![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Usai mendapatkan informasi dari Pak Catur, jika Kia sudah berada di kamar pribadinya, Dion yang tadinya ingin bekerja akhirnya memutuskan untuk menyusul keberadaan Kia yang sudah sah menjadi istrinya.
Dengan langkah bersemangat Dion menaiki anak tangga sembari berlari, detak jantungnya memacu lebih cepat dari biasanya. Hatinya berdesir, kali ini senyum yang terlihat cukup manis, tak jua hilang dari wajah tampannya yang selalu terlihat datar dan dingin.
Dengan hati yang sedikit ragu, Dion membuka pintu kamarnya.
Ceklek. [Suara handle pintu berbunyi]
Dion dapati istri kecilnya sedang tertidur pulas di atas ranjangnya sembari memeluk sebuah guling.
Dian makin melebarkan senyumnya, saat ia dapat memastikan apa yang dikatakan Pak Catur memang benar adanya, jika istrinya itu berada di dalam kamar pribadinya.
Sebelum ia membersihkan diri ke kamar mandi. Dion menyempatkan diri menghampiri Kia yang tertidur di atas ranjangnya.
Dian duduk di tepi ranjang di mana Kia berbaring. Diusapnya rambut panjang Kia dari atas hingga ke bawah berulang-ulang.
Entah merasa nyaman atau bagaimana. Mendapat perlakuan manis dari Dion, Kia malah membalikkan tubuhnya ke arah Dion.
Dion yang terkesiap menghentikan apa yang ia lakukan pada Kia. Tak disangka dan tadi duga mata Kia yang terpejam, menarik tangannya agar kembali mengusap rambutnya.
"Usap lagi Papi!" Ucap Kia seperti orang yang sedang melindur.
Iya Kia merasa yang sedang mengusap kepalanya adalah Papinya yang telah tiada, padahal yang mengusap kepalanya adalah suaminya sendiri, Dion.
"Sepertinya kau merindukan Papimu Kia. Aku akan berusaha menjadi sosok papimu dan juga suami yang baik untukmu. karena aku sangat menyayangimu. Hanya Kau wanita yang berhasil meruntuhkan hatiku yang beku." Ucap Dion sembari terus mengusap kepala istrinya, hingga ia yakini Kia sudah tertidur dengan pulas.
Dian segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya di kamar mandi. Usai membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Dion ikut bergabung bersama Kia untuk beristirahat.
Malam ini sepasang suami istri yang baru saja menikah, melewatkan malam pertama mereka dengan hanya tertidur, seperti hari-hari biasanya sebelum mereka menikah.
Malam ini meski Dion merasa sangat mengantuk, namun matanya sulit untuk terpejam. Entah mengapa dan entah apa sebabnya, ia sulit untuk memejamkan matanya.
Meski dia sudah mencoba memejamkan matanya namun ia tak juga masuk ke dalam alami mimpinya.
Pergerakan tubuh Dion yang gelisah akhirnya membuat Kia terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Emm, kenapa bergerak-gerak terus, aku cukup terganggu Dion?" Tanya Kia dengan suara paraunya.
"Aku tidak bisa tidur Kia," jawab Dion jujur.
"Heh, kenapa tidak bisa tidur? Ini sudah sangat larut malam Dion bahkan hampir pagi ku rasa. Ayo tidur! Mendekatlah! Aku akan mengusap-usap punggungmu, agar kau tertidur."
Kia menyingkirkan guling yang ia peluk, ia menarik tubuh Dion agar mendekat padanya, hingga Dion berbaring berhadapan dengan tubuh Kia.
Dengan pencahayaan yang cukup redup dari sinar bulan yang sedikit masuk dari tirai jendela, Dion dapat melihat wajah cantik Kia yang masih memejamkan mata, namun salah satu tangannya terus bergeram mengusap punggungnya berulang-ulang tanpa henti dan dalam ritme lambat.
Sepertinya cara Kia membuat Dion tertidur berhasil. Karena lama-kelamaan apa yang dilakukan Kia membuat rasa kantuk Dion tak tertahan lagi dan akhirnya Dion dapat memejamkan matanya. Dion ikut terlelap dalam waktu cukup singkat.
Tak terasa posisi tidur mereka pun lama-kelamaan pun berubah. Kia yang selalu memiliki kebiasaan memeluk guling, akhirnya tertidur pulas dengan memeluk tubuh Dion dengan erat, layaknya sebuah guling.
Dion aku rasanya sedikit sesak, ia hampir saja terbangun kembali, namun secara sadar. Dion yang mengetahui siapa yang memeluk erat dirinya langsung saja membalas pelukan istrinya itu dengan natural.
