![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
"Kemarilah!" Pekik Dion yang meminta Kia untuk bangun dan menghampirinya.
Kia menggelengkan kepalanya menolak untuk menghampiri Dion yang memanggilnya. Dion sontak membulatkan kedua bola matanya mendapati Kia kembali membangkang dirinya.
"Kemarilah mendekat padaku atau mereka akan menyeret mu keluar!" Pekik Dion lagi, kali ini sedikit mengancam.
Mendengar kata keluar, membuat Kia menjadi takut. Ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri Dion.
"Bagus, Baby girls. Jadilah wanita penurut dan patuh seperti ini terus, karena aku menyukainya." Ucap Dion yang langsung menggenggam tangan Kia untuk kembali masuk ke dalam Mansion.
Dion menolak tawaran anak buahnya yang ingin mengantar keduanya ke pintu masuk mansion dengan mobil club car. Dia memilih berjalan kaki sembari menggenggam tangan Kia yang selama ini ingin ia sentuh, namun tak tahu bagaimana caranya.
"Kia maafin gue, kalau infomasi yang gue kasih ini buat lo sedih," ucap Dira yang terlihat menyesal.
"Pergilah! Kia butuh istirahat, kembalilah esok hari." Ucap Dion yang mengusir keduanya dan tak dapat terbantahkan.
Keduanya hanya bisa menuruti apa kata Dion, demi kebaikan sahabatnya.
*****
Keesokan paginya, dikala hati Kia masih tak baik-baik saja. Ia kembali melihat Tania yang datang untuk kembali menjadi guru yang sangat menyebalkan.
"Aku tidak mau belajar hari ini, Dion!" Ucap Kia pada Dion yang pagi ini hanya menyantap roti bakar buatan Kia.
Dion diam tak bergeming, ia tetap menyantap roti bakar yang masih tersisa dua suapan lagi.
"Dion, aku tidak mau belajar hari ini. Kamu dengar 'kan? Suruh dia pergi! Tolong Dion! Please." Ucap Kia lagi dengan nada sedikit meninggi, ya hanya sedikit meninggi. Ia berharap Dion mendengar dan mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Why Kia, hum?" Tanya Dion.
Saat ia telah selesai menyantap roti bakar buatan Kia yang rasanya sungguh lezat. Ya apaoun yang dimasak Kia selalu lezat dan cocok di lidah Dion.
"Karena aku sedang tidak ingin, tidak mood, tidak mau, tidak bersemangat dan pokoknya tidak." Jawab Kia sembari melirik tak suka dengan Tania.
Dion menarik senyum tipis di bibirnya. Memperhatikan lirikan tak suka Kia pada Tania.
"Tidak boleh kau harus belajar." Putus Dion sembari memandang lekat wajah cantik Tania dengan sengaja. Ya Dion sengaja makin memanasi kebencian Kia pada wanita yang menjadi guru home schooling-nya ini.
"Aku tidak mau Dion. Berhentilah memaksaku! Sesekali mengertilah keadaan ku. Aku mau tidur." Ucap Kia dengan lantang dan suara yang cukup keras.
Entah darimana keberanian yang ia dapatkan, hingga ia berani kembali menentang seorang Dion.
Dion tersenyum tipis mendapati kembali sikap Kia yang sulit diatur olehnya. Dion memalingkan wajah sejenak lalu menatap tajam Kia yang juga tengah menatapnya. Dua insan manusia ini saling bertatapan dengan menahan rasa emosional di dalam dadanya.
Selama ini tak pernah ada satu pun orang yang berani melawan Dion, termasuk Nadya ataupun Tuan Bramantyo selaku pamannya yang memiliki ikatan darah dengan Dion.
Dion memutuskan tatapannya pada Kia. Ia tersenyum manis pada Tania dan meminta guru cantik yang kini makin berpenampilan menggoda itu untuk menunggu Kia diruang belajar yang ia sediakan khusus untuk Kia, wanita yang berhasil mencuri hatinya.
"Tania, tunggulah Kia di ruang belajar! Kami perlu bicara sebentar." Ucap Dion pada Tania, yang membuat Kia muak dengan sikap sok manis dan sok ramah Dion pada gurunya itu.
