Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 10


__ADS_3

Relea berjalan ke ruang kerja ayah angkatnya, mengetuk pintu sebanyak tiga kali lalu terdengar dari dalam menyuruhnya masuk dia pun membuka pintu dan masuk ke dalam dengan membawa secangkir kopi panas untuk sang Daddy.


Lea menaruh secangkir kopi sedikit jauh dari laptop Daddy-nya itu.


"Trimakasih, Lea, setelah ini istirahatlah, jangan berfikir macam-macam lagi yaa," ucap Setta.


"Iya, Dad, maaf," katanya sambil keluar dari kamar kerjanya Daddy.


Tak lama kemudian, dering telpon berbunyi tertera di layar handphone-nya nama Dea. Setta menerima panggilan tersebut, terdengar oleh salam dari handphone dan dijawabnya dengan lembut.


"Setta apa yang kau lakuksn pada anak itu, tolong jaga dia, jangan kau lakukan seperti yang dilakukan ayahnya kepadaku! Kau tahu bukan bagaimana dulu aku terpuruk karena itu dan putriku tidak selamat karenanya, jadi jangan ciptakan tragedi itu lagi, Ta," kata Dea dengan suara serak karena menahan tangis.


"Aku tak senaif itu, Dea. Jika dia harus hamil maka dia harus menjadi istriku terlebih dahulu, baru dia boleh hamil aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku banyak kehilangan, aku sudah kehilangan dua orang tuaku kau pun sama, karena mereka, Dea," jawab Setta.


"Lupakan, Ta, lupakan masa lalu lupakan deritamu, waktu sudah berlalu lama dan mereka sudah meninggal hanya tinggal putrinya Apa kau sanggup melukainya? Jika sebenarnya Kau sangat menyayanginya bukan?" kata Dea


"Aku tak bisa lupakannya Dea, Aku kehilangan banyak hal harga diriku, kebanggaanku, orang tuaku, serta hartaku, mereka menipuku tidak hanya dengan cinta tapi dengan tipu muslihat yang membuat aku tidak punya daya upaya pada waktu itu, apa itu harus kulupakan? Aku tidak bisa Dea," Jawab Setta.


"Aku tahu," kata Dea.


"Apa kau bisa melupakannya? Aku tahu setiap malam pasti kau akan menangis dengan diam-diam karena teringat dengan putrimu, dengan meninggalnya ibumu. jangan bohongi dirimu Dea sesungguhnya pernah terbesit hatimu sangat membencinya bukan, tapi hatimu itu sangat lembut jadi kau buang perasaan itu jauh-jauh dari hatimu," kata Setta.


"Entahlah, Ta, lalu siapa yang ingin kau balas, Ta? Mereka telah tiada," tanya Dea pada Setta.


"Kakeknya, pria tua bangka itu masih hidup, dia lumpuh seluruh tubuhnya hanya bisa mengedipkan mata saja, kecelakaan itu membuatnya tak berdaya," kata Setta.

__ADS_1


"Apa Dia masih hidup, Ta? Apa kau tidak berbohong padaku? Lalu bagaimana dengan orang tua Arga? Apa juga masih hidup? Kenapa tidak memberi tahu aku? " tanya Dea berturut-turut.


"Banyak sekali pertanyaanmu, Dea, mana yang harus aku jawab dulu?"kata Setta sambil tertawa


"Jangan tertawa, aku benar-benar terkejut, jawab semuanya, Ta, banyak sekali yang kau sembunyikan dari aku, dulu kau katakan, mereka telah meninggal di tempat. Namun ternyata Om Indra hidup," protes Dea.


"Apa yang ku katakan dulu adalah benar, Dea, jika kau tidak percaya tanyakan Zein, hanya om Indra yang selamat tetapi dia lumpuh permanen dan tak mampu bicara," kata Setta dengan tenangnya.


"Jadi kau dulu membohongi Sinta, jika Ayah meninggal?" tanya Dea.


"Hemm, aku ingin dia tahu bagaimana rasanya di tinggalkan orang yang dikasihinya, aku kehilangan orang yang ku kasihi karena kesalahan orang lain sementara mereka karena kesalahannya sendiri, jika ku katakan yang sebenarnya apa dia sanggup menerima, mungkin tidak bukan," jawab Setta.