Pagi hari di Mansion Dion.
Kia yang sudah terbiasa bangun pagi, sudah bangun dari subuh tadi, meski ia tidur larut malam semalam.
Ia berkutat dengan perabotan dapur, membuat sarapan pagi seperti biasanya untuk Dion.
Dion tak mencari keberadaan Kia yang ia ketahui pasti sudah berada di lantai bawah. Berkutat dengan perabot dapur, memasak menu sarapan kesukaannya yaitu omlet sayur.
Usai memasak, Kia langsung kembali ke kamar pribadi Dion. Niatnya ingin membangunkan sang suami, Namun ternyata suaminya sudah bangun lebih dahulu.
Terdengar suara gemericik air di kamar mandi, yang sudah dapat dipastikan olehnya, jika suaminya ini sedang mandi di kamar mandi.
Ta berapa lama Dion keluar dari kamar mandi Dengan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya.
Seketika dia terperangah melihat pemandangan indah tubuh Dion yang terlihat basah dan seger itu.
Keduanya saling menatap satu sama lain, kemudian Dion yang tak mau banyak berharap dari Kia yang ia rasa belum siap langsung memutuskan tatapan mereka dan meminta pakaian kerjanya pada Kia.
"Dimana pakaian kerja ku Kia?" Tanya Dion yang berjalan mendekati Kia.
__ADS_1
Ia mengikis jarak pada istrinya itu yang masih terdiam memandanginya.
"Kia kenapa kau melamun? Dimana pakaian kerjaku?" Tanya Dion pada Kia yang memang setelah menatap diri Dion ia malah asyik melamun.
Prok... Prok [suara Dion bertepuk tangan]
Demi menyadarkan Kia dari lamunannya.
"Hah, kenapa?" Tanya Kia yang baru tersadar.
"Kamu melamun Kia. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Dion pada Kia.
"Dion semalam aku bermimpi didatangi Papiku. Aku merasa tangannya begitu nyata mengusap kepalaku. Tapi bayangan papiku itu tiba-tiba berubah menjadi sosok dirimu. Dion. Bolehkah aku datang ke makam mereka? Sudah sangat lama aku tidak pernah mengunjungi makamnya." Jawab Kia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Semalam kau bukan bermimpi Kia, akulah yang mengusap kepalamu. Jika kau bilang bayangan papimu berubah menjadi sosok diriku. Mungkin akulah yang akan menjadi pengganti papimu. Yang akan menjaga dan menyayangimu seperti beliau menjaga dan menyayangimu Kia." Balas Dion di dalam hatinya.
"Tentu saja boleh, setelah urusanku selesai aku akan mengantarmu ke sana. Aku ada pekerjaan yang sangat penting yang tak bisa aku tinggalkan. Apa kau bersedia untuk menungguku?" Jawab Dion yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kia, tak lupa senyum indah Kia kembali terbit di wajah cantiknya.
"Sekarang mana pakaian kerjaku? Aku tidak mungkin bekerja dalam keadaan seperti ini."
"Ah, maafkan aku Dion. Aku sudah menyiapkan pakaian mu diruang ganti." Jawab Kia yang menarik tangan Dion keruang ganti.
Dimana ia sudah menyiapkan satu stel jas kerja dengan dasi dan sepatu dengan warna yang senada hitam.
"Dion kenapa seluruh pakaianmu berwarna hitam? Apa kau tidak takut dikerubungi nyamuk. Nyamuk itu sangat suka dengan warna yang hitam pekat seperti ini." Tanya Kia ketika ia membantu suaminya mengenakan pakaian.
"Aku tak bisa mencocokkan warna yang pas untuk diriku, Kia. Aku paling tidak suka memakai pilihan orang lain terkecuali pilihan Nadia dan wanita yang aku cintai." Jawab Dion.
"Apa Aku adalah wanita yang kau cintai Dion?" Kembali Kia bertanya dan Dion malah tersenyum mendengar pertanyaan Kia.
"Tentu saja, kau adaah wanita yang sangat aku cintai setelah Mommyku yang telah tiada." Jawab Dion sembari menatap manik mata coklat milik Kia.
"Kalau begitu aku boleh membelikan pakaian kerja untukmu dengan warna lain bukan?"
"Tentu Kia."
__ADS_1
"Baiklah, dalam beberapa hari ke depan bolehkah aku pergi bersama Nadya untuk membelikan pakaian kerja untuk mu?" Tanya Kia yang seketika membuat Dion terdiam.
Hayook boleh ga nih Kia keluar dari Mansion?