Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]

Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]
Bab 26


__ADS_3

"Aku mau menikah denganmu, Dion. Tapi tolong jangan paksa aku untuk melayanimu sebelum aku yakin akan perasaanku padamu." Jawab Kia.


Senyum mengembang di wajah Dion, saat ia mendengar jawaban Kia yang sesuai dengan ekspektasinya, meskipun ada sebuah syarat yang akan menyiksa dirinya. Yaitu keengganan Kia untuk melayani dirinya sebelum ia yakin akan perasaan dirinya pada Dion.


"Tak jadi masalah bagiku kau tak mau melayaniku, aku bersedia menunggumu sampai kau siap." Jawab Dion yang kemudian pergi meninggalkan Kia.


Ya. Dion segera pergi meninggalkan Kia, demi mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk menikahi Kia dalam waktu dekat ini.


Dion segera menghubungi Tuan Bramantyo untuk memberitahukan rencana dirinya akan menikahi dia dalam waktu dua hari ke depan.


"Apa? Kau tidak salah bicara Dion? Kenapa sangat terburu-buru seperti ini?" Tanya Tuan Bramantyo yang merasa pernikahan yang direncanakan Dion terlalu tergesa-gesa.


"Aku sudah menunggunya selama lima bulan, lima bulan bagiku bukan waktu yang sebentar Om. Apa Om tidak kasihan dengan dirinya yang selama ini kita kurung di dalam Mansion. Dia juga butuh pergi keluar dari Mansion. Bersenang-senang seperti dahulu dengan Nadia." Jawab Dion yang memang ada benarnya.


Sungguh sebenarnya Dion sangat kasihan dengan Kia, yang terlalu sibuk menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar. Hidupnya sangat monoton dan membosankan.


"Kau ingin pernikahanmu di publish atau melakukan pernikahan ini secara rahasia. Jika boleh Om sarankan, sebaiknya pernikahanmu dilangsungkan secara rahasia. Tidak perlu banyak orang tahu tentang pernikahanmu dengan Kia. Ini demi kebaikan Kia dan agar kau tak kehilangan Kia." Sahut Tuan Bramantyo.


Sejenak Dion terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Tuan Bramantyo. Yang memang ada benarnya.


"Jika pernikahan ini dilangsungkan secara rahasia, aku tak perlu menunggu dua hari lagi, Om. Malam ini akan aku langsungkan pernikahanku dengan Kia. Tolong om hadiri pernikahanku bersama dengan tante dan juga Nadia." Balas Dion setelah dia terdiam sejenak.


Dion sudah memutuskan sesuatu yang membuat Tuan Bramantyo sedikit tertawa geli di seberang sana. Tuan Bramantyo menertawakan keponakannya yang terdengar tak sabar untuk menikahi Kia. Dion sangat mewarisi sikap Daddy-nya yang pemaksa dan melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa.


"Baiklah jika itu keputusanmu, kami akan datang untuk menyaksikan hari bahagiamu ini, Dion." Ucapkan Bramantyo yang menjadi penutup dari pembicaraan mereka berdua di sambungan telepon.

__ADS_1


Usai menghubungi Tuan Bramantyo, Dion kembali memanggil Pak Catur. Ia meminta asisten rumah tangganya itu untuk mempersiapkan pesta pernikahannya bersama dengan Kia.


Setelah berbicara dengan Pak Catur. Dion kembali ke ruang belajar Kia, untuk membicarakan pernikahan mereka yang akan dilangsungkan nanti malam.


Namun langkah Dion terhenti di ambang pintu, saat menyadari sosok Kia tak lagi berada di ruangan belajarnya.


Dion segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar pribadi Kia yang ada di lantai dua. Kembali Dion tak mendapati Kia di sana. Kamarnya nampak kosong, tempat tidurnya terlihat rapi, begitu pula dengan sofa yang biasa menjadi tempat baca untuk Kia selama menghabiskan waktu di dalam kamarnya.


Kembali Dion memanggil Pak Catur kali ini Gion memanggil Pak Catur dengan suara yang cukup tinggi, hingga menggema di seluruh penjuru Mansion.


"PAK CATUR!!" pekik Dion.


Pak Catur yang merasa namanya dipanggil oleh Tuan Mudanya. Segera berlari menghampiri Tuan mudanya yang berada di anak tangga terakhir.


