![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Mobil milik Dion yang dikendarai oleh mail telah sampai di mansion. Betapa bahagianya hati Dion karena kedatangannya sangat dinanti-nantikan oleh sang istri tercinta, Kia.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang menunggu kepulangannya di Mansion. Setelah beberapa tahun yang lalu kedua orang tuanya meninggal untuk selama-lamanya.
"Dion!" Panggil Kia yang berlari berhamburan ke dalam pelukan Dion.
Entah mengapa setelah tidur bersama Dion semalam tadi, Kia seperti menemukan sosok sang Papi yang telah tiada.
Padahal semalam bukanlah kali pertama keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama, karena sebelumnya mereka pernah memiliki kesempatan tidur satu ranjang bersama di saat Kia tinggal ke Mansion Nadya.
Dion sedikit terkesima dengan cara Kia menyambut kedatangannya. Tak pernah Dion sangka Kia akan bertindak agresif mendekatinya.
"Akhirnya kamu pulang juga, aku kira kau tak akan pulang dan membatalkan janjimu padaku." Ucap Kia lirih di dalam pelukan Dion.
Dion yang awalnya ragu untuk membalas pelukan Kia, akhirnya kini tanpa ragu membalas pelukan istrinya ini, karena tak tega mendengar suara lirih istrinya yang meyangka dirinya akan membatalkan janjinya pada sang istri.
"Aku tak akan pernah mengecewakanmu Kia. Kau adalah satu-satunya prioritas hidupku." Jawab Dion, yang seketika membuat Kia mendongak melihat wajah Dion dengan kepala yang cukup mendongak. Karena tubuh Dion lebih tinggi daripada dirinya.
Kia tersenyum manis menatap wajah Dion, senyum manisnya ini sangat menggemaskan di mata Dion. Dion sejenak membuang pandangannya, melihat orang-orang disekitarnya dan memberi kode untuk membalikkan badan.
Setelah melihat orang-orang di sekelilingnya sudah berbalik badan dengan cepat Dion mendaratkan kecupan di bibir Kia.
Tak hanya sekedar kecupan tapi juga sesapan yang demikian dalam, hingga keduanya terbuai.
"Sudah Dion! Kita bisa kebablasan nanti. Aku mau ke makam Papi dan Mami, Dion." Ucap Kia saat ia berhasil mengurai penyatuan bibir mereka.
Dion tersenyum tipis, saat mendengar ucapan Kia yang berhasil menghentikan aktivitas mereka yang membuat sang adik kecil milik Dion terbangun dari tidurnya.
Dion yang hanya tersenyum dan diam saja membuat Kia merengik agar mereka segera pergi. Kali ini Dion kembali melihat sisi lain Kia yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ya. Sisi lain Kia yang ternyata adalah sosok wanita yang manja.
"Dion ayok!" Ajak Kia sembari menarik dan menggoncangkan lengan Dion.
__ADS_1
"Kamu menggemaskan sekali Kia," gumam Dion di dalam hatinya.
Dion tak bisa melepaskan senyum di wajahnya sejak pagi tadi. Kini ia sedang tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang begitu manja meminta dirinya untuk segwra membawanya pergi ke makam kedua mertuanya.
"Ya-ya, ayo kita pergi," jawab Dion yang berhasil membuat wajah Kia kini terlihat berbinar.
Di dalam mobil, belum juga Mail melajukan mobil sedan mewah limited edition milik Tuan Mudanya, Kia sudah menentukan tujuannya sebelum pergi ke makam ke dua orang tuanya.
"Pak Mail, ke sekolahan saya dulu ya. Tahukan sekolah saya." Perintah Kia pada Mail.
Sontak Dion terkejut dan langsung melirik tajam wajah Kia. Apa ini maksudnya Kia bersikap manis, hanya ingin ke sekolahnya demi menemui Arka. Kekasih yang sangat ia cintai, yang mungkin masih bertahta di hatinya.
Kia yang di lirik tajam oleh Dion malah tersenyum geli.
"Kamu, mikir apa Dion? Pasti lagi mikir yang aneh-aneh tentang aku ya?" Tanya Kia yang malah memukul-mukuli wajah Dion sambil tertawa.
"Jelas mikir yang aneh-aneh, kamu mau ngapain ke sana?" Tanya Dion dengan nada marah dan masih dengan tatapan tajamnya.