"Aku tak ingin bicara dengan mu. Aku ingin tidur. Sudah aku katakan aku tak ingin belajar hari ini. Jika kamu menyuruhnya menunggu, aku tak akan jamin, aku akan datang menghampirinya di sana." Ucap Kia sembari beranjak dari kursi tempatnya duduk.
Apa yang dikatakan Kia dan sikapnya yang keras kepala ini, berhasil meluluh lantangkan kesabaran seorang Dion yang setipis selembar tisu.
"Duduk!" Perintah Dion yang sama sekali tak di indahkan Kia.
__ADS_1
Kia malah pergi menjauh dari meja makan.
"Kia kau menguji kesabaranku." Gumam Dion yang dapat dengar semua orang.
Seorang asisten rumah tangga yang berada tak jauh dari posisi Tania, segera meminta Tania segera mematuhi perintah Dion, atau semua akan menjadi makin runyam di pagi ini.
Awalnya Tania diam tak bergeming, rasa ingin tahu keributan antara Dion dan Kia sangat membuatnya penasaran. Hingga ia ingin terus berada diantara mereka.
Namun ketika Dion beranjak dari kursinya dan mengejar Kia, kemudian menarik tangan gadis malang itu dengan kasar ke lantai atas dengan penuh rasa amarah. Seketika membuat Tania merasa takut.
"Kau ingin tidur? Baiklah. Tapi kau harus tidur dengan ku pagi ini." Ucap Dion yang hanya dapat di dengar oleh keduanya.
Sontak saja Kia meronta, berusaha melepaskan cekalan tangan Dion yang terus menyeretnya masuk ke kamar pribadi Dion yang tak pernah dimasuki seorang wanita meskipun seorang asisten rumah tangga.
"Lepaskan aku Dion! Jangan lakukan itu!" Tolak Kia yang terus menggelengkan kepalanya sembari menangis.
Dion melempar Kia ke atas ranjangnya, tanpa perduli dengan suara tangis memilukan dari wanita yang berhasil memporak-poranda hatinya. Dion seperti orang yang kesetanan karena emosinya berhasil terpancing oleh sikap Kia yang terus membangkang dirinya.
Ia melepaskan jas yang melekat di tubuh kekar berototnya ini. Ia melempar Jas miliknya itu ke sembarang arah, hingga teronggok di atas lantai. Tak hanya jas yang ia kenakan yang ia lepaskan tapi juga kemeja hitam dan celana hitam panjang yang menjadi ciri indentik seorang Dion.
Hanya dengan mengenakan Brief yang menonjolkan benda pusakanya. Dion menghampiri Kia. Kia bringsut karena rasa takutnya, ia terus memundurkan tubuhnya hingga tubuhnya terbentur sandaran ranjang dan tak bisa lari kemana-mana.
"Dion jangan please! Maafkan aku. Tolong mengerti aku sekali saja." Ucap Kia setelah ia melempar seluruh bantal yang ada di atas ranjang tidur Dion.
"Katakan hal apa yang tak aku mengerti dari diri mu, Kia? Bahkan aku lebih mengerti dirimu dari pada dirimu sendiri." Dion merespon dan terus melangkah maju perlahan, mata Dion saat menatap Kia seolah ingin menelan Kia hidup-hidup.
"Apa maksud mu Dion?" Tanya Kia yang sudah mengulurkan kedua tangannya, agar Dion menjauh dari dirinya.
__ADS_1
"Maksud ku. Kau tanya maksud ku? Apa kau tak sadar dengan semua kebaikan yang ku berikan pada mu? Apa kau pikir semua itu semata hanya karena permintaan Nadya? Tidak Kia. Tidak hanya karena permintaan Nadya, tapi karena aku jatuh cinta pada mu. Kau berhasil membuatku jatuh cinta saat pertama kali kita bertemu di balkon apartemen itu. Kau ingat pertemuan pertama kita?" Jawab Dion, yang berhasil membuat Kia terkejut dengan pernyataan perasaan cinta Dion ini terhadapnya.