Pria tua ini habis berlari tunggang langgang, demi menghampiri Tuan mudanya yang memiliki sifat temperamental dan emosional ini.


"Kemana Kia? Apa dia melarikan diri?" Tanya Dion dengan kecurigaannya.


"Melarikan diri? Tidak mungkin tuan, Nona Kia tidak mungkin melarikan diri."


"Lalu ke mana dia? Saya sudah mencarinya ke ruang belajar dan juga kamarnya namun sosoknya tak dapat saya temukan."


"Biasanya, jika Nona Kia tidak ada di ruang belajar maupun di kamarnya, beliau ada di paviliun asisten rumah tangga Tuan." Jawab Pak Catur yang membuat Dion terkejut.


"Apa? Untuk apa dia di sana? Saya tak pernah mengizinkan dia untuk datang ke sana. Apa kau tidak pernah melarangnya, Pak Catur?"

__ADS_1


Dion bicara dengan keterkejutannya, ia nampak tidak suka jika Kia sering berada di paviliun asisten rumah tangganya.


"Saya sudah melarangnya Tuan. Namun Nona Kia tetap membandal. Dia terus menangis dan memohon pada saya untuk mengizinkan dirinya menghilangkan rasa jenuh dan kesepiannya di sana." Jawab Pak Catur dengan sejujur-jujurnya.


"Temani saya ke sana!" Perintah Dion yang kemudian berjalan lebih dahulu dan Pak Catur mengekori langkah kakinya.


Sesampainya di paviliun asisten rumah tangganya. Dion melihat betapa bahagianya Kia di antara para asisten rumah tangga yang sedang memanjakan dirinya bagaikan seorang ratu.


Setelah sekian lama tak lagi melihat tawa Kia bersama Nadia dan juga Dira. Akhirnya Dion dapat kembali melihat senyum Kia terbit kembali di wajah cantiknya.


"Sepertinya kau sangat betah di sini baby girls. Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini." Ucap Dion yang mengejutkan seluruh asisten rumah tangganya yang sedang bercengkrama dengan Kia.


Begitu pula dengan Kia yang terkejut dengan keberadaan Dion di sini.


"Kau mencariku? Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting, yang harus kita bicarakan berdua?" Tanya Kia sembari menghampiri Dion yang berdiri tak jauh dari posisinya.


"Tidak ada baby girl. Lanjutkanlah kegiatanmu bersama mereka! Maafkan aku yang telah mengganggu waktu bersenang-senang mu, baby." Ucap Dion sembari mengusap pipi Kia dengan lembut. Dengan senyum mengembang yang menghiasi wajah tampannya.


Usai mengucapkan hal itu, Dion segera pergi meninggalkan paviliun asisten rumah tangganya. Pak Catur terus setia mengikuti langkah kaki Dion yang kembali memasuki Mansion utama miliknya.


"Sejak kapan Kia bisa tersenyum kembali seperti itu, Pak catur?" Tanya Dion sembari berjalan memasuki mansionnya.


"Sudah sejak tiga bulan yang lalu Tuan. Bi Nana-lah yang pertama kali membuatnya nyaman dan bisa kembali tersenyum seperti ini. Karena Bi Nana-lah, Nona Kia menjadi ketagihan bermain di paviliun asisten rumah tangga. Jika boleh jujur, sebenarnya Nona Kia tidak pernah tidak nafsu makan, Tuan. Nona Kia hanya makan sedikit saat bersama Tuan. Itu dilakukan olehnya untuk menghargai dan menghormati Tuan saja. Karena sebenarnya dia selalu ikut makan bersama para asisten rumah tangga di paviliun." Jawab Pak Catur dengan penjelasan detailnya tentang Kia yang tidak diketahui oleh Dion.


"Hahaha... Begitu rupanya, ternyata selama ini saya telah salah sangka padanya, Pak Catur. Baiklah jika demikian. Naikkan gaji seluruh asisten rumah tangga kita sebesar sepuluh persen, dan terkhusus Bi Nana naikkan gajinya sebesar tiga kali lipat di bulan ini dan dibulan selanjutnya samakan dengan yang lainnya. Anggaplah ini adalah ucapan terima kasih saya pada mereka." Ucap Dion dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampannya.

__ADS_1


__ADS_2