![Pernikahan Penuh Luka Season 2 [Aksi Pembalasan Aldo]](https://asset.asean.biz.id/pernikahan-penuh-luka-season-2--aksi-pembalasan-aldo-.webp)
Keesokan harinya, saat mereka tak benar-benar menyelesaikan permainan mereka semalam. Karena tiba-tiba saja Nadia datang dan berhasil menghentikan kegiatan penyatuan mereka.
Kini mereka berdua berada di meja makan, duduk bersama menikmati sarapan pagi bersama lagi, setelah beberapa hari melewatkan sarapan pagi mereka dengan kesendirian.
"Semalam lo kemana Kia?" Tanya Nadya yang masih penasaran kemana Kia semalam pergi, saat ia datang ke Mansion Dion.
Pasalnya Nadia mencari keberadaan Kia hampir ke seluruh penjuru mansion, batang hidung Kia sama sekali tak terlihat.
Nadia datang karena kedua orang tuanya harus pergi mendadak ke Singapura. Keduanya mendapatkan kabar buruk mengenai kondisi Kakek yang merupakan Ayah dari Mommy-nya itu. Nadia dilarang ikut karena pekan depan akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
"Ambil minum di dapur." Jawab Kia yang tak dapat diterima oleh Nadia.
"Oh ya? Kok otak dan pikiran gue gak bisa terima ya jawaban lo Kia, lo lagi bohongin gue kan?" Balas Nadia yang malah mengundang tawa Dion.
Hahaha....
Suara tawa bahagia Dion menggema ke seluruh ruangan bahkan Mansion. Tawa ini berhasil membuat seluruh orang yang ada di ruang makan terkejut termasuk para asisten rumah tangga.
Seketika Dion menjadi pusat perhatian semua mata yang kini memandang dirinya dengan tatapan aneh.
"Tadi Kak Dion ketawa?" Tanya Nadia yang begitu takjub mendapati Dion kembali tertawa setelah kepergian kedua orang tuanya.
Dion tersenyum dan mengangkat kedua bahunya, seraya berkata. "Cepat habiskan sarapanmu kita harus segera berangkat! Jangan sampai pintu gerbang sekolahmu sudah terkunci, ketika kita baru tiba nanti."
Dion berdiri dan meninggalkan keduanya yang masih menyantap sarapan pagi mereka. Dion berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pintu masuk mantion-nya tanpa melepaskan senyum yang terus terukir di wajah tampannya.
Tak berapa lama Dion berada di pelataran pintu masuk Mansion. Kia dan Nadia datang menghampiri dirinya.
"Kia gue sekolah dulu ya! Baik-baik di sini ok?" Pamit Nadia yang kemudian memeluk sahabatnya itu.
"Ok. Lo juga ya. Salam buat Dira." Balas Kia yang menepuk bahu Nadia, agar melepaskan pelukan Nadia yang begitu erat dan seakan mencekiknya.
__ADS_1
"Aaaaa.... Sakit Nad..." Rintih Kia saat Nadia makin erat memeluk dirinya karena tiba-tiba saja Nadia gemas dengan Kia.
Melihat dan mendengar Kia kesakitan Dion langsung merespon.
"Nadia hei, Stop it!" Pinta Dion sembari berusaha melepaskan pelukan adik sepupunya pada wanita yang hampir saja seutuhnya menjadi miliknya, jika saja ia tak datang.
"Lo gemesin Kia, hahaha... Bye..." Ucap Nadia ketika Dion berhasil melepaskan pelukannya dengan Kia.
"Ishhh... Gemes tapi nyakitin." Gerutu Kia sembari mencebik bibirnya.
Dion yang melihat Kia mencebik bibirnya malah terlihat tergoda dan ingin merasakan kembali benda kenyal yang kini menjadi candu bagi dirinya. Namun Dion harus menahan hasratnya pada Kia, karena ia tak mau Nadia marah dan salah paham padanya.
"Aku pergi!" Ucap Dion yang juga pamit untuk pergi bekerja.
"Hati-hati dan jangan pulang membawa wanita lagi!" Pesan Kia dengan menatap serius Dion yang tengah meliriknya sembari tersenyum.
"Ok Baby. I love you." Balas Dion yang kemudian masuk ke dalam mobil, menyusul Nadia yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Dion tak marah, ketika Kia tak menjawab ungkapan cintanya. Karena Dion sadar tak semudah itu bagi Kia untuk memalingkan hatinya.
