejujuran dan keyakinan dari lawan bicaranya.
Kia terus menatap manik mata hazel Dion hingga ia mendapati apa yang ia cari. Ya. Kia mendapatkan sebuah ketulusan yang terpancar dari manik mata Dion, sang Casanova yang kini luluh hatinya oleh seorang Janda bernasib malang.
Melihat Kia jauh lebih tenang dan tidak menangis kembali, Dion mengusap air mata Kia yang tersisa di pipi dengan ibu jarinya.
Tak hanya pipi Kia yang ibu jari Dion jelajahi, tapi juga bibir Kia. Bibir yang selama ini selalu ingin Dion rasakan kehangatannya.
Perlahan tapi pasti Dion kembali mengikis jarak wajahnya dengan wajah Kia. Kini wajah mereka hampir tak berjarak, hanya tersisa berapa inci saja, hingga hembusan nafas Dion begitu terasa.
"Izinkan aku mencium mu, Kia. Buktikan jika memang suatu saat kamu akan menyerahkan dirimu padaku dengan sukarela." Ucap Dion dengan suara yang begitu pelan,hingga hampir tak terdengar.
Kia memalingkan wajah saat Dion hampir saja mendaratkan ciumannya di bibir Kia. Dion tersenyum tipis mendapatkan penolakan dari Kia. Baru kali ini di dalam hidupnya ada seorang wanita yang berani menolak sentuhannya.
"Dion please tidak sekarang." Tolak Kia yang memalingkan wajahnya sembari meremaaaass kain sprai.
__ADS_1
"You liar Kia! LIAR!!" Pekik Dion tepat di depan wajah Kia.
Kia yang merasa takut dengan amarah Dion seketika menutup kedua matanya dan makin meremaaaass kuat kain sprai ranjang tidur Dion.
Dengan gerakan cepat, Dion menarik tubuh Kia, hingga ia terbangun dan berjalan terseret-seret keluar dari kamar Dion.
Brukk!!
Kia terjatuh tersungkur di atas lantai, ketika Dion melempar tubuhnya keluar dari kamarnya. Tak menunggu lama dan tak perduli dengan bagaimana kondisi Kia. Dion langsung saja menutup pintu kamarnya.
Brakk!
Suara pintu yang dibanting oleh Dion begitu mengagetkan, bahkan hembusan anginnya begitu kencang Kia rasakan.
"Maaf," ucap Kia lirih di depan muka pintu kamar Dion masih dalam posisinya yang terduduk di atas lantai.
Dengan sedikit tertatih dan pincang, Kia mulai berjalan menuju kamarnya. Sepertinya kakinya terkilir saat Dion menyeret paksa dirinya keluar dari kamar Dion tadi.
Dion menghabiskan waktunya untuk merenung, sedangkan Kita menghabiskan waktunya untuk menangisi nasib malangnyang menimpa dirinya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari seorang kepala asisten rumah tangga di depan pintu kamar Dion jelas terdengar. Dion segera membuka pintu dan ia dapati Pak Catur tengah berdiri di muka pintu kamarnya.
"Sudah waktunya makan siang Tuan, kami sudah menyiapkan makan siang untuk Tuan." Ucap Pak Catur dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Saya akan segera turun. Tunggu saja saya di bawah." Jawab Dion.
Tak lama berselang Dion turun ke lantai bawah, berjalan menuju ruang makan. Di dapati Tania seorang diri tengah duduk di salah satu kursi meja makan.
__ADS_1
"Kemana Kia?" Gumam Dion yang mencari sosok Kia yang tak terlihat di ruang makan.
Menyadari Tuan mudanya sedang mencari sosok Kia, Pak catur pun memberitahukan jika Kia sedang mengunci dirinya di dalam kamarnya tanpa menunggu Dion bertanya terlebih dahulu.
"Nona Kia sedang mengurung diri di kamar Tuan. Saya sudah mengajaknya untuk makan siang bersama, namun ia menolak dan berkata belum lapar. Apa perlu saya panggilkan lagi?"
"Tidak perlu, biarkan saja." Jawab Dion datar.
"Kamu menghindari ku, Kia. Baiklah jika itu mau mu." Gumam Dion di dalam hatinya.
Siang itu Dion menghabiskan waktu makan siangnya bersama Tania yang benar-benar membosankan.
Dari kata-kata yang Tania ucapkan dan dari bahasa tubuhnya, Dion sudah dapat mengerti jika Tania sangat menginginkan dirinya, dan sebagai seorang Casanova. Dion tak akan menyia-nyiakan sebuah mangsa yang menyerahkan dirinya sendiri.
Di ruang makan dan di hadapan para asisten rumah tangga, Tania tanpa ragu dan malu terus berusaha menggoda Dion. Hingga Dion memberikan kecupan pada bibir Tania yang terus menggodanya. Kecupan yang awalnya hanya kecupan biasa, berubah menjadi kecupan panas. Ketika Tania terus bergerak menuntut lebih.
"Tidak sekarang Tania, aku sedang ada urusan." Tolak Dion, saat Tania berusaha membuka pakaian Dion.
Kia yang sedang berdiri di beberapa anak tangga terakhir, hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan Dion pada Tania.
Kia tersenyum kecut dan merasakan sedikit nyeri di hatinya, melihat Dion bertukaran saliva dengan guru homeschooling-nya yang cantik dan seksi itu.
Para asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh dari meja makan langsung saja menatap Kia penuh arti ketik mereka menyadari kehadiran Kia di anak tangga.
"Hanya sebentar saja Dion, aku akan memuaskan mu." Tania terus mendesak keinginannya pada Dion dan Dion tetap menolak.
Tania tak hilang akal, ia terus berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan. Tania menarik wajah Dion untuk kembali mengajak Dion berciuman dan Dion menolak dengan membuang pandangannya.
Saat Dion membuang pandangannya, Dion mendapati Kia tengah memperhatikan apa yang ia lakukan dengan Tania di ruang makan. Pandangan mereka saling bertemu dan Dion dapati Kia kembali menitikan air mata.
__ADS_1
"Aku atau dia yang seorang pembohong di sini? Bisa-bisanya dia mengatakan cinta tapi berbuat menjijikan di belakang ku." Gumam Kia di dalam hatinya dengan mata yang masih menatap Dion.