![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Saat Arka makin mendekat. Kia menghentikan langkah Arka dengan gerakan tangannya.
"Cukup di sana saja Tuan Arka, jangan mendekati ku!" Pinta Kia yang berusaha menjaga jarak pada Arka.
"Kia? Kenapa? Aku ingin memeluk mu. Aku sangat merindukanmu. Aku masih tetap menjadi Mas Arka mu, Kia." Ucap Arka yang merasa heran dan sedih dengan penolakan Kia yang tak ingin di dekati olehnya. Setelah berbulan-bulan lamanya mereka berpisah dan tak berjumpa.
"Tubuhku haram untuk kau sentuh, kau memiliki seorang istri begitu pula dengan aku yang memiliki seorang suami." Jawab Kia tegas.
Arka tertawa pedih mendengarkan jawaban Kia yang menohok hatinya dengan ribuan pisau.
Haram, bagaimana bisa dirimu berkata demikian Kia? Kata haram terlalu menyakitkan untukku, tolong jangan terlalu kejam pada ku. Karena aku masih sangat mencintaimu, Kia.
Kejam. Ya ini terlalu kejam untuk Arka. Arka sama sekali tak pernah mengakui Sisil sebagai istrinya, karena rasa cintanya pada Kia.
Namun apa yang ia dapatkan kini, wanita yang ia cintai malah dengan lantang dan tegas mengakui dirinya adalah milik pria lain yang sudah menjadi suaminya, dan mengatakan tubuhnya haram untuk disentuh oleh dirinya, yang sangat mencintai Kia.
"Tapi aku mencintaimu, begitu pula dengan dirimu, aku yakin kau masih mencintaiku, Kia." Sanggah Arka yang masih ingin mendekat pada Kia.
"Tetaplah di posisimu Tuan Arka yang terhormat. Jaga batasan Anda! Sadarlah posisi kita saat ini. Anda dan saya sama-sama tidak sendiri lagi."
Hati Arka benar-benar remuk, ketika Kia berkali-kali memanggilnya dengan sebutan Tuan Arka bukan Mas Arka ataupun Pak Arka seperti dahulu, saat Kia masih menjadi muridnya.
"Aku masih sendiri Kia, aku masih tinggal sendiri, pernikahan ku dan dia hanya sebatas pernikahan di atas kertas saja. Aku mencintaimu dan hanya kamulah yang akan aku jadikan istri sesungguhnya. Pulanglah ke apartemen ku, Kia. Tinggalkan dia dan kembalilah padaku. Aku akan meninggalkan Sisil setelah kau kembali padaku. Aku sudah menjanjikan hal itu pada Sisil."
Arka terus mencoba meyakinkan Kia dan meminta Kia kembali padanya. Tanpa sadar semua perkataan Arka membuat Kia menilai buruk tentang dirinya. Terlebih Kia sudah mengetahui tentang pernikahan Arka dan Sisil hanya sebuah perjanjian bisnis dari Dira.
Apa dia bilang akan meninggalkannya setelah aku kembali? Apa dia pikir aku ini ban serep?
Bodoh sekali aku pernah mencintai pria seperti dirinya. Bagaimana bisa pria yang selama ini aku kagumi tak sama sekali menghargai perasaan wanita dan menganggap pernikahan hanya sebuah permainan dan perjanjian yang saling menguntungkan.
"Damn! Kuberikan kesempatan bertemu istriku, kau malah memintanya meninggalkan ku. Kau memang selalu menjadi orang yang tidak tahu diri Arka." Umpat Dion di dalam mobil. Dion geram sangat geram kini.
Dion dapat mendengar semua percakapan Kia dan Arka karena salah satu kancing baju Kia telah diletakkan sebuah microchip oleh Lala atas perintah Dion dan Chriss.
Melihat Kia diam saja, perlahan namun pasti Arka mencoba mendekat kembali pada Kia. Arka merasa berhasil telah mempengaruhi Kia untuk kembali padanya.
Sadar, jika Arka mendekat, Kia kembali meminta Arka untuk berhenti melangkahkan kakinya.
"Tetaplah di sana! Aku tak meminta mu untuk mendekat, wahai Tuan Arka yang terhormat!" Ucap Kia yang sama sekali tak di gubris oleh Arka.
"Berhenti di sana! Jangan sampai aku berbuat nekat! Kau tahu bagaimana karakter ku bukan! Aku tak suka di desak! Dan aku sangat benci karakter mu yang pemaksa seperti ini. Karena paksaan dirimu lah. Aku harus melewati penderitaan hidupku!" Ucap Kia sembari mengeluarkan sebuah pisau lipatnya.
__ADS_1
Sontak Arka yang terkejut melihat sebuah pisau lipat di tangan Kia, ia langsung menghentikan langkahnya.
Begitu pula dengan Dion yang nampak sangat terkejut saat melihat istrinya mengeluarkan pisau lipat.
"Chriss, darimana ia mendapatkan pisau itu? Kau kecolongan Chriss. Ceroboh sekali kau Chriss. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku, kau akan habis di tanganku, Chriss. Arghhh!!" Pekik Dion frustrasi di dalam mobil.