Tak lama dari keberangkatan Dion dan juga Nadia. Tania datang seperti biasa untuk mengajar Kia.
"Kia maaf untuk kejadian semalam." Ucap Tania saat mereka sedang berada di ruang belajar.
"Ok," jawab Kia singkat tanpa mau menatap wajah Tania.
Rasanya Kia sangat enggan untuk kembali belajar dengan dibimbing oleh guru macam Tania. Tapi dia tak bisa melakukan penolakan apapun. Ia hanya bisa menerima dan menahan muak sampai study-nya bersama Tania selesai.
"Kia, tolong beri restu hubungan Miss dengan kakak mu Dion. Karena kami saling mencintai." Ucap Tania tanpa rasa malu.
"Apa? Kalian saling mencintai?" Kia bertanya dengan memasang wajah tak sukanya pada Tania.
__ADS_1
"Iya, kami saling mencintai Kia. Tolong restu kami." Ucap Tania yang masih berusaha meyakinkan dengan kebohongannya.
Kia melemparkan senyum sinisnya pada guru tak tahu malu yang ada di hadapannya, dengan rasa marah, dan tak terima dengan apa yang guru itu katakan padanya.
"Restu? Ck." Kia membuang pandangannya. Kemudian kembali menatap Tania dengan tatapan tak suka. "Sepertinya saya sudah tak berminat lagi untuk meneruskan waktu belajar saya hari ini dengan Miss. Anda boleh pergi." Tambah Kia yang langsung saja berdiri dan meninggalkan ruang belajarnya.
Di depan pintu ruang belajar Kia, ternyata sudah ada Pak Catur yang berdiri di depan buka pintu.
Pak Catur membungkukkan sedikit tubuhnya ketika mendapati Kia keluar dari ruangan belajarnya dengan wajah kesal.
Sejenak ia menatap Pak Catur yang seakan sudah siap untuk menerima perintah darinya.
"Pak Catur. Tolong antar aku ke kantor Dion!" Pinta Kia yang langsung diangguki oleh Pak Catur.
"Baik Nona." Jawab Pak Catur sembari menunduk patuh.
Pak Catur segera memanggil dan memerintah beberapa asisten wanita untuk membantu Kia menyiapkan diri pergi ke kantor Dion. Setelah itu ia masuk ke ruang belajar Kia, untuk meminta Tania segera pergi meninggalkan mansion.
"Mohon maaf Miss Tania, Anda harus pergi sekarang. Karena Nona Kia, tidak ingin melanjutkan pelajarannya hari ini." Ucap Pak Catur dengan sopan pada Tania yang berharap Kia kembali lagi ke ruang belajar.
Pasalnya dirinya sudah mengirim pesan pada Dion, jika Kia kembali berulah tak mau belajar bersamanya. Dion memang sudah membaca pesan dari Tania, namun ia tak menjawabnya. Ia malah tersenyum dan menebak Kia pasti marah karena cemburu pada gurunya itu.
"Maaf Pak Catur, saya tidak akan pergi sebelum mendapatkan perintah dari Tuan Dion." Tolak Tania.
"Baiklah kalau Miss Tania ingin tetap di sini. Namun saya ingatkan pada Anda. Jika Nona Kia tak akan kembali keruang ini, karena Nona Kia sudah meminta saya untuk mengantarkan beliau menyusul keberadaan Tuan Dion di perusahaan." Balas Pak Catur yang kemudian merunduk sedikit tubuhnya lalu pergi meninggalkan Tania di ruang belajar itu.
Saat Pak Catur keluar dari ruang belajar, Kia sudah nampak rapih dengan sebuah dress hitam bertali satu sepanjang batas lutut, dan sebuah high heels yang menyempurnakan keindahan kaki jenjangnya yang terekspos.
"Pantas saja jika Tuan muda tertarik padanya, Nona Kia memang sangat cantik dan memesona." Puji Pak catur di dalam hatinya.
"Bisa kita berangkat sekarang?" Ucap Kia yang langsung diangguki oleh Pak Catur.
__ADS_1
Pak Catur mempersilahkan Kia untuk jalan terlebih dahulu, dan ia mengekori langkah kaki Kia yang berjalan lebih cepat, karena kini dirinya dikuasai dengan rasa amarah dan tak terima dengan pernyataan kedua Tania, yang mengklaim jika Dion dan gurunya itu saling mencintai.