"Ya sudah, dengar jangan kau hamili, Dia!" perintah keras Dea


"Kalau tidak hamil kan gak apa-apa Dea," katanya Ringan.


"Jangan kaget begitu! Kau malah sama Arga begituan sampai kau hamil," kata Setta


"Itulah yang ku takutkan, Ta, berjanjilah jangan tinggalkan dalam keadaan hamil," kata Dea.


"Setta tertawa. "Siapa yang menghamili siapa? Aku tidak sendang ingin menghamili, tapi membuatnya ketergantungan padaku, tenang saja aku belum gila, sudah yaa, aku selesaikan pekerjaanku, nanti Zein marah padaku," kata Setta sambil terkekeh dan mengakhiri pembicaraannya dengan Dea lalu meletakan handponenya di atas nakas.


Setta kembali fokus dengan laptopnya, setelah selesai dia keluar, dan berjalan dibeberapa tempat tidak menemukan Lea.


Dia melangkahkan kakinya menuju ruangan depan Setta melihat gadis itu duduk di sofa sambil melamun tangannya meraba bibir, leher dan tubuh bagian depannya, Setta tersenyum menyeringai dia berjalan mendekati dan duduk di sebelah gadis itu sambil berbisik, "Mau lagi?" Lalu mengulum telinga gadis itu, jelas itu membuatnya terkejut, dan kalang kabut.

__ADS_1


Lea terengah-engah, seketika tulang tubuhnya terasa lemah jemari tangannya terkulai lemas jatuh di pangkuannya dan berganti tangan yang kokoh itu memanjakan kembali dengan rasa yang benar-benar Lea sangat sukai.


"Dadd, ka-kapan Daddy datang?" tanyanya terbata-bata.


"Baru saja, kangen Daddy?" tanyanya sambil mengecup pipi gadis itu. Dia mengangguk pasrah otaknya terasa sudah terkunci saat yang Daddy mempermainkan perasaannya dengan sentuhan yang selalu dia rindukan saat pria itu hadir di dekatnya.


"Dadd!" panggil Lea


"Hemm," jawab Setta tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Kapan kita pulang?" tanya Lea pada Daddy-nya.


"Maunya kapan? Kalau Daddy terserah masih kerasan di sini, ya enggak apa-apa," katanya pada Lea.


"Kalau kita pulang, Lea pasti jarang bisa ketemu Daddy, Lea pasti kangen sama Daddy. Ahhh, Dadd, jangan di situ Lea gak tahan," katanya karena tangan Setta merayap di bagian terlarang


"Lea, kalau begini caranya mungkin Daddy akan selalu khilaf, dan senang berbuat Khilaf," kekehnya pada gadis itu lalu meninggalkan aktifitasnya tanpa membantu Lea membenahi bajunya yang berantakan karena ulahnya itu.


"Daddy, benahi dulu main tinggal saja," kata Lea kesal sambil menatap punggung pria itu yang berjalan ke ruangan pribadinya.


Relea kecewa karena gairah yang baru saja di buat memuncak oleh sang Daddy, di sudahi begitu saja, rasa malu, dongkol, dan ingin yang lebih bercampur jadi satu, dia membenahi pakaiannya yang berantakan lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan menyeret langkahnya.


Sementara itu Setta di dalam kamar mandi tengah mendinginkan hasratnya yang sudah memuncak, jika dia tidak meninggalkan Lea pada waktu itu dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkannya.


Ada sekitar satu jam dia berada di dalam kamar mandi, dan setelah itu keluar dengan rambut basah. 'Ini namanya senjata makan tuan, maksud hati ingin kerjain dia malah panas dingin sendiri,' batin Setta.

__ADS_1


"Ya Tuhan selama ini aku tidak pernah menjamah wanita, begitu menjamahnya seolah tak mau berhenti, apa aku benar-benar bisa meluapkan marah dan dendamku pada gadis itu, aku sendiri" gerutu lirih.


__ADS_2