Rasa khawatir dan takut kini hinggap di dalam dirinya. Takut Kia kembali memotong urat nadi tangannya seperti saat menghadiri acara pernikahan Arka dan Sisil.
"Ok Kia, aku akan tetap di sini. Jangan lagi lakukan itu Kia. Maafkan aku, aku tak bermaksud membuat hidup mu menderita Kia. Di sini tak hanya dirimu yang menderita tapi juga aku." Ucap Arka yang akhirnya mengalah tak mendekati Kia.
Kia terlihat menghela nafasnya kasar. Memang saat itu Arka tidak bermaksud membuat hidupnya menderita, tapi jika saja Arka mau mengerti dan tidak memaksa untuk ikut saat itu, pasti semua kejadian kelam di hidup Kia tak akan terjadi dan tak perlu ia jalani.
"Tuan Arka yang terhormat, ketahuilah Sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Namun suamiku meminta aku untuk menemui mu. Untuk menentukan kemana hatiku ini ingin melangkah. Kepada dirinya atau dirimu." Kia menghentikan ucapannya saat ia melihat Arka tersenyum.
Ya. Arka tersenyum penuh keyakinan, Kia akan memilih dirinya. Karena ia tahu betul jika Kia masih sangat mencintainya.
"Kia, kemarilah! kita akan mulai semuanya dari awal lagi, lupakan semuanya dan aku akan menerimamu apa adanya Kia." Kata Arka yang yakin Kia akan memilih dirinya.
Arka kemudian merentangkan tangannya, berharap Kia akan berlari memeluknya dan merengkuh cinta mereka kembali.
Sedang di dalam mobil Dion tengah ketar-ketir dengan nasib pernikahannya saat ini. Mendengar kata-kata Kia dan bagaimana Arka sudah bersiap menyambut kehadiran Kia yang akan kembali padanya.
Dion memang mengambil resiko tinggi dengan mempertemukan Kia kembali pada Arka. Namun hal ini harus ia tempuh demi keyakinan dan masa depan pernikahannya bersama Kia.
"Sejak awal aku keluar dari kediaman suamiku dan hingga saat ini tujuanku menemui mu, tidak berubah. Aku datang menemuinya hanya untuk mengatakan padamu. Hubungan kita telah berakhir dan benar-benar berakhir saat kau mengucapkan ijab kabul untuk wanita lain."
"Kia, aku terpaksa!" potong Arka mencoba menjelaskan.
Alih-alih perduli dengan penjelasan Arka, Kia kembali meneruskan perkataannya.
"Kia yang kau cintai telah mati Tuan Arka. Mati disaat kau mengucapkan kalimat sakral itu dengan begitu merdunya untuk wanita lain itu. Berapa bodohnya aku. Dua kali aku mati karena rasa cintaku pada mu, pertama saat aku harus berjuang menghindari pernikahan paksa atas dasar perjodohan dari mendiang orang tuaku dan yang kedua karena aku tak sanggup melihatmu bersanding dengan wanita lain. Sekarang sudah cukup, tidak akan lagi aku lakukan hal bodoh itu hanya karena dirimu."
Arka terus menggelengkan kepalanya tak menyangka pertemuan yang sangat ia nanti-nantikan selama ini, hanya mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan dari mulut wanita yang sangat ia cintai.
"Dengar aku! Izinkan aku menjelaskan Kia! Aku menikah karena terpaksa Kia, aku melakukan itu demi tante Widya. Aku terlalu larut dalam kesedihan ku karena kehilangan dirimu. Dan----"
Kembali Arka mengungkapkan kebenaran yang sama sekali tak mengubah pendirian Kia. Bahkan perkataannya tak dapat ia selesaikan karena Kia tak memberikan kesempatan Arka untuk banyak bicara.
"Lanjutkan lah keterpaksaan mu itu Tuan Arka, karena aku tak perduli. Tolong jangan ganggu hidupku, juga suamiku dan jangan paksa suamiku untuk meninggalkan ku. Hanya karena keegoisan mu. Saat ini suamiku adalah nafasku. Jika kau memaksanya meninggalkan ku, berarti kau menginginkan aku menyusul keberadaan kedua orang tuaku di sini."
Arka kembali menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka betapa keras kepalanya Kia. Arka juga tak sanggup terus-menerus mendengar kata-kata Kia yang terus menusuk relung hatinya. Arka terdiam dengan linangan air matanya. Kecewa, sedih tentu saja ia rasakan kini.
__ADS_1
Kau berhasil menyakiti hatiku Kia. Tak tahukah aku hampir gila karena kehilanganmu. Kau menulikan telingamu tak mau mendengar penjelasan ku. Kenapa kau jadi seperti ini? Kau seperti orang asing bagiku, Kia. Kau benar-benar berubah.
"Kau tega Kia, kau tega pada ku!" Pekik Arka tak terima dengan keputusan Kia yang akan meninggalkannya. Ia membentak Kia dengan suara yang sangat tinggi, hingga menggema di pemakaman itu.