"Mau jajan-lah, emang mau ngapain? Aku pengen jajan cilor, telur gulung, sama tahu gejrot. Gak boleh ya? Ya udah kalau gak boleh. Padahal udah sengaja ngasih space di perut aku buat makan itu." Jawab Kia dengan wajah merengutnya.
"Ok boleh," jawab Dion pada Kia yang kini bersembunyi di lengan tangannya sembari menitikan air mata.
"Yeeey... Boleh. Sayang Dion makasih... Muach... " Ucap Kia yang kemudian mendaratkan kecupan di pipi Dion.
Dion kembai terkesima dengan apa yang dilakukan Kia.
Sepanjang perjalanan, Kia meminta Mail memutarkan sebuah lagu yang ia sering putar di kamar pribadinya kala masih tinggal di kediaman orang tuanya.
Tak hanya mendengarkan Kia pun ikut bersenandung kecil mengikuti lyrics lagu tersebut. Sementara Dion terus sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan asistennya di kantor dan juga membaca portal bisnis di media online.
Bosan mendengarkan lagu, Kia dengan beraninya meminjam ponsel Dion, yang sedang Dion gunakan.
"Dion, aku boleh pinjam ponselmu?" Tanya Kia sembari menengadahkan tangannya.
__ADS_1
"Mau apa?" Tanya Dion yang tak tega dengan wajah memohon Kia.
"Mau lihat suami aku," jawab Kia yang berhasil membuat Dion ke GR-an.
Tanpa ragu Dion memberikan ponselnya. Cukup lama Kia mengotak-atik ponsel suaminya atas seizin Dion. Saat tiba pada menu pembayaran Kia mengembalikan ponselnya pada Dion.
"Tolong bayarin suami nyataku!" Pinta Kia sembari menyodorkan ponsel Dion. Tak lupa dengan wajah memohonnya yang sangat menggemaskan.
Denag terus menyunggingkan senyumnya, Dion mengambil ponselnya dan melakukan pembayaran seperti apa yang diinginkan sang istri.
Setelah selesai Dion mengembalikan ponselnya pada Kia, yang terus menempelkan dirinya pada Dion. Guna mengintip apa yang dilakukan Dion dengan ponsel milik suaminya itu.
"Sudah ya, maacih lagi suami nyataku." Ucap Kia dengan senyum yang sangat lebar hingga memperlihatkan deratan gigi putihnya yang berjajar rapih.
Setelah menerima ponsel Dion, Kia langsung saja menonton drama korea yang baru ia tonton tiga episode saat ia berada di mansion Nadya. Drama korea yang pemeran pria utamanya adalah seorang aktor bernama Park Seo Joon.
Tak nyaman dengan sandaran kursi duduknya. Kia kembali menyandarkan dirinya di lengan Dion. Dion membiarkan Kia menonton drama kesukaannya itu dengan ponselnya, meski ponselnya kerap kali berbunyi notifikasi yang membuat Kia kesal dan mengomel.
Lagi-lagi Dion kembali melihat sisi lain Kia yang tak pernah Dion lihat. Kia benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat saat ini. Entah ini pertanda baik atau sebuah pertanda buruk.
Disela menonton tiba-tiba Kia mengutarakan sebuah pertanyaan.
"Dion, apa sekertaris diperusahaan mu cantik dan seksi, dan juga bisa diajak bobo bareng?" Tanya Kia pada Dion.
"Ya. Sekertaris ku sangat cantik dan seksi. Aku pernah tidur bersama salah satu diantara mereka."
Plak!! [Sebuah pukulan mendarat di bagian paha Dion]
Dion terperanjat kaget dengan apa yang dilakukan Kia. Ia mengelus pahanya yang terasa panas dan sakit akibat pukulan sekuat tenaga yang Kia berikan.
"Jangan lakukan itu lagi, atau aku akan meninggalkan mu!" Pekik Kia dengan matamya yang nyalang. Ia nampak begitu marah dengan jawaba jujur yang diutarakan Dion.
Dion langsung mengangguk kepalanya sembari meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ya, Tuhan apa yang terjadi padanya? Kenapa sikapnya berubah-ubah seperti bunglon hari ini?" Gerutu Dion di dalam hatinya.