Kia memejamkan matanya, tubuhnya gemetar karena takut dengan bentakan Arka. Trauma karena seringnya dibentak dan disiksa oleh Aldo kembali menyeruak di dalam diri Kia kini.
Tubuh Kia bergetar hebat, nafasnya naik turun. Ini pertama kalinya Arka membentak Kia. Kia meremas kedua telapak tangannya. Berusaha kuat dan tak lemah di hadapan Arka.
"Beraninya kau bentak istriku, Arka. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu kalau Kau berani membentak istriku lagi." gerutu Dion di dalam mobil. Ia masih serius memperhatikan pertemuan istrinya dengan mantan kekasih istrinya ini.
Bagi Kia bertemu dengan Arka bukanlah hal yang mudah untuk Kia jalani. Selain masih ada rasa cinta itu, terselip juga rasa trauma. Dimana ia menjadi mengingat seorang Aldo yang menyakiti dirinya. Pria yang sudah merusak mimpi dan cita-citanya yang telah ia rancang selama ini.
"Anggaplah aku tega, tak apa. Pandanglah dan katakanlah aku seburuk apa yang kau mau. Aku tidak keberatan. Tapi tolong izinkan aku bahagia. Aku ingin bahagia. Bolehkan Tuan Arka? Sudah cukup penderitaan ku, aku tak ingin hidup dalam kegelapan terus menerus, aku ingin pagi menyapa ku dengan keceriaan bukan kepedihan yang berulang-ulang." Ungkap Kia yang kini sedikit menitikan air mata.
"Kebahagiaan mu bersama ku, Kia. Bukan bersamanya?" Tukas Arka yang masih menginginkan Kia merubah keputusannya.
"Tidak. Kebahagiaan ku ada bersama suamiku. Dialah nafasku. Aku tidak pernah takut kehilanganmu, tapi setiap hari, jam bahkan detik, aku selalu takut kehilangannya." Ucap Kia yang kembali menitikan air mata.
"Kau bohong padaku, Kia. Bagaimana bisa kau menganggap pria br3ngs3k itu nafas mu? Apa kau belum tahu, bagaimana kebiasaan buruknya pada wanita yang setiap malam memuaskan dirinya di atas ranjang. Betapa menjijikkannya dia."
"Aku tahu, bahkan aku melihatnya sendiri. Kau tak mengenal bagaimana baik buruknya suamiku. Tolong berhentilah mencap dirinya buruk. Aku tahu suamiku punya batasan, tak semua wanita ia tiduri, tak semua wanita ia sentuh. Hanya diriku, wanita yang ia sentuh setelah kekasihnya yang telah kau rebut dan akhirnya kau tinggalkan. Aku tak ingin seperti Rika. Aku bukan piala bergilir kalian, meskipun aku ini hanya seonggok sampah yang beruntung." Kia membela Dion mati-matian di depan Arka.
"Kau membocorkan rahasiaku Chriss?" Tanya Dion pada Chriss yang tak berani menjawabnya. Saat ia mendengar Kia menyebut mantan kekasihnya Rika.
Karena memang benar Chriss dan Nadia sering bergosip tentang Dion bersama Kia. Mereka bergosip saat mereka sedang menonton Dion bermain badminton dengan para bodyguard-nya.
"Tidak Tuan."
"Tidak salah lagi maksud mu, hum?"
"I-iya tapi saya hanya sedikit ,Tuan. Lebih banyak Nona Nadia yang bercerita." Jawab Chriss pada akhirnya setelah kursinya di tendang dari belakang terus menerus oleh Dion hingga ia terjungkal ke depan dashboard berkali-kali.
Arka terdiam mendengar Kia begitu mengenal Dion daripada dirinya yang mengenal Dion sejak kecil.
Kau telah mencintainya, Kia. Meski aku adalah cinta yang pertama hadir di hidupmu. Bukan berarti aku adalah cinta pertamamu yang sebenarnya, Kia. Rasa cinta mu pada ku tak lebih besar dari rasa cinta mu pada Dion. Kau menginginkannya dan tak lagi menginginkan ku. Aku bisa apa saat ini Kia? Dialah pemenang hatimu.
Padangan Arka kini tal lagi menatap Kia yang terdiam. Ia menatap gundukan tanah yang di penuhi rumput, yang menjadi penghalang diantara mereka berdua.
Kemarin aku berkata pada kalian, sampai kapan aku harus menunggu, dan meminta tolong pada kalian untuk pertemukan aku pada putri kalian, tak ku sangka kalian mengabulkannya dengan cepat, dan inilah akhir dari kisah ku dengan putri kalian.
"Aku pamit. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini padaku Tuan Arka yang terhormat, terima kasih karena pernah membebaskanku dari cengkraman Aldo saat itu. Dan aku juga berterima kasih, karena kau memaksaku untuk ikut camping kala itu. Yang membuat ku kembali dalam cengkraman Aldo dan akhirnya dipertemukan dengan suamiku, Dion." Ucap Kia yang kembali menusuk relung hati Arka.
__ADS_1
Arka tersenyum tipis mendengar ucapan terima kasih dari Kia, dan membiarkan Kia pergi meninggalkan dirinya.